//
you're reading...
Fiqih

Fiqih Kurban


Allah Ta’ala menjadikan ibadah beraneka ragam bentuknya untuk menguji manusia, apakah menjadi pengikut hawa nafsu atau menjalankan perintah Rabb-nya. Ada ibadah yang berbentuk menahan diri dari hal-hal yang disukai, seperti puasa (yaitu menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh) dan ada pula bentuk ibadah dengan memberikan hal-hal yang disukai; seperti berkurban. Tingkat kedudukan hamba di sisi Allah adalah sebesar kadar keimanan dan usaha kerasnya, juga berdasarkan tingkat kesabarannya dalam menjalankan ibadah-ibadah yang yang dibebankan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman, ‘(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.’ [QS. Ali-Imran : 163].

Makna Kurban
Kurban (dalam istilah syariat disebut dengan Udhhiyah) adalah hewan ternak yang disembelih pada Hari Raya ‘Iedul ‘Adha dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala.

Hukum Kurban
Ulama berbeda pendapat tentang hukum berkurban bagi orang yang mampu. Mayoritas ulama berpendapat (dan inilah pendapat yang unggul) bahwa berkurban adalah sunnah muakkadah. Di antara dalil yang menunjukkan kesunnahannya adalah:
1. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila kamu telah melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia mencukur rambut dan memotong kukunya (hingga selesai menyembelih).’ [Shahih. HR. Muslim 1977, Abu Dawud 279, dan at-Tirmidzi 1533. Sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Dan salah seorang di antara kalian berkeinginan’ adalah dalil tidak wajibnya berkurban lantaran berkurban diserahkan pada kehendak.

2. Dari Hudzaifah bin Usaid Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Aku melihat Abu bakar dan Umar keduanya tidak berkurban lantaran tidak suka jika keduanya diikuti (dengan anggapan bahwa hal itu wajib).’ Dari Abu Mas’ud al-Badri Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku amat berkeinginan untuk tidak berkurban, padahal aku termasuk orang yang berkecukupan, aku khawatir orang-orang menganggap berkurban itu wajib.’ Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Berkurban itu adalah sunnah.’
Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, ‘Tidak ada satupun berita yang shahih dari seorang shahabat Nabi yang berpandangan bahwa berkurban itu wajib.’ [Al-Muhalla 8/9].

Adapun pendapat yang mewajibkan kurban bagi yang mampu dengan dalil bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak mau berkurban, maka janganlah ia sekali-kali mendekati tempat shalat kami.’ Maka ketahuilah hadits ini adalah lemah, yang benar bahwa ia adalah mauquf. [Lihat Shahih Fiqh as-Sunnah 2/368]. Ibnu Hajar dalam al-Fath 10/3 berkata, ‘Rijal-rijalnya adalah tsiqah akan tetapi diperselisihkan akan rafa’ dan mauqufnya. Berstatus mauquf adalah lebih dekat pada kebenaran. Demikian yang dikatakan oleh ath-Thahawi dan lainnya.’

Hewan yang dijadikan Kurban
Kurban tidak sah kecuali dengan unta, sapi, kambing, dan domba. Adapun hewan-hewan selain itu sedikitpun tidak mencukupi untuk dijadikan kurban, demikian kesepakatan ulama. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan bagi tiap-tiap ummat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.’ [QS. al-Hâj :34]. Yang dimaksud dengan hewan ternak yaitu unta, sapi, kambing, dan domba. Demikian yang dikatakan oleh Abul Hasan, Qatadah, dan beberapa ulama lainnya. Ibnu Jarir mengatakan, ‘Dan demikian halnya menurut bangsa Arab.’ [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/7]. Dan juga belum pernah kita dapatkan dalam hadits bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berkurban selain dari hewan yang kami sebutkan di atas.

Usia Hewan Kurban
Usia unta, sapi, dan kambing yang mencukupi untuk kurban adalah usia musinnah (tsany), sedang domba usia Jadza’. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian menyembelih kecuali hewan yang usianya musinnah, jika kalian mengalami kesulitan maka sembelilah domba yang usianya mencapai jadza’ah.’ [HR. Muslim 1963].

Ulama berbeda pendapat tentang batasan usia musinnah (tsany) dan jadza’ah. Hal itu terjadi lantaran tidak adanya dalil yang menetapkan batas usia tersebut. Penulis kitab ‘Fiqhus Sunnah’ oleh Sayyid Sâbiq. ‘Syarhul Mumti’’ oleh Ibnu ‘Utsaimin, dan ‘Taudhihul Ahkam’ oleh Abdullah bin Abdurrahman bin Bassam menulis bahwa usia musinnah dari unta adalah lima tahun, sapi dua tahun, kambing satu tahun. Sedangkan jadza’ah dari domba adalah usia enam bulan.

Kurban dengan Hewan Cacat
Cacat yang ada pada hewan kurban dibagi pada tiga kategori, yaitu: Pertama, cacat yang tidak sah digunakan untuk berkurban. Kedua, cacat yang makruh digunakan untuk berkurban. Dan Ketiga, cacat yang tidak ada pengaruhnya pada hukum. Berikut rinciannya:

Pertama : Cacat yang tidak sah digunakan untuk berkurban.
Yaitu hewan yang jelas buta sebelah, pincang, sakit, atau kurus yang tak bersumsum. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Empat macam hewan yang tidak sah dijadikan kurban; yaitu tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan kurus tidak bersumsum.’ [Shahih. Abu Dawud 2802, An-Nasa’i 7/214-215, at-Tirmidzi 1497, Ibnu Majah 3144, dan Ahmad 4/284].

Kedua : Cacat yang makruh digunakan untuk berkurban, namun sah untuk berkurban.
Yaitu hewan yang cacat pada telinganya (sobek atau terpotong bagian darinya / kharqa’) dan yang tanggal gigi depannya. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Rasulullah memerintahkan kami untuk memeriksa mata dan telinga. Kami tidak berkurban yang buta, yang terbelah telinga bagian depan-belakang-bagian tengah, dan tidak pula hewan yang tanggal gigi depannya.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 2804, an-Nasa’i 7/216-217, at-Tirmidzi 1498, Ibnu Majah 3142, dan lainnya]. Begitu juga hewan yang dikebiri dan kambing yang tidak memiliki tanduk. [Ensiklopedi Ijma’ hal. 543 oleh Sa’di Abu Habib].
Pemilik kitab Shahih Fiqhus Sunnah 2/373 berkata, ‘Mayoritas ulama berpendapat bahwa cacat-cacat tersebut tidak sah untuk dikurbankan. Namun, pendapat ini tidak benar, karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah membatasi untuk cacat yang tidak sah digunakan untuk berkurban hanya pada empat cacat yang telah disebutkan terdahulu. Adapun perkataan Ali Radhiyallahu ‘anhu, ‘Rasulullah memerintahkan kamu untuk memeriksa mata dan telinga.’ Tidak lain menunjukkan bahwa hewan yang lubang, terbelah, atau terpotong telinganya agar dijauhi. Namun, tidak menunjukkan bahwa cacat-cacat tersebut tidak sah untuk dikurbankan.

Ketiga : Cacat yang tidak ada pengaruhnya pada hukum.
Lantaran tidak adanya hadits shahih yang melarang dari cacat-cacat tersebut. Semisal; lidahnya terputus, hidungnya terputus, tidak bertanduk atau pecah tanduknya, ekornya terputus atau sebagian ekornya terputus, dan lainnya.

Hewan Betina Sah untuk Dikurbankan
Jika kita memperhatikan tiga patokan hewan di atas yang sah (mencukupi) untuk dijadikan kurban, maka kita dapatkan bahwa jenis hewan jantan maupun jenis betina sah digunakan untuk berkurban. Karena tidak ada dalil yang memisahkan kedua jenis hewan tersebut atau tidak ada dalil yang membolehkan jenis ini dan tidak membolehkan jenis yang itu. Imam an-Nawawi berkata, ‘Berkurban dengan kambing jantan dan betina adalah sah menurut kesepakatan ulama …’ [Lihat al-Majmu’ 8/397].

Lalu manakah yang terbaik di antara keduanya? Ibnul Arabi (seperti yang dikutip oleh Ibnu Hajar) berkata, ‘Pendapat yang paling benar adalah kambing jantan lebih utama dari kambing betina, dan pendapat lain mengatakan; kedua jenis itu sama dalam keutamaan.’ [Fathul Bâri’ 10/12-13]. Dan pendapat yang terakhir itulah yang unggul, bahwa tidak ada perbedaan keutamaan antara kambing jantan dan betina, lantaran tidak ada dalil yang memisahkan keduanya.

Pilihan yang Terbaik
Sebaiknya hewan yang hendak dikurbankan adalah berbadan gemuk, bertanduk, berwarna putih (jika kaki-kakinya, perutnya, di sekeliling mulut dan kedua matanya berwarna hitam maka hal itu serupa dengan hewan yang pernah dikurbankan oleh nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam). Dalil yang menunjukkan hal itu adalah bahwa, ‘Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menyembelih dua kibasy yang gemuk dan besar berwarna putih lagi bertanduk.’ [Shahih. HR. Ahmad 6/136 dan lihat juga hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim pada pembahasan yang lalu]. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ‘Rasulullah pernah menyuruh diambilkan kambing yang bertanduk, yang hitam kakinya, hitam perutnya, dan hitam di sekeliling matanya.’ [HR. Muslim 1967].

Bersekutu dalam Berkurban
Boleh bersekutu (berpatungan) untuk membeli seekor sapi untuk tujuh orang, seekor unta untuk sepuluh orang, dan seekor kambing untuk satu orang dan keluarganya. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, ‘Kami pernah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaoihi wasallam dalam suatu safar, maka kami sama-sama berkurban untuk unta sepuluh orang dan sapi untuk tujuh orang.’ [Hasan. HR. at-Tirmidzi 1501, an-Nasa’i 7/222, dan Ibnu Majah 3131].
Dari Atha’ bin Yasâr ia berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, ‘Bagaimana penyelenggaraan kurban kalian di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ? Ia menjawab, ‘Pada zaman Rasulullah seorang pria menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka memakannya, dan membagikannya kepada orang lain.’ [Shahih. HR. at-Tirmidzi 1505 dan Ibnu Majah 3/47].

Catatan : Bahwa maksud dari bersekutu di atas adalah bersekutu dalam kepemilikan hewan dan bukan bersekutu dalam pahala. Adapun bersekutu dalam hal pahala maka itu tidak terbatas. Karena sewaktu masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih kambing beliau berdoa, ‘Bismillah. Ya Allah terimalah dari Muhammad, dari keluarga Muhammad, dan dari ummat Muhammad.’ [HR. Muslim 1967].

Perkara yang Diwajibkan Bagi yang Hendak Berkurban
Bagi yang hendak berkurban diharamkan memotong rambut atau kukunya sejak masuknya bulan Dzulhijjah sampai selesainya ia menyembelih. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila kamu telah melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian berkeinginan untuk berkurban, maka janganlah ia mencukur rambut dan memotong kukunya (hingga selesai menyembelih).’ [Shahih. HR. Muslim 1977, Abu Dawud 2791, dan at-Tirmidzi 1533].

Waktu Menyembelih Kurban
Waktu mulai menyembelih hewan kurban; yaitu setelah shalat ‘Ied pada tanggal 10 Dzulhijjah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menyembelih kurban sebelum shalat ‘Ied, maka ia tidak lain hanya menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah shalat ‘Ied maka sempurnalah ibadahnya dan dia telah melaksanakan sunnah kaum muslimin dengan benar.’ [HR.al-Bukhari dan Muslim 1960].
Adapun waktu berakhirnya adalah ketika matahari tenggelam pada tanggal 13 Dzulhijjah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Semua hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) adalah hari-hari penyembelihan.’ [Hasan dengan syawahid-syawahidnya. HR. Ahmad 4/82, Ibnu Hibban 3854, dan ad-Daruqutny 2/284].

Tempat Penyembelihannya
Penyembelihan kurban boleh dilakukan di mana saja. Boleh dilakukan di rumah, di madrasah, di tanah lapang, dan lain sebagainya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menyembelih di tanah lapang. Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyembelih dan berkurban di tanah lapang.’ [HR. al-Bukhari 5552, Abu Dawud 2811, dan Ibnu Majah 3161].

Yang Menyembelih Hewan Kurban
Yang lebih utama, penyembelihan itu ditangani sendiri oleh pemilik kurban, seperti halnya yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. [HR. al-Bukhari 5558 dan Muslim 1966]. Namun, boleh juga diwakilkan kepada orang lain atau mengupah orang lain untuk menyembelihkan kurbannya. Namun, tidak diperbolehkan memberikan upah kepada tukang penyembelih dari hewan kurban tersebut. Hal ini disandarkan pada hadits Ali bin Abi Thalib di mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarangnya untuk memberikan sedikitpun daging unta kepada tukang penyembelih sebagai upahnya. [Shahih. HR. al-Bukhari 1717 dan Muslim 1317].

Memakan, Menyimpan, dan Menyedekahkan Daging Kurban
Dari Salmah bin Akwa’ Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Siapa saja di antara kalian yang berkurban, maka janganlah ia menyimpan daging kurban itu di rumahnya lebih dari tiga hari walaupun agak sedikit.’ Pada tahun berikutnya para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kami melakukan (tidak menyimpan kurban) seperti yang kami lakukan tahun lalu ?’ Beliau bersabda, ‘Makanlah, berilah makan, dan simpanlah (daging kurban itu), karena tahun yang lalu kita sedang berperang. Aku ingin supaya kalian membantu apa yang mereka alami.’ [HR. al-Bukhari 5569 dan Muslim 1974].
Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya memakan daging kurban (bahkan sebagian ulama mewajibkannya), dan diwajibkan untuk disedekahi. Lalu berapa ukuran kurban yang boleh dimakan dan berapa pula ukuran yang harus disedekahkan ? Jawabnya, ‘Syariat tidak memberikan batasan tentang itus. Andai pembagiannya tidak berimbang (yakni yang dimakan lebih banyak dari yang disedekahkan atau sebaliknya), maka hal itu boleh. Imam asy-Syaukani berkata, ‘Hadits di atas adalah dalil bahwa tidak ada ukuran tertentu untuk yang akan dimakan. Bahwa seseorang boleh saja memakan kurbannya berapa yang ia mau sekalipun banyak, selama kurban tersebut tidak dihabiskan lantaran ada sabda Nabi, ‘Berilah makan.’ [Nailul Authar 5/220].

Ditulis oleh Al-Faqir
Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 2008

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: