//
you're reading...
Akhlak

Futûr, Ini Obatnya!


-Bagian pertama-

Adakalanya seorang muslim mendapatkan dirinya berada dalam keimanan yang kuat,  keyakinan yang bertambah, selalu siap memenuhi seruan Tuhannya, bersegera menuju kepada-Nya, dan selalu berlomba-lomba dengan hamba yang lainnya dalam segala bentuk ketaatan dan kebaikan.

Namun disaat yang lain, terkadang ia mendapatkan dirinya bersikap meremehkan, merasa lemah, mengabaikan, dan meninggalkan ragam ketaatan dan kebaikan. Kemalasan dan kejenuhan telah merasuki tubuhnya.

Dalam kondisinya seperti itu cita-citanya melemah dan tekadnya runtuh. Dihadapannya ada dua pilihan: Ia segera bersandar kepada Allah lantas mendapatkan keuntungan berkat taufik dan inayah-Nya sehingga ia dapat kembali menempuh jalannya yang pertama. Atau ia terjerembab ke bumi, hanya mengerjakan ibadah-ibadah fardhu saja, dan pada akhirnya hal itu akan menjadikannya semakin jauh dari Allah dan melakukan beragam penyimpangan- wal-‘iyâdzubillâh-.

Karena dasar itulah, kami merasa perlu mengangkat tema yang berkisar tentang penyakit futûr, lantaran ia adalah penyakit yang berbahaya, penyakit kronis yang menimpa para sâlikin (orang yang menempuh jalan) menuju Allah dari kalangan para dai, penuntut ilmu, dan kaum muslimin lainnya. Kami katakan seraya memohon pertolongan kepada Allah:

Definisi Futûr

Arti futûr dalam bahasa arab ialah menjadi lemah dan menjadi lunak. Ar-Râghib berkata, “Futûr ialah diam setelah giat, lunak setelah keras, dan lemah setelah kuat.” Dengan demikian makna futûr itu ialah bersikap malas, santai, dan lamban setelah tadinya bersungguh-sungguh, semangat, dan lincah.

Futûr Sebagaimana Yang Termaktub di Dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah

Allah ta’ala berfirman tentang aktivitas para malaikat-Nya, “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” QS. Al-Anbiyâ`: 20.

Dan dalam firman-Nya yang lain, “Mereka bertasbih kepada-Nya di malam dan di siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” QS. Fushshilat: 38.

Dan Allah berfirman tentang penghuni neraka, “Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.” QS. Az-Zukhrûf: 75.

Dan Allah ta’ala berfirman, “Hai Ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul.” QS. Al-Mâidah: 19.

Dan didalam sunnah yang shahih: Adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhâri (1150), dan Muslim (784) dari hadits Anas radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata, “Suatu ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke masjid, tiba-tiba ada tali yang dibentangkan diantara dua tiang masjid. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, ‘Tali untuk apakah ini?’ Orang-orang menjawab, ‘Ini tali milik Zaenab, ketika ia lemas dan letih maka ia berpegang padanya.’ Lalu Nabi bersabda, ‘Lepaskan tali itu. Hendaklah salah seorang diantara kalian shalat saat giatnya, maka apabila lemas atau letih maka duduklah.”

Ibnul Qayyîm rahimahullah berkata, “Saat-saat futur bagi para salikin (orang-orang yang berjalan menuju Allah) adalah hal yang tak dapat terhindarkan. Barangsiapa yang futûrnya membawa ke arah murâqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan senantiasa berlaku benar, tidak sampai mengeluarkannya dari ibadah-ibadah fardhu, dan tidak pula memasukkannya dalam perkara-perkara yang diharamkan, maka diharapkan ia akan kembali dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.”

Bagi mereka yang biasa menelaah perkataan ahli ilmu tentang masalah futur maka dia akan mendapatkan bahwa mereka (para ahli ilmu) menempatkan kedudukan futur berada diantara iltizâm (komitmen dalam beragama) dan inhirâf (menyimpang dari agama).

Maka seorang muslim yang baik, ia mesti berkomitmen kuat terhadap al-Qur`an dan as-Sunnah dengan sebaik-baik bentuk, dimana ia menunaikan semua macam ibadah fardhu begitu juga dengan ibadah-ibadah sunnah, ikut andil dalam menyeru (berdakwah) kepada Allah sesuai dengan kemampuan yang ia miliki, dan selalu melihat dalam dirinya cita-cita yang tinggi, giat dalam beraktivitas, dan senantiasa menyambut seruan Allah.”

Terkadang,  ada seorang muslim yang menyimpang, berlaku fasik, berpaling dari kebenaran, serta tenggelam dalam ragam kemaksiyatan. Adapun muslim yang futur, maka ia hanya mencukupkan pada ibadah-ibadah fardhu saja, tanpa ada sesuatu pun yang dapat merubah kondisinya, atau yang mendorongnya maju kedepan, atau yang dapat menguatkan cita-citanya, atau mendongkrak kemauannya. Ia benar-benar mandek di tengah jalan diantara jalan orang-orang yang berkomitmen (multazim) dan jalan orang-orang yang menyimpang (munharif). Dan setiap muslim amat butuh untuk mengetahui dirinya apakah ia tengah terjangkiti penyakit futur -dan ia termasuk penyakit hati yang paling parah- atau tidak?

Maka atas dasar inilah para ulama meletakkan beberapa tanda (alamat) yang dengannya dapat diketahui apakah seseorang itu terjangkiti penyakit futûr atau tidak. Ada banyak tandanya, namun tanda-tanda yang terpenting adalah sebagai berikut:

  1. Bermalas-malasan dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan; namun ini tidak bermakna meninggalkan ibadah-ibadah fardhu. Sebab jika ibadah fardhu ditinggal maka seseorang itu berstatus fâsik, ‘âshy (pelaku kemaksiyatan), disamping itu dia telah menyerupai orang-orang munafik-sekalipun ia tidak termasuk dari mereka- dimana mereka disifati oleh Allah, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” QS. At-Taubah: 54.
  2. Merasakan kekerasan dan kekasaran hati. Allah azza wa jalla berfirman, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.QS. Al-Hadîd: 16. Sedang tanda kerasnya hati adalah ketika hati tidak lagi memiliki kepekaan. Banyak hal yang dapat memberikan pengaruh kepada hati dan yang terpenting ada tiga: Al-Qur`an, kematian, dan nasehat. Maka hati yang keras tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan yang tiga ini sewaktu mendengarnya, membacanya, atau melihatnya.
  3. Merasa tidak bertanggung jawab terhadap beban yang ada di pundaknya. Ia tidak mau memikul beban dakwah, cuek dengan kondisi ummat yang tengah tercabik-cabik, kehilangan jati diri, dan jauh dari Allah ta’ala.
  4. Perhatian yang besar terhadap dunia, sibuk dengan urusan-urusan duniawi dengan jalan merusak kehidupan akhiratnya. Kesibukan telah menghalanginya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Allah ta’ala. Dunia itu manis dan hijau, dan teramat sedikit orang selamat darinya.
  5. Banyak omong pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Menghambur-hamburkan waktu tanpa faidah. Majlis orang-orang taat diketahui dengan dzikrullah di dalamnya, majlis orang-orang maksiyat diketahui dengan kemaksiyatan-kemaksiyatan di dalamnya, sedang majlis orang-orang futur diketahui dengan banyaknya pembincangan tak berguna di dalamnya.
  6. Mengentengkan dosa-dosa kecil, padahal ia adalah dosa yang lebih besar dari dosa dan itu juga termasuk tanda lemahnya iman.
  7. Gemar menunda-nunda pekerjaan. Barangsiapa yang mentadabburi firman Allah berikut ini, “Janganlah kamu pergi berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya), jika mereka mengetahui.” QS. At-Taubah: 81, maka ia akan memahami hakikat dari penundaan.

Tanda-tanda yang kami sebutkan diatas merupakan tanda-tanda terpenting dari penyakit futur. Maka barangsiapa yang mendapatkan salah satu dari tanda tersebut , maka ketahuilah bahwa kini ia tengah terjangkiti penyakit futûr. Adanya tanda-tanda futur diatas tentu ada penyebabnya. Dan diantara penyebab terpenting terjadinya futur adalah sebagai berikut [bersambung]

 

Diterjemahkan oleh Al-Faqîr Abu Halbas

Dari tulisan yang berjudul ‘al-Futûr…al-Asbâbu wal ‘Ilâju’

Karya Asy-Syaikh Shafwât Asy-Syawadfi rahimahullah.

DukuhDempok-Wuluhan, 06-Januari-2011

Diskusi

3 thoughts on “Futûr, Ini Obatnya!

  1. Masyaallah..
    Semoga Allah menjadikan kita sbg orang2 yang berusaha untuk berlepas diri dari perkara ini

    Barokallahu fiykum yaa abuya ^^
    afwan baru lihat artikelnya

    ana mau tanya pada point ke 2 tanda2 orang terjangkit futur, diatas kan dijelaskan ttg bagaimana kekerasan hati lalu bagaimana dengan kekasaran hati?

    Posted by Pohon Kurma | Januari 11, 2011, 12:11 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: