//
you're reading...
Fiqih

SURAT WASIYAT


Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak dibenarkan bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu untuk diwasiatkan, berdiam diri selama dua malam, melainkan wasiat itu telah tertulis disisinya.’ [HR. Al-Bukhâri 2738 dan Muslim 1627]
Ibnu ‘Umar Radhiyallahu Anhu menuturkan, ‘Tidak ada satu malam pun yang berlalu dariku sejak mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan hal itu melainkan wasiatku berada disisiku.’

Makna Wasiat
Wasiat adalah pesan khusus yang dilaksanakan sesudah seseorang meninggal dunia [Fath Al- ‘Allâm Li Syarhi Buluhg Al-Marâm 2/154] atau perintah melakukan perbuatan setelah meninggal dunia, atau perintah menyedekahkan harta setelah seseorang meninggal dunia [Ensiklopedi Islam Al-Kâmil hal.946]

Hukum Wasiat
Wasiat hukumnya wajib, bagi;
1- Orang yang mempunyai tanggungan utang kepada Allah [semisal; belum menunaikan zakat, denda yang belum terlunasi]
2- Orang yang mempunyai tanggungan terhadap hak-hak orang lain [semisal utang] dengan tanpa bukti atau saksi.
3- Orang yang memiliki amanat milik orang lain sehingga ditulis dan dijelaskannya agar hak orang lain tidak hilang.
4- Orang yang meninggalkan harta yang banyak, hendaknya berwasiat kepada kerabatnya yang tidak berhak menerima warisan darinya.
5- Orang yang merasa khawatir bahwa dirinya ketika mati nanti dirawat dan dikubur ala bid’ah. Maka ia mesti berwasiat agar ia dirawat dan dikubur sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Wasiat hukumnya sunnah, bagi orang yang memiliki banyak harta sedangkan ahli warisnya tidak memerlukan harta tersebut. Hendaknya ia mewasiatkan sebagian hartanya untuk mendapat pahala setelah meninggal dunia. Sedang wasiat hukumnya haram, bagi orang yang mewasiatkan sesuatu kemaksiyatan.

Waktu berwasiat
Kematian terkadang datang dengan tiba-tiba. Berdasarkan pada hadits Al-Bukhari dan Muslim diatas berikut dengan ungkapan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, maka berwasiat itu dilakukan dalam segala keadaan baik pada waktu sehat, sakit ringan ataupun sakit parah. Namun penulisan wasiat lebih ditekankan jika seseorang itu berada dalam kondisi sakitnya.

Yang dapat diwasiatkan
Wasiat boleh berupa perintah melakukan sesuatu setelah seseorang meninggal dunia [seperti : memperhatikan pendidikan keagamaan anak-anaknya yang masih kecil, menikahkan anak perempuannya, dll] dan dapat juga berupa menyedekahkan harta, seperti berwasiat memberikan seperlima hartanya untuk fakir miskin, untuk membangun masjid, membuat sumur untuk diminum airnya, dan lain sebagainya.

Kapan Wasiat berlaku
Ulama sepakat bahwa wasiat berlaku [dilaksanakan] setelah kematian orang yang berwasiat dan penerimaan orang yang mendapat wasiat [Bidâyatul Mujtahid 2/330, 331]


Beberapa hal yang terkait dengan wasiat
1. Sah berwasiat dengan lafadh yang dipersaksikan. Namun lebih diutamakan jika wasiat tersebut ditulis dan dipersaksikan oleh orang demi menghindari persengketaan di kemudian hari. [Lihat hadits Al-Bukhâri dan Muslim diatas].
2. Barangsiapa yang menulis wasiat dan mengatakan, ‘Bersaksilah kamu atasku terhadap apa yang ada dikertas ini.’ Atau mengatakan, ‘Ini wasiatku, saksikanlah atasku terhadapnya.’ Maka hal itu boleh, meskipun para saksi tidak mendengar atau membaca isi kandungan wasiat. Ini diberlakukan oleh para khulafaur Râsyidin. [Ensiklopedi Ijmâ’ hal.824]
3. Wajib berwasiat dengan sesuatu yang makruf [baik]. Barangsiapa yang berwasiat dengan maksud mencelakakan ahli waris, maka hukumnya haram dan berdosa. Begitu juga tidak diperbolehkan berwasiat dalam hal kemaksiatan, seperti wasiat membangun gereja dan lain sebagainya.
4. Boleh membatalkan, mengurangi, atau menambah wasiat, namun bila orang yang memberikan wasiat telah meninggal, wasiat sudah tidak dapat diubah.
5. Dilarang memberi wasiat melebihi 1/3 [sepertiga] harta. Bahkan yang lebih utama adalah berwasiat kurang dari sepertiga. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu Anhu, ‘Sepertiga, sepertiga itu banyak. Sesungguhnya, jika meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang-orang.’ [HR. Al-Bukhari 2742, Muslim 1628]
6. Tidak boleh berwasiat harta kepada salah satu ahli waris. Rasulullah Shallallahu Alaibhi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hak kepada setiap yang berhak, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.’ [Shahih. HR. Ahmad 21791, Abu Dawud 3565, dan At-Tirmidzi 2120. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahihul Jâmi’ 1788, 1879]

Teks Surat Wasiat

Disunnahkan menulis wasiat sebagaimana tersebut dalam riwayat Anas bin Mâlik Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Dahulu, mereka [para shahabat] menulis dalam permulaan wasiat mereka;

Bismillâhirrahmânirrahim
‘Inilah yang aku wasiatkan kepada si fulan bin fulan [sebutkan nama].’
Aku wasiatkan bahwa tidak ada Ilâh yang berhak diibadahi melainkan Allah, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad hamba dan Rasul-Nya. Bahwa hari Akhir akan datang tanpa ada keraguan tentangnya. Allah akan membangkitkan orang yang ada di alam kubur. [Dan berwasiat kepada keluarganya yang ditinggal mati agar bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, agar saling berbuat baik, mentaati Allah dan Rasul-Nya jika mereka benar-benar orang-orang yang beriman. Dan berwasiat kepada mereka dengan apa yang diwasiatkan Ibrâhim kepada anaknya dan juga Ya’qûb; Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’ [QS. Al-Baqarah: 132]
Kemudian baru menyebutkan apa yang ingin diwasiatkan [Hadits Shahih. HR. Al-Baihaqi 12463, Ad-Darâquthny 4/154, lihat Irwâ Al-Ghalil 1647.’]

Dan diantara wasiat yang anda bisa pesankan adalah :
Aku mewasiatkan jika aku wafat hendaknya kerabat dan pewarisku melakukan hal berikut :
1- Memejamkan mataku, melepaskan pakaian yang kupakai saat wafat, dan menutupi seluruh jasadku.
2- Agar tidak ada yang menciumi jenazahku bagi siapa saja yang tidak dibolehkan menciumku saat masa hidupku.
3- Tidak menangisi mayatku dengan tangisan yang berlebihan, seperti : meratap, menjerit-jerit, merobek-robek baju, menampar pipi dan sebagainya.
4- Agar yang duduk didekat jenazahku mendoakan aku dengan kebaikan, karena sesungguhnya para malaikat mengamini doa tersebut.
5- Hendaknya melunasi segala utangku dan menjelaskan utang piutangku.
6- Sewaktu memandikan jenazahku, jangan dimandikan ditempat yang terbuka yang disaksikan oleh orang ramai, jangan pula dibacakan shalawat, dan jangan pula orang yang tidak berkepentingan memandikan jenazahku ikut hadir menyaksikan.
7- Bagi keluargaku yang hendak memandi-kanku hendaklah mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan yang paling utama untuk memandikanku adalah si fulan, sifulan, dan si fulan [sebutkan nama-namanya].
8- Kafanilah aku dengan kain berwarna putih dan berilah harum-haruman.
9- Seusai dikafankan maka shalatkanlah segera, jangan menunggu ditahlilkan, dibacakan surat Yâsin, atau dzikir-dzikr lain yang tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan hendaknya yang mengimami adalah si faulan atau si fulan [sebutkan nama]
10- Seusai dishalatkan, bawalah jenazahku kekuburan dengan sesegera mungkin. Jangan menunggu dibacakan ragam shalawat dan dzikir, beragam penyambutan, dan meminta kesaksian para hadirin bahwa aku ini baik atau tidak.
11- Keranda jenazahku jangan dikalungi dengan kembang, dan jangan pula di payungi.
12- Jangan sekali-kali memakamkanku didalam masjid dan jangan jangan pula di pekuburan kaum musyrik.
13- Jika kalian memakamkan aku, maka hendaklah aku diturunkan oleh siapa saja yang memahami sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, menghadapkan aku kearah kiblat dan meletakkanku pada sisi kanan.

14- Tidak meng-adzaniku dan tidak pula menyingkap kain kafan yang ada diwajahku lalu pipiku ditempelkan ke tanah

15- Tinggikanlah kuburanku sekedar setinggi satu jengkal saja seperti gundukan. Dan jangan membangun diatas kuburku, menyemen, menginjak, memasang lampu, menabur bunga diatasnya, mengukir tulisan diatasnya dan menjadikannya sebagai tempat perayaan.

16- Seusai pemakaman, maka hendaklah kalian mendoakan aku agar diberi ketegaran menjawab pertanyaan malaikat dan memintakan ampunan untukku dan jangan pernah mentalqinkan aku di atas kuburku.

17- Jangan membuat makanan untuk disuguhkan kepada orang-orang yang melayat.

18- Jangan melakukan perkumpulan apapun dalam rangka kematianku termasuk dengan ritual takziyah yang dipahami keliru oleh banyak orang, yaitu berkumpul-kumpul di kematian lalu diantara mereka ada yang membaca Al-Qur`an dan memberikan nasehat kematian selama tiga malam.
19- Begitu juga tidak melakukan ritual Tahlilan dan Yâsinan pada hari wafatku atau pada hari kelima atau hari keempat puluh atau hari-hari lainnya, dan juga mencegah amal perbuatan membuat tenda yang tidak sesuai dengan manhaj Allah Ta’ala dan juga Rasulullah Shallallalahu Alaihi wa Sallam.
20- Hendaklah hartaku dibagikan sesuai dengan perintah Allah dan sepertiganya aku wasiatkan untuk si fulan [sebut namanya, asalkan bukan dari ahli waris]
21- Aku mewasiatkan bagi siapa saja yang berada di belakangku untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan memperbanyak istighfar untukku, dan mendoakanku agar mendapat taufik, hidayah dan ampunan, dan memberikan ganti padaku rumah yang lebih baik dari rumahku, dan keluarga yang lebih baik dari keluargaku.
Firman Allah Ta’ala, ‘Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ [QS. Al-Baqarah : 181]

Ditetapkan di…..
Pada Tanggal…..
Bulan………………
Tahun…………….

Tanda tangan Pewasiat………

Saksi pertama………….. Saksi kedua………….

Dukuhdempok-Jember 2009

Abu Halbas, Muhammad Ayyub

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: