//
you're reading...
Fiqh Wanita

Wanita Memandang Wajah Laki-Laki Yang Bukan Mahram


Ulama berbeda pendapat tentang hukum wanita memandang laki-laki tanpa disertai syahwat, pada tiga pendapat:

  • Pendapat yang pertama: Adalah pendapat yang membolehkan.
  • Pendapat yang kedua: Adalah pendapat yang mengharamkan.
  • Pendapat yang ketiga: Bahwa pengharaman hanya berlaku khusus untuk istri-istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam (Ummahâtul Mukminin) dan diperbolehkan bagi wanita yang lain.

Dari tiga pendapat ulama diatas maka pendapat yang rajih [unggul] adalah pendapat yang membolehkan wanita memandang wajah dan badan laki-laki [selain auratnya] asalkan bukan atas dasar syahwat dan aman dari fitnah, dengan alasan sebagai berikut:

1. Hadits Fâthimah Bintu Qais yang Ber’iddah di Rumah Ibnu Ummi maktum

Dari Fathimah Bintu Qais radhiyallahu ‘anha: Bahwa Abu Amr Ibnu Hafsh mencerainya dengan thalak Al Battah, dan dalam satu riwayat: Dengan talak tiga, sedang dia (Abu Amr) sedang tidak ada di tempat, kemudian dia (Fatimah) datang menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dan terus menceritakan kejadian itu kepadanya, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyuruhnya untuk ber’iddah di rumah Ummu Syuraik, terus beliau berkata : Wanita itu sering ditemui sahabat-sahabatku, maka ber’iddahlah di rumah Ibnu Ummi Maktum karena dia itu laki-laki buta yang dimana engkau bisa meletakan pakaianmu di sana [HR. Muslim]. Ibnu Ummi Maktum bukanlah mahram bagi Fâthimah bintu Qais, namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyuruh ber’iddah dirumahnya. Tinggalnya ia disana tidak akan mungkin terhindar dari memandang tuan rumah. Wallahu a’lam.


2. Hadits ‘Aisyah yang menyaksikan Permainan Orang-Orang Habasyah

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku melihat Rasullullah Shollallahu Shollallahu ‘alaihi wa ‘alahi wasallam di pintu kamarku dan orang-orang Habasyah bermain dalam masjid Rasullullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘alahi wasallam, (beliau) menghijabiku dengan rida` [selendangnya] supaya aku dapat melihat permainan mereka”. [HR. Bukhari-Muslim].


3. Nabi Shalallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah memberi khutbah dihadapan para wanita

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan salat hari Raya Fitri. Beliau memulai dengan salat terlebih dahulu. Sesudah itu beliau berkhutbah kepada kaum muslimin. Selesai khutbah Nabi turun dan mendatangi kaum wanita. Beliau memberikan peringatan kepada mereka sambil berpegangan pada tangan Bilal. Lalu Bilal membentangkan pakaiannya dan para wanita memberikan sedekah. [HR. Muslim]

4- Lemahnya hadits Nabhân dari Ummu Salamah, yang mana ia merupakan sandaran bagi orang yang mengharamkan memandang laki-laki yang bukan mahram. Dari Nabhân mawla Ummu Salamah dari Ummu Salamah, ia berkata, “Dahulu aku pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan disamping beliau ada Maimunah. Lalu masuklah Ibnu Ummi Maktûm  dan itu terjadi setelah kami diperintahkan berhijab. Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Berhijablah kalian berdua darinya.” Lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah dia laki-laki buta yang tidak dapat melihat dan mengenali kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian berdua buta, bukankah kalian berdua bisa melihatnya.” [HR. Abu Dâwud dan At-Tirmidzi. Syaikh Albani berkata: Dhaif (lemah). Lihat Sunan Abu Dâwud 4/63 hadits nomor 4112, Irwâul Ghalîl 1806, Sunan At-Tirmidzi 5/102 dan Al-Misykât nomor 3116. Kelemahan hadits ini ada pada rawi yang bernama Nabhân ia tidak diketahui identitasnya (majhûl ‘ain) sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Baihaqy dan Ibnu ‘Abdil Barr]

5. Tidak Sahnya berhujjah Dengan Al-Qur’an Surah An-Nûr: 31

Bagi yang mengharamkan wanita memandang laki-laki berhujjah dengan firman Allah ta’ala: [Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya…] Qs. An-Nur: 31. Namun berhujjah dengan ayat ini tidaklah shahih. Karena maksud ayat diatas adalah memandang karena dasar syahwat. Adapun bukan karena syahwat maka telah diterangkan pada hadits-hadits shahih diatas.


6- Bagi ulama-ulama yang mengharamkan, menakwilkan hadits Aisyah diatas [yang menyaksikan permainan orang-orang
Habasyah] dengan beragam takwilan, namun takwilan tersebut adalah lemah. Misalnya perkataan Imam An-Nawawi, “Bahwa Aisyah pada waktu itu masih kecil belum baligh!” Bentuk takwil ini tertolak  karena disebagian jalur hadits menyebutkan bahwa itu terjadi setelah kedatangan utusan Habasyah sedang kedatangan mereka itu terjadi pada tahun 7 hijrah. Sedang usia Aisyah saat itu adalah 16 tahun [Lihat bantahan Ibnu Hajar dalam fathul Bari]. Atau perkataan Imam An-nawawi yang lainnya, “Dimungkinkan Aisyah hanya memandang kepada permainan tombak mereka bukan memandang wajah-wajah dan tubuh-tubuh mereka. Dan bila pandangan jatuh ke wajah dan tubuh mereka tanpa sengaja bisa segera dipalingkan ke arah lain saat itu juga.” Takwil ini juga tertolak! Karena tidaklah mungkin dipisahkan antara memandang kepada sifat [yaitu permainan] dan yang disifati [yaitu pemain].


7
. Menganalogikan haramnya wanita memandang laki-laki dengan haramnya laki-laki memandang wanita adalah tertolak dari dua sisi:

Pertama: Bahwa ini adalah analogi [qiyas] disaat adanya nash. Padahal tidak ada qiyas disaat adanya nash [dalil].

Kedua: Dan juga pendapat yang mengharamkan laki-laki memandang wajah wanita secara mutlak tidak dapat dibenarkan [Lihat Raddul Mufhim oleh Syaikh Al-Albani]

8. Yang patut dipertimbangkan: Bahwa laki-laki dimasa terdahulu [para shahabat dan tabi’in] selalu ada dalam kondisi terbuka wajahnya sedang para wanitanya menutup wajah-wajah mereka. Andai mereka sama dalam hukum niscaya para lelakinya pun diperintahkan untuk berniqab sebagaimana halnya para wanita atau para wanita dilarang keluar rumah, lantaran banyaknya laki-laki diluar rumah. Imam An-Nawawi berkata dalam [Syarah Muslim 2/545]: Adapun wanita memandang wajah laki-laki asing, jika itu atas dasar syahwat maka hal itu diharamkan menurut kesepakatan. Adapun jika bukan atas dasar syahwat maka kebolehannya bagi shahabat-shahabat kami ada dua pendapat dan yang paling shahih adalah haramnya hal itu…”

Ibnu Qudamah dalam [Al-Mughny 6/563] berpendapat bolehnya wanita memandang laki-laki.

Pendapat bolehnya wanita memandang wajah laki-laki asalkan tanpa dasar syahwat dan aman dari fitnah adalah pendapat yang unggul dalam mazhab hanabalah, syafi’iyyah, diunggulkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Hajar, Al-Qurthuby, Asy-Syaukani, Asy-Syaikh al-Albâny, Asy-Syaikh Musthafa Al-‘Adawy dalam [Jami’ ahkamun nisa’].  Wallahu A’lam.

Ditulis oleh Al-Faqir

Abu Halbas Muhammad Ayyub

DukuhDempok-Jember, 28 Desember 2010.

Diskusi

4 thoughts on “Wanita Memandang Wajah Laki-Laki Yang Bukan Mahram

  1. jazakumullahu khayran ustadz…..

    izin share

    Posted by abu 'aisyah | Desember 29, 2010, 7:02 am
  2. wah ijin copas njih ustad ^^
    barokallohufyk….

    Posted by febriana ratih | Desember 31, 2010, 6:58 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: