//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyah [1]


Ad-Durarul Bahiyyah fil Masâilil Fiqhiyyah[1]

Aku memuji kepada yang memerintahkan kami untuk bertafaqquh fiddîn dan bersyukur kepada yang membimbing kami untuk berittibâ` pada sunah-sunnah sayyidil mursalîn. Aku panjatkan shalawat dan salam atas Rasulullah al-amîn, kepada keluarganya yang suci, dan kepada para shahabatnya yang mulia.

 

Kitab Thahârah[2]

  • Bab Air

–          Air itu suci lagi mensucikan[3]

–          Tidak ada yang dapat mengeluarkannya dari dua sifat tersebut melainkan apa-apa yang dapat merubah bau, warna, atau rasanya dari benda-benda yang najis.[4]

–          Yang kedua: Apa-apa yang dapat mengeluarkannya dari nama ‘air mutlak’ dari benda-benda pengubah yang suci.[5]

–          Dan tidak ada perbedaan, antara:

  1. Air yang sedikit dan air yang banyak[6]
  2. Volume air lebih dari dua qullah[7] dan kurang dari itu[8]
  3. Mengalir dan tergenang
  4. Musta’mal dan ghair musta’mal[9]

Pasal

  • Benda-Benda Najis Itu Adalah:
  1. Tinja manusia secara mutlak[10]
  2. Air kecing manusia[11], kecuali air kencing anak kecil yang menyusui[12]
  3. Air liur anjing[13]
  4. Kotoran binatang[14]
  5. Darah haid[15]
  6. Daging babi[16]

Adapun selain yang enam ini[17], maka kenajisannya masih diperselihkan oleh ulama.

Pasal

  • Tatacara Membersihkan Najis

–          Sesuatu yang terkena najis pensuciannya adalah dengan cara mencucinya hingga tidak tersisa dzat[18], warna, bau, dan rasa (dari benda najis tersebut)

–          Kasut dengan cara diusapkan[19]

–          Istihalah[20] juga mensucikan, lantaran tidak adanya sifat (najis) yang dihukumkan padanya.

–          Sesuatu yang tidak mungkin dicuci[21] maka dengan dituangkan air padanya

–          Atau dengan cara menguras darinya[22] hingga tidak tersisa bekas najis

–          Air adalah alat bersuci yang pokok. Maka tidak ada yang dapat menggantikan posisinya melainkan dengan adanya izin dari syari’at.[23]

 

Diterjemahkan dan disyarah secara ringkas

Oleh Al-Faqîr Abu Halbas Muhammad Ayyub

DukuhDempok-Jember, 20-01-2011

 

 

 

 


[1] Kitab ini adalah sebaik-baik ringkasan kitab fiqih, paling jelas dan paling shahih. Pengarangnya adalah al-imâm al-‘âlim al-mujtahîd Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukâni. Lahir pada tahun 1172 H. dan wafat pada tahun 1250 H. rahimahullahu ta’ala.

[2] Secera etimologi thaharah berarti bersih dan terbebas dari kotoran. Sedangkan secara terminology thaharah adalah terangkatnya hadats dan hilangnya najis.

[3] Yaitu suci pada zatnya dan mensucikan pula yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan kami turunkan dari langit air yang suci[QS; Al-Furqan 48]. Allah Ta’ala berfirman, ‘Jika kamu tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan tanah yang baik [bersih].[QS. Al-Maidah 6].

[4]Ibnul Mundzir rahimahullahu berkata, ‘Ulama sepakat bahwa air yang sedikit ataupun yang banyak jika kejatuhan najis lalu najis tersebut merubah rasa, warna dan bau air itu maka air tersebut adalah najis selama keadaannya tetap seperti itu.” [Al-Ijmâ` hal. 4]

[5]Semisal sabun, parfûm, dsb. Adapun jika benda-benda suci tersebut tidak sampai mengeluarkannya dari sifat ‘air mutlak’ maka air tersebut tetap dalam statusnya suci lagi mensucikan. Dari Ummu Hâni radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mandi bersama Maimunah dalam satu bejana, yang dalam bejana tersebut terdapat bekas adonan roti.” [Shahih. HR. Ahmad 6/341, An-Nasai 1/131, Ibnu Mâjah 378]. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘snhu, ia berkata, ‘Jika orang junub itu mengkeramas kepalanya dengan Khathmy niscaya hal itu cukup (sah).” ‘Khathmy adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengkramasi kepala.” [HR. Ath-Thabrani didalam Al-Kabir (9/254), Ibnu Abi Syaibah (1/71), dan terdapat pula atsar shahih yang semisal dari Ibnu Abbas.]

[6] Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun menjawab, “Air itu suci, tidak ada sesuatu pun  yang menyebabkannya menjadi najis.” [Shahih. HR. Abu Dawud  (66), At-Tirmidzi  (66), An-Nasai (1/174), Ahmad (3/31). At-Tirmidzi berkata, ‘hadits hasan.  Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam  “Talkhisul Khabir 1/12’ memaparkan beberapa penguat untuk hadits tersebut, dan beliau menyebutkan bahwa Imam Ahmad menshahihkannya. Demikian juga halnya dengan Yahya Bin Ma’in dan Ibnu Hazm. Syaikh Al-Bânî menshahihkannya di dalam “Irwâ’ Al-Ghalil” (14)  dan didalam ‘Shahihul Jami’ (1925).]

[7] Sebagian ulama kontemporer mengukur bahwa dua qullah itu seukuran 200 kg.

[8] Mengenai air dua qullah, Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila air itu sampai dua qullah, maka ia tidak mengandung kotoran.” [Shahih. HR. Abu Dawud (63), At-Tirmidzi (67), An-Nasai (1/46), Ibnu Majah (517,518), Ahmad (2/38), Dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah (92), Al-Hakim (1/224), Ibnu Mandah dan Ibn Daqiqul ‘Ied. Lihat Talkhisul Khabir (1/16-20).] Mafhum [makna implisit] untuk hadits ini menunjukkan bahwa  sesuatu yang kurang dari dua qullah pasti mengandung kotoran. Namun mafhûm seperti ini tidak terpakai lantaran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Air itu suci dan tidak ada tidak ada sesuatu pun  yang menyebabkannya menjadi najis.” Sabda Nabi ini berlaku secara umum termasuk air yang kurang dari dua qullah. Sebaik-baik jawaban untuk permasalahan ini adalah sebagai berikut:  Pertama: Apabila air itu mencapai kadar dua qullah atau lebih maka dalam keadaan apapun air tersebut tidak akan mengandung kotoran, karena banyaknya volume air sehingga najis yang masuk kedalamnya tidak tampak atau tidak terpengaruh dengan najis tersebut, dan hal ini sesuai dengan hadits yang kedua; ‘Air itu suci dan tidak ada tidak ada sesuatu pun  yang menyebabkannya menjadi najis.’ Kedua: Adapun  air yang kurang dari dua qullah, maka hadits diatas tidak menyebutkan bahwa ia serta merta mengandung kotoran, namun difahami darinya bahwa air yang kurang dari kadar itu tempat ia diduga mengandung kotoran, tapi teks hadits tidak menyebutkan bahwa ia mengandung kotoran, dan tidak juga menyebutkan bahwa apa yang mengandung kotoran dapat mengeluarkannya dari sifat thahuriyah-nya (sifat mensucikan). Terkecuali jika berubah salah satu sifat-sifatnya. Shiddiq Hasan Khan berkata, “Air yang kadarnya kurang dari dua qullah apabila ia mengandung kotoran, yang mana kandungan itu menyebabkan berubahnya bau air, warna atau rasanya, maka hal inilah yang menyebabkan najisnya air dan keluar dari sifat thahuriyah-nya (sifat mensucikannya), sedang apabila yang dikandungnya itu tidak merubah salah satu dari sifat-sifat diatas, maka kandungan ini tidak menyebabkan najisnya air.’ [Raudhatun Nadiyah (1/8).]

[9] Yaitu air yang terpisah dari anggota-anggota tubuh orang yang berwudhu dan juga orang yang mandi. Hukumnya, seperti pada hukum asal air, yaitu suci dan mensucikan, baik itu terdapat air yang lainnya ataupun tidak. Hal ini disandarkan pada hadits Rubayyi’ Binti Mu’awwiz radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Bahwasanya Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengusap kepalanya dari sisa air yang ada di tangannya.” [Hasan. HR. Abu Dawud (130), Al-Baihaqi (1/237), dan dihasankan oleh syaikh Al-Bânî.] Serta berpedoman pada hukum asal, dimana pada asalnya air itu adalah suci bertemu dengan anggota-anggota yang telah digunakan yang keadaannya suci pula, maka status thahur [suci lagi mensucikan] yang melekat pada air tersebut tidak hilang karenanya.

[10] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila  salah seorang di antara kalian sandalnya menginjak kotoran, maka sesungguhnya tanah itu sebagai pensucinya.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (385, 386), Al-Hakim (1/166), Al-Baihaqi (2/430), dan Ibnu Khuzaimah (292).]

Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila buang hajat, saya membawakan air untuknya, lalu beliau mencuci [duburnya] dengan air tersebut..[HR. Al-Bukhari (217), Muslim yang serupa dengannya (270,271).]

[11] Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati salah satu kebun dari kebun-kebun Madinah, lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang disiksa dalam kuburnya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu bersabda, ‘Keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Benar, yang seorang tidak bersuci dari kecingnya dan yang lain berjalan kesana kemari dengan menebar fitnah [mengadu domba].’ [HR. Al-Bukhari (216,218), Muslim (292)] Dan di dalam riwayat Muslim, ‘Ia tidak membersihkannya dari kencingnya.’ Maksudnya tidak menjaga diri dari air kencing.

[12] Mayoritas ulama berpendapat bahwa air kencing anak kecil tetaplah najis, hanya saja ia tergolong sebagai najis yang ringan. Dari Ummu Qais Radhiyallahu Anha bahwasanya ia pernah datang membawa anak laki-lakinya yang masih kecil dan belum mengkomsumsi makanan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu mendudukkan anak itu di atas pangkuannya -lalu anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau lalu minta dibawakan air, lalu beliau memercikinya dan tidak mencucinya.’[12] Dan dari Abu As-Samh Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Air kencing bayi perempuan dicuci [dengan air], dan air kencing bayi laki-laki diperciki [dengan air].’ [Shahih. HR. Abu Dawud (376), An-Nasai (1/158),   Ibnu Majah (526), dan  ia punya penguat dari hadits Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (377), Ibnu Majah (525), dan At- Tirmidzi (610).]

[13] Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Sucinya bejana seseorang diantara kalian apabila seekor anjing menjilat di dalamnya, adalah dengan dicuci sebanyak tujuh kali, yang salah satunya [dicampur] dengan tanah.’ [HR. Muslim (279) Abu Dawud (71), At-Tirmidzi (91), An-Nasai (1/177).]

[14] Ulama berbeda pendapat tentang najisnya kotoran binatang. Yang râjih bahwa semua kotoran binatang  baik binatang yang halal dimakan dagingnya (ma`kul al-lahm) ataupun yang tidak halal dagingnya (ghair ma`kul al-lahm) adalah suci kecuali kotoran keledai. Diantara dalil sucinya kotoran binatang adalah hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Beberapa orang dari Ukal atau dari suku Urainah datang di Madinah lantas merasa tidak cocok dengan udaranya [sakit], lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan [beberapa orang shahabatnya untuk mengantarkan kepada mereka yang datang itu-penj.] beberapa ekor unta yang banyak air susunya sekaligus menyuruh mereka keluar [meninggalkan Madinah], lalu mereka meminum kencing dan air susu unta itu. [HR. Bukhari (233),(6802),(6803),(6805). Muslim (1671). Abu Dawud (4366), An-Nasai (7/94).] dan juga Nabi shallallâhu alaihi wa sallam membenarkan shalat di penambatan kambing. Adapun dalil najisnya kotoran keledai: Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah datang ke jamban, lalu beliau menyuruhku agar membawakannya tiga batu. Dua batu telah aku dapatkan dan aku berupaya mencari batu yang ketiga namun aku tidak menemukannya. [sebagai gantinya] aku mengambil sebuah kotoran hewan [yang sudah mengering] dan menyerahkannya kepada beliau. Beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran tersebut, seraya bersabda, ‘Ini adalah najis [rijsun].’– hadits riwayat Al-Bukhari- Dan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah ada tambahan, ‘Lalu aku telah mendapatkan dua batu untuk beliau dan kotoran keledai.’ Shiddiq Hasan Khan Rahimahullah berkata, ‘Kebenaran yang mesti diterima adalah menghukumi kenajisan sesuatu yang kenajisannya merupakan hal yang aksioma di dalam agama,  yaitu kencing dan kotoran manusia. Adapun selain itu, jika terdapat dalil yang menunjukkan kenajisannya seperti Ar-Rautsah – yaitu kotoran keledai  seperti yang terdapat di dalam hadits ibnu Mas’ud-  maka wajib dihukumi demikian (najis). Dan jika tidak terdapat dalil yang menunjukkan atas kenajisannya maka ‘Al-Barâatul Ashliyyah’ (asal sesuatu itu tidak ada) adalah cukup untuk meniadakan bentuk taabbud [peribadatan]  bahwa sesuatu itu adalah najis tanpa dalil, karena asal pada tiap-tiap sesuatu itu adalah suci, dan menghukumi atas kenajisannya adalah hukum taklifi [pembebanan] yang merata kepada banyak orang, dan hal itu tidak halal  kecuali setelah tegaknya hujjah. [Ar-Raudhatun Nadiyah (1/14), dan lihat Nailul Authar (1/59-62).]

[15] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anha bahwasanya Khaulah binti Yasâr Radhiyallahu Anha ia berkata, ‘Ya Rasulullah, saya tidak memiliki pakaian kecuali satu dan itupun saya kenakan disaat berhaid?’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau telah suci, maka cucilah wilayah yang terkena darah, kemudian shalatlah dengan menggunakan pakaian tersebut.’ Khaulah berkata’ ‘Bagaimana jika bekas darah tidak hilang?’ Beliau bersabda, ‘Air sudah cukup bagi kamu, [setelah itu] bekasnya tidak menjadi masalah.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (365), Ahmad (2/364, 387), Al-Baihaqi (2/408), di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Lahi’ah, ia adalah rawi yang tsiqah [terpercaya]namun telah bercampur  hafalannya dan didalam riwayat yang shahih dari riwayat Al-Baihaqi  bahwa rawi yang meriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah adalah Abdullah bin Wahb. Sedang periwayatan Abdullah bin Wahb dari Ibnu Lahi’ah itu terjadi sebelum ikhtilaat (bercampurnya hafalannya), dengan demikian hadits tersebut adalah shah.]

[16] Allah Ta’ala berfirman, ‘Katakanlah, Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannnya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging Babi karena sesungguhnya ia adalah kotor” [QS; Al-An’am: 145]. Dhamir yang terdapat pada firmannya, ‘Fainnahu Rijsun’ kembali pada sesuatu yang disebutkan paling terdekat (yaitu daging Babi).

[17] Semisal: Air mani, madzi, darah selain darah haid, dll.

[18] Yaitu bekas najis. Apabila bekas atau dzat najis ini tidak hilang –setelah berupaya dihilangkan bekasnya- maka hal ini tidaklah membahayakan, hal ini didasarkan pada hadits Khaulah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak memiliki pakaian kecuali satu dan itupun saya kenakan disaat berhaid?’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau telah suci, maka cucilah wilayah yang terkena darah, kemudian shalatlah dengan menggunakan pakaian tersebut.’ Khaulah berkata’ ‘Bagaimana jika bekas darah tidak hilang?’ Beliau bersabda, ‘Air sudah cukup bagi kamu, [setelah itu] bekasnya tidak menjadi masalah.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (365), Ahmad (2/364, 387), Al-Baihaqi (2/408), di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Lahi’ah, ia adalah rawi yang tsiqah [terpercaya]namun telah bercampur  hafalannya dan didalam riwayat yang shahih dari riwayat Al-Baihaqi  bahwa rawi yang meriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah adalah Abdullah bin Wahb. Sedang periwayatan Abdullah bin Wahb dari Ibnu Lahi’ah itu terjadi sebelum ikhtilaat (bercampurnya hafalannya), dengan demikian hadits tersebut adalah shah.]

[19] Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian datang [masuk] ke masjid maka hendaklah ia membalikkan kedua sandalnya dan memperhatikannya, apabila ia melihat kotoran, maka hendaklah ia mengusapnya ke tanah, kemudian ia shalat dengan menggunakan sandal tersebut.’ [Shahih. HR. Abu Dawud  (650) dan Ahmad (3/92). Lihat ‘Shahih Al-Jami’ (461).]

[20] Istihalah adalah perubahan sesuatu menjadi sesuatu yang lain berbeda dengan aslinya pada rasa, bau dan warnanya, seperti permentasi. Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, ‘Apabila kotoran atau bangkai itu dibakar atau ia berubah lalu menjadi abu, atau debu maka kesemuanya itu adalah suci.’ [Al-Muhalla (1/166)] Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah berkata, Dan pendapat yang unggul, sucinya najis itu disebabkan karena berubah dalam bentuk lain, dan yang demikian adalah pendapat Abui Hanifah, salah satu dari dua pendapat dalam mazhab Ahmad dan Malik.’ [Al-Fatawa Al-Mashriyah (hal.19).]

[21] Semisal tanah atau sumur yang kejatuhan najis. Dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat seorang arab dusun kencing di dalam masjid, lalu beliau bersabda, ‘Biarkan dia!’ hingga tatkala orang itu selesai kencing, Nabi meminta setimba air lalu dituangkannya dibekas kencing orang itu.’ [Muttafaqun Alaihi].

[22] Semisal bangkai yang jatuh ke dalam sumur, dan yang semisalnya.

[23] Allah Ta’ala berfirman, ‘Jika kamu tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan tanah yang baik [bersih].[QS; Al-Maidah 6]. Ayat ini menunjukkan bahwa bersuci dari hadats pada asalnya dengan menggunakan air, jika air tidak ada maka bersuci dilakukan dengan menggunakan tanah yang baik (tayammum).

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: