//
you're reading...
Fiqih

Kesalahan-Kesalahan Di Bulan Ramadhan


Dapat mencapai Ramadhan dan berkesempatan melaksanakan puasa di dalamnya adalah merupakan karunia yang sangat berharga dan nikmat yang tidak terukur nilainya. Sedang bagi mereka yang usianya tidak mencapai Ramadhan atau mencapai Ramadhan namun dijauhkan dari kebaikan bulan Ramadhan maka itu sama artinya bahwa ia telah dijauhkan dari nikmat.

Melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, mengamalkan bid’ah, mencampakkan dan mengabaikan sunnah-sunnah Rasulullah di bulan ramadhan adalah termasuk dari bagian orang yang dijauhkan dari nikmat. Oleh itu, berhati-hatilah! Sadarlah akan karunia yang telah diberikan oleh-Nya. Mohonlah kepada Allah agar Dia menolong kita untuk bisa berdzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Nya dengan sebaik-baiknya.

Dan kepada Anda wahai pembaca budiman, inilah di antara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di saat mereka berpuasa :

 

1. Merasa berat dengan datangnya bulan Ramadhan. Hari-hari dan malam Ramadhan terasa berjalan lambat, lantaran bulan Ramadhan adalah pendinding dari syahwat-syahwat mereka dan penghalang untuk mereguk beragam kelezatan yang mesti ia nikmati.

 

2. Sengaja berbuka di sianghari Ramadhan atau melaksanakan puasa dengan bolong-bolong. Padahal Allah berfirman, “[Artinya] Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu bertakwa.” [Qs. Al-Baqarah : 183].

Adz-Dzahabi berkata, ‘Adalah merupakan ketetapan d isisi kaum muslimin, ‘Bahwa barangsiapa yang meninggalkan puasa tanpa ada udzur maka ia lebih buruk dari pezina dan penenggak khamer, bahkan mereka meragukan ke-Islamannya.’

 

3. Berdusta, ghibah, mencaci maki, serta akhlak buruk lainnya. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggal-kan ucapan bohong, perbuatan bohong dan kebodohan, maka bagi Allah tidak ada kebutuhan dalam ia meninggalkan makan dan minum.’ [HR. Al-Bukhari 1804]. Beliau juga bersabda, ‘Puasa bukan hanya berarti meninggalkan makanan dan minuman, melainkan juga meninggalkan omong kosong dan perkataan cabul.’[HR. Ibnu Khuzaimah 2/242 dan Dishahihkan oleh Al-AlBâni 5376 dalam Shahih Al-Jâmi’.]

 

4. Para wanita keluar rumah dengan bersolek dan mengenakan wewangian. Apakah tujuan keluarnya itu ke masjid, pasar, sekolah, kampus, jalan dan lain sebagainya. Di samping hal tersebut mendapat murka dari Allah hal itu juga dapat merusak hati para lelaki yang sedang berpuasa. Takutlah kepada Allah wahai para wanita.

 

5. Tenggelam dengan hiburan yang merusak di antaranya adalah menonton televisi. Ketahuilah, artis-artis yang ada di dalam acara tersebut tidak lain hanya semakin menjauhkan jalan anda menuju Allah. Allah Ta’ala berfirman, ‘[Artinya] Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati Kami, serat menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.’ [Qs. Al-Kahfi : 28].

Jâbir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, ‘Jika kamu puasa maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari dusta dan dosa, tinggalkan kebiasaan menyakiti tetangga, bersikaplah penuh wibawa dan penuh ketenangan di saat engkau berpuasa, dan jangan jadikan hari tidak berpuasamu sama dengan hari berpuasamu.’

 

6. Menghambur-hamburkan harta. Puasa di-syariatkan meminimalisir makan dan minum. Namun disayangkan, pada bulan Ramadhan orang-orang justru lebih banyak mengeluar-kan biaya untuk keperluan sehari-hari bila dibandingkan dengan hari-hari biasa. Meng-hambur-hamburkan harta bukanlah akhlak kaum muslimin, melainkan termasuk sifat setan. Allah Ta’ala berfirman, “[Artinya] Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.’ [Qs. Al-Isra’ : 27].

 

7. Berpuasa dengan niat demi kesehatan atau disebabkan malu dengan orang lain. Kedua niat ini merusak keabsahan puasa. Karena, puasa tidak dilakukan, kecuali dengan mengharap ridha Allah. Adapun berdalih dengan sabda Nabi, ‘Berpuasalah kalian maka kalian akan sehat’ maka hadits ini adalah hadits lemah.

 

8. Melafadhkan niat ketika hendak berpuasa di keesokan harinya [di antara bentuknya adalah melafadhkan niat secara berjamaah seusai shalat tarawih]. Ini adalah perbuatan bid’ah. Tidak ada satu riwayat pun dari Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang menyatakan beliau melafadhkan niat dengan mulutnya.

 

9. Berlebihan dalam hal makan dan minum di saat berbuka puasa atau di saat sahur. Padahal Allah Ta’ala berfirman, “[Artinya] Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.’[Qs. Al-An’am : 141]. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Cukuplah bagi anak Adam, beberapa suap yang akan menguatkan tubuhnya. Adapun jika dia terpaksa berlebih-lebihan, dia hendaknya memberikan jatah sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga yang lain untuk nafas.’ [HR. Ahmad 4/132 dan dishahihkan oleh Al-Bâni didalam Ash-Shahihah 2265]. Ingatlah, bahwa jika lambung penuh maka fikiran akan mati, kebijaksanaan yang dimiliki akan hilang, dan anggota tubuh tidak mampu lagi untuk mengerja-kan ibadah. Jika terlalu banyak berbuka maka malam hari kita akan keruh dengan tidur. Dan jika terlalu banyak makan sahur maka siang hari kita akan penuh dengan rasa malas.

 

10. Menyia-nyiakan shalat Maghrib dengan berjamaah lantaran berbuka puasa. Hal ini banyak kita saksikan di masjid-masjid yang pada waktu maghrib di bulan Ramadhan sunyi disebabkan banyak ahlinya lebih mengutamakan berbuka puasa di rumah di bandingkan melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid. Padahal Rasulullah pernah berkeinginan kuat untuk membakar rumah-rumah orang yang shalat di rumahnya. [Lihat hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

 

11. Mengakhir-akhirkan shalat Dhuhur dan Ashar dari waktunya lantaran tidur yang berlebihan. Allah Ta’ala berfirman, “[Artinya] Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, [yaitu] orang-orang yang lalai dalam shalatnya.’ [Qs. Al-Mâ’un : 4-5]. Tidur merupakan salah satu karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Hanya saja, jika ia melebihi batas yang wajar maka ia bisa merusak hati. Dalam bulan puasa ini Anda mengharapkan sesuatu yang lebih besar, bahkan hal yang paling berharga dari segala sesuatu, yaitu surga Allah. Oleh karena itu, waspadalah dari banyak tidur sehingga waktu yang anda miliki tidak hilang dengan percuma, agama dan hati Anda tidak tersia-siakan.

 

12. Membiarkan anak-anak yang belum baligh meninggalkan puasa tanpa adanya latihan yang diberikan oleh orang tuanya. Padahal orang tua dianjurkan menyuruh anak-anaknya berpuasa sekalipun belum diwa-jibkan atas mereka dengan cara yang ber-tahap dengan misalnya menyuruh berpua-sa setengah hari dari Shubuh hingga Dhuhur atau Ashar. Dan hal inilah yang selalu dilakukan oleh para shahabat Rasulullah pada anak-anak mereka yang masih kecil.

 

13. Wanita berpuasa di bulan Ramadhan, padahal mereka sedang dalam keadaan haid atau nifas hanya karena malu dilihat oleh orang lain. Ini adalah satu kesalahan dan hukumnya adalah haram. Puasanya sama sekali tidak mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala bahkan sebaliknya mendapat dosa. 14. Shalat tarawih dengan tergesa-gesa [tidak tuma’ninah]. Terlalu cepat dalam melaksa-nakan shalat, tidak menyempurnakan sujud, ruku’, dan bacaan shalat lainnya. Padahal Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Seburuk-buruk pencuri adalah pencuri di dalam shalat, di mana ia tidak menyempurna-kan ruku, sujud, dan kekhusyu’annya.’ [HR. Ahmad 2/295 Lihat Shahihul Jami’ 986]. Rasulullah bersabda, ‘Tidak sah shalat seseorang yang tulang punggungnya tidak lurus ketika melakukan ruku’ dan ketika sujud.’ [Shahih. HR. An-Nasai 2/183, At-Tirmidzi 264].

 

15. Manjadi hamba Ramadhan. Di mana ia amat bersemangat dan tekun melakukan shalat, puasa, membaca Al-Quran di bulan Ramadhan dan ketika ia berada di bulan lainnya ia mengabaikan semua amalan-amalan tersebut. Takutlah kepada Allah. Engkau adalah hamba Allah Ta’ala. Ingatlah, Tuhan di bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama di bulan-bulan lainnya. Jangan sekali-kali meninggalkan amalan tersebut di luar bulan Ramadhan.

 

16. Menahan makan dan minum kurang lebih sepuluh menit sebelum adzan shubuh [atau biasa disebut dengan istilah Imsak]. Amalan ini adalah bid’ah. Tidak ada tuntunannya di dalam syariat. Yang benar, seseorang masih diperbolehkan makan, minum dan berjimak hingga benar-benar terbitnya fajar kedua [masuknya waktu shalat shubuh].

 

Demikianlah beberapa kesalahan yang sempat kami tuliskan. Mudah-mudahan hal ini dapat menjadi peringatan bagi mereka yang lalai. Jika seseorang tidak mampu menjadi ahli maghfirah pada saat-saat Ramadhan, lantas kapan dia akan merealisasikan semuanya itu? Wallahu A’lam Bish-Shawab.

 

Ditulis oleh Al-Faqir Ilallah

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Di Jember, 2008.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: