//
you're reading...
Fiqih

Omong-Omong Saat Makan


Soal:

Bolehkah kita beromong-omong/ngobrol saat makan? Jazakallah atas jawabannya [Jember]

 

Jawab:

Jika Anda pernah mendengar wejangan para penasehat dan orang-orang bijak tentang tidak bolehnya berbicara saat makan dengan membawakan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam – menurut sangkaan mereka – :

ﻻ ﻛﻼﻢ ﻋﻠﻰ ﻄﻌﺎﻢ.

‘Tidak ada omong-omong di saat makan.’

Maka ketahuilah, bahwa dasar (dalil) pelarangan mereka itu tidaklah berasal dari sumber yang kuat. Ungkapan di atas bukanlah sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, tidak diketemukan di dalam kitab-kitab hadits, ia adalah perkataan dusta yang disandarkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang menguatkan kedustaan dari perkataan tersebut adalah dalam banyak kesempatan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bercakap-cakap sewaktu menghadapi makanan.

 

Nabi Bercakap-cakap di Saat makan

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bercakap-cakap di saat makan adalah sebagai berikut :

 

1)        Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Pernah dihidangkan di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam semangkuk makanan yang berisi tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) dan daging kambing. Lalu beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil hastanya – yang mana bagian itulah yang paling beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam sukai dari daging kambing – kemudian menggigitnya dan berkata, ‘Aku adalah pemimpin ummat manusia di hari Kiamat.’ Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam menggigitnya ulang seraya berkata, ‘Aku adalah pemimpin ummat di hari Kiamat …’ [HR. Muslim 1/184].

 

2)        Dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menanyakan lauk-pauk kepada keluarganya, maka jawab mereka, ‘Kita tidak memiliki lauk-pauk kecuali khal (cuka; sejenis asinan).’ Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam minta agar dibawakan khal tersebut, dan memakannya, seraya bersabda, ‘Sebaik-baik lauk-pauk adalah khal, sebaik-baik lauk-pauk adalah khal.’ [HR. Muslim 2052].

 

3)        Dari ‘Aisyah Radliyallahu ‘anha ia berkata, ‘Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sedang makan bersama enam orang dari shahabatnya, mendadak datang seorang badui, lalu memakan semua isi hidangan itu dalam dua kali usap. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Andaikan ia menyebut nama Allah tentu akan mencukupi untuk kamu sekalian.’ [Shahih. HR. at-Tirmidzi 1859].

 

Tiga hadits di atas kami rasa cukup untuk menetapkan bolehnya bercakap-cakap di saat makan, sekaligus penolakan untuk mereka  yang mengingkari hal tersebut dan menganggapnya sebagai hal yang tercela.

 

Kesimpulan

Di saat makan, Anda boleh bercakap-cakap. Namun, hindari ucapan-ucapan yang tercela. Termasuk di antaranya adalah mencela makanan yang tengah dihadapi. Wallahu a’lam bin Shawab.

 

 

Al-Faqir Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 20 Shafar 1433/14 Januari 2012

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: