//
you're reading...
Fiqih, Uncategorized

Menyibak Cahaya Temaram Penjelas Kitab Bulughul Maram (Bagian 1)


Kitab Thaharah

Bab Air (بَابُ اَلْمِيَاه)

Hadits 01

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَحْرِ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.

Derajat Hadits:

Shahih

Maksud Hadits:
(1) Air laut adalah suci, suci pada dzatnya dan mensucikan pula yang lainnya.
(2) Air laut dapat menghilangkan hadats besar dan hadats kecil.
(3) Air jika berubah rasa, warna, dan baunya dengan sesuatu yang suci, maka air tersebut tetap dalam sifat thahuriyah-nya (sifat mensucikan), selama hal tersebut tidak mengeluarkannya dari kemutlakannya. Seperti jika air terlalu asin, panas, dingin, atau lainnya.
ﺍﻏﺘﺴﻞ ﺍلنبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وميمنة من إناء ﻭﺍحد من ﻗﺼﻌﺔ فيها أثر العجين
‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mandi bersama Maimunah dalam satu bejana, yang dalam bejana tersebut terdapat bekas adonan roti.’
(4) Bangkai hewan laut adalah halal. Maksud dari bangkai hewan laut adalah hewan yang mati di laut dan hewan tersebut hidupnya di laut, bukan di daratan.
(5) Dianjurkan memberikan jawaban fatwa lebih dari pertanyaan yang diperlukan, jika sang penanya diperkirakan tidak mengetahui hukum itu.
(6) Orang yang jahil (bodoh – red) dianjurkan bertanya.
(7) Ikan dan binatang laut lainnya tidak perlu disembelih, karena syariat menghalalkan bangkainya.

Catatan:
Sungai Nil dan sungai-sungai besar lainnya dinamakan juga laut.
Allah ta’ala berfirman:
فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ
Artinya: Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi (QS. Thaha: 39)

Hadits 02

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ أَخْرَجَهُ الثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya (hakekat) air adalah suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Imam Tiga dan dinilai shahih oleh Ahmad. Derajat hadits: Hadits ini shahih.

Derajat  Hadits:

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Semua macam air itu asalnya adalah suci dan ia tidak dapat dinajiskan sekalipun dicampur dengan najis sebanyak-banyaknya.
(2) Kemutlakan air ini terkecualikan jika najis merubah salah satu dari sifat-sifat air; yaitu : rasa, warna, dan baunya. [Lihat hadits berikutnya no. 3].

Catatan :

Hadits ini dinamakan juga hadits Sumur Budha’ah.

Hadits 03 dan 04

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ
Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah bau, rasa atau warnanya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim.

وَلِلْبَيْهَقِيِّ الْمَاءُ طَهُورٌ إلَّا إنْ تَغَيَّرَ رِيحُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ لَوْنُهُ بِنَجَاسَةٍ تَحْدُثُ فِيهِ
Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi: “Air itu suci dan mensucikan kecuali jika ia berubah baunya, rasanya atau warnanya dengan suatu najis yang masuk di dalamnya.”

Derajat Hadits :

Lemah. Di dalam sanadnya terdapat seorang rawi bernama Rusydain bin Sa’ad. Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala berkata, ‘Ilmuwan hadits sepakat melemahkannya.’

Maksud Hadits :

(1) Air itu berubah menjadi najis, jika ia kejatuhan najis hingga najis tersebut dapat merubah salah satu dari sifat-sifat air, yaitu : bau, rasa, dan warnanya.
(2) Jika air kemasukan najis, lalu tidak merubah salah satu dari sifat-sifat air, maka air tersebut tetap dalam keadaan suci. [Lihat hadits no. 2].
(3) Pembatasan ini (yaitu air berubah menjadi najis disebabkan kejatuhan najis yang dapat merubah sifat air). Landasannya bukan dari dua hadits diatas (hadits nomor 3 dan 4) melainkan dari ijma’ (consensus) ulama. Karena selamanya hadits dhaif (lemah) tidak dapat dijadikan hujjah sekalipun sebagai pembatas.
Ibnu Mundzier berkata, ‘Ulama sepakat (ijma’) bahwa air sedikit atau banyak, apabila kejatuhan najis lalu merubah rasa, warna, dan bau air, maka air tersebut adalah najis.

Hadits 05

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
إذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ وَفِي لَفْظٍ لَمْ يَنْجُسْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ
ابْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ
Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika banyaknya air telah mencapai dua kullah maka ia tidak mengandung kotoran.” Dalam suatu lafadz hadits: “Tidak najis”. Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibban.

Derajat Hadits  :

Shahih (dishahihkan oleh al-Albâny). Tuduhan bahwa hadits ini syadz dari segi matan dan sanad adalah tertolak, karena hadits ini diriwayatkan oleh orang yang tsiqah dan dari orang yang tsiqah pula (Ibnu Umar dan anaknya yang bernama ‘Ubaidillah). Di antara ulama besar yang menshahihkannya adalah at-Thahawi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hâkim, az-Zahabi, an-Nawawie, dan al-Asqalâny. [Lihat Taudhihul Ahkam 1/95].

Maksud Hadits :

(1) Air yang kadarnya mencapai 2 qullah atau lebih, dalam keadaan apapun tidak akan mengandung kotoran atau najis apabila kejatuhan najis dan tidak sampai merubah salah satu dari 3 sifat air (bau, warna, dan rasa).
(2) Air yang kadarnya kurang dari 2 qullah juga tidak secara otomatis berubah menjadi najis jika kejatuhan najis. Ia baru berubah menjadi najis jika najis tersebut merubah salah satu dari 3 sifat air.
(3) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan dengan 2 qullah karena umumnya air yang mencapai 2 qullah atau lebih, jika kejatuhan najis tidak akan tampak atau tidak terpengaruh dengan najis tersebut mengingat volume air yang begitu besar. Sedang air yang kurang dari 2 qullah umumnya jika kejatuhan najis akan segera tampak perubahannya pada air, namun Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menyatakan bahwa kurang dari 2 qullah sudah pasti najisnya. Yang pasti najisnya adalah apabila air tersebut berubah salah satu dari sifatnya (seperti pada hadits-hadits sebelumnya).

Catatan :

– Hadits ini disebut juga dengan hadits Qullatain.
– 2 qullah sekitar 200 kg.

Hadits 06

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي
الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu mandi dalam air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub.” Dikeluarkan oleh Muslim.

Derajat Hadits :

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Dilarang (haram) mandi janabat di air yang tergenang (tidak mengalir).
(2) Zhahir hadits menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara volume air yang banyak dan yang sedikit, asalkan ia tergenang maka terlarang mandi janabat di tempat tersebut.
(3) Namun, hadits diatas tidak menuntut demikian. Karena air yang tergenang yang teramat luas (seperti danau, laut, dll) tidak masuk dalam larangan hadits, demikian kesepakatan ulama.
(4) Orang junub yang mandi di air yang tidak mengalir, tidak berarti menajiskan air tersebut, hanya saja – wallahu a’lam – hal itu menyebabkan orang lain terhalang memanfaatkan air tersebut.

Hadits 07 dan 08

َلِلْبُخَارِيِّ لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ
Menurut Riwayat Imam Bukhari: “Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu kencing dalam air tergenang yang tidak mengalir kemudian dia mandi di dalamnya.”

َوَلِمُسْلِمٍ مِنْهُ وَلِأَبِي دَاوُد : وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ
Menurut riwayat Muslim dan Abu Dawud: “Dan janganlah seseorang mandi junub di dalamnya.”

Derajat Hadits :

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Dilarang (haram) mandi di dalam air yang tergenang yang sudah dikencingi sebelumnya.
(2) Namun tidak bermakna bahwa ‘dibolehkan’ mandi terlebih dahulu di air tergenang tersebut baru kemudian kencing di dalamnya. Karena di dalam hadits no. 8 secara tegas melarang mandi di air yang tidak mengalir sekalipun tidak kencing di dalamnya [Perhatikan lafadz hadits no. 7 menggunakan kalimat ‘ﺜﻢ ’ (kemudian) sedang hadits no. 8 menggunakan kalimat ‘ﻮﻻ ‘ (dan tidak) ].

Catatan :

Sehabis mengencingi air tergenang, yang dilarang bukan hanya mandi di dalamnya tetapi berwudhupun dilarang. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan derajat hadits hasan shahih;
لا يبولن أحدكم فى الماء الدائم ثم يتوضأ منه
Artinya: Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian kencing di air yang tergenang kemudian berwudhu darinya.”

Hadits 09

َوَعَنْ رَجُلٍ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ
تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ أَوْ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ و
َإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
Seorang laki-laki yang bersahabat dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang perempuan mandi dari sisa air laki-laki atau laki-laki dari sisa air perempuan, namun hendaklah keduanya menyiduk (mengambil) air bersama-sama. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, dan sanadnya benar.

Derajat Hadits :

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Perempuan dilarang mandi dari sisa air laki-laki atau sebaliknya laki-laki mandi dari sisa air perempuan. Larangan ini bersifat makruh tanzih (himbauan) bukan tahrim (pengharaman) mengingat adanya hadits yang membolehkan hal tersebut (lihat hadits 10).
(2) Namun dibolehkan bagi wanita dan laki-laki (yang memiliki hubungan mahram) menyiduk (mengambil) air secara bersamaan. Dari Ibnu Umar, “Bahwa dahulu di masa Rasulullah laki-laki dan perempuan berwudhu bersamaan.” Dan dalam satu riwayat Hisyâm bin ‘Ammâr dari Mâlik, ia berkata di dalamnya, “Dari satu bejana.”

Hadits 10

َوَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhuma : Bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mandi dari air sisa Maimunah Radliyallahu ‘anha Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Derajat Hadits :

Shahih.

Maksud Hadits :

(1) laki-laki dibolehkan mandi dengan sisa air perempuan sekalipun habis digunakan mandi janabat.

(2) Jika laki-laki dibolehkan memakai air bekas wanita, maka lebih diperbolehkan lagi wanita memakai bekas laki-laki. Namun hal itu dilakukan jika ada hajat (keperluan).

Hadits 11

َوَلِأَصْحَابِ السُّنَنِ : اغْتَسَلَ بَعْضُ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَفْنَةٍ فَجَاءَ يَغْتَسِلُ مِنْهَا فَقَالَتْ : إنِّي كُنْت جُنُبًا فَقَالَ : إنَّ الْمَاءَ لَا يَجْنُبُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ
Menurut para pengarang kitab Sunan: Sebagian istri Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mandi dalam satu tempat air, lalu Nabi datang hendak mandi dengan air itu, maka berkatalah istrinya: Sesungguhnya aku sedang junub. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak menjadi junub.” Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Derajat Hadits :

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Laki-laki dibolehkan mandi atau berwudhu dengan air sisa bersucinya wanita sekalipun bekas mandi janabat.
(2) Air bekas wudhu atau bekas mandi janabat tidak menajiskan dan tidak juga menghilangkan sifat mensucikan air lainnya yang terkena bekas tersebut.

Hadits 12

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ لَهُ فَلْيُرِقْهُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ أُخْرَاهُنَّ أَوْ أُولَاهُنَّ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sucinya tempat air (bejana) seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah.” Dikeluarkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: “Hendaklah ia membuang air itu.” Menurut riwayat Tirmidzi: “Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah).

Derajat Hadits :

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Air liur anjing adalah najis. Indikasi yang menunjukkan najisnya air liur anjing adalah awal dari sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘طهور ’ (sucinya), yang kedua Nabi memerintahkan mencuci bejana, dan yang ketiga Nabi memerintahkan membuang sisa air tersebut sedang seorang muslim dilarang memboroskan harta termasuk air.
(2) Penggunaan kalimat (ولغ) pada hadits ini yang bermakna anjing menjilat di bejana yang berair/cair, tidak bermakna bahwa najis liurnya terbatas pada hal itu saja tetapi mencakup juga pada istilah (لعقة) yaitu menjilat tempat yang tidak berair/cair, dan (لحس) yaitu menjilat di bejana yang kosong. Istilah ﻮﻠﻎ digunakan dalam hadits, karena pada ghalibnya (umumnya) anjing menjilat bejana yang berair.
(3) Hadits di atas hanya menerangkan tentang jilatan anjing dan tidak menunjukkan atas najisnya bagian-bagian tubuhnya yang lain. Ibnu Taimiyah berkata, ‘Dan yang rajih (unggul) bahwa bulu anjing adalah suci, karena tidak ada satu dalilpun dari syari (yang shahih yang menerangkan kenajisannya). [Lihat Mukhtasyar al-Fatawa al-Masyriyyah hal. 20].
(4) Mensucikan bejana dari bekas jilatan anjing, setelah membuang air bekas jilatan anjing, bejana dicuci sebanyak 7 kali dengan mencampurkan tanah pada cucian pertama.

Hadits 13

َوَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ – فِي الْهِرَّةِ – : إنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَة
Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda perihal kucing -bahwa kucing itu tidaklah najis, ia adalah termasuk hewan berkeliaran di sekitarmu. Diriwayatkan oleh Imam Empat dan dianggap shahih oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Derajat Hadits :

Shahih.

Maksud Hadits :

(1) Kucing adalah suci, badan dan bekas minumannya juga suci.
(2) Illat (motivasi hukum) yang terdapat di dalam hadits adalah karena kucing adalah bagian dari binatang yang mengelilingi manusia. Manusia sulit menghindar diri darinya.
(3) Illat ini berlaku kepada seluruh binatang yang berada di sekitar kita seperti kuda, keledai, dsb. Kecuali, yang dikecualikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam yaitu air liur anjing. [Lihat hadits no. 12].
(4) Apabila seekor kucing memakan sesuatu yang najis, kemudian ia langsung meminum air di bejana, maka sisa air di bejana tersebut tidak otomatis berubah menjadi najis kecuali jika berubah salah satu dari sifat air (warna, bau, dan rasanya).

Hadits 14

َوَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ؛ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh untuk diambilkan setimba air lalu disiramkan di atas bekas kencing itu.” Muttafaq Alaihi.

Derajat Hadits :

Shahih

Maksud Hadits :

(1) Kencing adalah najis dan diwajibkan membersihkan tempat atau wilayah yang terkena air kencing tersebut baik di pakaian, badan, bejana, tanah, atau lain sebagainya.
(2) Mensucikan tanah yang terkena air kencing adalah dengan menuangkan air di atasnya. Dan tidak disyaratkan tanah yang terkena najis tersebut harus dibuang dulu baru disiram dan setelah disiram baru dibuang.
(3) Selain cara di atas, terdapat di dalam atsar bahwa tanah juga suci apabila mengering.

ﻋﻦ ﺃﺒﻰ ﻘﻼﺒﺔ : ﺇﺬﺍ ﺠﻔﺖ ﺍﻷﺮﺾ ﻔﻘﺪ ﺯﻜﺖ

‘Apabila tanah itu mengering, maka sucilah ia.’ [HR. Ibnu Abi Syaibah 1/57].
(4) Proses pensucian tanah di atas hanya berlaku atau berkaitan dengan najis yang bentuknya cair. Adapun najis yang sifatnya padat (beku), maka ia tidak dapat disucikan melainkan dengan menghilangkan najis tersebut atau diproses (diubah) dalam bentuk lain seperti dibakar sehingga berubah menjadi debu.
(5) Salah satu dari bentuk penghormatan dan pemuliaan masjid adalah membersihkan dan menjauhkannya dari segala bentuk najis. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Arab badui yang selesai kencing di pojokan masjid;

ﺇﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻠﻤﺴﺎﺠﺩ ﻻ ﺗﺼﻠﺢ ﻠﺸﻴﺊ ﻤﻦ ﻫﺬ ﺍﻠﺑﻮﻝ ﻭﻻ ﺍﻠﻘﺬﺮﺓ ﺇﻨﻤﺎ ﻫﻰ ﻠﺬﻜﺮاﷲ ﻭﺍﻠﺻﻼﺓ وقرﺍﺀ ﺓ ﺍﻠﻗﺮﺍﻦ : ﻤﺴﻠﻡ
.85
Artinya: Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak dari kencing dan kotoran sedikitpun. Masjid ini tidak lain adalah dzikrullah, shalat dan membaca Al-Qur`an.” [Muslim: 85].
(6) Tutur kata yang lembut dalam menasehati seperti yang dilakukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan lebih berbekas di hati orang yang dinasehati. Setelah teguran itu, orang Arab badui itu berdoa :

ﺍﻠﻠﻬﻢ ﺍﺮﺤﻤﻨﻰ ﻭﻤﺤﻤﺪﺍ ﻭﻻ ﺘﺮﺤﻡ ﻤﻌﻨﺎ ﺍﺤﺪﺍ : ﺍﻟﺒﺨﺎﺮﻯ
‘Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati seorang pun bersama kami.”

(7) Pada ghalibnya, orang yang terpisah dari masyarakat dan kota, menyebabkan kejahilan dan kering dari tata krama. Seperti Arab badui dalam hadits diatas.
(8) Hukuman atau iqab dalam syariat adalah berlaku kepada mereka yang telah mengetahui duduk permasalahannya. Adapun orang yang jahil terhadap suatu masalah lalu ia terjatuh dalam berbuat kesalahan pada masalah tersebut, maka ia tidak terkena iqab syar’i kecuali beberapa hal yang ada hubungannya dengan manusia.

Catatan :

Dalam hadits ini terdapat sebuah kaedah penting bahwa, ‘Apabila kita dihadapkan (terkumpul) 2 mudharat maka kita memilih mudharat yang teringan.’ Di dalam hadits Arab badui ada 2 mudharat :
1. Kencing di masjid adalah mudharat.
2. Menegur orang atau membentaknya ketika ia sedang kencing, juga menimbulkan mudharat, seperti kencingnya akan berceceran di mana-mana dengan rasa kagetnya tersebut.
Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memilih yang teringan dengan membiarkan orang Arab badui itu menyelesaikan hajatnya (kencing).

Hadits 15

َوَعَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ. فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ : فَالْجَرَادُ وَالْحُوتُ وَأَمَّا الدَّمَانِ : فَالطِّحَالُ وَالْكَبِدُ أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ وَفِيهِ ضَعْفٌ
Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, dan di dalam sanadnya ada kelemahan.

Derajat Hadits :

Shahih Mauquf. (Adapun jika di marfu’kan kepada Rasulullah Shalallahu ‘aalihi wasallam adalah lemah, karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang ditolak oleh ahli hadits yaitu Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Ahmad menilai ia adalah mungkarul hadits. Yang benar hadits ini adalah mauquf. Demikian pendapat Abu Zur’ah, Abu Hatim, adh-Dharaquthni, Hâkim, Baihaqi, Ibnu Qayyim, dan Syaikh al-Albany di dalam Shahihul Jami’ 210, ash-Shahihah 1118, al-Misykat 4132 dalam hukum rafa’ (marfu’), karena perkataan shahabat dengan kalimat, ‘Dihalalkan bagi kami yang ini dan diharamkan atas kami yang ini’ adalah sama dengan perkataan mereka, ‘Kami diperintah dan kami dilarang,’ maka dengan demikian ia shah digunakan untuk berdalil.

Maksud Hadits :

(1) Hati dan limpa adalah 2 jenis darah yang dihalalkan. Sedang darah selain hati dan limpa yaitu darah yang mengalir adalah haram. [Lihat al-Maaidah : 3, al-Baqarah : 173, an-Nahl : 115, dan al-An’am 145].
(2) Belalang dan ikan laut adalah 2 jenis binatang yang kedua bangkainya halal dimakan, sedang bangkai selainnya adalah haram.
(3) Bangkai ialah (lihat hadits no. 17) :
– Tiap-tiap binatang yang mati tanpa disembelih.
– Tiap-tiap binatang yang mati disembelih tetapi tidak menurut ketentuan agama Islam.
– Yang dipotong bagian badan dari binatang yang belum disembelih.
– Tiap-tiap binatang yang disembelih tetapi binatang tersebut ghairu ma’kul al-lahm (tidak dimakan dagingnya) hukumnya seperti hukum bangkai, sekalipun ia disembelih. Sebab di antara syarat-syarat sahnya penyembelihan adalah halalnya yang disembelih.

(4) Yang dimaksud dengan bangkai belalang dan ikan laut adalah binatang yang mati bukan karena sembelihan orang. Tetapi ia mati karena sebab-sebab tertentu, baik itu karena dicampakkan oleh laut, kekeringan, dingin, dll.
(5) Adapun jika ikan mati karena ‘pencemaran lingkungan’ dan pencemaran tersebut mengandung racun yang membahayakan jiwa manusia, maka bangkai ikan tersebut adalah haram. Artinya haram bukan karena dzatnya, tetapi karena hal lain. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda ﻻﻀﺮﺮﻮﻻﻀﺮﺍﺮ (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain).
(6) Bangkai ikan dan belalang adalah suci, bangkainya tidak mempengaruhi kesucian air baik air itu sedikit ataupun banyak.

Hadits 16

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد . وَزَادَ وَإِنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ الَّذِي فِيهِ الدَّاءُ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila ada lalat jatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu maka benamkanlah lalat itu kemudian keluarkanlah, sebab ada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada obat penawar.” Dikeluarkan oleh Bukhari dan Abu Dawud dengan tambahan: “Dan ia berlindung dengan sayap yang ada penyakitnya.”

Derajat Hadits :

Shahih. Dan tambahan riwayat dari Abu Dawud adalah ‘Hasan’. [Lihat Taudhih 116].

Maksud Hadits :

(1) Menunjukkan sucinya lalat baik dalam keadaan hidup maupun matinya. Dan tidak menajiskan makanan/minuman apabila ia terjatuh di dalamnya.
(2) Anjuran untuk menenggelamkan lalat yang jatuh di dalam minuman, agar racun yang terkandung di salah satu sayapnya hilang (larut), karena obat penawar racun lalat tersebut ada pada sayapnya yang lain. Setelah ditenggelamkan, lalat dibuang.
(3) Jika lalat jatuh di dalam bentuk makanan yang padat (tidak cair), maka cukup membuang lalat tersebut dan tempat lalat itu jatuh.
(4) Ulama mengkiaskan (analogi) lalat dengan hewan serangga lain yang tidak memiliki darah mengalir ketika dibunuh atau dilukai seperti : belalang, kalajengking, lebah, dsb. Artinya ia suci dan bangkainya tidak menajiskan.
(5) Menunjukkan mukjizat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau menetapkan penyakit dan obat pada kedua sayap lalat. Dan hal ini diakui kebenarannya oleh para dokter masa kini dengan menggunakan alat pembesar (mikroskop).
(6) Islam amat menghargai dan memuliakan makanan, jika bukan karena hal yang mendesak, makanan dan minuman tidak boleh dibuang.
(7) Menurut pengamatan beberapa orang dokter, jika seseorang tersengat kalajengking atau lebah, untuk meredakan rasa sakitnya adalah dengan menggosokkan lalat ke tempat yang tersengat hewan tersebut mengingat adanya penawar pada salah satu sayapnya – Wallahu a’lam –.

Hadits 17

َوَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ
– وَهِيَ حَيَّةٌ – فَهُوَ مَيِّتٌ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَاللَّفْظُ لَهُ
Dari Abu Waqid Al-Laitsi Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Anggota yang terputus dari binatang yang masih hidup adalah termasuk bangkai.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dan beliau menyatakannya shahih. Lafadz hadits ini menurut Tirmidzi.Derajat Hadits :

Hasan [Diriwayatkan dari 4 jalur dari 4 shahabat, yaitu; Abi Sa’id, Abi Waaqid, Ibnu ‘Umar, dan Tamim ad-Daari].

Maksud hadits :

(1) Sesuatu yang dipotong dari binatang yang hidup adalah bangkai, kecuali ikan dan belalang.
(2) Dengan demikian apa saja yang dipotong dari punuk unta, bagian belakang (pantat) biri-biri, atau kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian orang yang bertugas mengurus pemotongan di tempat penyembelihan umum berupa memotong telinga hewan, memotong kedua kakinya, atau semisalnya; maka keseluruhannya itu masuk dalam hukum bangkai.
(3) Bangkai adalah najis. Dalil yang menunjukkan kenajisannya adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam :
366 ﺃﻴﻬﺎ ﺇﻫﺎﺐ ﺪﺑﻎ ﻔﻘﺪ ﻄﻬﺮ : ﻤﺴﻟﻢ

‘Kulit apa saja yang disamak, maka sucilah ia.’

Kalimat ‘sucilah’, ini menunjukkan akan najisnya kulit bangkai yang belum disamak. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh:
Al-Faqîr Abu Halbas, Muhammad Ayyub
Jember, 30 November 2011.

Diskusi

One thought on “Menyibak Cahaya Temaram Penjelas Kitab Bulughul Maram (Bagian 1)

  1. Oh, masya Allah. Biarkan saya berbagi juga, Saudaraku.

    Ada aplikasi bernama SalafiDB, gratis, ia aplikasi berisi:

    1. Al-Qur’an dan terjemahan dalam bahasa Indonesia
    2. Tafsir Ibnu Katsir (dalam bahasa Inggris)
    3. Shahih Bukhari dalam bahasa Indonesia
    4. Shahih Muslim dalam bahasa Indonesia
    5. Bulughul Maram Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam bahasa Indonesia
    6. Riyadhus Shalihin Imam Nawawi dalam bahasa Indonesia
    7. Hadits Arba’in Imam Nawawi dalam bahasa Indonesia
    8. Kumpulan fatwa ulama Arab Saudi Lajnah Da’imah (dari http://fatwa-ulama.com) berbahasa Indonesia
    9. Kumpulan (mirror) dari situs http://almanhaj.or.id berbahasa Indonesia
    10. Kumpulan e-book berisi penjelasan-penjelasan yang sangat penting untuk umat Islam termasuk menjelaskan pokok-pokok penyimpangan ajaran Islam (ini sangat penting) dalam bahasa Indonesia.

    Anda dapat membaca uraian dan mengunduhnya nya di:
    1. SalafiDB Versi Windows: http://bacasalaf.wordpress.com/2012/07/05/salafidb-40-versi-windows/

    2. SalafiDB Versi Linux: http://bacasalaf.wordpress.com/2012/07/05/salafidb-sebuah-aplikasi-al-quran/

    Ukurannya hanya sekitar 50 MB. Saya sangat merekomendasikan aplikasi ini untuk kaum muslimin se-Indonesia. Saya sendiri telah mengambil faidah yang besar sekali dari aplikasi ini. Semoga ini bermanfaat.

    Posted by Ade Malsasa Akbar | Juli 8, 2012, 5:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: