//
you're reading...
Fiqh Wanita, Fiqih

Ini Yang Boleh Kamu Pandang! [Masalah Memandang Wanita Yang Dipinang]


Soal:

Sebutkan hasil pembincangan ahli ilmu tentang (hukum) memandang  wanita yang dipinang serta batasan yang boleh dilihat darinya?

Jawab:

Pendapat-pendapat ahli ilmu tentang itu dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Mayoritas ahli ilmu baik dari kalangan salaf maupun khalaf berpendapat atas bolehnya laki-laki memandang wanita yang hendak ia nikahi. Pendapat ini benar adanya lantaran berpijak  dengan apa yang telah kami (Asy-Syaikh Musthafa Al-‘Adawy) paparkan terdahulu[1] dari hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.[2]
  2. Terjadi perbedaan dikalangan para ulama[3] tentang batasan yang boleh dilihat dari tubuh wanita yang dipinang:
  • Mayoritas ulama berpendapat bolehnya laki-laki memandang wajah dan kedua telapak tangan dari wanita yang dipinang, dan ia tidak diperkenankan memandang selain itu. [4]
  • Imam Al-Auza’I –rahimahullah- berpendapat bahwa laki-laki boleh berupaya melihat apa yang ia kehendaki untuk dilihat dari wanita yang dipinang kecuali aurat.
  • Dawûd dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa laki-laki diperbolehkan melihat seluruh tubuh wanita yang dipinang (termasuk auratnya)[5]
  • Sedang imam Ahmad memiliki tiga riwayat: [Pertama]: Laki-laki hanya boleh melihat wajah dan kedua telapak tangannya. [Kedua]: Laki-laki hanya boleh melihat bagian tubuh wanita yang biasa nampak [dan terlihat dalam keseharian ketika dirumah saat bersama mahram] seperti leher, kedua betis, dan lainnya[6]. [Ketiga]: Laki-laki boleh melihat seluruh tubuh wanita termasuk aurat (berat)nya.  Karena terdapat nash tertulis dari beliau bahwa laki-laki boleh melihat wanita yang di pinang tanpa busana.

Pendapat yang unggul

Yang lebih menenangkan hati –wallâhu a’lam- bahwa apabila ada laki-laki yang datang meminang seorang wanita[7], maka sang wanita cukup menampakkan wajah dan kedua telapak tangannya sebagaimana pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama. Adapun jika laki-laki tersebut melihat tanpa sepengetahuan si perempuan (dengan cara sembunyi-sembunyi)[8] maka ia boleh melihat sesuatu daripadanya yang dapat mendorong untuk menikahinya. Karena suatu hal yang sulit dicerna baik dari sisi syariat atau pun akal, jika dikatakan kepada seorang wanita yang dipinang, “Tanggalkan semua pakaianmu sehingga si peminang dapat melihat apa yang ia  inginkan darimu” dengan demikian akan terjadi firnah dan kerusakan besar di muka bumi ini. Wallâhu a’lam.

Diterjemahkan oleh al-Faqîr Ilallah

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Dari kitab ‘As-ilatun Tathbiqiyyatun’ karya Syaikh Musthafa Al-‘Adawy

Dengan catatan kaki dari penerjemah.

DukuhDempok, Jember, 12- January-2011.


[1] Didalam kitab Jâmi’ Ahkamun Nisâ` (3/244-252).

[2] Diantara hadits-hadits tersebut adalah:

  • Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada Anda! Rasulpun mengangkat pandangan kepadanya dan mengamatinya dengan saksama. Kemudian beliau menundukkan pandangan…”  [Shahih. HR. Al-Bukhâri dan Muslim].
  • Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia berkata: “Suatu saat saya berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu datanglah seorang lelaki mengabarkan kepada beliau bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Rasulullah bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah melihatnya?” “Belum!” katanya. Beliau berkata: “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.” [Shahih. HR. Muslim].

[3] Perbedaan ini disebabkan karena nash-nash yang memerintahkan untuk melihat wanita yang dipinang tidak menentukan (mematok) bagian-bagian mana saja yang boleh dilihat. Namun nash-nash yang ada bersifat mutlaq (tidak terikat).

[4] Mereka beralasan pada sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Kalau begitu temui dan lihatlah wanita Anshar itu karena pada mata mereka terdapat sesuatu.” [Shahih. HR. Muslim] Alasan lain: Karena selain wajah dan kedua telapak tangan adalah aurat. Allah ta’ala berfirman, “(Artinya): Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa (Nampak) dari mereka.” QS. An-Nûr: 31. Imam An-Nawawi dalam (Syarh Shahih Muslim 3/580) berkata, “…Kemudian laki-laki hanya diperbolehkan melihat wajah dan kedua telapak tangannya saja; lantaran keduanya bukan aurat. Dan juga karena wajah menunjukkan cantik tidaknya wanita dan kedua telapak tangan menunjukkan subur atau tidaknya badan wanita. Ini adalah mazhab kami dan mazhab kebanyakan para ulama.”

[5]Kedua ulama ini berikut dengan imam Al-Auza’I  berhujjah dengan kemutlakan hadits Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam, “Jika salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka bila ia bisa melihat sesuatu daripadanya yang dapat mendorong untuk menikahinya hendaklah ia melakukannya.” [Hasan. HR. Ahmad 3/360], dan juga sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Lihatlah perempuan itu agar kalian berdua bias bergaul lebih langgeng.” [HR. At-Tirmidzi dan Ahmad]. Ungkapan, ‘bila ia bisa melihat sesuatu dari padanya’ dan ‘lihatlah perempuan itu’ bersifat mutlak (tidak terbatas). Namun imam An-Nawawi menolak pendapat ini dan berkata, “Ini jelas keliru! Pendapat ini menyelisihi ushûl (pokok-pokok) ahlus sunnah dan menyelisihi ijmak.” [Syarh Muslim 3/580].

[6] Ibnu Qudamah dlm Al-Mughni menerangkan riwayat ini: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan utk nazhar secara mutlak baik dengan seizin dan sepengetahuan si wanita yg bersangkutan ataupun tidak berarti beliau mengizinkan utk melihat apa yg biasa terlihat dlm keseharian ketika di rumah bersama mahramnya. Karena ketika melakukan nazhar secara diam-diam tanpa seizin dan sepengetahuan si wanita maka tidak mungkin membatasi diri hanya melihat wajah saja. Bahkan bagian-bagian tubuh lain yg biasa nampak tentu akan terlihat pula.”

[7] Laki-laki tidak boleh melihat seorang perempuan yang ingin dinikahi sebelum benar-benar optimis bahwa walinya bersedia menikahkan  putrinya dengannya. Bila ia melihat ada sinyal yang menunjukkan bahwa wali tersebut tidak akan menerima pinangannya, maka ia tidak boleh melihatnya.

[8] Hal ini diperbolehkan. Muhammad bin Maslamah radhiyallâhu ‘anhu bercerita, “Aku pernah meminang seorang perempuan, tapi sebelumnya aku sembunyikan maksudku itu supaya aku bisa melihatnya di bawah pohon kurma.” Seseorang bertanya, “Mengapa engkau melakukan ini, sedangkan engkau shahabat Rasulullah?” Muhammad bin Maslamah menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Ketika Allah membersitkan dalam hati seseorang keinginan untuk meminang seorang wanita, maka ia boleh melihatnya.” [HR. Ibnu Mâjah. Dishahihkan oleh Al-Albâny dalam Shahihul Jâmi’ 1/131]. Jâbir radhiyallahu anhu berkata, “Sungguh aku telah meminang seorang wanita dari bani Salimah. Adalah aku, ketika itu bersembunyi di bawah pohon kurma sampai aku dapat melihatnya sebagian anggota badannya yang mengagumkanku, lalu aku kawini dia.”[Shahih. HR. Abu Dawud]. Tekhnik nadhor seperti ini (yaitu secara sembunyi-sembunyi) lebih menjaga perasaan wanita. Apalagi bahwa tahap melihat masih belum lagi menjadi keputusan akhir sebuah ketetapan pernikahan. Sehingga kalaulah calon suami kurang menerima kondisi pisiknya, maka wanita itu tidak merasa telah dilepaskan. Karena itulah dianjurkan untuk melihat wanita yang akan dikhitbah dengan tanpa sepengetahuan wanita yang bersangkutan.

Diskusi

2 thoughts on “Ini Yang Boleh Kamu Pandang! [Masalah Memandang Wanita Yang Dipinang]

  1. izin menyebarluaskan ustadz….jazakallahu khayr

    Posted by abu 'aisyah | Januari 14, 2011, 1:58 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: