//
you're reading...
Fiqih

Letak Cincin Di Jari Laki-Laki


Soal:

                Ada kesimpangsiuran hukum tentang dimana sebenarnya letak cincin yang terlarang bagi laki-laki, apakah di jari telunjuk atau di ibu jari? Lalu bagaimana pula dengan wanita? Mohon penjelasannya.

Jawab:

Ulama sepakat atas diperbolehkannya laki-laki memakai cincin pada jari tangan kanan dan diperbolehkan juga pada jari kiri, dan tidak ada kemakruhan pada salah satunya. Dan ulama juga sepakat bahwa kesunnahan bagi laki-laki adalah memakai cincin di jari kelingking; sedang bagi perempuan di semua jari-jarinya. [Lihat Syarh Muslim oleh an-Nawawie 14/71 dan Majmu’ 4/343].

Jari Tangan yang Tidak Diperbolehkan untuk Laki-laki

Yang benar, laki-laki tidak diperbolehkan meletakkan cincin di dua jari; jari tengah dan jari telunjuk.

Pelarangan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Burdah ia berkata, ‘Ali Radliyallahu ‘anhu berkata:

 نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي إِصْبَعِي هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَالَ فَأَوْمَأَ إِلَى الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِيهَا

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  melarangku mengenakan cincin di jariku yang ini dan yang ini.’ Abu Burdah berkata,’ Dan ia mengisyaratkan pada jari tengah dan jari yang mengiringinya.’ [HR. Muslim 2078].

Dan dalam suatu lafadz:

فَأَوْمَأَ إِلَى السَبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

 ‘… dan ia memberikan isyarat pada jari telunjuk dan jari tengah.’ [HR. Abu Dawud 4225, at-Tirmidzi 1786, dan an-Nasa’ 521].

  

Larangan di Jari Kelingking dan Ibu Jari ??

Larangan memakai cincin di jari kelingking dan ibu jari seperti yang terdapat di dalam sebuah buku, dengan berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali Radliyallahu ‘anhu adalah lemah. Dan untuk membuktikan kelemahannya kami paparkan hadits tersebut lengkap dengan sanadnya :

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 3648 dari jalur Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari ‘Ashim (Ibnu Kulaib) dari Abi Burdah, dari ‘Ali ia berkata,

نَهَانِيْ رَسُوْل الله صَلىَّ اللهِ عليه وَسَلَّمْ أَنْ أَتَخَتَّمُ فِيْ هَذِه وفي هَذِه يعني الخِنْصِر والإِبْهَام

‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku bercincin di jari ini dan di jari ini; yaitu jari kelingking dan ibu jari.’

Jika kita memperhatikan susunan sanad hadits di atas,maka kita dapatkan bahwa ia berstatus hasan (baik). Tetapi, jika semua jalur-jalur periwayatan hadits ini dikumpulkan, maka akan kita dapatkan bahwa mayoritas rawi-rawi yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib dari Abi Burdah dari ‘Ali (teks haditsnya sebagai berikut), ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarangku bercincin pada jari ini dan jari ini, yaitu pada jari telunjuk atau jari tengah (pada beberapa riwayat dengan penyebutan; jari telunjuk dan jari tengah, sedang pada riwayat lain; pada jari tengah dan yang mengiringinya) dan pada sebagian riwayat dengan bentuk syak (ragu).

Di antara mereka para rawi yang meriwayatkan hadits di atas dari ‘Ashim bin Kulaib dengan penyebutan jari tengah dan jari telunjuk (yang mereka menyelisihi Abdullah bin Idris yang menyebutkan jari kelingking dan ibu jari) adalah; Abul Ahwash, Bisyr, Sufyân, Syu’bah, ‘Ali, Ibnu ‘Ashim, Muhammad bin fudhail, Abu ‘Awânah, dan lainnya.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa larangan bercincin di jari kelingking dan ibu jari adalah keliru, dan riwayat tersebut dinyatakan lemah. [Lihat Mafâtih al-Fiqh fid-Din oleh Syaikh Musthafa al-‘Adawy hal. 62-63].

 

Kesimpulan

  1. Yang benar, larangan bercincin itu adalah pada jari tengah dan jari telunjuk, bukan pada jari kelingking dan ibu jari.
  2.  Larangan tersebut berlaku untuk laki-laki saja, demikian menurut mayoritas ahli ilmu. Sedang wanita boleh meletakkan cincin di jari mana saja yang ia suka. Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, “Kaum muslimin sepakat atas sunnahnya meletakkan cincin di jari kelingking bagi laki-laki. Adapun wanita maka ia boleh mengenakan cincin di jari mana saja.” (Syarh Shahih Muslim, dan ‘Aunal Ma’bud 11/286) Di antara nash yang mendukung pendapat ini adalah firman Allah Ta’ala tentang wanita, ‘Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan.’ [QS. az-Zukhruf : 18].

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 9 Rabi’ul Akhir 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: