//
you're reading...
Fiqih

Baju Warna Merah


Soal:
Apakah dibolehkan bagi laki-laki mengenakan pakaian atau kaos berwarna merah?

Jawab:
Pakaian berwarna merah itu ada dua macam:
Pertama: Pakaian warna merah yang merupakan hasil dari celupan ‘Ushfûr [tumbuhan yang tumbuh di musim panas yang bunganya berbentuk silinder. Ada yang tumbuh di perkam-pungan dan ada pula yang tumbuh liar. keduanya tumbuh di tanah Arab. Bunganya dapat dijadikan sebagai bumbu. Dari tumbuhan ini juga dapat di-hasilkan bahan pewarna berwarna merah]. Dan pendapat yang unggul bahwa diharamkan bagi laki-laki memakai pakaian warna merah yang merupakan hasil dari celupan ‘ushfûr. Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihatnya memakai dua helai pakaian yang dicelup dengan ‘ushfûr. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata, ‘Ini termasuk pakaian orang kafir. Jangan engkau pakai. ‘[HR. Muslim 2077]
Kedua: Pakaian warna merah yang bukan hasil celupan dari ‘ushfûr [dan jenis inilah yang umumnya banyak dipakai oleh orang-orang termasuk dinegeri kita ini]. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat hingga mencapai 7 pendapat sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar di dalam kitabnya Fathul Bâri [10/305]. Dan pendapat yang unggul dari pendapat yang banyak ini -wallahu A’lam- adalah pendapat yang membolehkan memakai pakaian berwarna merah polos [dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yang terdiri dari kelompok Malikiyah, Syafi’iyah, dan sebagian Hanafiyah]. Adapun dasar pembolehannya adalah sebagai berikut [di antaranya] :
1. Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan, ‘Postur tubuh Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu adalah sedang. Saya pernah melihat beliau shallallahu alaihi wa sallam memakai setelan pakaian berwarna merah. Saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus dari itu.’ [HR. Al-Bukhari 5848]
2. Hilal bin Amir Al-Muzani radhiyallahu anhu meriwayatkan dari ayahnya, ‘Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Mina sedang menyampaikan khutbah dari atas seekor bighal. Pada saat itu, beliau mengenakan burdah berwarna merah, sedang Ali radhiyallahu anhu berada di hadapan beliau menerangkan khutbahnya.’ [HR. Abu Dawud . Ibnu Hajar di dalam Al-Fath menyatakan sanadnya hasan]

Alasan Yang Melarang Memakai Pakaian Merah Dan Jawabannya
Sebagian ulama ada yang memakruhkan mengenakan pakaian yang berwarna merah polos yang tidak dicampuri dengan warna lain. Mereka beralasan dengan dalil-dalil berikut ini:
1. Al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu anhu meriwayatkan. ‘Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan kami 7 hal dan melarang pula 7 hal – lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan di antara larangan tersebut – , [memakai] bantalan pelana berwarna merah.’ [HR. Bu-khari 5849]
2. Imrân bin Hushain radhiyallahu anhu meriwayatkan : ‘Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang [mendudu-ki] pelana yang berwarna sangat merah.’ [Shahih. HR. At-Tirmidzi 2788.Lihat Shahih Al-Jâmi’ 6907]

Jawaban untuk dua hadits di atas
‘Bahwa dua larangan pada hadits di atas hanya terbatas pada mengenakan bantal pelana yang berwarna merah. Lalu, apa dalil tentang pengharaman dan pemakruhan mengenakan pakaian atau baju yang berwarna merah? Pada-hal, ada keterangan yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah memakainya? [lihatlah dua hadits sebelumnya tentang Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenakan pakaian merah]. Menurut Abu Ubaidah radhiyallahu anhu ,bantal pelana merah yang masuk dalam larangan tersebut adalah bantal pelana orang non Arab yang terbuat dari sutra. Jadi, illatnya [motivasi hukumnya] adalah karena bantalan itu terbuat dari sutra atau karena merupakan bantal pelana non Arab. Dan kita memang dilarang menyerupai mereka.’ Al-Munawi [lihat Fathul Qadir 6 / 424]berkata, ‘Pelarangan menggunakan bantal pelana berwarna merah illatnya bukan karena warnanya yang merah, lantaran banyaknya dalil-dalil yang menjelaskan halalnya memakai pakaian warna merah bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri mengenakannya.’

Kesimpulan
Dibolehkan mengenakan pakaian yang berwarna merah polos yang bukan hasil celupan ‘ushfûr. Wallahu A’lam

Ditulis oleh Al-Faqîr IlalLâh
Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 2009

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: