//
you're reading...
Aqidah

Bahkan Keislaman Pun Bisa Batal!


Sebagaimana halnya shalat dan wudhu memiliki ragam pembatal, maka Islampun memiliki hal yang sama. Mayoritas kaum muslimin di belahan dunia ini lebih mengenal hal-hal yang dapat membatalkan shalat dan wudhunya daripada mengenal hal-hal yang dapat membatalkan keislamannya. Hal ini wajar terjadi, lantaran banyak kaum muslimin menyangka bahwa dalam berislam cukup dengan hanya mengucapkan kalimat syahadat, tidak perlu mempelajari atau mengetahui konsekwensi apa yang terkandung dari kalimat syahadat tersebut.

Ketahuilah wahai kaum muslimin, ada banyak hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang, namun jika diamat-amati ada 10 hal yang paling banyak dilakukan oleh ummat Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan 10 hal itu sebagai berikut :

1) Syirik dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
‘Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.’ [QS. an-Nisaa’ : 116].

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
‘Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dhalim itu seorang penolongpun.’ [QS. Al-Maaidah : 72]

Termasuk dalam hal ini, pemohonan pertolongan dan permohonan doa kepada orang mati serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.

2) Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara doa, permohonan syafaat, serta sikap tawakkal mereka kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلا أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
‘Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. [QS. Al-Israa` : 56-57]

3) Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kekafiran mereka dan memandang benar ajaran mereka. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
‘Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.’ [QS. Ali Imran : 85]

4) Meyakini bahwa petunjuk (ajaran) selain ajaran Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam lebih sempurna atau lebih baik dari hukum Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan lebih memprioritaskan hukum thaghut daripada hukum Islam. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? [QS. Al-Maaidah: 50]
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
‘Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.’ [QS. Al-Maaidah: 44]

5) Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, meskipun diamalkannya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
‘Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.’ [QS. Muhammad : 9]

6) Mengolok-ngolok sebagian dari agama yang dibawa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, atau mengejek dan memperolok-olokkan pahala dan siksa yang dibawanya. Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala:
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
‘Katakanlah apakah terhadap Allah, ayat-ayat, dan rasul-Nya kalian berolok-olok ? Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.’ [QS. at-Taubah : 65-66]

7) Melakukan sihir. Dan di antara bentuk sihir adalah ash-Sharf (yaitu mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi benci kepada isterinya). Dan ath-Thaaf (yaitu sebaliknya, menjadikan orang senang terhadap apa yang sebelumnya dia benci dengan bantuan syaithan). Barangsiapa melakukan sihir dan rela terhadapnya maka hukumnya kafir. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ
‘Sedang keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seorangpun sebelum mengatakan; sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir.’ [QS. al-Baqarah : 102].

8) Membela dan memihak kepada orang musyrik untuk menghadapi ummat Islam. Firman Allah:
وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
‘Dan barangsiapa yang mendukung mereka di antara kamu, maka sesungguhnya ia adalah bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum dhalim.’ [QS. al-Maaidah : 51].

9) Meyakini bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
‘Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.’ [QS. Ali-Imran : 85].

10) Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
‘Dan siapakah yang lebih dhalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.’ [QS. as-Sajadah : 22].

Perhatian!

Pembatal-pembatal keislaman yang kami sebutkan diatas adalah hukum yang bersifat umum. Maka tidak diperbolehkan bagi seseorang tergesa-gesa dalam menetapkan bahwa orang yang melakukan point-point diatas langsung keluar dari Islam.

Masalah pengkafiran termasuk jenis perkara yang sulit dan pelik, baik dari sisi penentuan fatwanya, atau penerapan fatwa tersebut pada pihak-pihak tertentu. Dengan demikian penentuan hukum pengkafiran tidak boleh ditangani atau dilakukan oleh pribadi-pribadi, tetapi diserahkan sepenuhnya kepada ahli ilmu yang memenuhi syarat-syarat fatwa.

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata dalam al-Muntaqa 1/112, ‘Takfir adalah perkara yang berbahaya. Tidak setiap orang boleh menyematkan kekafiran pada diri orang lain. Ini termasuk wewenang mahkamah-mahkamah syar’iyah dan ulama yang berilmu dalam masalah agama. Yaitu merekalah yang memahami Islam, mengetahui pembatal-pembatalnya, mengetahui situasi dan kondisi, serta mampu mengkaji realita masyarakat. Merekalah orang yang berhak mengeluarkan vonis kafir dan keputusan lainnya dalam agama …’ [Lihat at-Tabshir hal. 47-48].

Kapan Seseorang Divonis Kafir?

Seseorang dapat divonis kafir jika :
1) Adanya ketetapan yang sudah jelas dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. [Lihat Syarh Kasyfu asy-Syubuhat fi at-Tauhid hal. 57], bahwa ucapan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang dihukumi kafir, benar-benar bersifat kekafiran.
2) Terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran pada diri orang tersebut. Syarat-syarat pengkafiran meliputi :
a. Baligh lagi berakal.
b. Dilakukan dengan sengaja, berdasarkan pilihan tanpa paksaan. [QS. an-Nahl : 106].
c. Telah sampai hujjah kepadanya (telah berilmu); yaitu ia mengetahui atau memahami sesuai dengan kebenaran dan tepat maksudnya yang hakiki. [QS. al-Israa’ : 15 dan an-Nisaa’ : 165].
d. Tidak mentakwil kepada makna yang lain, maksudnya ilmu yang telah datang padanya ditakwil sesuai makna aslinya.

Jika tidak terpenuhi salah satu dari empat syarat di atas, maka seseorang tidak boleh dinyatakan kafir.

Demikianlah sepuluh pembatal keislaman yang perlu diwaspadai. Baca dan renungkanlah. Jangan sampai ada yang menimpa diri Anda. Wallahu a’lam.

Al-Faqîr Abu Halbas Muhammad Ayyub
DukuhDempok-Wuluhan-Jember
Shafar 1433 H. /Januari 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: