//
you're reading...
Fiqih

Sutrah Orang Yang Shalat


Mengabaikan urusan sutrah (pembatas) di dalam shalat adalah salah satu dari bentuk kesalahan dalam praktek beribadah yang banyak dilakukan orang-orang yang shalat. Bahkan di antara mereka ada yang sama sekali tidak mengerti dengan makna sutrah atau sama sekali belum pernah mendengarkannya. Padahal perintah dari Nabi untuk urusan yang satu ini teramat jelas dan tegas alias tidak samar.

Makna Sutrah
Sutrah adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menutup diri (pembatas). Dikatakan untuk suatu benda yang diletakkan di hadapan orang yang shalat; berupa tembok, tongkat, dan semisalnya dari benda-benda yang berdiri tegak dengan istilah sutrah, karena benda-benda tersebut menutupi orang yang lewat dari orang yang dilewati.

Dalil Disyariatkannya Sutrah
Di antara dalil-dalil disyariatkannya sutrah dalam shalat adalah dari Ibnu Umar berkata, ‘Bahwa Nabi berangkat shalat ‘Ied ke lapangan dan tombak kecil ada di tangannya. Beliau membawa dan menancapkannya di lapangan, lalu shalat menghadapnya.’ [HR. al-Bukhari 494; 972 dan Muslim 501].

Hukum Meletakkan Sutrah
Mayoritas ulama berpendapat bahwa meletakkan sutrah di dalam shalat tidaklah wajib melainkan sunnah. Sedang sebagian ulama di antaranya Ibnu Hazm [Lihat al-Muhalla 4/8] dan asy-Syaukani [Lihat Sailul Jarrâr 1/176 dan Nailul Authar 3/2] berpendapat wajib. Sedang pendapat yang unggul dari dua pendapat ini adalah pendapat yang mewajibkan. Hukum wajib ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya dari Abdullah bin Umar ia berkata, ‘Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu shalat kecuali dengan memakai sutrah”.’ [Hasan. HR. Ibnu Khuzaimah 820 dan al-Hakim 1/251].
Dan perlu diingat bahwa tidak ada satu riwayatpun menyebutkan bahwa Rasulullah pernah shalat tanpa memasang sutrah di hadapannya. Padahal dalam sebuah hadits, beliau bersabda, ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.’

Batalkah Shalat Tanpa Sutrah ?
Mengerjakan shalat tanpa sutrah adalah sah. Hanya saja dikhawatirkan nilai shalatnya berkurang atau dapat berakibat batalnya shalat jika seorang wanita haidh, keledai, atau anjing hitam melintas di hadapannya. Dari ‘Abdullah bin ash-Shamit, dari Abu Dzar dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian berdiri untuk shalat dan meletakkan di hadapannya sesuatu yang tingginya seperti pelana unta, maka hal itu menjadi sutrah untuk dirinya. Jika di depannya tidak ada sesuatu yang tingginya menyerupai pelana unta, maka shalatnya batal jika ada seekor keledai, wanita haidh, atau anjing hitam yang melintas.’ [HR. Muslim 510].

Hikmah Keberadaan Sutrah di Dalam Shalat
Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa hikmah meletakkan sutrah sewaktu shalat adalah untuk menghalangi pandangan mata pada wilayah yang berada di luar sutrah dan untuk menghalangi syaithan serta orang berlalu di hadapannya. Dari Abu Sa’id al-Khudri ia berkata, ‘Jika salah seorang di antara kamu shalat, maka hendaklah ia menghadap ke sutrah dan mendekat darinya, dengan demikian syaithan tidak akan dapat memutuskan shalatnya.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 698 dan Ibnu Majah 954].

Ukuran Tinggi Sutrah
Batas minimal tinggi sutrah adalah seperti tinggi pelana unta [kurang lebih seukuran ⅔ hasta. Sedang ukuran 1 hasta sendiri adalah ukuran antara ujung siku-siku tangan sampai ujung jari tangan yang tengah orang dewasa; kira-kira 46,2 cm]. Hal ini berdasarkan pada hadits Abu Musa bin Thalhah dari ayahnya dia mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian sudah meletakkan sesuatu setinggi pelana unta di hadapannya, maka shalatlah dan jangan pedulikan siapa saja yang melintas di belakang sutrah.’ [HR. Muslim 499].

Yang Dijadikan Sutrah
Asalkan tinggi minimal sutrah terpenuhi, maka boleh menggunakan apa saja sebagai sutrah asalkan ia suci. Ibnu Khuzaimah [di dalam Shahihnya 2/12] berkata, ‘… dengan demikian tembok, tiang, pohon, binatang kendaraan, tempat tidur, batu besar, tombak, tongkat orang yang sedang duduk (maupun meminta orang lain, atau lainnya boleh dijadikan sutrah. Rasulullah pernah menjadikan benda-benda berikut sebagai sutrah; tombak pendek; tembok, kendaraan unta; tiang; dan ranjang [HR. Bukhari dan Muslim]. Atau meminta orang lain untuk dijadikannya sebagai sutrah.

Letak dan Jarak Sutrah
Semua hadits-hadits tentang sutrah di atas menunjukkan bahwa letak sutrah itu berada di hadapan orang yang shalat. [Lihat adh-Dhaifah 5814].
Dari Sahl bin Sa’ad dia berkata, ‘Antara tempat shalat Rasulullah dan dinding adalah kira-kira jalan tempat lewatnya seekor kambing.’ [HR. Bukhari 496 dan Muslim 508]. Dan dalam hadits Bilâl bahwa Rasulullah pernah masuk ke dalam Ka’bah lalu shalat, sedang jarak antara beliau berdiri dengan dinding berjarak tiga hasta.’ [Shahih. HR.Ahmad 2/113 dan an-Nasa’i 2/63]. Di antara ulama dari dua hadits di atas menyimpulkan; Ad-Dawudi berkata, ‘Jarak minimal adalah seukuran tempat lewatnya seekor kambing dan jarak maksimal adalah tiga hasta,’ sedang ulama lain berkata, ‘Jika pada posisi berdiri dan duduk maka jaraknya adalah seukuran tempat lewatnya seekor kambing dan jika pada posisi sujud dan ruku’ maka jaraknya tiga hasta.’ [Fathul Bâri’ 1/575].

Jika Sutrah Beranjak Pergi
Jika sutrah yang digunakan berupa orang yang sedang duduk atau hewan tunggangannya beranjak pergi, maka yang ia lakukan (hanya pada posisi berdiri) adalah berupaya keras mencari ganti sutrah tersebut. Baik dengan cara meraih sesuatu yang ada di dekatnya untuk dijadikan sutrah atau ia berjalan menuju tiang/tembok yang ada di samping kanan-kirinya, yang ada di depannya, atau di belakangnya. Imam Malik berkata, ‘Dan tidak mengapa bergeser setelah salamnya imam ke sesuatu yang dekat dengannya berupa tiang-tiang yang ada di depan, samping kanan-kirinya, atau di belakang dengan cara mundur sedikit untuk dijadikan sebagai sutrah. Namun, jika letaknya jauh maka ia tetap berdiri di tempatnya dan bersungguh-sungguh menahan orang yang melewatinya. [Akhthaul Mushallin oleh syaikh Masyhur hal. 87].

Sutrah Imam adalah Sutrah Bagi Makmum
Di dalam shalat berjama’ah makmum tidak diwajibkan meletakkan sutrah, karena sutrah dalam shalat berjama’ah adalah tanggung jawab imam. Ibnu Abbas berkata, ‘Aku tiba dengan mengendarai unta betina. Rasulullah sedang mengimami manusia di Mina. Lalu aku lewat di depan shaf, aku turun dan melepaskan unta betina agar makan dan aku masuk shaf. Dan tidak ada seorangpun mencelaku atas perbuatan itu.’ [HR. Bukhari 493 dan Muslim 504].

Mendekatkan Orang ke Sutrah
Jika seseorang melihat orang lain shalat tanpa mengenakan sutrah, maka ia diperbolehkan menggiring orang tersebut ke arah sutrah yang terdekat. Umar bin Khaththab pernah melihat seseorang shalat di antara dua tiang, lalu Umar memi ndahkannya ke dekat sebuah tiang …’ [HR. Bukhari].

Kesimpulan
Diwajibkan bagi imam dan orang yang shalat sendirian, laki-laki maupun wanita, untuk membuat sutrah dalam shalat.

Ditulis oleh Al-Faqir
Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember-Indonesia

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s