//
you're reading...
Fiqih

Upah Bekam, Haramkah?


Soal:

Apakah upah yang didapatkan dari hasil bekam itu haram? Mohon penjelasannya.

Jawab:

Bekam itu adalah pengobatan dengan metode pengeluaran darah kotor (blood letting) dengan cara disayat dengan silet, lanset, pisau bedah, atau jarum steril pada bagian yang dibekam. Pengobatan ala bekam merupakan  salah satu sunnah Rasulullah yang menghimpun kebaikan dunia akhirat. Ia adalah salah satu sunnah yang belum diketahui rahasia kehebatannya secara utuh.

Bekam merupakan anugerah besar yang beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam dapatkan sewaktu Isra’ Mi’raj. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِمَلَأِ مِنَ المَلاَئِكَةِ ، إِلاَّ كُلهُمْ يَقُوْلُ لِيْ : عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدِ ! بِالحِجَامَةِ

“Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku di Isra’kan, kecuali mereka mengatakan kepadaku, “Wahai Muhammad, hendaklah kamu berbekam”.’ [HR. Ibnu Majah 3468. Shahih al-Jâmi’ 5672].

Pesan bekam tidak hanya untuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, mereka para malaikat juga memesankan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk memerintahkan ummatnya berbekam. Mereka para malaikat berkata:

 مَا مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِي عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا : يَا مُحَمَّدُ مُرْ أُمَّتَكَ بِالْحِجَامَةِ

 ‘Tidaklah aku melewati sekelompok malaikat pada malam aku di Isra’kan, kecuali mereka mengatakan kepadaku, “Wahai Muhammad, perintahkanlah ummatmu untuk berbekam.’ [HR. at-Tirmidzi 1977. Shahih al-Jâmi’ 5671].

Upah Bekam

Tidak semua orang mampu menguasai teknik bekam. Umumnya, bekam hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Lalu, bolehkan memberi upah kepada tukang bekam atau sebaliknya boleh tukang bekam menerima upah bekam ?

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata, ‘Ulama berbeda pendapat tentang upah bekam. Mayoritas ulama dari kalangan salaf dan khalaf berpendapat bahwa upah bekam tidak diharamkan, tidak diharamkan memakan upahnya, baik ia seorang merdeka atau ia seorang hamba. Dan ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Ahmad. Dan dalam satu riwayat darinya (yaitu Imam Ahmad) berikut dari para fiqaha al-Muhaditsin berpendapat bahwa upah bekam itu diharamkan untuk orang merdeka dan tidak untuk budak.’ [Lihat Syarh Muslim 10/233].

Akar Perbedaan

Perbedaan ulama di atas disebabkan adanya dua hadits yang tampak bertentangan; yaitu hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang membolehkan menerima upah bekam (dan hadits inilah yang menjadi peganan mayoritas ulama akan kebolehan mengambil upah bekam) dan hadits Râfi’ bin Khadîj (yang dijadikan oleh sebagian ulama sebagai dalil tidak bolehnya menerima upah bekam). Dua dalil tersebut adalah :

1-       Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِه

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah berbekam dan memberikan upah kepada orang yang membekamnya. Seandainya itu haram, beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberinya upah.’ [HR. al-Bukhari 2103].

2-       Dari Râfi’ bin Khadîj Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ

            “Pekerjaan tukang bekam adalah khabits (buruk).’ [HR. Muslim].

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mensifati pekerjaan bekam dengan kata khabits, sedang Allah Ta’ala secara tegas mengharamkan al-khabits (segala yang buruk) seperti yang termaktub dalam surat al-A’raf ayat 157.

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (Khabîts).”

Pendapat yang Unggul                     

Pendapat yang unggul adalah pendapat mayoritas ulama, bahwa upah bekam tidaklah haram. Pengunggulan ini berdasarkan dengan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma di atas, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan upah kepada orang yang membekamnya. Kalau seandainya itu haram – sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas – tentulah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberi upahnya. Adapun kata ‘khabits’ (buruk) yang terdapat di dalam hadits Râfi’ bin Khadîj, maka ia bermakna jelek yang tidak disenangi oleh jiwa. Shiddiq Hasan Khan [Fathul A’lam 2/118] berkata, ‘Al-khabits (buruk) adalah lawan kata dari ath-Thayyib (yang baik). Lalu, apakah dalil [Râfi’ bin Khadîj] menunjukkan pada keharaman (upah bekam) ? Yang unggul, bahwa hadits tersebut tidak menunjukkan hal itu, karena Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan dari padanya.’ [QS. al-Baqarah : 267]. Allah Ta’ala menamakan harta yang berkualitas rendah dengan istilah khabits (jelek). Namun, Allah Ta’ala tidak mengharamkannya.’ Selesai !!

Al-Allamah al-Abbad dalam Syarah Sunan Abu Dawud berkata, ‘Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menyifati pekerjaan tukang bekam dengan al-khabits, maknanya adalah bahwa tukang bekam (dengan mengambil upah darinya – ) bukanlah bagian dari usaha yang mulia, bahkan sebaliknya ia adalah usaha rendahan (jelek). Hal ini serupa dengan firman Allah Azza wa Jalla, ‘Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan dari padanya’ , yaitu (memilih) makanan atau sesuatu yang berkualitas rendah. Makna kata-kata khabits bermakna sesuatu yang rendah (berkualitas jelek) dari sesuatu yang mubah. Di antara contoh lain (dalam penggunaan kata khabits ) adalah sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Pekerjaan tukang bekam adalah khabits.’ Kata khabits di sini tidak mesti menunjukkan bahwa pekerjaan bekam itu adalah haram lantaran Ibnu Abbas berkata, ‘Seandainya hal itu haram, beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberinya upah.’ Dengan demikian, makna dari sabda beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam ‘al-khabits’ adalah jelek.

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (dalam Liqa’at al-Bab al-Maftûh 213/14) berkata, ‘Jadi yang dimaksudkan (dengan khabits di dalam hadits ) adalah tidak sepantasnya tukang bekam itu mengambil upah. Kalau ingin mengambil upah, seharusnya dia mengambil sekedarnya saja tanpa ambil keuntungan. Jadi, upah bekam ini bukanlah haram.’

Kesimpulan

1)       Boleh memberi upah pekerjaan bekam.

2)       Boleh menerima upah dari pekerjaan bekam, hanya saja oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pekerjaan tersebut disifati dengan khabits (jelek). Asy-Syaikh bin Baz Rahimahullah berkata Dalam Syarah Kitab Bulughul Maram kaset ke-18, ‘Namun, yang utama bagi tukang bekam adalah tidak mengambil sedikitpun upah dari pekerjaan bekamnya atau ia mencari pekerjaan lainnya.’ Wallahu a’lam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyûb

 

Jember, Rabi’ul Akhir 1433 H.

 š›—–œ

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: