//
you're reading...
Fiqih

Usap Wajah Seusai Berdoa


Mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa adalah permasalahan khilafiyah dikalangan para ulama. Diantara mereka ada yang menganjurkannya dan ada pula yang melarangnya. Namun pendapat yang rajih (unggul) adalah meninggalkan perbuatan tersebut lantaran hadits-hadits yang menyebutkan tentang mengusap wajah setelah berdoa tidak lepas dari pembicaraan serta tidak masyhurnya perbuatan ini dikalangan para salaf.

 

Alasan Tidak Dianjurkannya Mengusap Wajah Setelah Berdoa

Alasannya karena tidak ada satu hadits shahih pun yang marfû’ kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang itu. Mengenai mengusap wajah seusai berdoa tercantum dibeberapa hadits dari sekelompok shahabat, diantaranya: ‘Umar bin al-Khaththâb, Ibnu ‘Abbâs, Yazîd bin Sa’îd al-Kindy radhiyallahu ‘anhum, namun semua hadits ini cacat. Berikut penjelasannya:

  • Hadits ‘Umar radhiyallâhu ‘anhu.

َوَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا مَدَّ يَدَيْهِ فِي اَلدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Dari ‘Umar bin al-Khaththâb radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Adalah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, beliau tidak mengembalikannya sebelum mengusap wajahnya.”

[Dha’îf [lemah]. HR. ‘Abdun bin Humaid dalam ‘Al-Muntakhab (39), at-Tirmidzi (3386),  al-Hâkim (1/536), adz-Dzahaby dalam ‘As-Siyar’ (11/68), ath-Thabrâni dalam ‘Al-Awsâth (7053), az-Zuhry dalam ‘Haditsnya’ (juz 5/97/1)  At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits gharîb, kami tidak mengetahuinya melainkan dari hadits Hammâd ibnu ‘Isa.” Ibnu Hibbân dan al-Hâkim berkata, “Ia (Hammad) meriwayatkan hadits-hadits palsu dari ibnu Juraij dan lainnya.” Hadits dilemahkan oleh imam Ahmad, Abu Hâtim, dan lainnya. Didhaifkan oleh al-Albâny dalam ‘Dhaif at-Tirmidzi (484)].

  • Hadits Ibnu ‘Abbâs radhiyallâhu ‘anhu

وعنْ ابنِ عبَّاس مرفُوعا: إذَا دَعَوْتَ اللهَ فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ ، وَلاَ تَدْعُ بِظُهُوْرِهِمَا، فَإِذَا فَرَغْتَ فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, secara marfu’, “Apabila engkau berdoa kepada Allah maka berdoalah dengan perut kedua telapak tanganmu dan janganlah engkau berdoa dengan punggungnya. Dan jika engkau telah selesai berdoa maka usapkanlah keduanya ke wajahmu.”

[Sanadnya Wâhin [lemah]. HR. Ibnu Mâjah (1181-3886), Muhammad bin Nashr dalam ‘Qiyâmul Lail’ (141), al-Baghawy (5/204), Ibnu Hibbân dalam ‘Al-Majrûhin’ (1/268), Al-Hâkim (1/536), Adz-Dzahaby dalam ‘Tadzkiratul Huffadz’ (2/616), Ibnul Jauzy dalam ‘Al-Wâhiyât (2/480). Dalam sanad hadits ini terdapat rawi yang bernama Shâlih bin Hassân. Imam Bukhâri berkata tentangnya, “Mungkarul hadits”, Ibnu Hajar berkata, “Matrûk”, Abu Hatim berkata, “Hadits mungkar.”]

  • Hadits Yazîd bin Sa’îd Al-Kindy radhiyallâhu ‘anhu

عَنْ يَزِيْد بِنْ سَعِيْد الكِنديِّ أَنَّ النَبِيَّ صَلى الله علَيْهِ وسلَّم كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ، مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَديْهِ

Dari Yazîd bin Sa’îd al-Kindy, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila hendak berdoa, beliau mengangkat kedua tangannya, serta mengusap wajahnya dengan keduanya (setelah berdoa).”

[Dha’if. HR. Abu Dawud (1492) dan Abu Nu’aim dalam ‘Ma’rifatush shahâbah’ (6614). Dalam sanad hadits ini terdapat rawi yang bernama Ibnu Lahi’ah. Ibnu Hajar dalam ‘Amâli al-Adzkâr’ berkata, “Dalam sanadnya ada ibnu Lahî’ah dan syaikhnya (Hafsh bin Hâsyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqas) seorang yang majhul.”]

 

Tiga hadits diatas tidak dapat saling menguatkan sehingga dikatakan derajatnya dapat dinaikkan pada posisi ‘hasan’ sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Hajar. Karena masing-masing dari tiga hadits diatas statusnya teramat lemah.

 

  • Atsar Ibnu ‘Umar dan Az-Zubar radhiyallâhu ‘anhuma

Dari Abu Nu’aim- dan beliau adalah Wahb- ia berkata, “Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar dan Ibnu Az-Zubair berdoa, keduanya mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajah.”

[HR. Al-Bukhâri dalam ‘Adabul Mufrad’ (609). Dalam sanad atsar ini terdapat dua rawi yang bernama Muhammad bin Fulaih dan bapaknya. Keduanya adalah rawi yang padanya terdapat perbincangan. Al-Hâfidz Ibnu Hajar menilai hadits ini sebagai hadits hasan begitu juga asy-Syaikh Al-Arnâuth dalam tahqiqnya untuk kitab ‘Jâmi’ul Ushûl Min Ahâditsir Rasûl’ sedang Asy- syaikh Albâni melemahkannya. Asy-Syaikh Abu Ishâq al-Huwayni dalam ‘Iqâmatud Dalîl’ berkata, “terbuka kemungkinan akan kehasanan hadits ini.”]

 

Komentar-komentar ulama tentang tidak bolehnya mengusap wajah seusai berdoa:

Imam Ahmad berkata, “Perbuatan ini tidak diketahui, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengusap wajahnya sesuai berdoa melainkan dari Hassan.” (Al-‘Ilal Al-Mutanâhiyah 2/840, 841).

Ibnu Taimiyyah berkata, “Adapun Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, maka hadits-hadits shahih tentang itu amatlah banyak. Adapun mengusap wajahnya dengan kedua tangannya (selepas berdoa) maka tidak ada hadits yang menyebutkan itu dari beliau melainkan satu atau dua hadits dan kedua hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.”  (Majmû’ Al-Fatâwa 22/519).

Al-‘Izz bin ‘Abdus Salâm berkata, “Tidak ada yang mengusapkan tangannya kewajahnya seusai berdoa melainkan orang jahil.” (Fatâwa al-‘Izz bin ‘Abdussalâm h.47).

Imam Al-Baihaqy juga mengingkari perbuatan ini dalam risalahnya kepada Abu Muhammad Al-Juwaini. Begitu juga dengan imam Mâlik, Ats-Tsaury, dan Ibnul Mubârak.

 

Bagaimana menyikapi saudara kita yang mengusap wajahnya sesuai berdoa?

Ketahuilah bahwa ulama-ulama yang menyunnahkan mengusap wajah seusai berdoa juga berhujjah dengan hadits-hadits yang telah kami sebutkan diatas. Mereka –diantaranya Al-Hafidz Ibnu Hajar- beranggapan bahwa hadits-hadits diatas menguatkan antara satu dengan yang lainnya, dengan demikian derajat hadits tersebut naik kepada posisi ‘Hasan’ dan hadits hasan sah dijadikan sebagai hujjah. Karena adanya perselisihan dalam menentukan derajat hadits diatas [dan yang rajih adalah tidak shahih], maka kita tidak membid’ahkan bagi mereka yang melakukan perbuatan ini.

  • Asy-Syaikh bin Bâz rahimahullah berkata ketika ditanyakan tentang persoalan ini, beliau menjawab, “…(keterangan-keterangan) diatas menunjukkan bahwa yang lebih utama adalah meninggalkan perbuatan itu (mengusap wajah).” [Fatâwa Islamiyah, yang dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnid Juz 4].
  • Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Aku berpandangan bahwa mengusap wajah setelah berdoa bukanlah sunnah; akan tetapi barangsiapa yang melakukannya maka ia tidak diingkari dan barangsiapa yang meninggalkannya maka ia juga tidak dingkari.” [Syarhul Mumti’ dalam bab Shalat Tathawwu’]
  • DR. Abdullah Al-Faqîh berkata, “Perkaranya longgar, sekalipun kami lebih merajihkan-sebagai bentuk kewara’an- tidak adanya mengusap wajah setelah berdoa.” [Lihat fatwa no: 5667]
  • Asy-Syaikh Abu Ishâq hafidzahullah berkata, “Aku berpendapat tidak bolehnya membid’ahkan orang yang mengusap wajahnya seusai berdoa sekalipun yang lebih utama adalah meninggalkan perbuatan itu.” [Iqâmatud Dalîl].

 

Al-Faqir Ilallâh Abu Halbas Muhammad Ayyub

DukuhDempok, Jember. 29 Desember 2010.

 

Diskusi

4 thoughts on “Usap Wajah Seusai Berdoa

  1. jazakallahu khairan, wa barakallahufiykum

    Posted by abu 'aisyah | Mei 2, 2012, 1:45 am
  2. Reblogged this on Rashiqa As-shafi'i and commented:
    Tidak Dianjurkannya Mengusap Wajah Setelah Berdoa

    Posted by rashiqaasshafii | Juni 26, 2012, 3:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: