//
you're reading...
Fiqih

Shalat Seorang Diri Dibelakang Shaf


Ulama berbeda pendapat tentang shah tidaknya shalat seorang makmum yang berdiri seorang diri di belakang shaf. Imam asy-Syaukani Rahimahullah di dalam kitabnya ‘Nailul Authar’ Jilid 3 berkata, ‘Para ulama salaf berbeda pendapat tentang shalatnya makmum yang berdiri di belakang shaf. Segolongan dari mereka mengatakan bahwa hal itu tidak boleh dan tidak shah. Di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah an-Nakha’i, Hasan bin Shaalih, Ahmad, Ishaaq, Hammad, Ibnu Abi Laila, dan Waki’. Sementara Hasan al-Bashri, Auza’i, Maalik, Syafi’i, dan para ulama ashhab ar-ra’yi membolehkannya.’

Pendapat yang Unggul

Pendapat yang unggul adalah pendapat yang tidak membolehkan makmum shalat seorang diri di belakang shaf dan jika itu ia lakukan, maka ia harus mengulangi shalatnya lantaran shalatnya tidak shah. Pengunggulan ini berdasarkan pada tiga dalil berikut ini :

1) Dari Wabishah bin Ma’bad Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seseorang shalat seorang diri di belakang shaf, lalu Nabi memerintahkan (orang itu) mengulangi shalat(nya).’ [Shahih. HR. Abu Dawud 682, at-Tirmidzi 230, dan Ibnu Majah 1004. Dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab al-Irwa’ 541, Abu Ishaq al-Huwaini di dalam kitab Ghautsul Makduud 319, dan Muhammad Shubhi Hasan Hallaq 2/70].

2) Dari Thalq bin Ali Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak ada (tidak shah) shalat, bagi orang yang shalat seorang diri di belakang shaf.’ [Shahih. HR. Ahmad 4/23 dan Ibnu Majah 1003. Dishahihkan oleh al-Albani di dalam al-Irwa’ dan Muhammad Shubhi Hasan hallaq di dalam Fathul Allam 2/71].

3) Dari Ali Syaiban, ia berkata: Kami pernah bepergian hingga bertemu dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Lalu kami bai’at beliau dan shalat di belakang beliau. Waktu itu beliau melihat seorang lelaki yang shalat seorang diri di belakang shaf. Maka beliapun berdiri mengawasinya sampai orang itu selesai shalat. Lalu beliau bersabda kepadanya, ‘Ulangi shalatmu! Karena tidak shah shalat orang yang berada (shalat) seorang diri di belakang shaf.’ [Shahih. HR. Ibnu Majah 3 dan 10, Ahmad 4/23, dan Ibnu Khuzaimah 1/164].

Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Shalatnya seorang diri di belakang shaf adalah tidak shah, sebagaimana telah dinyatakan oleh dua hadits (lihat hadits pertama dan kedua –red) yang berkaitan dengan masalah ini. Para ulama yang menentang pendapat ini bisa jadi menyatakannya karena hadits tersebut tidak sampai kepada mereka dari jalur yang bisa mereka percayai. Mungkin juga mereka menyangka bahwa hadits tersebut dha’if.’ [al-Fatawa 23/394].

Jika Shaf Terdepan Terisi Penuh

Jika seseorang datang ke masjid lalu ia mendapatkan semua shaf telah terisi penuh dan ia tidak mendapatkan celah yang dapat diisi, maka dalam keadaan seperti ini ia harus menarik seseorang dari shaf depan agar ia berdiri bersamanya di belakang shaf, demikian pendapat yang unggul.

Pendapat ini disandarkan kepada hadits Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu: Dari Abu Mijlas, dari Qais bin ‘Abbad, ia berkata: Sewaktu aku berada di dalam masjid di Madinah, saat itu aku sedang shalat di shaf terdepan. Tiba-tiba seseorang menarikku dari belakang dan menyejajarkanku di sampingnya sampai aku tidak sadar akan shalat yang aku lakukan. Selepas shalat, kudapati ternyata orang itu adalah Ubay bin Ka’ab. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai keponakanku, semoga Allah tidak membuatmu berburuk sangka, sesungguhnya ini telah diajarkan oleh Rasulullah kepada kami.’ Setelah itu iapun menghadap kiblat dan berkata, ‘Demi Tuhan pemilik Ka’bah, celakalah orang-orang yang gemar membuat akad (perjanjian) sesat. Demi Allah, aku tidak berputus asa terhadap mereka, tetapi aku berputus asa terhadap orang-orang yang menyesatkan.’ Akupun bertanya kepadanya, ‘Siapakah orang yang kamu maksud?’ Ubay menjawab, ‘Para umara’ (penguasa).’ [Shahih. HR. Ibnu Khuzaimah 573 dan al-Haitsami dalam Mawaarid azh-Zham’an 389].

Ungkapan Ubay bin Ka’ab, ‘Sesungguhnya ini telah diajarkan oleh Rasulullah kepada kami,’ menunjukkan bahwa menarik seseorang dari shaf depan itu dibolehkan. Wallahu A’lam.

Adapun pendapat yang membolehkan shalat seorang diri di belakang shaf karena udzur (shaf telah terisi penuh dan tidak ada celah kosong) dan tidak mau menarik orang yang berada di shaf terdepan lantaran memutuskan shaf, maka pendapat ini bertentangan dengan keumuman hadits-hadits di atas (lihat tiga hadits sebelumnya tentang larangan shalat di belakang shaf seorang diri) dan bertentangan pula dengan hadits Ubay bin Ka’ab di atas.

Begitu juga dengan pendapat yang mengatakan bahwa makmum tersebut berdiri di samping imam adalah keliru. Karena pendapat seperti ini tidak memiliki dasar dari Sunnah.

Kesimpulan

Bagi makmum yang mendapatkan shaf telah terisi penuh, maka ia mesti menarik seseorang dari shaf depan, agar orang itu berdiri bersamanya di belakang shaf.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: