//
you're reading...
Fiqih

MAKAN BERSANDAR


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu menunjukkan sikap tawadhunya dalam segala hal termasuk disaat beliau menyantap makanan. Pernah beliau diberi hadiah daging kambing, saat memakan daging tersebut, beliau duduk bersimpuh. Seorang arab badui berkata, “Duduk [model] apa ini?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikanku hamba yang mulia, tidak menjadikanku sebagai orang yang diktator dan pembangkang.” [Shahih. HR. Abu Dawud 3773 dan Ibnu Majah 3263].

Tidak Makan Dengan Bersandar [Ittikâ`]
Tidak bersandar pada saat makan adalah merupakan salah satu etika yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam kepada kita ummatnya. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak makan sambil bersandar.” [HR. Al-Bukhari 5398 dan 5399]. Etika ini pastilah mengandung kebaikan, disamping menunjukkan pada sikap ketawadhuan, juga untuk menghindarkan kita dari bahaya yang menimpa, lantaran makan sambil bersandar menyebabkan makanan tidak dapat berjalan dengan lancar pada salurannya dan tidak melegakan pada saat makan.

Sifat Bersandar [Ittikâ`]
Ulama berbeda pendapat tentang sifat bersandar yang tidak dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hadits diatas. Diantara ulama ada yang menafsirkannya dengan duduk yang tidak bergeming ditempat duduknya, dengan posisi duduk apapun. Ada yang berpendapat dengan duduk mencondongkan badan pada salah satu sisi tubuh. Ada yang berpendapat bertelekan pada tangan kiri ditanah, ada yang berdapat duduk bersila, ada yang berpendapat dengan bersandar pada sesuatu dan ada pula yang berpendapat duduk diatas alas yang empuk atau bantal-bantal. [Lihat Fathul Bari [9/452], Ibnul Qayyim dalam Al-Hadyu [4/221], Al-Manawi dalam Faidhul Qadir [4/494], dan Al-Khatthabi dalam Ma’alimus Sunan [4/225].

Pendapat Yang Unggul
Pendapat yang unggul bahwa duduk bersandar yang dimaksudkan pada hadits diatas adalah duduk dengan mencondongkan badan pada salah satu sisi tubuh atau bersandar kepada sesuatu, baik dengan menggunakan kedua tangannya sendiri atau menggunakan sesuatu yang terpisah darinya seperti dinding, bantal, dan semisalnya. Dimana patokannya, jika benda yang dijadikan sebagai tempat bersandar tersebut disingkirkan maka ia akan jatuh. Abu Zur’ah berkata: Mereka [para pemilik kitab-kitab lughah yang masyhur] menafsirkan duduk bersandar adalah dengan mencondongkan badan pada salah satu sisi tubuh [Faidhul Qadir 6/495], hal yang senada juga disampaikan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi [At-Tatsrib 2/663], Ibnul Jauzi, Asy-Syaukani, dan lainnya. Ibnul Muflih berkata: Dan ditafsirkan ittika [bersandar] dengan mencondongkan badan pada satu sisi dan bersandar kepada sesuatu, dan secara urf [yang biasa berlaku] pemaknaan seperti inilah yang lebih cepat ditangkap dan dipahami.”
Dengan demikian, duduk bersila atau duduk dialas yang empuk atau bantal-bantal pada saat makan tidak masuk dari kategori ittikâ’ [duduk bersandar]. Lantaran ittika’ [duduk bersandar] dengan duduk biasa [tanpa bersandar, seperti dengan duduk bersila] adalah berbeda. Perbedaan ini berdasarkan pada perkataan shahabat dalam sebuah hadits shahih: Beliau [shallallahu Alaihi wa Sallam] sebelumnya duduk bersandar [ittika’], lalu beliau duduk tegak [tanpa bersandar].

Hukum Makan Dengan Bersandar
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa makan bersandar adalah boleh. Mereka beralasan bahwa hadits diatas, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: Sesungguhnya aku tidak makan dengan bersandar’ tidak menunjukkan pada larangan tapi hanya sekedar meng-infokan tentang sifat makan tersebut. Ibnu Hazm [Al-Muhalla 6/117] berkata, “Ini bukanlah [bentuk] pelarangan, tapi hanya sekedar meninggalkan keutamaan semata.” Ibnu Abi Syaibah dalam ‘Mushannaf’nya [5/139] meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Khalid bin Al-Walîd, Ubaidah As-Salmâni, Ibnu Sirin, Atha` bin Yasar, dan Az-Zuhri membolehkan hal itu secara mutlak.
Sedang mayoritas ulama memakruhkan makan dengan bersandar, diantara mereka adalah Ibnu Qudamah [Al-Mughni 10/215], Ibnu Hajar [9/452], Ibnul Muflih [Al-Adabusy Syar’iyyah [3/112], Imam An-Nawawi [Riyadhus Shalihin [hadits 570], Al-Fushul oleh Ibnu Katsir [h.321], Ibnu Utsaimin [dalam Syarh Riyâdhus Shalihin], dan lainnya. Mereka beralasan bahwa Nabi meninggalkan makan dengan cara seperti itu lantaran menghindar dari sikap duduk orang yang tidak tawadhu` dan juga adanya bahaya yang disebabkan dengan makan seperti itu.
Dan yang lebih utama adalah tidak melakukan hal itu. Wallahu A’lam.

Penutup
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: Walhasil, dihadapan kita ada dua model duduk: Duduk Ittikâ` [bersandar], dan ini bukan petunjuk dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan semua bentuk duduk [selain ittika`] dan itu adalah boleh. Namun yang terbaik dari semua itu adalah engkau tidak duduk dengan model duduk orang yang tidak bergeming dari tempatnya. Agar cara duduk seperti ini bukan sebagai jalan untuk memperbanyak makan, sedang makan terlalu banyak tidak patut dilakukan… [Syarah Riyadhus Shalihin 3/24

Abu Halbas

Dukuh-Jember, Sabtu 12- 2009

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: