//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [2]


Bab Qadhâul Hajat[1] [Buang Hajat]

Bagi yang buang hajat [hendaknya]:

  1.  Berlindung[2] [tidak mengangkat pakaian] hingga mendekat dari tanah[3].
  2.  Jauh [dari pandangan orang][4] atau masuk ke dalam jamban[5].
  3. Tidak berbincang-bincang[6].
  4.  Tidak membawa suatu yang memiliki kemuliaan[7].
  5. Menghindari buang hajat di tempat-tempat yang dilarang oleh syariat[8] atau ‘urf[9],.
  6. Tidak menghadap dan membelakangi kiblat.[10]
  7. Hendaklah ia beristijmâr dengan tiga batu[11] yang suci atau apa yang dapat menggantikan posisinya.[12]

Dianjurkan:

  1. Beristi’adzah saat hendak masuk [jamban][13].
  2. Beristighfar[14] dan bertahmid[15] setelah selesai.


[1] Buang hajat [Qadhaul Hajat] adalah kiasan dari keluarnya kencing dan kotoran [tinja]. Kadangkala bab buang hajat ini disebut juga dengan bab Al-Istithabah, atau bab At-Takhalla atau bab At-Tabarruz . Semua istilah-istilah ini adalah benar adanya.

[2] Dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Yang paling disukai oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menutupi dirinya ketika buang hajat adalah di balik gundukan pasir dan dibalik rimbunan korma.” [HR. Muslim (342), Abu Dawud (2549), dan Ibnu Majah (240).] Keharusan menutup diri  saat buang hajat agar suaranya tidak terdengar, aroma tidak sedap tidak tercium, serta auratnya tidak terlihat. Dan aturan ini berlaku untuk buang air besar dan buang air kecil.

[3] Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat pakaiannya hingga beliau sudah mendekat dari tanah. [Shahih. HR Abu Dawud (14), At-Tirmidzi (14) dari hadits Anas Radhiyallahu Anhu]

[4] Dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Kami pernah keluar bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. dalam suatu perjalanan, yang mana beliau tidak buang hajat kecuali beliau menjauh hingga tidak terlihat.” [Hasan Lighairihi. HR Ibnu Majah (335), dan memiliki syawahid-syawahid yang menguatkannya, lihat Nailul Authar (1/92).] Ini adalah dalil untuk menjauh ketika buang hajat. Adapun ketika buang air kecil, maka diberi keringanan untuk tidak menjauh [namun tetap wajib berlindung], hal ini disandarkan pada hadits Hudzaifah Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Saya pernah berjalan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu beliau menuju ke tempat pembuangan sampah suatu kaum, lalu beliau buang air kecil sambil berdiri sebagaimana halnya seseorang diantara kalian buang air kecil, lalu saya pun pergi menjauh darinya.  Beliau bersabda, ‘Mendekatlah kemari!’ maka saya mendekati beliau dan  berdiri di belakangnya hingga beliau selesai.” [HR. Al-Bukhari (225), Muslim (273), Abu Dawud (23), At-Tirmidzi (13), Ibnu Majah (305), dan An-Nasai (1/25).] Yang dimaksudkan dengan perkataan Huzaifah, ‘Sebagaimana halnya seseorang diantara kalian buang air kecil’ adalah buang air kecil dalam keadaan berdiri sebagaimana yang disebutkan secara jelas dalam hadits riwayat Al-Bukhari.

[5] Sekalipun tidak menjauh dari orang-orang.

[6] Namun larangan ini tidak berlaku secara mutlak. Jika ada perlu maka seseorang di perbolehkan untuk beromong-omong. Dalillnya: Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu bahwasanya seorang laki-laki pernah melewati Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ketika itu beliau sedang kencing. Lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun bersabda, ‘Jika kamu melihatku dalam keadaan seperti ini, jangan beri salam padaku, karena jika kamu melakukannya saya tidak akan menjawab (salam) mu’ [Shahih. HR. Ibnu Majah (353)  dan ia memiliki penguat-penguat yang semakna, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bany di dalam As-Shahihah (197.] Tampak dari hadits ini bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan teguran kepada orang yang mengucapkan salam kepadanya saat beliau buang air kecil. Adapun hadits, ‘Janganlah dua orang beromong-omong ketika keduanya sedang buang hajat, yang salah seorang diantara keduanya melihat aurat temannya. Karena Allah murka kepada yang demikian itu.’ adalah hadits lemah. Anggaplah hadits tersebut dinyatakan shahih, namun juga tidak berarti menunjukkan haramnya berkata-kata secara mutlak, tapi menunjukkan haramnya memandang aurat, dan haramnya berkata-kata antara satu dengan yang lainnya dalam keadaan ia memandang aurat temannya.

Faidah: Hadits Jâbir bin Abdillah menunjukkan, bahwa Nabi  tidak menjawab salam. Dan hukum ini berlaku pada semua perkataan yang di dalamnya terdapat zikrullah [penyebutan nama-nama Allah Ta’ala] seperti menjawab adzan dan semisalnya.

 

[7] Yaitu sesuatu yang di dalamnya terdapat dzikrullah [Penyebutan nama Allah] Azza wa Jalla.  Kecuali jika dikhawatirkan barang tersebut akan hilang. Sikap ini dilakukan, karena membawa sesuatu yang di dalamnya terdapat penyebutan nama Allah Azza wa Jalla terkesan tidak adanya sikap pengagungan. Allah Ta’ala berfirman, ‘Demikianlah (perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat disisi Allah.’  [QS; Al-Hajj: 30].

[8]  Di jalan umum, di tempat berteduh manusia, dan saluran-saluran air [mata air, kolam].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Takutlah kalian pada dua hal yang menyebabkan pelakunya dilaknat.’ Para shahabat bertanya, ‘Apakah saja dari dua hal itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Yaitu orang yang  buang hajat dijalan umum atau ditempat berteduh mereka.” [HR. Muslim (269) dan  Abu Dawud (25).] Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Takutlah kalian kepada tiga penyebab laknat; buang hajat di saluran-saluran air [mata air, kolam, pent], ditengah jalan dan di tempat berteduh.” [Hasan dengan syahid-syahidnya. HR. Abu Dawud (26), Ibnu Majah (328), Al-Hakim (1/168), dan ia menshahihkannya. Aku berkata, ‘Sebaliknya didalam hadits tersebut terjadi inqita’ (ada keterputusan), akan tetapi ia memiliki syawahid yang menjadi kuat dengannya,  Lihat Talkhisul Khabir (1/105) dan Irwa’ Al-Ghalil (62).]

[9]  Yaitu ditempat-tempat yang biasanya orang-orang tersakiti/ terganggu dengan hal itu. Dengan demikian semua tempat-tempat perkumpulan manusia baik itu untuk perkara keagamaan [mis: Masjid] atau keduniaan [mis: sekolah-sekolah] tidak boleh ada seorang pun yang buang air kecil atau buang air besar di dalamnya.

[10] Dari Abi Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian duduk untuk buang hajat, maka ia tidak boleh  menghadap kiblat dan tidak boleh pula membelakanginya. [HR. Muslim (265), Abu Dawud (8), dan An-Nasai (1/38).]

Ulama berbeda pendapat mengenai larangan ini. Apakah larangan ini mencakup pada bangunan [tempat tertutup] dan lainnya, ataukah dikhususkan pada tempat yang terbuka bukan dalam bangunan? Yang lebih utama, adalah larangan tersebut mencakup pada keduanya [tertutup maupun terbuka], kecuali jika ada keperluan yang mendesak dan terpaksa menghadap kekiblat atau membelakanginya didalam bangunan. Dari Ayyub An-Ansharî Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda, ‘Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap ke kiblat dan jangan pula membelakanginya tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.’ Abu Ayyub berkata, ‘Ketika kami datang ke Syam, kami mendapatkan toilet-toilet dibangun menghadap Ka’bah.’ Kami berpaling dan beristighfar  [memohon ampun] kepada Allah.” [HR. Al-Bukhari  (144, 394), Muslim (264), Abu Dawud (9), At-Tirmidzi (8), An-Nasai (1/22) dan Ibnu Majah (318).]

Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata, ‘Mazhab yang paling benar dalam permasalahan ini; bahwa tidak ada perbedaan antara di tempat lapang (terbuka) atau ditempat tertutup (bangunan), karena ada lebih sepuluh dalil yang mendasarinya, dan kesemuanya telah saya sebutkan ditempat selain ini. Bagi Orang yang memisahkan antara tempat terbuka dan tertutup, tidak didukung dengan dalil yang kuat, bersamaan dengan itu pula, mereka berbeda pendapat dalam menentukan ukuran tempat terbuka dan tempat tertutup.” [Zâdul Ma’ad (1/49)].

[11] Dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian beristijmar [bersuci menggunakan batu] maka beristijmarlah tiga kali [Muslim  (239), Ahmad (3/400), dan Ibnu Khuzaimah (76).] Dalam hal ini ada dua catatan penting:

Pertama, Perintah bersuci [cebok] dengan tiga batu ini berlaku jika istinja’ tidak dibarengi dengan air. Adapun jika beristinjak dengan batu dan dibarengi dengan air, maka perintah ini tidak berlaku artinya boleh kurang dari tiga batu, karena hanya dengan penggunaan air saja itu sudah teranggap cukup sekalipun tanpa batu.

Kedua, Yang menjadi pokok bukan tiga batu tetapi tiga usapan, hal ini dapat dilihat pada beberapa alas an berikut ini:

–          Dalam hadits lain disebutkan dengan lafazh, “Hendaklah ia mengusap dengan tiga usapan.”

–          Juga disandarkan pada susunan bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, kalau seseorang berkata, “ضَربْتُهُ ثَلاَثَ أَسْوَاطٍ  (Aku telah memukulnya (dengan) tiga cemeti). Maka maksudnya, “Saya telah memukul dia dengan tiga pukulan cemeti.” Yang menjadi pokok disini, adalah ‘pukulan’ bukan ‘cemeti’ jadi: Bukan 3 cemeti, tetapi 3 pukulan dengan cemeti, maupun cemetinya itu 1 atau 2. Dengan demikian beristijmar dengan 1 batu yang memiliki 3 sisi, maka istijmar tersebut adalah sah. Allahu a’lam.

[12] Istijmar tidak hanya terbatas pada batu saja, boleh juga menggunakan selain batu yang sifatnya dapat menghilangkan najis pada kubul dan dubur, seperti: tissue, kayu,  dll. Hanya saja penyebutan batu di dalam hadits-hadits hanyalah penyebutan  pada ghalibnya, karena pada umumnya orang-orang saat beristinja’ menggunakan batu disaat air tidak ada. Kesimpulan ini disandarkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang beristinja` dengan tahi binatang dan tulang,” itu artinya selain dua benda yang dilarang ini (tahi binatang dan tulang) boleh dipakai beristinja`. Sebab jika hanya terbatas pada batu niscaya penyebutan larangan (pengecualian) pada hadits ini tidak memiliki faedah dan masuk dari kesia-siaan sedang sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jauh dari hal itu.

[13]  Yaitu dengan membaca: Bismillah, Allâhumma Inni ‘Audzubika Minal Khubutsi wal Khabâits’. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila hendak masuk ketempat buang hajat [khala`], beliau mengucapkan, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.” [HR. Al-Bukhari (142), Muslim (375), Abu Dawud (4), At-Tirmidzi (5), Ibnu Majah (296), An-Nasai (1/20).]. Adapun penyebutan tasmiyyah ‘Bismillah’ : Al-Hâfidz ibnu Hajar telah memaparkan dalam satu riwayat dari Anas, dengan lafadz, ‘Apabila kalian masuk, maka ucapkanlah, ‘Bismillah, Auzubillah minal Khubusi wal Khabaits’. Ibnu Hajar berkata,  ‘Sanad-sanadnya berdasar kriteria Muslim [Fathul Bari 1/244.]

Hadits ini memiliki penguat untuk disyariatkannya bacaan basmalah. Yaitu hadits dari Ali Bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu secara marfu’ ; ‘Pembatas antara penglihatan jin dan aurat bani Adam adalah tatkala salah seorang diantara mereka hendak masuk tempat buang hajat, ia mengucapkan, ‘Bismillah.” [Shahih Lighairihi. HR. At-Tirmidzi (606), Ibnu Majah (297) dan dishahihkan oleh Syaikh Albany didalam Irwa’ al-Ghalil (50) dengan berbagai jalur]. Yang dimaksud dengan sabda beliau ‘Iza dakhalal Khala’ [apabila masuk ketempat buang hajat] adalah apabila hendak masuk. Ungkapan ini secara jelas disebutkan  didalam satu riwayat dalam kitab ‘Adabul Mufrad’ oleh Bukhari,  ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila hendak masuk kedalam tempat buang hajat, beliau mengucapkan…’ Al-Hadits.

Hal ini berlaku pada tempat-tempat yang disediakan untuk membuang hajat. Adapun jika ditempat terbuka, maka do’a tersebut dibaca ketika pakaian hendak disingsingkan, demikian pendapat mayoritas ulama.

[14]  Yaitu dengan membaca: Ghufrânaka. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila keluar dari tempat buang hajat, beliau mengucapkan, ‘gufrânak’ [Aku mengharap Ampunan-Mu.” [Shahih. HR. Abu Dawud (30), At-Tirmidzi (7), Ibnu Majah (300), Ahmad (1/55), Al-Bukhari didalam Al-Adabul Mufrad  (693)  dan Baihaqi (1/97).]

[15]  Yaitu dengan membaca: Alhamdulillâhilladzi adzhaba ‘annil  adza. Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari kamar kecil, beliau membaca, “Alhamdulillâhilladzi adzhaba annil adza/Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan yang telah memaafkanku.” (HR. Ibnu Majah). Namun hadits didhaifkan oleh Syekh al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah: 1/373; didhaifkan juga dalam al Misykah no. 374 dan al Irwa’ no. 53. Dengan demikian doa ini tidak terpakai.

 

 

 

Diterjemahkan dan disyarah secara ringkas

Oleh Al-Faqîr Abu Halbas Muhammad Ayyub

DukuhDempok-Jember, Rabi’ul Akhir 1433 H


Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: