//
you're reading...
Khutbah

Bangkai-Bangkai Jahiliyah


Khutbah ‘Idul Adhha di SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) Banyuwangi 1433 H.

Oleh Abu Halbas Muhammad Ayyub

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Kaum muslimin wal muslimat

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang meninggikan langit dan merendahkan bumi, yang mengokohkan gunung-gunung dan membentangkan lautan, yang menjadikan malam gelap gulita dan siang terang benderang, yang memiliki gugusan bintang-bintang yang tetap beredar pada porosnya dan yang mengarak perkisaran angin diantara langit dan bumi, yang membelah biji-bijian didalam tanah lalu menumbuhkannya, yang menetapkan kefanaan bagi dunia dan keabadian bagi akhirat. Yaa Robb, kami bertasbih dan memuji kepada-Mu dengan pujian sebanyak makhluk yang Engkau ciptakan, kami memuji-Mu dengan pujian seberat timbangan ‘Arsyi-Mu, kami memuji-Mu dengan pujian sejauh ke ridhaan-Mu, dan kami memujimu dengan pujian sebanyak tinta-tinta kalimat-Mu.

 

Kaum muslimin wal muslimat

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang telah mengajarkan kepada kita tentang arti dari kehidupan, makna pengorbanan, serta maksud dan tujuan perjuangan. Oleh itu –kaum muslimin- sudah sepantasnya kita mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diatas kecintaan kita kepada anak, istri, harta, bahkan diri kita sendiri. Dan juga sudah seharusnya kita mengikuti semua sunnah yang telah beliau gariskan kepada kita. Getaran hati para shahabat serta linangan air mata mereka saat mendengarkan wejengan Rasulullah, mendorong mereka untuk mengajukan satu pertanyaan kunci kepada beliau. Beliau bersabda: عليكم بسنتي …

 

Kaum muslimin dan muslimat

Hari ini mengingatkan kita pada rekaman jejak Abul Anbiyâ` Ibrâhim alaihissalam, jejak-jejak pengorbanan dan keteguhan hati dari salah seorang hamba dari hamba-hamba Allah yang ada di muka ini. Ketika itu ia meninggalkan belahan jiwa dan buah hatinya yang masih menyusui, Ismail, ditengah padang pasir nan tandus yang tidak ada tanda-tanda kehidupan padanya, tidak ada tumbuh-tumbuhan, tanam-tanaman, minuman dan penduduk. Ketika Ibrahim melangkah pergi, Hajar menyusulnya seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia pun dan tidak ada sesuatu pun?” Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, sementara Ibrahim tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Manakala Hajar merasa gagal mengorek jawaban dari suaminya, ia berkata, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Maka Hajar pun dengan penuh ketawakkalan ia berucap, ” إذا لن يُضَيِّعَنا (jika itu maksud kepergianmu, maka Dia (Allah) tidak akan pernah mengabaikan kami.” Maka Ibrahim pun berjalan, hingga ketika sampai disebuah bukit dimana istri dan anaknya tidak lagi melihatnya, beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu berdoa dengan beberapa kalimat seraya mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

(Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.) QS. Ibrahim: 37.

Saat Ibrâhim kembali, saat Ibrâhim mendapatkan putranya mulai kokoh dalam berjalan dan fasih dalam bercakap, dan ini adalah fase kecintaan terbesar seorang ayah kepada anaknya, Allah subhânahu wata’ala hendak menguji ketulusan dan kebersihan hati Ibrâhim dari segala macam berhala yang ada dihatinya dengan memerintahkannya melalui mimpi untuk menyembelih puteranya. Sebuah ujian berat yang pernah ada dunia ini, ujian yang dapat meluluhlantakkan kekokohan gunung dan ketebalan baja. Dengan sabar dan bijaknya Ibrahim menyampaikan ujian itu kepada puteranya:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

(Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”) QS. Ash-Shaffât: 102

Jiwa berkorban, jiwa kepasarahan, kesabaran dan keikhlasan, juga telah mendarah daging pada puteranya Ismail, dengan kesantunan yang tinggi ia menjawab perkataan ayahnya:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

(Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar) QS. Ash-Shaffât: 102.

 

Kaum muslimin wal muslimat…

Dan datanglah detik yang paling mendebarkan itu! Detik-detik kepasarahan dua hamba, detik dimana setan telah berputus asa untuk memaling tujuan mereka berdua:

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

(Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).) QS. Ash-Shaffât: 103.

Maka datanglah seruan dari langit, seruan dari Zat Yang Maha Melihat, yang tidak akan pernah mengabaikan satu kebaikan pun walau seberat biji Dzarrah:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

(Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.) QS. Ash-Shaffat: 104-107.

 

Kaum muslimin dan muslimat

Hari ini juga mengingatkan kita akan turunnya firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di padang Arafah yang menjelaskan akan kesempurnaan Islam dan keridhaan Allah terhadap agama ini kepada kita.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. QS. Al-Maidah: 3

Ini adalah hadiah yang terbesar yang Allah berikan kepada Ummat ini, hadiah yang membuat orang-orang Yahudi dan Nashara dengki terhadap kita. Sekaligus membungkam omongan kosong kaum liberal yang mengaburkan kebenaran. Yang menghembus-hembuskan tipu daya di tengah kaum muslimin yang menyamakan antara petunjuk dengan kesesatan, sunnah dengan bid’ah, ketaatan dengan kemaksiyatan.

Hadiah yang besar ini turun kepada Rasulullah shallallallahu alaihi wa sallam dan kepada para shahabatnya setelah melalui proses yang begitu panjang lagi meletihkan, setelah beliau shallallahu alaihi wa sallam dan para shahabatnya berjihad di jalan dakwah selama 23 tahun tanpa bosan dan jemu, setelah mereka mengorbankan jiwa dan harta mereka.

 

Kaum muslimin dan muslimat

Hari ini mengingatkan kita pada detik-detik pertemuan yang begitu mengesankan lagi mengharukan. Detik di mana Rasulullah shallalalahu aialihi wa sallam berdiri ditengah kerumunan para shahabatnya di padang Arafah saat matahari bergeser dari titik kulminasinya. Saat itu beliau menyampaikan sebuah wejangan yang indah yang tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang hadir ditempat itu tetapi kepada semua generasi muslim yang berada di balik tembok-tembok zaman dan dinding-dinding kurun. Beliau bersabda setelah menyampaikan khutbahnya:

ألاَ لِيُبَلِّغَ الشَّاهدُ الغَائِبَ

(Ingatlah hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir)- Muttafaqûn Alaihi.

Dunia ketika itu terdiam mendengar khutbah beliau. Semuanya hening mendengarkan kalimat perpisahan yang keluar dari lisan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, setelah dunia dan seisinya berbahagia dengan kehadirannya selama 23 tahun. Pada kesempatan itu beliau menyampaikan secara singkat prinsip-prinsip Islam yang dibawa dan diperjuangkannya selama ini. Dalam ungkapan yang singkat namun sarat makna beliau bersabda:

أيها الناس إن دماءكم و أموالكم حرام عليكم كحرمة يومكم هذا فى شهركم هذا فى بلدكم هذا

(Wahai sekalian manusia, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah suci (ia tidak boleh dinodai oleh siapapun juga) kesuciannya seperti sucinya hari ini, sucinya bulan ini, dan sucinya negeri ini).

Ini adalah pesan pertama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, pesan tentang pentingnya penghargaan pada jiwa dan harta orang lain. Jiwa dalam Islam begitu dihargai tanpa membedakan kelas, ras, suku, bangsa dan asalnya. Begitu mahalnya harga jiwa, sehingga di dalam Islam membunuh satu jiwa maka seolah-olah membunuh semua manusia. Begitu pula sebaliknya, memelihara satu jiwa maka seolah-olah memelihara seluruh kehidupan manusia. Allah ta’ala berfirman:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

(Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya) QS. Al-Maidah: 32

Pentingnya penghargaan terhadap harta kepemilikan tidak kalah pentingnya dari penghargaan pada jiwa. Beliau mengharamkan seseorang mengambil harta orang lain tanpa hak. Bahkan diberbagai kesempatan beliau mengingatkan bahwa pengharaman mengambil harta tidak hanya sebatas pada jumlah yang besar (semilyar atau sejuta) atau hanya sebatas pada perampokan atau penjarahan terang-terangan. Akan tetapi lebih dari itu, pengambilan dalam bentuk tipu muslihat, manipulasi, atau sehalus apapun bentuknya dan sekecil apapun nilainya, ia tetap diharamkan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا يحلُّ لِامْرِئٍ من أخِيْهِ إلا مَا أعْطَاه عَنْ طِيْبِ نَفْسِ مِنْهُ .

(Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya kecuali yang telah diberikan kepadanya dengan senang hati).

 

Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya:

ألا كل شيئ من أمر الجاهلية تحت قدمي موضوع

(Ketahuilah, bahwa semua perkara jahiliyah terhapus dibawah kakiku alias aku nyatakan tidak berlaku lagi!)

Kaum muslimin wal muslimat

Pada tema yang kedua ini, beliau menegaskan bahwa segala macam hal yang pernah dibanggakan dan dipraktekkan di masa jahiliyah berupa membanggakan kebesaran leluhur, memelihara sifat fanatisme kelompok, penghambaan seseorang kepada sesamanya, meminta kepada orang yang telah mati, mencela keturunan orang lain, menisbatkan turunnya hujan pada bintang-bintang, meratapi orang mati, memberontak pada pemerintah yang sah, dan lain sebagainya dinyatakan tidak berlaku lagi! Kesemuanya telah dikubur dibawah telapak kaki Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ini merupakan peringatan kepada segenap kaum muslimin, bahwa praktek-praktek jahiliyah itu merupakan barang busuk yang telah ditanam oleh syariat kedalam perut bumi. Ia tidak boleh lagi digali apalagi sampai melestarikannya. Dan juga penegasan pada dunia dan semua generasi manusia bahwa siapa saja yang mengklaim kemajuan pemikiran sementara dia sendiri sengaja membangkitkan kembali barang busuk yang lama dikuburkan itu maka sebenarnya dia adalah orang yang kembali dan mundur kebelakang, ia memasuki goa-goa sejarah lama yang sangat gelap dan pengap, kendatipun ia merasa melakukan modernisasi dan pembangunan peradaban. Umar bin Al-Khatthab berkata, “

إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ

Sesungguhnya ikatan Islam hanyalah terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyah.”

 

Kaum muslimin wal muslimat

Setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyatakan akan terkuburnya semua prilaku jahiliyah dibawah kakinya. Maka untuk point berikutnya beliau memberikan penakan khusus untuk dua model prilaku jahiliyah yang harus di jauhi oleh ummat ini selama-lamanya. Beliau bersabda:

ودماء الجاهلية موضوع، وإن أول دم أضع من دمائنا دم ابنِ ربيعةَ بْنِ الحارث، كان مسترضعا في بني سعد فقتلته هذيل، وربا الجاهلية موضوع وأول ربا أضع ربانا ربا عباس بن عبد المطلب فإنه موضوع كله.

(Tindakan menuntut balas atas kematian sebagaimana yang berlaku dimasa jahiliyah telah terhapus dibawah kakiku. Dan yang pertama kali aku nyatakan terhapus adalah tindakan pembalasan atas kematian ibnu Rabi’ah bin Al-Hârits. Dahulu ia menyusui pada bani Sa’ad lalu dibunuh oleh Hudzail. Riba jahiliyah juga telah terhapus dibawah kakiku dan riba yang pertama kunyatakan terhapus (tidak berlaku lagi) adalah riba Abbâs bin Abdul Muththalib. Sesungguhnya segala macam riba tidak boleh berlaku lagi)

Sesungguhnya riba merupakan kezaliman yang nyata, menghancurkan hak-hak manusia. Yang kaya menindas yang miskin. kita telah menyaksikan bagaimana praktik ribawi dalam perekonomian modern telah menghancurkan ekonomi dunia. Benarlah apa yang difirman oleh Allah subhânahu wa ta’ala:

يمحق الله الرِّبوا ويربى الصدقات

(Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah) QS. Al-Baqarah: 276. Yakni Allah menghilangkan keberkahan itu sedikit demi sedikit sehingga tidak tersisa apapun darinya.

Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengancam mereka dengan mencabut keberkahan dari seluruh hidup mereka. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الربا اثنان وسبعون بابا أدناها مثلُ إتيانِ الرجلِ أُمَّهُ .

(Riba itu tujuh puluh dua pintu. Yang paling rendah adalah seperti seorang lelaki yang mencampuri ibunya.”) Shahih. HR. Ath-Thabrâni 1/143/1, Ash-Shahihah, 1871.

 

Kaum muslimin wal muslimat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lalu melanjutkan khutbahnya:

فاتقوا الله فى النساء فإنكم أخذْتموهن بأمان الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله، ولكم عليهن أن لا يوطئن فرشكم أحدا تكرهونه، فإن فعلن ذلك فضربوهن ضربا غير مبرح، ولهن عليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف.

(Dan takutlah kalian kepada Allah dalam memperlakukan kaum wanita (istri), karena kalian telah mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kalian menghalalkan kehormatan (kemaluan) mereka dengan kalimat Allah. Hak kalian atas istri ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka melakukan itu maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan hak mereka atas kalian kalian harus memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik)

Disaat badan-badan organisasi dunia membincangkan hak-hak wanita dan memposisikan diri mereka sebagai pahlawan wanita. Maka ketahuilah, dihari yang bersejarah itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasukkan hak-hak wanita sebagai materi khutbahnya. Beliau tampil membela wanita disaat manusia pada waktu itu memperlakukan perempuan laksana barang dagangan, budak, bahkan dianggap tidak lebih dari binatang ternak. Tidak itu saja, Rasulullah juga sekaligus mengajarkan tentang pilar-pilar yang dapat menjaga keutuhan rumah tangga dengan memperkenalkan apa hak dan apa kewajiban antara satu dengan yang lainnya.

 

Kaum muslimin wal muslimat

Didorong dengan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap ummatnya, ketidak relaannya jika ummat ini menyimpang dari jalan yang lurus, beliau shallallahu alaihi wa sallam menutup khutbahnya dengan mewanti-wanti para shahabatnya untuk selalu berpegang teguh pada dua sumber nilai kehidupan: Yaitu kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Beliau bersabda:

وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصمتم به كتاب الله.

(Dan aku telah meninggalkan kepada kalian sesuatu apabila kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat yaitu Kitabullah (Al-Qur`an).

Jaminan keselamatan ini tidak hanya berlaku bagi shahabatnya tetapi juga bagi semua generasi yang datang sesudahnya. Perkembangan peradaban dan kemajuan zaman apapun dan bagaimana pun bentuknya tidak boleh menentang kedua sumber ini. Penentangan terhadap dua sumber ini berarti kehancuran dan kebinasaan. Ia akan tersesat seperti binatang ternak bahkan lebih sesat dari itu.

 

Kaum muslimin dan muslimat

Setelah menyampaikan seluruh materi khutbahnya dan untuk menenangkan hatinya, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وأنتم تسألون عني فما أنتم قائلون؟ قالوا: نشهد أنك قد بلغت وأديت ونصحت، فقال بإصبَعِه السبابة يرفعها إلى السماء وينكتها إلى الناس: اللهم اشهد اللهم اشهد اللهم اشهد

(Sesungguhnya kalian akan ditanya tentang aku (dihadapan Allah pada hari Kiamat kelak), maka apa jawaban kalian? Mereka (dengan serempak berkata): Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan (risalah), telah menunaikan dan memberikan nasehat.” Maka Nabi mengisyaratkan dengan jari telunjuknya ke arah langit kemudian mengisyaratkannya kepada manusia seraya berkata, “Ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah.”

 

Kaum muslimin wal muslimat

Siapapun yang menelaah kisah Ibrahim dan Ismail, kisah Rasulullah shallallalahu alaihi wa sallam beserta para shahabatnya radhiyallahu anhum berikut dengan pujian baik yang Allah berikan kepada mereka, maka ia akan mendapatkan bahwa setiap desahan nafas mereka, setiap ayunan langkah kaki mereka semua telah dihibahkan untuk perjuangan menegakkan agama ini, mereka rela mengucurkan darah mereka, mengorbankan harta benda mereka, dan menginjak-injak dunia dengan telapak kaki mereka demi untuk menegakkan dan membela syariat yang agung ini. Mereka telah pergi dengan membawa pahala mereka.

Sekarang marilah kita bertanya pada diri kita sendiri, bertanya kepada hati kita: Mâdza Qaddamnâ Lidînillâh? Apakah telah kita persembahkan terhadap agama ini? Apa yang telah kita korban untuk kemuliaan agama ini? Jika kita belum memiliki jawaban untuk itu, maka upaya yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah dengan menahan diri untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain! Salah seorang pernah bertanya kepada pada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang ketidakmampuannya untuk berkorban kebaikan, beliau menjawab:

تدَعُ الناسَ من الشرِّ، فإنها صدقةٌ تَصَدَّقَها على نفسك

(Kamu tinggalkan kejahatanmu dari orang lain/engkau menahan dirimu untuk tidak berbuat jahat kepada orang lain, maka itu adalah sedekah yang telah kamu sedekahkan pada dirimu sendiri). Hasan.

Tidak menumpahkan darah orang lain, tidak mengambil harta mereka, meninggalkan transaksi riba, meninggalkan tradisi-tradisi jahiliyah dan tidak menyakiti istri kita adalah bentuk pengorbanan untuk diri kita sendiri. Jika ini juga tidak mampu kita lakukan maka ketahuilah kitalah bangkai-bangkai itu yang tengah menebarkan bau busuk dimuka bumi ini. Wal-‘iyâdzubillah.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: