//
you're reading...
Fiqih

Perlukah Bayi di Adzani


Soal:


Diantara kebiasaan kaum muslimin saat dikarunia anak, mereka mengumandangkan adzan ditelinga kanannya? Apakah ini punya landasan kuat dari syariat?

 

Jawab:

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa adzan di telinga kanan bayi ketika ia baru lahir dan iqamah di sebelah kirinya adalah perbuatan yang dianjurkan (sunnah).

 

Namun, pendapat tersebut jauh dari kebenaran karena lemahnya hadits-hadits yang mereka jadikan sebagai pijakan dalam masalah tersebut.

 

Berikut hadits-hadits yang dijadikan dalil bagi mereka yang mengatakan sunnahnya mengadzankan bayi, sekaligus kami sertakan kedudukan shah tidaknya hadits tersebut :

 

1)       Dari Abu Rafi’ ia berkata :

 

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ

 

Aku pernah melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan pada telinga al-Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya.’ [HR. Abu Dawud 5105, at-Tirmidzi 4/1514, Ahmad 6/9; 391-392, Abdurrazaq 4/236/7986, dan al-Hakim].

 

Kedudukan hadits : Hadits dhaif (lemah). Karena di dalam sanadnya ada ‘Ashim bin Ubaidillah. Ibnu Hajar dalam at-Taqrib berkata, ‘Ia lemah.’ Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata, ‘Mungkarul hadits.’ Imam Daruquthni berkata, ‘Ia ditinggalkan dan diabaikan.’

 

2)       Dari Ibnu Abbas ia berkata :

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍ يَوْمَ وُلِدَ وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى

Bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan pada telinga al-Hasan bin ‘Ali (yang sebelah kanan) ketika ia baru dilahirkan dan mengumandangkan iqamah pada telinga kiri.’ [HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/8620].

 

Kedudukan hadits : Hadits maudhu’ (palsu). Dalam sanadnya ada al-Hasan bin Amr. Ibnu Hajar dalam at-Taqrib berkata, ‘Matruk.’ Az-Zahabi dalam al-Mizan berkata, ‘Ibnul Madiny mendustakannya dan Bukhari berkata : Ia adalah pendusta (kazzab).’

 

Hadits nomor dua ini tidak dapat menguatkan hadits nomor satu, karena hadits tersebut adalah hadits palsu. Sedang hadits palsu tidak dapat dijadikan sebagai penguat hadits lemah.

 

3)       Dari al-Hasan bin Ali ia berkata :

 

Dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ وُلِدَ لَهُ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى, لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ

‘Barangsiapa yang baru mendapatkan bayi, kemudian ia mengumandangkan adzan pada telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil) tidak akan mengganggunya.’ [HR. Ibnus Sunni dan Ibnu Adi dalam al-Kamil].

 

Kedudukan hadits : Hadits lemah sekali bahkan palsu. Di dalam sanadnya terdapat tiga illat (cacat):

 

(1)          Jabârah bin al-Muflis. Lemah haditsnya (mudhtharib) sebagaimana yang dikatakan oleh Bukhari dan lainnya.

 

(2)          Yahya bin ‘Alâ’. Ia didustakan oleh Ahmad dan dinyatakan matruk oleh Bukhari. Ibnu Ma’in berkata, ‘Tidak tsiqah.’

 

(3)          Marwan bin Salim. Ibnu Hajar berkata, ‘Matruk.’ As-Sâji telah menuduhnya berbuat pemalsuan.

 

Kesimpulan

 

Tidak ada satupun hadits shahih yang menerangkan dianjurkannya mengadzani bayi ketika lahir.

 

Dengan demikian, perbuatan tersebut masuk dalam kategori bid’ah. Wallahu a’lam.

 

[lihat Ahkâmul Maulud oleh Syaikh Salim dan Syaikh Muhammad Khalifa serta kitab Insyirah fi Adabin Nikah oleh Abu Ishaq al-Huwainy].

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 15 Rabiul Awwal 1433H

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: