//
you're reading...
Fiqih

Makna Ta’ziyah


Agar hati di antara sesama kaum muslimin dapat terjalin dalam suatu ikatan yang erat, maka mereka harus senantiasa merealisasikan etika persaudaraan dalam kehidupan mereka, tidak hanya sekedar pada tingkat pembicaraan dan teori-teori belaka. Etika persaudaraan harus direalisasikan dalam bentuk saling nasehat-menasehati, saling merasa senasib sepenanggungan, dan saling mencintai antara satu dengan yang lainnya. Termasuk di antara etika persaudaraan yang penting untuk diperhatikan oleh segenap kaum muslimin adalah ta’ziyah kepada keluarga orang-orang yang tertimpa kematian, atau kehilangan sesuatu yang amat berharga dan mulia.

 

Makna Ta’ziyah

Ta’ziyah adalah taqwiyah (pemberian semangat atau dorongan), dengan makna; pemberian semangat kepada orang yang tertimpa musibah untuk sanggup menanggung musibah tersebut. Hal itu diwujudkan dengan cara menyampaikan kepadanya do’a-do’a dan nash-nash yang terdapat di dalam al-Qur’an maupun hadits tentang keutamaan bersabar yang dapat menyebabkan terhibur atau melupakan musibah yang menimpanya. [Syarhul Mumti’ 2/574].

 

Hukum Ta’ziyah

Ta’ziyah kepada keluarga orang yang mati adalah sunnah hukumnya, demikian kesepakatan ulama [Ensiklopedi Ijma’ 409]. Dan sunnah ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَزِّي أَخَاهُ بِمُصِيبَةٍ إِلَّا كَسَاهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ مِنْ حُلَلِ الْكَرَامَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya, “Tidak ada seorang mukminpun yang berta’ziyah kepada saudaranya yang tertimpa musibah, kecuali Allah Subhânahu wa Ta’ala pasti memberinya pakaian dengan pakaian kemuliaan.’ [Hasan. HR. Ibnu Majah 1601. Dihasankan oleh as-Suyuti dalam al-Jami’ ash-Shagir 8092, begitu juga  dengan asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah 1601].

 

Waktu Ta’ziyah

Tidak ada batasan waktu untuk ta’ziyah. Ia dapat dilakukan sebelum mayit dimakamkan atau setelahnya. Bahkan selama musibah itu masih ada pada keluarga mayit, maka mereka berhak untuk dita’ziyahi. Adapun menetapkan batas waktu maksimal ta’ziyah adalah tiga hari dengan berdalilkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Tidak ada ta’ziyah lebih dari tiga hari.’ Maka, kami katakan bahwa hadits ini tidak diketahui memiliki asal usul. Beberapa shahabat-shahabat Imam Ahmad berkata, ‘Sebab, maksud dari ta’ziyah adalah mendo’akan, mengajak pada kesabaran, dan mencegah supaya tidak putus asa. Hal-hal  seperti ini dapat dilakukan sepanjang masa.’ [Untuk keterangan lengkap silakan meruju’ ke kitab Ahkamul Janaiz oleh asy-Syaikh al-Albani hal. 209].

 

Tempat Ta’ziyah

Ta’ziyah boleh dilakukan di semua tempat; baik di kuburan, pasar, sawah, di tempat kerja, sekolah, masjid, rumah, di jalan raya, atau di tempat manapun yang kita bisa berta’ziyah (menghiburnya). Adapun anggapan sebagian orang bahwa ta’ziyah itu mesti dilakukan di rumah duka, maka pendapat tersebut jauh dari kebenaran. Sebab maksud dari ta’ziyah adalah sekedar mendo’akan dan mengajak pada kesabaran dan semua itu bisa terwujud di segala tempat.

 

Sasaran Ta’ziyah

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: Asy-Syafi’i dan sahabat-sahabatnya berkata, ‘Dianjurkan untuk berta’ziyah kepada seluruh keluarga dekat mayit baik yang besar, yang kecil, laki-laki, dan perempuan. Kecuali wanita muda (jika dikhawatirkan adanya fitnah), maka tidak dita’ziyahi kecuali para mahramnya saja (atau sesama wanita).’ [al-Majmu’ 5/277].

Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah menambahkan, ‘Siapa saja yang tertimpa musibah (berduka cita) sekalipun itu keluarga ajuh mayit, maka ia berhak untuk dita’ziyahi. Dan siapa saja yang merasa tidak mendapat musibah sekalipun ia keluarga dekat sang mayit, maka ia tidak berhak dita’ziyahi. Siapa yang merasa tertimpa musibah, maka ta’ziyahilah ia dan siapa saja yang merasa tidak tertimpa musibah (bahkan merasa senang ditinggal mati –red), maka Anda tidak perlu menta’ziyahinya. [Syarh al-Mumti’ 2/575].

 

Ta’ziyah pada Orang Kafir

Yang benar, tidak diperbolehkan berta’ziyah kepada orang-orang kafir. Ali bin Abi Thalib berkata: Tatkala Abu Thalib meninggal, aku mendatangi Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Sesungguhnya pamanmu, orang tua (yang sesat) itu telah meninggal, maka siapakah yang akan menguburnya?’ Beliau bersabda, ‘Pergilah, kuburkanlah ia, kemudian kamu jangan menceritakan sesuatupun hingga engkau menemuiku.’ Lalu aku bertanya, ‘Sesungguhnya ia mati dalam keadaan musyrik!’ Beliau bersabda, ‘Pergilah, kuburkanlah ia …’ [Shahih. HR. Abu Dawud 3/214 dan an-Nasa’i 4/79. Dishahihkan oleh Ahmad Syakir di dalam al-Musnad dan al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 170]. Hadits ini layak dijadikan dalil atas tidak disyari’atkannya berta’ziyah kepada orang-orang kafir. Di mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pada hadits di atas tidak berta’ziyah kepada Ali bin Abi Thalib atas kematian ayahnya. [Untuk keterangan lengkap lihat Ahkamul Janaiz hal. 169].

 

Ucapan Ta’ziyah

Ucapan ta’ziyah yang paling baik yang diriwayatkan secara shahih dari hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah; hendaklah orang yang berta’ziyah mengucapkan kepada keluarga mayit:

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ

Sesungguhnya milik Allah semata apa yang Dia ambil dan milik-Nya pula apa yang Dia berikan  serta segala sesuatu di sisi-Nya ada batas waktu yang ditentukan, tabahlah dan berharaplah pahala.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

 

Berkumpul Sewaktu Ta’ziyah

Yang disunnahkan bagi para penta’ziyah adalah seusai mengucapkan kata ta’ziyah kepada ahli mayit untuk segera pulang tanpa harus berkumpul-kumpul dan menunggu keluarnya jamuan dari ahli mayit, seperti inilah yang dilakukan oleh para salafush shalih. Para shahabat tidak pernah duduk-duduk untuk berta’ziyah, bahkan mereka – semoga Allah merahmati mereka semua – menganggap berkumpul-kumpul di keluarga mayit dan membuat makanan termasuk niyahah (meratapi mayit). Dalam hal ini Jarir bin Abdullah berkata:

كُنَّا نَرَى الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنْ النِّيَاحَةِ

Artinya, “Kami menganggap berkumpul-kumpul pada keluarga mayit dan membuat makanan setelah pemakamannya, termasuk ratapan.’ [HR. Ibnu Majah 1612. Dishahihkan oleh al-Albani dan an-Nawawi].

Sedangkan apa yang dilakukan sebagian orang sekarang ini, seperti membuat makanan atau menghidangkan makanan di tengah orang yang berta’ziyah, termasuk bid’ah yang buruk. Karenanya, orang yang berta’ziyah harus menolak segala makanan atau hidangan yang disuguhkan kepadanya, karena hal itu bertentangan dengan petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Seremonial Malam Ta’ziyah

Sebagian orang menyangka bahwa yang dinamakan dengan ta’ziyah adalah perkumpulan yang dilakukan pada malam hari (biasanya dimulai setelah shalat Maghrib) dengan menghadirkan seorang qari dan muballigh (penceramah) untuk memberikan nasihat-nasihat kematian pada acara tersebut, kemudian ditutup dengan do’a dari seorang yang dianggap alim dan diakhiri dengan jamuan makan, dan umumnya kegiatan ini dilakukan selama tiga malam sejak kematian sang mayit.

Ketahuilah wahai kaum muslimin, bentuk seremonial di atas adalah bid’ah dalam agama. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah berkata, ‘Hukum tentang itu adalah membuang-buang waktu dan harta, serta menampakkan kebid’ahan. Karena hal ini tidak pernah dikenal pada zaman salafush shalih. Jika terkumpul dalam perkara ini membuang-buang waktu dan harta serta menampakkan kebid’ahan, maka sesungguhnya tidak pantas seorang muslim melakukannya.

Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan sebaik-baik panutan adalah para shahabat, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan ihsan. Sebagaimana telah shahih dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka.’ [Shahih]. Berlandaskan hal ini, aku berpendapat untuk menahan diri dari perbuatan tersebut. Dan hendaklah ta’ziyah itu dilakukan dengan cara tidak berkumpul-kumpul dan menyalakan lampu-lampu, serta hal-hal yang semisal dengannya.’ [Fatwa-fatwa Fadhilatus Syaikh Muhammad Shalih ‘Utsaimin. Dalam edisi terjemah; Kumpulan Fatwa Lengkap tentang Ta’ziyah hal. 78].

 

Bid’ah-bid’ah Lain dari Ta’ziyah

Di antaranya; Mengkhatamkan al-Qur’an secara borongan pada malam ta’ziyah, tahlilan, membaca surat al-Ikhlash sebanyak seribu kali untuk ruh mayit atau surat Yasin dan al-Fatihah, menyiapkan rokok bagi pelayat, melakukan ritual lima harian, mendak (tujuh hari), empat puluhan, ritual tahunan, dan sebagainya serta wanita mengharuskan dirinya memakai pakaian warna hitam.

Demikian sekelumit tentang ta’ziyah, mudah-mudahan tulisan yang sedikit ini bisa membantu pembaca untuk memahami hakikat ta’ziyah. Wallahu A’lam.

 

Ditulis oleh Al-Faqir Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember-Indonesia.


Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: