//
you're reading...
Fiqih

Bermain Musik Itu Haram


Soal:
Di antara kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah kami adalah pelatihan musik (Group Band). Untuk pelatihan musik ini amat banyak digemari oleh siswa. Bagaimana menurut Islam tentang hukum bermain musik dan ikut serta dalam kegiatan Group Band ini? Harap dijelaskan.

Jawab:
Bagi mereka yang terbuai dengan alunan musik, yang menjadikannya sebagai penghibur jiwa dan penenang hati, yang menjadikannya sebagai bagian hidup yang tak terpisahkan, yang tidak dapat berkonsentrasi kecuali dengannya, yang menjadikannya sebagai alat dakwah, yang menjadikannya sebagai salah satu unsur eksistensi dan popularitas diri, yang menjadikannya sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan-keuntungan materi, dan juga untuk dijadikan sarana untuk mendapatkan sanjungan serta sambutan yang gegap gempita. Maka kami persembahkan sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini :
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Artinya : “Benar-benar akan ada segolongan dari ummatku yang menghalalkan perzinahan, kain sutera, khamr (miras), dan alat- alat musik.’ [Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya no.5590, secara Muallaq dalam kitab Al-Asyribah. Dan telah diwashalkan (disambung) oleh Abu Dawud tanpa tambahan sabda Nabi ‘Al-Ma’âzif’ no. 4039. Begitu juga telah diwashalkan oleh Ath-Thabrani dan Al- Baihaqi didalam ‘As-Sunan’ 10/221 serupa dengan riwayat Al-Bukhari dan selain mereka. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Imam Nawawie dalam Irsyad Thullabil Haqaiq 1/196, Ibnu Taimiyah dalam Al-Istiqomah 1/294, Ibnu Qayyim dalam Tahdzib Sunan 5/270 dan Ighatsatul Lahfan 1/288 serta dalam Raudhah Al-Muhibbin hal.130, Ibnu Katsir dalam Al-Baitsul Hatsits 1/123-124, Ibnu Hajar dalam Taghliq Ta’liq 5/21-22, dan oleh Al-Albâny dalam Silsilah Ahadits As-Shahihah no.91 dan Tahrim Alat Tharb, dan yang lainnya].

Hukum Memainkan Alat-Alat Musik
Berpatok dengan hadits shahih riwayat Al-Bukhari di atas yang menggandengkan penghalalan alat-alat musik dengan penghalalan khamer dan zina, maka dapat disimpulkan bahwa memainkan alat-alat musik (seperti: gitar, seruling, terompet, piano, dan lain-lainnya) adalah haram hukumnya begitu juga menikmati hasil dari suara alat musik tersebut. Demikian pendapat mayoritas ulama temasuk di antaranya Imam-Imam yang empat [Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullâh berkata : ‘Barangsiapa yang memainkan alat-alat musik untuk agama maka tidak diragukan lagi akan kesesatan dan kebodohannya. Adapun jika hanya untuk bersenang-senang maka madzhab imam yang empat berpendapat bahwa alat-alat musik adalah haram.’ [Majmu’ Fatawa 11/576].

Lalu Mengapa di Antara Ulama ada yang Menghalalkannya?
Segelintir ulama -termasuk di dalamnya Ibnu Hazm Al-Andalusy dan Ibnu Thâhir- membolehkan dan menghalalkan alat-alat musik, lantaran mereka beranggapan bahwa semua hadits-hadits yang mengharamkan alat musik adalah lemah dan palsu, termasuk hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari di atas !
Ibnu Hazm berkata (dalam mengkritisi hadits Shahih Bukhari di atas) : ‘Imam Al-Bukhari tidak meriwayatkan hadits tersebut secara bersanad, beliau hanya berkata, ‘Telah berkata Hisyam Bin Ammâr, kemudian Hisyam dari Abu ‘Amir, atau dari Abu Mâlik, dan tidak diketahui siapa Abu ‘Âmir ini’.
Intinya Ibnu Hazm mengkritisinya dari dua sisi. Pertama, keterputusan sanad antara Al-Bukhari dan Hisyâm. Kedua, adanya syak (keraguan) antara Abu Amir atau Abu Mâlik dan majhulnya (tidak diketahuinya) shahabat yang bernama Abu ‘Âmir tersebut !!

Bantahan untuk Ibnu Hazm dan Orang-orang yang Terpedaya Dengannya
Semoga Allah merahmati Ibnu Hazm, sesungguhnya beliau telah terjerumus dalam kesalahan yang fatal dalam hal ini. Banyak ulama yang telah membantah serta memberikan pernyataan keras untuknya termasuk di antaranya adalah Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala dalam kitab beliau yang berjudul ‘Ighâtstul Lahfân 1/288 dan ‘Tahzîb Sunân Abu Dawud 5/70′. Dan di antara sanggahan terhadap Ibnu Hazm mengenai pelemahannya terhadap hadits Al-Bukhari di atas adalah sebagai berikut:

Alasan Pertama dari Ibnu Hazm,
[‘Keterputusan Sanad antara Al-Bukhari dan Hisyam!]
Jawab :
1. Al-Bukhari bertemu dengan Hisyam bin ‘Ammar, bahkan ia mendengar darinya. Jika ia meriwayatkan dari Hisyâm dengan bentuk Mu’an-an, maka dibawa pada makna ittishâl (bersambung) menurut kesepakatan, lantaran keduanya semasa dan terwujudnya As-Simâ’ (pendengaran). Jika Imam Al-Bukhari berkata: (Hisyâm berkata) maka pada asalnya tidak ada perbedaan ketika beliau berkata: (Dari Hisyâm).
2. Orang-orang yang tsiqât (terpercaya) selain Al-Bukhari, mereka meriwayatkan hadits tersebut dari Hisyâm secara maushûl (bersambung); Al-Ismâ’ily berkata dalam (shahihnya), ‘Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan, ‘Telah menceritakan kepada kami Hisyâm bin ‘Ammar…dengan sanad dan matannya sama (dengan milik Al-Bukhari). Dan Al-Hasan adalah Ibnu Sufyân.
3. Andaipun Al-Bukhari tidak menjumpai Hisyâm dan ia tidak mendengar langsung darinya, maka keputusan beliau memasuk-kan hadits tersebut (hadits tentang haramnya alat musik) ke dalam kitab ‘Shahihnya’ dan dalam pemuatannya beliau menggunakan shighat jazm, menunjukkan bahwa hadits itu benar-benar valid disisinya dari Hisyâm. Beliau tidak menyebutkan Al-Wâsithah (perantara) antara dirinya dengan Hisyâm; lantaran ada kemungkinan masyhurnya para perawi atau kemungkinan banyaknya jumlah mereka, dan hadits itu diketahui dan amat dikenal datangnya dari Hisyâm, saking terkenalnya hingga tidak perlu pada penyebutan perantara.
Al-Allâmah Az-Zabîdy dalam ‘Ittihâf As-Sâdât Al-Muttaqîn 6/475′ berkata, ‘Al-Bukhâri jika menta’liqkan sesuatu dengan shighat jazm (Qâla) maka hal itu dapat dijadikan sebagai hujjah. Apalagi Al-Bukhâri menta’liqkannya dari Hisyâm bin ‘Ammar dalam keadaan ia benar-benar berjumpa dengannya. Dengan demikian ta’liq tersebut dibawa pada makna mendengar. Maka hukum yang berlaku adalah hukum washal sebagaimana hal itu ma’ruf pada tempatnya.’

Alasan Kedua dari Ibnu Hazm,
[‘Adanya Syak (keraguan) antara Abu Amir atau Abu Mâlik serta Majhulnya (tidak diketahuinya) Shahabat yang Bernama Abu ‘Âmir Tersebut!!]
Jawab :
1. Pelemahan Ibnu Hazm terhadap hadits diatas lantaran ada keraguan pada nama shahabat (apakah dia Abu ‘Amir atau Abu Mâlik) adalah alasan yang teramat lemah disisi para ulama. Dengannya Al-Hâfidh Ibnu Hajar dalam ‘Al-Fath 10/24′ berkata, ‘Syak (ragu) pada perihal nama shahabat tidaklah membahayakan, hal itu dianggap cacat oleh Ibnu Hazm namun pendapat itu tertolak!.’
Mengapa hal itu tidak membahaya-kan ? lantaran semua shahabat Rasulullah -semoga Allah meridhai mereka semua- adalah adil. Al-Allâmah Al-‘Ainy dalam ‘Umdatul Qâri 21/175′ berkata dalam bantahannya kepada orang-orang yang meragukan keshahihan hadits lantaran terjadi syak pada nama shahabat; ‘Hal ini tidak teranggap sama sekali; lantaran kebimbangan pada nama shahabat tidaklah membahayakan lantaran mereka semuanya adil.’
2. Adapun tentang tidak diketahuinya siapakah yang dimaksud dengan Abu ‘Âmir itu, maka hal tersebut juga tidaklah membahayakan. Karena Abu ‘Âmir adalah seorang shahabat dan semua shahahat Rasul adalah tsiqah (terpercaya), sama saja diketahui namanya atau tidak, atau diketahui kunyahnya ataupun tidak, sebagaimana pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama. (Lihat Al-Kâsyif oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid h.47).
Syaikh Ismail Al-Anshari berkata, ‘Dengan demikian jelaslah sudah bahwa hadits tersebut bersambung (tidak terputus sanadnya) dan jelas juga akan bathilnya perkataan Ibnu Hazm mengenai hadits tersebut. Dengan demikian ulama-ulama telah mewanti-wanti untuk bersandar pada perkataan ibnu Hazm tersebut. Diantara mereka adalah Ibnu Shalah dalam kitabnya ‘Mukaddimah ulumul hadits’, Ibnu Katsir dalam ‘Al-Bâ’its’ Ibnu Abdil Hâdi dalam ‘Al-Muharrar’, Al-Irâqy dalam ‘Alfiyah Al-Mushthalah’, Ibnul Qayyim dalam ‘Tahzibus Sunan, Ighatstul Lahfan, dan Raudhatul Muhibbin’, Ibnu Hajar dalam ‘Fathul Bâri’, Al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qâri’ dan lainnya.’ (Tanbihul Lâhi h.22)

Ilmu Musik, Bukan Ilmu yang Manfaat !!!
Ilmu itu ada yang bermanfaat ada pula yang mencelakakan. Mempelajari ilmu itu sulit, membutuhkan kesungguhan, biaya, dan waktu. Jika kita memperhatikan orang yang menuntut ilmu dunia dewasa ini, diantara mereka ada yang mempelajari ilmu yang memberi manfaat bagi diri mereka sendiri dan mendatangkan manfaat bagi orang lain dan ada pula yang mempelajari ilmu yang mencelakakan pemiliknya dan orang lain, ia menyebabkan kejahatan dan kekejian, bukannya kebaikan dan mamfaat. Ilmu yang berasal dari dunia barat, sebagian besar memberi mudharat dan tidak memberi manfaat.
Apakah manfaat dari musik? Tidak ada manfaatnya, kecuali hanya memboroskan harta dan waktu. Yazid bin Walid berkata : ….Berhati-hatilah kalian sesungguhnya orang yang mabuk musik akan berbuat sebagaimana para pemabuk miras. [Talbis Iblis hal.307 dan Ighatsatul Lahfan 1/365].

Surat untuk Guru
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada pendidik anaknya (yang berisi antara lain); ‘Keyakinan yang harus ditanamkan dalam pendidikan yang engkau berikan, pertama-tama ialah kebencian akan kesenangan yang permulaannya dari syetan dan kesudahannya adalah kemurkaan Allah yang Maha Pengasih. Sesungguhnya telah sampai khabar kepadaku dari para ilmuwan terpercaya, bahwa menghadiri pertunjukan musik, mendengarkan lagu-lagu dan menggemarinya adalah menumbuhkan kemunafikan didalam hati, sebagaimana air menumbuhkan rumput. Aku bersumpah, takutlah kamu yang demikian itu dengan tidak memberi kesempatan datangnya tempat-tempat itu dihati anakku.’ Maka ambillah pelajaran darinya.

Kesimpulan
Setelah jelas bagi Anda, bahwa bermain musik adalah haram, maka Anda tidak diperkenankan mengambil kegiatan ekstra kurikuler tersebut (menjadi personal pada group band tersebut). Dan anda wahai para pendidik, didiklah anak-anak didik kalian sesuai dengan manhaj Allah, pendidikan yang tidak ada bid’ah dan kemaksiatan di dalamnya. Jika anda menganggap remeh tugas ini, niscaya masalah pendidikan berada dalam bahaya besar. Wallahu A’lam.

Ditulis oleh Al-Faqîr IlalLâh
Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 2009

Diskusi

One thought on “Bermain Musik Itu Haram

  1. bagaimana dengan rebana / hadrah di acara2 kondangann? haramkah?

    Posted by touringonline | Juni 13, 2015, 1:03 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: