//
you're reading...
Khutbah

Diatas Shirath kita Akan Berjalan


Khutbah ‘Idul Fithri di Perguruan Al-Irsyâd Banyuwangi 1433 H.
Oleh Abu Halbas Muhammad Ayyub

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Segala puji bagi-Mu ya Allah, kami memuji-Mu dengan pujian sebanyak bilangan makhluk-Mu, kami memuji-Mu dengan pujian `seberat Arsy-Mu, kami memuji-Mu dengan pujian sejauh kerelaan diri-Mu, dan kami memuji-Mu dengan pujian sebanyak tinta tulisan kalimat-Mu.

Allâhu akbar, saat tampaknya keindahan hilâl diufuk barat
Allahu akbar, saat tangisan pecah melepas Ramadhân yang penuh berkat
Allahu akbar, saat takbir dikumandangkan dengan penuh semangat
Allahu akbar, saat shubuh beranjak terang dan menjadi hangat
Allahu akbar, saat orang-orang menuju ke tanah lapang dan terus bertakbir tanpa penat

 

Kaum muslimin wal muslimat

Ketahuilah, bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan di alam ini memiliki masa permulaan dan masa akhir. Kehidupan memiliki permulaan dan akhir; manusia, hewan, langit, bumi, matahari, bulan, bintang gemintang dan lainnya memiliki masa permulaan dan masa akhir.

Masa permulaan dan masa akhir adalah sunnah kauniyah yang tidak hanya terbatas pada makhluk saja, tetapi ummat, negeri, hari dan waktu juga memiliki masa permulaan dan masa akhir. Inilah bulan Ramadhan yang telah berlalu hari-harinya dan habis pula waktu-waktunya. Kemarin kita begitu bergembira menyambutnya dan saat ini kita sedih berpisah dengannya. Alangkah banyaknya gelombang kegembiraan yang saling bersahutan lalu buyar dengan badai kesedihan.
Wahai Ramadhan, engkau telah pergi, tidak ada yang tersisa dengan kepergianmu kecuali hanya malam dan siangnya saja. Bahkan, mungkin orang-orang yang biasa meninggalkan shalat kembali tidak melaksanakannya; orang yang memakan riba juga kembali memakannya; kembali menipu; kembali durhaka pada orang tua; dan kembali melakukan kedurhakan-kedurhakaan lainnya.
Wahai Ramadhan, engkau telah pergi. Tidak ada yang tersisa dengan kepergianmu kecuali hanya malam dan siangnya saja, bahkan kita mungkin lupa dengan kenikmatan berpuasa, tidak lagi ingat dengan puasa enam hari dari Syawal, senin kamis, ayyâmul bidh, dan puasa lainnya.
Wahai Ramadhan, engkau telah pergi. Tidak ada yang tersisa dengan kepergianmu kecuali hanya malam dan siangnya saja, mungkin kita tidak pernah lagi merasakan kenikmatan qiyâm Ramadhan. Subhanallah! Dimana kekhusyuan itu? Dimata tetesan air mata, sujud dan rukuk…dimana lantunan tasbih dan istighfar, dan dimana munajat kepada Allah yang Maha Esa.
Wahai Ramadhan, engkau telah pergi. Tidak ada yang tersisa dengan kepergianmu kecuali hanya malam dan siangnya saja. Mungkin kita telah meninggalkan Al-Quran yang telah kita baca ayatnya di waktu fajar tiba, di waktu dhuhur, setelah ashar, siang malam kita membacanya. Namun setelah Ramadhan pergi, berapa banyak ayat Al-Quran yang telah kita baca setiap hari?
Wahai Ramadhan, engkau telah pergi! Kepergianmu sungguh terasa pahit bagi orang-orang shalih. Mereka telah menangisimu atas perpisahan dengan kesedihan yang mendalam..

 

Kaum muslimin dan muslimat…

Kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhân merupakan modal besar untuk mempermudah langkah kita dalam meniti shirath (jembatan titian) di akhirat nanti yang dibentang diatas punggung neraka jahannam dan merupakan satu-satunya jalan menuju ke syurga. Sebuah titian yang dikatakan oleh Abu Said Al-Khudry, “lebih lembut dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang.” Ia licin lagi menggelincirkan dan tidak ada seorang muslim pun kecuali ia pasti melewatinya. Allah ta’ala berfirman:
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
“Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS. Maryam: 71-72)
Disaat kita menitinya, maka kita, ummat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terpilah menjadi tiga kelompok:
Kelompok pertama: Kelompok yang melewati shirath tanpa ada rintangan.
Kelompok kedua: Kelompok yang masuk Neraka diawal atau diakhir shirath.
Kelompok ketiga: Kelompok yang awalnya celaka (susah payah), namun ia selamat darinya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ الْمُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا
Artinya: Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di alas permukaan neraka jahannam. Kami (para Sahabat)bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu ?”. jawab beliau, “licin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan. Orang Mukmin (berada) di atasnya (shirath), ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara unta. Maka ada Yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Sehingga mereka yang paling terakhir merangkak secara pelan-pelan..” [Muttafaqun alaihi]

Kaum muslimin wal muslimat…

Kelompok yang pertama yang berhasil melewati shirath tanpa ada rintangan juga berkelompok-kelompok, ada kelompok yang melintas secepat kedipan mata, ini adalah setinggi-tinggi dan semulia-mulia kedudukan manusia. Termasuk dari kelompok ini adalah tujuh puluh ribu orang yang masuk syuga tanpa dihisab dan diazab, lalu disusul oleh kelompok yang melintas secepat kilat, yang tingkatan amalnya lebih rendah dari kelompok yeng pertama, lalu disusul oleh kelompok yang melintas secepat angin, lalu secepat kuda yang berlari, lalu secepat pengendara unta.
Kelompok kedua adalah kelompok yang tidak sanggup menuntaskan perjalanannya menuju ke syurga, karena bekal amal mereka tidak cukup untuk melintasi shirath. Tingkat kebinasaan mereka pun bertingkat-tingkat, diantara mereka ada yang jatuh terjungkal kedasar neraka jahannam diawal langkahnya diatas shirath-wal’iyâdzubillah- diantara mereka ada yang disambar oleh besi-besi pengait yang mencabik-cabik tubuhnya, lalu dicampakkan kedalam api neraka. Barangsiapa dari ahli tauhid yang jatuh kedalam neraka disebabkan karena dosa dan kemaksiyatannya maka ia akan disucikan didalam neraka lalu dikeluarkan darinya.
Adapun kelompok ketiga, maka mereka adalah kelompok yang berhasil melintasi shirath setelah melalui perjuangan yang teramat memayahkan dan melelahkan, setelah mereka merasa putus asa dalam melintasi shirat tersebut dan menyangka bahwa diri mereka termasuk orang-orang yang akan binasa lantaran besarnya rintangan yang mereka hadapi sampai-sampai ada diantara mereka ada yang melewatinya dengan merangkak secara pelan-pelan, ada yang berjalan dengan menggeser pantatnya sedikit demi sedikit, ada pula yang bergelantungan hampir¬-hampir jatuh ke dalam neraka , hingga ketika salah seorang diantara mereka berhasil melewati shirath ia berkata:
الحمد لله الذي نجاني منك بعد أن أرانيك، لقد أعطاني الله ما لم يعط أحدًا من العالمين
“Mahasuci Allah yang telah menyelamatkanku darimu (dari neraka). Allah telah memberikan sesuatu kepadaku yang mana Dia tidak pernah memberikannya kepada seorang pun di alam ini.”

 

Kaum muslimin wal-muslimat…

Kokoh tidaknya kita diatas ash-shirat, berhasil tidaknya kita melintasi shirath, cepat tidaknya kita melintas diatas shirath amat tergantung dengan keistiqamahan (kekonsistenan) kita terhadap din ini dan keistiqamahan kita menempuh jalan lurus yang ada didunia ini. Barangsiapa yang istiqamah (konsisten) jalannya diatas jalan yang lurus ini baik secara zhahir maupun bathin, maka ia pun akan kokoh jalannya diatas shirath yang dibentangkan diatas punggung neraka jahannam. Barangsiapa yang tidak konsisten diatas jalan yang lurus di dunia ini bahkan ia menyimpang darinya, apakah lebih condong pada fitnah syubhât atau pada fitnah syahwat maka ia akan disambar oleh besi-besi pengait yang akan mencabik-cabik tubuhnya diatas neraka jahannam sesuai dengan kadar syahwat dan syubhat yang kais sewaktu didunia.

Bayangkanlah wahai saudaraku! Seandainya dirimu berada di atas shirath, dan engkau menyaksikan kehalusan dan ketajaman bentuknya. Bayangkan wahai saudaraku, seandainya dirimu berada di atas shirath dan engkau melihat di bawahmu neraka Jahanam yang hitam-kelam, panas dan menyala-nyala dan juga engkau mendengar gemuruh dan gejolaknya. Bayangkan engkau saat itu sesekali berjalan dan sesekali merangkak. Engkau harus melewati shirath itu sekalipun keadaanmu lemah, hatimu gundah, kakimu bisa tergelincir, punggungmu merasa berat karena memikul dosa, hal itu tidak mampu engkau lakukan seandainya engkau berjalan di atas hamparan bumi, apa lagi untuk di atas shirath yang begitu halus. Bagaimana seandainya engkau meletakkan salah satu kakimu di atasnya, lalu engkau merasakan ketajamannya ! sehingga mengharuskan mengangkat tumitmu yang lain! Engkau menyaksikan makhluk-makhluk di hadapanmu tergelincir kemudian berjatuhan! Mereka lalu ditarik oleh para malaikat penjaga neraka dengan besi pengait. Engkau melihat bagaimana mereka dalam keadaan terbalik ke dalam neraka dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Wahai betapa mengerikannya pemandangan tersebut. Pendakian yang begitu sulit, tempat lewat yang begitu sempit.

 

Wahai para suami…
Relakah engkau membiarkan tubuhmu tercabik dan merangkak dia atas shirath, karena kelalaianmu terhadap tanggung jawabmu terhadap anak dan istrimu, engkau menyakiti mereka, engkau menelantarkanya, engkau menzhaliminya, membiarkan kemungkarannya, menyuapinya dengan makanan haram dan engkau tidak pernah membimbingnya untuk mengenal syariat ini.

 

Wahai para istri…
Relakah engkau membiarkan tubuhmu tercabik dan berjalan merangkak diatas shirath, karena kedurhakaanmu terhadap suami, karena pengabaianmu terhadap hak-hak suami, kelalaianmu mendidik putera-puterimu, sifat burukmu terhadap tetangga, kerabat, bahkan kepada kedua orang tuamu?

 

Wahai para pemudi muslimah…

Relakah engkau membiarkan tubuhmu tercabik diatas shirath karena aurat yang engkau umbar di dunia ini, karena kedurhakaanmu terhadap orang tua, karena peremehanmu terhadap syariat?

 

Wahai para pemuda muslim….

Relakah engkau membiarkan tubuhmu tercabik diatas shirath karena sikap acuhmu terhadap syariat, meninggalkan shalat, merusak kehormatan wanita-wanita muslimah, dan durhaka kepada kedua orang tua?

Mudah-mudahan amalan kita dibulan Ramadhan diterima disisi Allah ta’ala sehingga dapat kita jadikan modal besar untuk melangkah dengan mudah diatas ash-shirat dan mudah-mudahan melalui madrasah ramadhan yang telah kita lewati kemarin dapat lebih memacu kita untuk lebih berhati-hati dalam menempuh jalan yang lurus di dunia ini. Allahumma amin.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: