//
you're reading...
Fiqih

Lafadh Azan Sewaktu Hujan


Soal :

Apakah benar ada lafadz tambahan adzan sewaktu hujan? Bagaimanakah pengucapannya? Dan dimana peletakan tambahan lafadz tersebut?

Jawab :

Benar, ketika kondisi turun hujan [sekalipun tidak begitu lebat], muadzdzin yang beradzan di masjid disyariatkan untuk memberikan tambahan lafadz didalam adzannya dengan ungkapan; Shallû fî Rihâlikum [Shalatlah di tempat-tempat kalian] atau Ash-Shalâtu fir Rihâl [shalatlah di tempat-tempat] atau Shallû fi Buyûtikum [shalatlah dirumah-rumah kalian].’

Ungkapan atau tambahan; ‘Shallû fi Rihâlikum’ [terdapat didalam riwayat Al-Bukhari 632, 666 dan Ibnu Mâjah 938]. ‘Shallû fi Buyûtikum [terdapat didalam riwayat Al-Bukhari 901 dan Muslim 699], sedang ‘Shallû fir Rihâl’ [terdapat didalam riwayat Al-Bukhari 616]

Makna ‘Ar-Rihal’

Yang dimaksud dengan kata: ‘rihâl’ adalah tempat berteduh baik yang terbuat dari batu, tanah liat, kayu, kulit kambing atau kulit unta dan lain-lain. Bentuk tunggalnya adalah rahl. [Ensiklopedi Tarjih oleh Dr. Bazmûl h. 213]

Letak Lafadh Tambahan

Letak lafadz-lafadz tambahan diatas dibaca pada salah satu di antara tiga posisi berikut ini;

  1. Menggantikan tempat kalimat ‘hayya ‘alash shalâh’. Dalam artian, lafadz ‘hayya ‘alash shalâh’ dihapus dan digantikan dengan lafadz tambahan diatas. Hal ini disandarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Harits dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa ia pernah berkata kepada muadzinnya, ‘Setelah kamu mengucapkan, ‘Asy hadu Allâ ilâha illallah wa asy hadu anna Muhammadar rasûlullah’ maka janganlah kamu ucapkan, ‘Hayya ‘Alash Shalâh’ tetapi ucapkan, ‘Shallû fi Buyûtikum’. Ia berkata,‘Seakan-akan orang-orang mengingkari perbuatan tersebut. Lalu Ibnu Abbas berkata, ‘Apakah kalian merasa aneh dengan amalan ini? Sesungguhnya orang yang lebih baik dariku pernah melakukan ini. Sesungguhnya shalat jumat itu wajib pada hukum asalnya, dan sesungguhnya aku tidak suka kalian keluar berjalan diatas lumpur yang licin.’ [HR. Al-Bukhari 632, 666, Muslim 697]
  2. Atau diucapkan setelah kalimat, ‘Hayya ‘alash shalâh-Hayya ‘alal falâh’ [sebelum mengucapkan ‘Allahu Akbar-Allahu Akbar, Lâ Ilaha Ilallah]. Hal ini sandarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Aus, ia berkata, ‘Telah mengabarkan kepadaku seseorang dari bani Tsaqif, bahwa ia pernah mendengar muadzin Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yakni di malam turunnya hujan ketika dalam perjalanan, mengatakan, ‘Hayya alas shalâh, Hayya alal falâh, shallû fi rihâlikum.’ [Shahih. An-Nasai 653]
  3. Atau diucapkan setelah selesai mengucapkan lafadz azan semuanya. Yaitu setelah selesai mengucapkan Lâ Ilâha Illallah. Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu Umar. Bahwa ibnu ‘Umar pernah mengumandangkan azan pada suatu malam yang dingin, banyak angin dan hujan. Lalu diakhir adzan beliau mengucapkan, ‘Ala Shallu fi rihâlikum, ala shallu fir rihâl.’ Kemudian beliau berkata, ‘Jika malam sangat dingin atau pun hujan ketika safar, Rasulullah memerintah muadzinnya untuk mengucapkan, ‘Alâ Shallû fi rihâlikum.’ [HR. Muslim 697]

Kesimpulan

Sewaktu hujan, muadzin boleh memilih  salah satu dari tiga lafadz tambahan azan diatas lalu diletakkan pada salah satu dari tiga posisi berikut; setelah selesai adzan, menggantikan tempat kalimat Hayya ‘Alas Shalâh, atau setelah kalimat Hayya ‘alash shalah – hayya ‘alal falah. Wallahu A’lam.

 

Ditulis oleh

Al-Faqir Ilallah

Abu Halbas Muhammad Ayyub

DukuhDempok-Jember, 2009

 

Diskusi

One thought on “Lafadh Azan Sewaktu Hujan

  1. Reblogged this on Mari Belajar.

    Posted by muhammadnur | November 13, 2013, 5:55 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: