//
you're reading...
Fiqih, Hadits

‘Ajn Cara Bangkit Untuk Rakaat Berikutnya?


Ulama berbeda pendapat tentang posisi tangan di dalam shalat saat bangkit ke rakaat berikutnya, dalam tiga pendapat:

  • Pendapat Pertama: Posisi tangan bertumpu pada lutut –dan ini adalah pendapat yang lemah, karena bersebelahan dengan dalil-dalil yang tercantum pada pendapat kedua dan ketiga-
  • Pendapat Kedua: Posisi tangan bertumpu pada bumi/lantai dengan mengepalkannya (‘Ajn)
  • Pendapat Ketiga: Posisi tangan bertumpu pada lantai dengan tidak mengepalkannya (menghamparkannya).

Dan pendapat yang râjih adalah pendapat yang ketiga, yaitu posisi tangan bertumpu atau bertelekan pada bumi dengan menghamparkan jari-jemari tanpa mengepalkannya atau menggenggamnya.

 

Alasan Pengrajîhan Dan Bantahan Bagi Yang Menggenggam

1. Hadits-hadits shahih yang menyebutkan tentang sifat bangkitnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rakaat berikutnya hanya menyebutkan dengan kata-kata ‘bertelekan/bertumpu’ tanpa adanya pensifatan ‘Al-‘Ajn/mengepalkan’. Diantara hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhâri di dalam ‘Kitâbul Adzan bab Kaifa ya’tamidu ‘alal ardhi idza qâma 1/103 :

إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ ، ثُمَّ قَامَ

Artinya, “Maka ketika beliau bangkit dari sujud yang kedua, beliau duduk dan bertumpu diatas bumi, kemudian beliau berdiri.”

2. Adapun hadits yang dijadikan sandaran oleh mereka yang berpendapat disyariatkannya mengepalkan tangan (‘ajn), yaitu hadits Abu Ishâq Al-Harby, dimana ia berkata:

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ الله بن عُمَرَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بنُ بُكَيْر، عَنِ الْهَيْثَمِ، عَنْ عَطِيَّةَ بنِ قَيْسٍ، عَنِ الْأَزْرَق بنِ قَيْسٍ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَعْجِنُ فِي الصَّلَاةِ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ. فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ يَفْعَلُهُ.

“Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Umar: Telah menceritakan kepada kami Yûnus bin Bukair, dari Al-Haitsam, dari ‘Athiyyah bin Qais, dari Al-Azraq bin Qais (ia berkata): Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn didalam shalatnya, ia bertumpu pada kedua tangannya ketika hendak berdiri. Lalu aku bertanya kepadanya (mengenai hal tersebut), dan ia menjawab, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukannya.” [HR. Abu Ishâq dalam ‘Gharibul Hadits’ 2/323].

Aku katakan: Hadits ini baik secara sanad ataupun matan tidak cukup banyak membantu orang-orang yang berhujjah dengannya. Berikut penjelasannya:

Dari sisi sanad, maka hadits ini mengandung dua ‘illat (cacat), yaitu:

  • ‘Illat yang pertama adalah: Yûnus bin Bukair.

Mengenai Yûnus bin Bukair, Al-Hâfizh Ibnu Hajar dalam kitabnya ‘at-Taqrîb’ meringkas tarjamah(biografi hidup)nya, dengan berkata, “Shadûq yukhthi`.” Maksud dari ungkapan ini bahwa ia (Yûnus) lebih dominan melakukan kesalahan, yang kedudukannya lebih rendah dari istilah shadûq. Andaikan beliau hanya mencukupkan dengan kata, “Shadûq” untuknya, niscaya itu sudah cukup untuk meninjau ulang apa yang diriwayatkannya. Lalu bagaimana jika beliau menambahkan dengan sifat “khatha`/keliru” disamping dengan sifat lain yang dimilikinya berupa tidak kuatnya daya hafal serta tidak adanya keakuratan?

Adapun ungkapan Imam Adz-Dzahaby, “Hasanul Hadits.” Maka ungkapan ini tidak menyelisihi perkataan al-Hâfizh ibnu Hajar diatas. Al-Hâfizh dalam muqaddimah kitabnya ‘Mizânul I’tidal’ menyebutkan tingkatan-tingkatan ta’dîl. Dimana disana beliau memposisikan istilah ‘Hasanul Hadits’ ada pada tingkatan yang keempat, yaitu tingkatan yang paling rendah. Al-‘Allâmah as-Suyûthi dalam ‘Tadrîbur Râwi 1/343’ berkata, “Al-‘Iraqy menambahkan tingkatan ini, bersama dengan tingkatan-tingkatan yang sudah ada, yaitu, “Mahallahu ash-sidqu, ila ash-shidqi mâ huwa, syaikhun wasath, mukarrarun jayyid al-hadits, dan hasanul hadits,” Syaikhul Islâm –yakni al-Hâfzh ibnu Hâjar rahimahullah menambahkan, “Shadûq sayyi` al-hifzh, shaduq yahimu, shadûq lahu auhâm, shadûq taghyîr bi âkhirihi,” ia berkata, “dan ditambahkan dengan rawi yang dituduh  menganut aliran bid’ah seperti Syi’ah, Qadariyah, Nashibiyyah, Murji’ah, Jahmiyah, dst.” Orang-orang yang berada dalam martabat ini hadits-haditsnya ditulis dan dipertimbangkan keadaannya.

Al-Hafizh dalam muqaddimah kitabnya ‘Fathul Bâri’ berkata tentang Yûnus, “Mukhtalafun fîhi,” ungkapan atau ibarat seperti ini disisi para ahli hadits termasuk lafazh ‘tajrîh’, ia adalah satu derajat dimana hadits orang tersebut teranggap namun ia tidak dijadikan sebagai hujjah. Namun yang menakjubkan, bagaimana seseorang meremehkan penunjukan ibarat ini dan menjadikannya sebagai syariat dan agama pada apa-apa yang perawinya berkesendirian dalam meriwayatkannya. Lihatlah bagaimana Imam Ahmad bersikap tawaqquf (abstain) atas tambahan imam Mâlik –bersamaan dengan kedudukan beliau yang besar- untuk tambahan, “minal muslimîn” pada hadits shadaqah sebagaimana yang masyhur.

Kesimpulannya, bahwa ‘Yûnus bin Bukair’ bukan termasuk orang yang terpakai disaat berkesendiriannya. Dan penilaian yang paling dekat pada kebenaran terkait dengan Yûnus, adalah seperti yang dikatakan oleh Aj-Juzjâny, “Mesti diselidiki urusan/perkaranya.”

Adapun perkataan Asy-Syaikh Al-Albâny rahimahullah tentang ‘Yûnus’ bahwa dia itu ‘termasuk dari rijâl muslim’ maka termasuk perkataan yang melampaui batas. Begitu juga dengan perkataan orang yang mengatakan, “Imam Muslim meriwayatkannya sebagai syawâhid.” Ketahuilah, bahwa Imam Muslim tidak pernah menyebut nama Yûnus kecuali hanya satu kali saja, itu pun posisinya hanya sebagai ikutan, yang disertai dengan Waki’. Dan sudah merupakan suatu ketetapan bahwa, “Sesuatu yang tetap karena ikutan, maka ia tidak tetap jika berdiri sendiri.” Ini terkait dengan illat (cacat) pertama.

  • ‘Illat yang kedua: Adalah tidak diketahuinya identitas Al-Haitsam bin ‘Imrân Al-‘Ansi (majhul). Hal ini telah di isyaratkan oleh ath-Thabrâny dengan perkataannya, “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Al-Azraq kecuali Al-Haitsam, Yûnus bin Bukair berkesendirian meriwayatkan darinya..dst.” Al-Hâfzh Ibnu Rajab dalam ‘Fathul Bâri 6/63’ berkata, “Al-Haitsam ini tidak ma’rûf (dikenal).”

Aku berkata, “Tidak ada satu rawi pun yang mengikuti Yûnus pada ucapannya, “Ia (ibnu ‘Umar) melakukan ‘ajn.” Terdapat hadits Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhuma (mengenai cara bangkit kerakaat berikutnya) dari berbagai bentuk , namun tidak ada satu pun rawi yang menyebutkan seperti yang disebutkan oleh Yûnus. Berikut riwayat-riwayat tersebut:

  • Dari Al-Azraq bin Qais, ia berkata, “Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar, apabila ia bangkit dari dua rakaat, ia bertumpu di bumi dengan kedua tangannya.” Lantas aku bertanya, “(bertumpu) model apa ini?” Ibnu ‘Umar berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shalallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukannya.” [HR. Ath-Thabrâny dalam ‘Al-Awshath’ no. 3347] dari jalur Al-Haitsam dan didalamnya ada kelemahan. Hadits inilah yang disebut oleh Asy-Syaikh Al-Albâny sebagai mutaba’ah bagi hadist Yûnus. Dan boleh jadi, telah tersingkap dihadapan anda bahwa yang dikatakan mutaba’ah ini tidak menyebutkan melainkan satu bentuk saja, yaitu hanya menyebut kata ‘bertumpu’  dan bukan ‘Ajn’. Maka camkanlah itu!
  • Juga dari Al-Azraq bin Qais, ia berkata, “Aku pernah melihat ibnu ‘Umar bangkit didalam shalatnya dan ia bersandar pada kedua tangannya.” [HR. Ibnu Syaibah dalam Mushannaf-nya (3996) Telah menceritakan kepada kami Wakî’ dari Hammad bin Salamah].

Dan ini adalah seshahih-shahih dari riwayat Yûnus, dan rijalnya adalah rijâl Asy-syaikhain (Al-Bukhâri dan Muslim). Riwayat ini juga didukung riwayat Nâfi’ yang ia merupakan shahabat  istimewa Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhuma. [HR. Ibnu Abi Syaibah 3997 dan ‘Abdur Razzâq 2964].

  • Dan juga dari Al-Azraq, ia berkata, “Aku pernah melihat Ibnu ‘Umar, apabila bangkit dari dua raka’at, ia bertumpu di bumi dengan kedua tangannya. Lalu aku bertanya kepada anaknya dan kawan-kawan duduknya, “Barangkali beliau melakukannya karena ketuaannya?” Mereka menjawab, “Tidak, tetapi demikianlah keadaannya.” [HR. Al-Baihaqy 2632 dari riwayat Hammad bin Salamah.]

Dari semua  pemaparan hadits diatas, maka boleh jadi telah tersingkap olehmu- akan penyelisihan Yûnus terhadap orang yang lebih hafal darinya dan yang lebih banyak bilangannya. Dan tampak jelas olehmu kesalahan Yûnus dalam hal berkesendiriannya ia dalam meriwayatkan lafazh yang munkarah (yang diingkari).

 

Dari sisi matan

Diatas kaitannya dari sisi riwayat (sanad) adapun dari sisi dirayah (matan), maka ketahuilah bahwa ungkapan Yûnus, “ia melakukan ‘ajn” bukan maknanya menggenggam tangan sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang, sehingga ia memasukkan satu urusan didalam shalat yang ia bukan bagian darinya. Namun yang dimaksudkan dengan ‘ajn’ adalah seperti yang dikatakan oleh ahli lughah dan ahli ilmu.

  • Al-Harby si perawi hadits berkata (2/326): Perkataannya: Aku pernah melihat ibnu ‘Umar melakukan ‘ajn yaitu ia meletakkan kedua tangannya diatas bumi sebagaimana yang diperbuat oleh orang yang membuat adonan roti…dst. Yaitu bertumpu/bertelekan serupa dengan gerakan orang yang membuat adonan.
  • Dalam kitab ‘Lisânul ‘Arab’ (13/277): Ia melakukan ‘ajn di dalam shalatnya yaitu ia bertumpu pada kedua tangannya apabila ia hendak berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan…dst.
  • Dalam kitab ‘Al-Misbâh Al-Munîr’ oleh Al-Fayyûmi (2/393): Dan Al-Jauhary berkata: (‘Ajana) apabila berdiri bertumpu diatas bumi lantaran ketuaan. Dan Ibnu Fâris menambahkan atas ini: Seolah-olah (ia melakukan ‘ajn) . Kata sebagian ulama: Yang dimaksud adalah penyerupaan dalam hal meletakkan tangan dan bertumpu atasnya, bukan penyerupaan dalam mengepalkan (menggenggam) jari-jemari…dst.”

Aku berkata, “Dan makna itulah yang tampak dari susunan hadits bagi siapa saja yang memperhatikannya. Maka ucapannya, “Ia bertumpu…”adalah tafsir untuk perkataannya, “ia melakukan ‘ajn” oleh itulah kedua kata tersebut tidak di ‘athafkan (tidak disambung dengan kata penghubung ‘dan’). Dan hal ini akan semakin jelas dengan riwayat Ath-Thabrany, Ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan ‘ajn di dalam shalat; yaitu bertumpu.” Dan tidak ada lagi penjelasan setelah penjelasan ini!

Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan menggenggam jari-jemari tangan dan mengepalkannya serta bertumpu padanya ketika bangkit, maka ini tidak ada asalnya di dalam sunnah yang shahih. Ibnu Shalâh berkata, “Yang mengamalkan (kaifiyat) ini adalah kebanyakan dari orang-orang ‘ajam (non arab), dan ia adalah penetapan gerakan syariat di dalam shalat yang tidak boleh diamalkan dengan dasar hadits yang tidak shahih. Dan andai pun shahih, maka maknanya tidak seperti itu. Karena kata ‘Al-‘Âjin’ di dalam bahasa Arab adalah: Adalah laki-laki tua. Penyair berkata, “Maka seburuk-buruk tabiat seseorang adalah ketika kuat dan tua (‘Âjin).” Ibnu Shalah melanjutkan, “Jika sifat tua itu diambil dari kata, “Ajanal ‘ajîn” maka penyerupaannya itu ada pada kuatnya bertumpu/bertelekan pada saat meletakkan kedua tangan dan bukan pada tatacaranya yaitu dengan menggenggam jari-jemarinya…dst, dari kitab ‘At-Talkhish 1/260.

3. Untuk lebih memperjelas makna ‘Ajn’ berikut kami kutipkan perkataan Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid:  Al-ajn adalah cara seorang yang shalat untuk berdiri dari satu rakaat ke rakaat lainnya, yaitu seperti al-ajin (orang yang membuat ajn/adonan roti), yaitu dia mengepalkan kedua tangannya lalu bertumpu di atas punggung kedua telapak tangannya ketika akan berdiri dalam shalat. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan. Ini adalah kaifiat ajam (non arab), bukanlah sunnah yang disyariatkan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ucapan Ibnu Ash-Shalah -rahimahullahu Ta’ala-. Ini adalah kaifiat yang hanya dikerjakan oleh orang yang sudah tua dalam keadaan terpaksa -bukan dengan kesengajaan- karena kaifiat ini bisa membantunya untuk bangkit (ke rakaat selanjutnya). Kemudian, al-ajn mempunyai dua kaifiat dalam bahasa arab: Yang tersebut di atas, dan yang kedua adalah dengan menghamparkan kedua telapak tangan di atas tanah, sebagaimana yang ma’ruf dari keadaan para wanita ketika membuat adonan tepung.” [Lâ Jadîd Fi Ahkamis Shalah hal.47-48]. Wallahu ‘alam bishshawab

Disusun oleh Al-Faqîr Illallâh

Abu Halbas Muhammad Ayyub

DukuhDempok, Wuluhan, 10-January-2011.

Diskusi

One thought on “‘Ajn Cara Bangkit Untuk Rakaat Berikutnya?

  1. Jazakumullahu khairan. Wawasan semakin bertambah. Menunggu artikel lainnya.

    Posted by Ummul Fida' | Juni 18, 2011, 11:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: