//
you're reading...
Aqidah, Pengetahuan Umum

Syi’ah Yang Sebenarnya


Soal:
Selain Ahmadiyah, ajaran Syi’ah di negeri kita ini juga merebak luas. Banyak dari anak-anak muda kita bahkan umumnya mayoritas muslim di negeri ini belum mengenal baik tentang aliran Syi’ah yang sebenarnya. Oleh karena itu, kami meminta dengan hormat agar ustadz mau memberikan sedikit penjelasan tentang ajaran Syi’ah. Terima kasih atas jawabannya [Jember]

Jawab:
Perkembangan Syi’ah atau yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait di negeri kita ini memang cukup pesat. Hal itu dapat kita ketahui melalui banyaknya jumlah lembaga yang mereka miliki baik yang berbentuk pesantren atau yayasan. Ditambah lagi dengan membanjirnya buku-buku tentang Syi’ah yang sengaja diterbitkan oleh para penerbit yang memang berindikasi Syi’ah atau lewat media massa, ceramah-ceramah agama, dan lewat pendidikan serta pengkaderan di pesantren-pesantren dan di majelis-majelis ilmu.

Pengertian Syi’ah dan Awal Mula Perkembangannya
Kata Syi’ah menurut bahasa berarti pendukung atau pembela. Sedangkan secara istilah, para pakar ilmu ushul mengartikannya sebagai golongan pendukung Ali. [Mukaddimah Ibnu Khaldun hal. 138].
Sebagian sejarawan berpendapat bahwa paham Syi’ah muncul semenjak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat, yaitu berbarengan dengan konflik dingin yang terjadi ketika pembaiatan Abu Bakar Radhiyallahu anhu sebagai khalifah, pemimpin ummat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun benih paham Syi’ah saat itu bisa dikatakan masih terlalu kecil, namun benih tersebut berkembang dan tumbuh besar setelah terbunuhnya Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Dan di antara tokoh yang amat berperan dalam perkembangan Syi’ah selanjutnya adalah Abdullah bin Saba’.

Abdullah bin Saba’ dan Syi’ah
Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam di akhir Khilafah Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Ia begitu geram melihat Islam tersiar dan tersebar di jazirah Arab, di Imperium Romawi, negeri-negeri Persia sampai ke Afrika dan masuk jauh di Asia, bahkan sampai berkibar di perbatasan-perbatasan Eropa. Ia menyulut fitnah dengan memprovokasi orang-orang lugu dan berhati sakit untuk memerangi Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Pada saat yang bersamaan ia juga menampakkan rasa cintanya kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Ia mengaku dan mendukung kelompok ‘Ali, padahal ‘Ali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Bahkan sebaliknya, ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah berencana untuk membunuhnya lantaran kelancangannya berkata, ‘Engkaulah Allah’ kepada ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Dialah sebagai biang keladi bagi berlangsungnya peperangan antara ‘Ali dan Mu’awiyah, juga antara ‘Ali dan ‘Aisyah dalam Perang Jamal.

Landasan Hukum Syi’ah
Yang râjih (unggul) bahwa ada banyak unsur yang masuk ke dalam aliran Syi’ah, di antaranya unsur Yahudi, Nashrani, dan Majusi. DR. Ahmad Amin berkata, ‘… Kelompok ini (Syi’ah) menunjukkan kekuatannya semenjak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat. Kemudian tumbuh dan berkembang seiring dengan zaman. Hingga akhirnya menyerang, mengkritik, dan memusuhi Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Bahkan paham kelompok ini menggunakan cara baru untuk mematahkan lawan politiknya dengan memasukkan unsur-unsur ajaran selain Islam; seperti Yahudi, Nashrani, dan Majusi. Sampai-sampai setiap kaum dari pengikutnya menggunakan cara masing-masing yang sesuai dengan agama yang ia peluk. Bagi pemeluk agama Yahudi, maka ia akan menggunakan cara yang ia ketahui dari ajaran Yahudi. Demikian pula para penganut agama Nashrani, mereka memasukkan ajaran-ajaran yang mereka dapat dan memasukkan ke dalam kelompok Syi’ah ini.’ [Lihat Akhthâuna fil ‘Ibâdat wal Mu’âmalat oleh DR. Mushtafa Murad Subhi ].

Penyimpangan Syi’ah
Aqidah Syi’ah berbeda dengan aqidah yang kita anut, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Syari’at mereka juga berbeda dengan syari’at kita. Jika harus menyebut semua penyimpangan yang mereka lakukan, maka tulisan ini akan menjadi panjang untuk menguak semua kesesatan yang mereka lakukan. Dalam kesempatan ini kami hanya akan menyebut sebagian kecil penyimpangan dari banyaknya penyimpangan yang mereka lakukan. Dan sebagai pembuktian, kami nukilkan penyimpangan tersebut dari kitab mereka sendiri agar tidak ada alasan bagi mereka untuk menghindar atau mengelak dari tuduhan yang dialamatkan kepada mereka. Berikut di antara penyimpangannya:

Al-Qur’an tidak Sempurna
Dalam pandangan Syi’ah, al-Qur’an yang ada pada kita tidak sempurna, karena telah dirubah dan diputarbalikkan oleh para shahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Al-Kulaini meriwayatkan dari Ja’far al-Shadiq, beliau berkata, ‘Sesungguhnya al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam melalui Jibril terdiri dari 17.000 ayat.’ [Lihat al-Kâfi, Keutamaan al-Qur’an, Bab Kejanggalan-kejanggalan 2/634].
Itu artinya, mereka menuduh shahabat secara tidak langsung, bahwa mereka telah membuang lebih kurang 10.000 ayat lebih. Abu Abdillah berkata, ‘Bahwa surat al-Ahzab membuka keburukan wanita-wanita Quraisy. Surat itu lebih panjang daripada surat al-Baqarah, tetapi oleh para shahabat dikurangi dan dirubah.’ [Lihat Bihar al-Anwar 89/55].

Mengkafirkan Shahabat
Abu Ja’far berkata, ‘Semua manusia (kaum muslimin) menjadi Ahlul Jahiliyyah (murtad) kecuali empat orang saja; ‘Ali, Miqdad, Salman, dan Abu Dzar.’ [Lihat Tafsir ash-Shâfi 1/389].
Al-Majlisi berkata, ‘Bahwa mereka (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) adalah perampok-perampok yang curang dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknati mereka dan semua orang yang mengikuti mereka …’ [Lihat Bihar al-Anwar 4/385].

Imamah adalah Rukun Iman
Berdasarkan keyakinan Syi’ah, Imamah atau khilafah termasuk salah satu dari rukun agama. Barangsiapa yang ingkar terhadap Imamah, maka dia akan menjadi kafir. Abu Ja’far berkata, ‘Islam dibangun atas lima perkara; shalat, zakat, puasa, haji, dan wilayah.’ [Lihat al-Kâfi]. Sedang maksud ‘wilayah’ menurut Syi’ah adalah keyakinan tentang imamah.

Mengkafirkan Ahlus Sunnah
Jika Syi’ah demikian berani mengkafirkan shahabat-shahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, khususnya tiga khalifah : Abu Bakar, Umar, dan Utsman; maka untuk mengkafirkan orang-orang Islam selain mereka tentunya pasti lebih mudah. Harun bin Khârijah berkata kepada Abu Abdillah, ‘Kami datang kepada Ahlus Sunnah untuk mendengarkan hadits, sehingga dapat kita jadikan hujjah untuk menghadapi mereka.’ Abu Abdillah menjawab, ‘Jangan datang kepada mereka dan jangan dengarkan haditsnya. Semoga Allah melaknati mereka dan melaknati agama mereka yang musyrik itu.’ [Lihat Bihar al-Anwar 2/216].

Tambahan ‘Ali dalam Adzan
Setelah mengumandangkan dua kalimat syahadat, mereka menambahkan syahadat atas ‘Ali, dengan lafadz sebagai berikut, ‘Asyhadu anna Aliyyan Waliyullah, wa aulâduhu ma’sumin hujjatullah’ atau ‘Asyhadu anna Aliyyan Amirul Mukminina Haqqa.’ [Lihat Wasâil Syi’ah 4/hal. 648-649].

Ziarah Kubur Husein sebanding Haji
Abu Abdillah berkata, ‘Ziarah ke kuburan Husein sama dengan 20 kali ibadah haji dan lebih utama daripada 20 haji dan Umrah.’ [Lihat Tahzibul Ahkam 6/37].

Demikian sekilas tentang hakikat Syi’ah. Mudah-mudahan tulisan yang sedikit ini bermanfaat adanya.

Ditulis oleh:
Al-Faqir Abu Halbas Muhammad Ayyub
Jember, Januari 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: