//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [3]


 

  • Bab Wudhu`[1]

Wajib bagi setiap mukallaf[2] untuk:

  1. Membaca bismillah ketika ingat.[3]
  2. Berkumur-kumur.[4]
  3. Menghirup air lewat hidung.[5]
  4. Kemudian membasuh seluruh wajah.[6]
  5. Kemudian [membasuh] kedua tangan hingga kedua siku.[7]
  6. Mengusap [seluruh] kepala[8] beserta kedua telinga[9], dan dianggap cukup [sah] mengusap sebagiaannya saja[10], dan [hanya] mengusap diatas surban.[11]
  7. Kemudian membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki[12] dan diperbolehkan [hanya] mengusap diatas kedua khuf.[13]
  8. Tidak dianggap sebagai wudhu yang syar’I (tidak sah) kecuali dengan niat untuk pembolehan melakukan shalat.[14]

Pasal

Sunnah-Sunnah Wudhu

Disunnahkan untuk:

  1. Membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali[15] selain kepala.[16]
  2. Memperpanjang ghurrah dan tahjil.[17]
  3. Bersiwak terlebih dahulu.[18]
  4. Membasuh kedua tangan hingga kedua pergelangan sebanyak tiga kali sebelum membasuh anggota-anggota wudhu yang terdahulu.[19]

Pasal

[Pembatal-Pembatal Wudhu]

Wudhu` batal lantaran:

  1. Sesuatu yang keluar dari dua jalan (kubul dan dubur) berupa benda atau angin.[20]
  2. Sesuatu yang mewajibkan mandi.[21]
  3. Tidur berbaring.[22]
  4. Makan daging onta.[23]
  5. Muntah dan semisalnya.[24]
  6. Menyentuh kemaluan.[25]


[1] Ibnu Hajar Rahimahullahu berkata, ‘Wudhu adalah pecahan kata dari wadha`ah. Dinamakan dengan wudhu lantaran orang yang akan bershalat membersihkan diri dengan wudhu sehingga ia menjadi bersih [Fathul Bâri (1/232)]. Wudhu [dibaca dhammah] – adalah pekerjaan, sedang wadhu` [dibaca fathah] – adalah air yang digunakan dalam berwudhu`.

 

[2] Yang sudah mendapat beban syariat.

 

[3] Dari Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudlu dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.’ [Hasan dengan berbagai syahid. HR Abu Dawud (101), At-Tirmidzi (25) dan Ibnu Majah (399).]

Terdapat banyak hadits yang semakna dengan hadits diatas, namun semua hadits-hadits tersebut berstatus dhaif. Akan tetapi Al-Hafidz berkata, ‘Dan yang tampak, bahwa kumpulan-kumpulan hadits tersebut mengindikasikan kekuatan, yang menunjukkan bahwa masalah tersebut memiliki asal.’

Ulama berbeda pendapat dalam hukum tasmiyah, sebagian mereka berpendapat wajib, sementara mayoritas ulama berpendapat sunnah. Bagi yang berpendapat wajib, mereka juga berbeda pendapat dalam hal memisahkan antara yang lupa [membacanya] dan yang ingat.

Bagi mereka yang berpendapat wajib, mereka memandang bahwa yang lebih utama adalah membawa hadits-hadits tentang tasmiyah kepada dhahirnya dengan menafikkan [meniadakan] wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah. Dan penafikan itu berkonsekwensi  pada penafikan keabsahan atau penafikan zat wudhu  Adapun orang yang lupa, maka ia dimaafkan atas kelupaannya itu, berdasarkan pada hadits, ‘Diangkat dari ummatku [tidak tercatat sebagi dosa-pent], lantaran keliru, lupa serta apa yang dipaksakan atasnya.’ [Shahih. HR. Al-Hakim (2/198), At-Thahawy didalam Musykilatul Âtsar (2/56) dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Az-zahabi, juga dishahihkan oleh Al-Bany didalam Irwa’ Al-Ghalil (82)].

 

[4] An-Nawawie Rahimahullah berkata, ‘Shahabat-shahabat kami berkata; berkumur-kumur yang sempurna adalah meletakkan air ke dalam mulut lalu diputar-putar didalam mulut, kemudian dimuntahkan keluar. Adapun kadar minimalnya adalah meletakkan air kedalam mulut dan tidak disyaratkan harus memutar-mutarnya menurut pendapat yang masyhur sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ulama.” Syarh Muslim (3/105).

Adapun dalil wajibnya berkumur-kumur:

Dari Laqith bin Shabirah radhiyallahu ‘ahu [dalam hadits yang panjang] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau berwudlu maka berkumur-kumurlah.” [Shahih. HR. Abu Dawud (147), (143), At-Tirmidzi (788), Ahmad (4/211), dan Ibnu Hibban (1054).]

Asy-Syaukani Rahimahullah di dalam ‘As-Sailul Jarar’ berkata, ‘Saya berpendapat: Pendapat yang mewajibkan adalah pendapat yang benar, karena Allah Subhânahu wa Ta’ala memerintahkan di dalam kitabnya yang mulia untuk mencuci wajah, sedang tempat berkumur-kumur dan istinsyâq berada di wilayah wajah…[ As-Sailul Jarrar (1/81)]

 

[5] Dari Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam  hidung melalui kedua hidungnya, kemudian menghembuskannya [istinsyar].” [HR. Al-Buhari (162), Muslim (237), Abu Dawud (140), An-Nasai (1/65-66), Ibnu Majah (409) dan Al- Muwattha (1/19).]

 

Adapun cara berkumur-kumur dan ber-istinsyaq

Di dalam sifat wudhu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari hadits Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhuma, ‘Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkumur-kumur dan beristinsyaq dengan satu telapak tangan.’ Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali. [HR. Al-Bukhari (191), Muslim (235), Abu Dawud (119), dan At-Tirmidzi (28).]

Al-Baihaqi Rahimahullah didalam As-Sunan berkata, ‘ Yaitu –wallâhu a’lam- bahwasanya beliau berkumur-kumur dan beristinsyar setiap satu kali dari satu cidukan, kemudian ia lakukan hal itu tiga kali dari tiga cidukan.  Al-Baihaqi melanjutkan, ‘Yang menunjukkan hal itu adalah hadits Abdullah bin Zaid dan diantara isi haditsnya, ‘Kemudian beliau memasukkan satu tangannya ke dalam bijana lalu berkumur-kumur, beristinsyaq dan beristinsyar tiga kali dari tiga cidukan air.’ [HR. Al-Bukhari (186), Muslim (235), Abu Dawud (18), At-Tirmidzi (47), An-Nasai (1/ 72)].

Selain menghirup air di perintahkan juga untuk menghembuskannya. Dari Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia menghirup air ke dalam  hidung melalui kedua hidungnya, kemudian menghembuskannya [istinsyar].’ [HR. Al-Buhari (162), Muslim (237), Abu Dawud (140), An-Nasai (1/65-66), Ibnu Majah (409) dan Al- Muwattha (1/19).]

 

[6] Allah Ta’ala berfirman, ‘Artinya, ‘Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mendirikan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki.’ [QS: Al-Maidah  6]

Batasan  wajah:  Sesuatu yang berada di antara tempat tumbuhnya rambut secara umum hingga sepanjang ujung dagu dan selebar apa yang berada diantara dua daun telinga. Dan masuk juga dalam batasan wajah adalah luar jenggot yang tebal [yaitu kulit yang tidak tampak dari bawah jenggot], adapun jenggot yang tipis [yaitu kulit yang tampak dari bawah jenggot] maka ia wajib menyampaikan air ke kulit tersebut.

 

[7] Berdasarkan pada [QS; Al-Maidah 6]. Ulama sepakat atas wajibnya membasuh kedua siku beserta kedua tangan. Mereka beralasan atas ketetapan tersebut dengan Qaidah Ushuliyyah, yaitu, ‘Manakala kewajiban tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu yang lain, [maka sesuatu yang lain itupun] menjadi wajib.’

                Di antara dalil-dalil mereka, adalah perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, di mana beliau menjelaskan hal-hal yang mujmal di dalam Al-Quran, dan belum ada satu beritapun  yang menyebutkan bahwa beliau pernah meninggalkan  membasuh kedua siku beserta kedua tangan. Membasuh dua tangan dimulai dari ujung jari-jari hingga kedua siku. Apabila tangannya terpotong maka ia cukup membasuh apa yang tersisa dari tempat yang fardhu, apabila terpotongnya sampai kesiku maka ia cukup membasuh sikunya saja. Sedang jika yang terpotong melewati siku maka tidak ada kewajiban atasnya untuk membasuh tangan yang terpotong ini, begitu juga halnya dengan kedua kaki.

 

[8] Berdasarkan pada [QS; Al-Maidah 6]. Adapun tata caranya: Hendaknya seseorang meletakkan kedua tangannya di bagian depan kepalanya lalu ia jalankan keduanya hingga kebagian tengkuknya kemudian ia kembalikan keduanya ketempat dimana ia memulai. Dari Abdullah  bin Zaid Radhiyallahu Anhu, ‘Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengusap kepalanya dengan kedua tangannya; beliau mengusap bagian depan kepalanya dengan keduanya dan ke belakang; Beliau memulai dari bagian depan kepalanya lalu menjalankan kedua tangannya hingga bagian tengkuk, kemudian mengembalikan kedua tangannya tersebut ke bagian dimana beliau memulai. [HR. Al-Bukhari (185), Muslim (235), Abu Dawud (118), At-Tirmidzi (32, 185), An-Nasai (1/72) dan Ibnu Majah (434).]

 

[9] Berdasarkan pada hadits, ‘Kedua telinga termasuk bagian kepala.’ [HR. Abu Dawud (134), At-Tirmidzi (37), Ibnu Majah (443), ia memiliki banyak jalur dan beberapa penguat, yang telah dikumpulkan oleh Asy-syaikh Nasiruddin Albani dalam Silsilah As-Sahihah (36), dan beliau menghukumi shahih hadits tersebut.] Dan menurut sunnah hendaklah ia mengusap bagian luar dan bagian dalam dua telinga. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ‘Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengusap kepalanya dan dua telinganya di bagian luar dan bagian dalam keduanya.’ [Hasan. HR. Ibnu Majah (439), dan Ibnu Hibban (1086).] Dan didalam riwayat An-Nasai, ‘Bagian dalam kedua telinga dengan kedua jari telunjuk, dan sebelah luar kedua telinga dengan kedua induk jari.’

Tidak disyaratkan dalam mengusap kedua telinga harus dengan air yang baru. Tetapi cukup mengusap keduanya berbarengan dengan kepala. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, ‘Tidak ada satupun berita yang valid dari beliau  yang menerangkan bahwa beliau mengambil air baru untuk kedua telinganya, dan boleh jadi perbuatan itu shahih datangnya dari Ibnu Umar. [Shahih. HR. Mâlik dalam Al-Muwaththa’ (1/34)] [Zâdul Ma’ad (1/195)].

 

[10] Berdasarkan dengan huruf yang terdapat pada lafazh ‘wamsahû biru`usikum’ (Dan usaplah kepalamu). Huruf yang ada pada ayat ini berfungsi untuk sebagian. Namun pendapat ini dibantah oleh Sibawaih pada 15 tempat di dalam kitabnya. Ibnu Burhan berkata, “Barangsiapa yang mengatakan bahwa menunjukkan arti tab’idh (sebagian) maka  ia membawakan kepada ahli bahasa pada sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya.” [Nailul Authar (1/55) dan Al-Mughni (1/87)]

Membatasi usapan kepala hanya pada sebagia kepala (ubun-ubun) saja, seperti yang dikatakan oleh pengarang diatas tidak memiliki pijakan dalil. Ibnul Qayyim berkata, “Tidak terdapat kabar yang shahih bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengusap kepala hanya sebagiannya saja.”

 

[11] Dari ‘Amr bin Umayyah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengusap di atas surban dan dua khufnya [sarung kaki].” [HR. Al-Bukhari  (302),  An-Nasai (1/81) dan Ibnu Majah (562).]. Diperbolehkan juga mengusap diatas ubun-ubun lalu disempurnakan diatas surban. Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu Anhu, ‘Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwudhu lalu beliau mengusap di atas ubun-ubunnya, di atas surban dan di atas dua khuf.” [Hasan. HR. Ibnu Abi Syaibah (1/22), semua rawinya tsiqah selain Ummul Hasan, namanya adalah ‘Khairah’. Al-Hâfidh berkata, ‘La ba`sa biha’ ini bermakna bahwa haditsnya hasan disisi Al-Hafidh.]

 

[12] Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat: 6, ‘Artinya, ‘Dan kaki-kaki kamu hingga kedua mata kaki.’ [QS; Al-Maidah 6].

Kewajiban membasuh kedua kaki adalah merupakan konsensus [Ijma’]  shahabat, sebagaimana yang dianut mayoritas ulama. Berbeda dengan Syi’ah al-Imâmiyah, mereka berpendapat cukup dengan mengusap keduanya dan pendapat mereka ini adalah batil! Karena terdapat di dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam perintah untuk membasuh keduanya, bahkan beliau menegur keras orang-orang yang mencukupkan mengusap keduanya. Di dalam Shahihain Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan, lalu beliau menyusul kami, lalu kami mendekati waktu Ashar, lalu kami berwudhu dan mengusap kaki-kaki kami.’ Ibnu Umar berkata, ‘Lalu beliau berseru dengan suara yang lantang, ‘Celakalah bagi tumit-tumit dari neraka.’ Dua atau  tiga kali. [HR. Al-Bukhari (60), Muslim (241), Abu Dawud (97), An-Nasai (1/77), dan Ibnu Majah (450).]

 

[13] Mengusap kedua khuf [penutup kedua mata kaki hingga ke bawah, terbuat dari kulit atau sejenisnya] disyariatkan berdasarkan dengan sunnah:  Dari Jarîr bin Abdullah Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia telah buang air kecil  kemudian wudhu dan mengusap dua khufnya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Engkau melakukan hal ini?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam buang air kecil kemudian beliau berwudhu dan mengusap khufnya.’ Ibrahim berkata, ‘Hadits ini mengherankan mereka, karena Islamnya Jarîr setelah turunnya surat Al-Mâidah [HR. Al-Bukhâri (387), Muslim (272), Abu Dawud (154), At-Tirmidzi (94), An-Nasai (1/81) dan Ibnu Majah (542).]

At-Tirmidzi Rahimahullah berkata, ‘Ini adalah hadits mufassir [yang memberi penjelasan], karena sebagian orang yang mengingkari adanya mengusap khuf mentakwilkan perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam mengusap khuff bahwa hal itu beliau lakukan sebelum turunnya ayat wudhu di dalam surat Al-Mâidah, maka mengusap khuf itu dimansukh [dihapus oleh surat Al-Mâidah].

Pembolehan pengusapan tidak hanya sebatas pada khuf saja, tetapi diperbolehkan juga mengusap diatas kaos kaki, sandal dan pembalut kaki. Dari Mughîrah bin Syu’bah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudhu dan mengusap kaos kaki dan sandalnya [Dishahihkan oleh Al-Albâni : .HR. Abu Dawud (159), At-Tirmidzi (99), Ibnu Majah (559) dan Ahmad (4/252). Ulama berbeda pendapat dalam hal diterima atau tidaknya hadits ini, akan tetapi valid dari banyak shahabat bahwa mereka mengusaf khuff dan sandal. Rujuklah masalah ini ke kitab ‘Ahkâmul Mashi ‘Alal Hâil’ oleh Abu Umar Dibyân bin Muhammad Ad-Dibyân.

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia pernah berwudhu sedang kedua sandalnya masih melekat di kakinya, dan ia mengusapnya sambil berkata, Demikianlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melakukannya.’ Diriwayatkan oleh Al-Bazzâr dengan sanad yang shahih.

Abu Dâwud berkata, Mereka-mereka yang mengusap kaos kaki adalah; Ali Bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Barra’ bin ‘Âzib, Anas bin Malik, Abu Umamah, Sahl bin Sa’d serta Amr Bin Harits.’

Aku berkata, ‘Atas dasar ini diperbolehkan mengusap khuf, kaos kaki dan sandal. Dan diperbolehkan juga mengusap Lifâfah [sobekan kain yang digulungkan di kaki].’

Dari Tsaubân Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengirim pasukan, lalu mereka tertimpa cuaca dingin. Tatkala mereka tiba dihadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka mengadukan tentang cuaca dingin yang menimpa mereka. Lalu beliau memerintahkan mereka agar mengusap ‘Ashâib (sorban-sorban) dan Tasâkhin (sarung-sarung kaki).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, berkata, ‘Yang benar, bahwasanya boleh mengusap lifâfah, dan mengusapnya adalah lebih diproritaskan dibanding mengusap khuf dan kaos kaki, karena pada umumnya lifâfah itu dipergunakan untuk keperluan yang mendesak saja, sedang mencopotnya [dari kaki] dapat menimbulkan bahaya, baik itu terserang dengan rasa dingin, rasa nyeri pada kaki atau tersakiti dengan luka. Jika mengusap khuf dan kaos kaki diperbolehkan, maka mengusap pembalut kaki adalah lebih diperbolehkan lagi.” [Majmu’ Al-Fatâwa (21/185).]

 

[14] Berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Dan tidaklah kalian diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. [Al-Bayyinah: 5]. Dan juga berdasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sesungguhnya amal itu tidak lain tergantung pada niatnya.’ [HR. Al-Bukhari (1), Muslim (1907), Abu Dawud (2201), At-Tirmidzi (1647), An-Nasai  (1/57) dan Ibnu Majah (4227).]

Makna niat adalah Al-Qashdu [bermaksud] dan Al-‘Azmu [berkeinginan] untuk mengerjakan sesuatu, tempatnya di dalam hati, dan ia tidak boleh dilafadhkan.’

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, Maka setiap orang yang berkeinginan [ber-azam] untuk mengerjakan sesuatu maka itulah niatnya. Tidak tergambarkan terpecahnya azam dari niat, karena azam itu adalah hakikat niat, tidak mungkin ia tidak ada di dalam keadaannya yang ada, barang siapa yang duduk untuk berwudlu maka dia telah berniat untuk berwudlu.’[Ighâtsatul Lahfân (1/137)].

Ketahuilah bahwa melafadhkan niat adalah bid’ah, karena tidak ada satupun  berita yang sahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang melafadhkan niat, juga tidak ada para shahabatnya, Khulafaur Râsyidin, dan dari para imam-imam madzhab.

 

[15] Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwudhu tiga kali-tiga kali.” [HR. Al-Bukhari (162), Muslim (278), Abu Dawud (105), At-Tirmidzi (24), An-Nasai (1/706) dan Ibnu Majah (393)].

Imam An-Nawawi Rahimahullahu berkata, ‘Kaum muslimin sepakat bahwa yang wajib dalam membasuh anggota-anggota wudhu adalah satu kali-satu kali, sedang membasuh tiga kali-tiga kali adalah sunnah. Di sana terdapat hadits-hadits shahih yang menerangkan tentang membasuh anggota-anggota wudhu itu satu kali-satu kali, dua kali-dua kali, tiga kali-tiga kali, sebagian anggota-anggota wudhu tiga kali dan sebagiannya lagi dua kali, dan sebagiannya satu kali. Para ulama berkata, ‘Beragamnya hadits-hadits diatas adalah dalil atas bolehnya melakukan semua itu, dan bahwa basuhan tiga kali merupakan kesempurnaan dan sekali itu sudah mencukupi. [Syarh Shahih Muslim (3/106)]

Adapun dalil bolehnya berwudhu satu kali-satu kali dan dua kali-dua kali. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwudhu dengan [membasuh] satu kali-satu kali. [HR. Al-Bukhari (157), Abu Dawud (138), At-Tirmidzi (42), An-Nasai (1/62), dan Ibnu Majah (411).] Dan dari Abdullah bin Zaid Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berwudhu dua kali -dua kali. [HR. Al-Bukhari (158), Ahmad (4/41), dan Ibnu Khuzaimah (170).]

 

Peringatan:

Tidak boleh membasuh anggota-anggota wudlu lebih dari tiga kali basuhan, karena bilangan tersebut adalah bilangan terbanyak yang terdapat diriwayat-riwayat yang menjelaskan tentang sifat wudhu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ibnul Mubârak Rahimahullah berkata, ‘Tidak aman dari dosa apabila wudhu itu lebih dari tiga-tiga kali’ Ahmad dan Ishaq Rahimahullah berkata, ‘Tidak ada yang menambah (wudlhu) lebih dari tiga kali kecuali orang yang ditimpa musibah.’

 

[16] Mayoritas ulama diantaranya Abu Hanifah, Mâlik, dan Ahmad berpendapat bahwa mengusap kepada dilakukan hanya satu kali usapan, dan inilah pendapat yang unggul lantaran dalil-dalil yang shahih hanya menyebutkan satu kali. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan pengusapan boleh lebih dari sekali adalah lemah.   Berbeda halnya dengan Asy-Syafi’iyyah, mereka berpendapat bahwa mengusap kepala dilakukan dengan tiga kali usapan.

 

[17] Asy-Syaukani Rahimahulla berkata, ‘Al-Ghurrah adalah mencuci sesuatu dari permulaan kepala, atau apa-apa yang melewati batasan wajah sebagai tambahan dari bagian yang diwajibkan membasuhnya,  adapun At-Tahjil adalah membasuh sesuatu yang berada di atas dua siku dan dua mata kaki dan kedua-duanya adalah dianjurkan.

 

Terdapat berita yang valid yang menunjukkan kebenaran pernyataan diatas. Dari Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah berwudhu, lalu ia membasuh wajahnya, kemudian ia menyempurnakan wudhunya, lalu ia membasuh tangannya yang kanan hingga mengenai lengan atasnya, kemudian membasuh tangannya yang kiri hingga mengenai lengan atasnya, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya hinga mengenai betis dan kaki kirinya hingga mengenai betis. Kemudian ia berkata, ‘Seperti inilah saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudlu.’ Dan ia juga mengatakan, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Kalian adalah orang-orang yang bercahaya muka, kedua tangan dan kedua kaki pada hari kiamat karena menyempurnakan wudhu. Maka siapa saja diantara kalian yang mampu, maka perluaslah cahaya wajah, kedua tangan dan kedua kakinya.’ [HR. Muslim dengan matan yang panjang (246) dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara ringkas (136).]

 

[18] Siwak adalah menggunakan kayu atau yang sejenisnya untuk membersihkan gigi agar hilang warna kuningnya atau yang lainnya. Bersiwak sebelum berwudhu adalah sunnah muakkadah berdasarkan hadits yang datang dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Seandainya tidak memberatkan atas Ummatku, niscaya aku perintahkan mereka  bersiwak setiap kali hendak shalat.’. [HR. Al-Bukhari (887), Muslim (252), Abu Dawud (46), At-Tirmidzi (22), An-Nasai (1/12), dan Ibnu Majah (287).] Dan di dalam riwayat Ahmad, “Setiap kali hendak berwudlu.” [Shahih. HR. Ahmad (2/460, 517), Ibnu Abi Syaibah (1/169) dan didalam Shahihul Jami’ (5317)]

 

[19] Dari Aus bin Aus At-Tsaqafî Radhiyallahu Anhu. ia berkata, ‘Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwudlu [dengan terlebih dahulu] membasuh kedua telapak tangannya tiga kali.’ [Hasan. HR. Abu Dawud (126), At-Tirmidzi (33), dan berkata, ‘hadits hasan’ , dan Ibnu Majah (440).]

Dan lebih ditekankan lagi jika berwudlu dilakukan seusai bangun tidur. Dari Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia mencelupkan  tangannya [kedalam bejana] hingga ia membasuhnya tiga kali, karena ia tidak tahu, dimana tangannya semalam” [Sanadnya Hasan. HR. Ahmad (4/9), An-Nasai (1/64), Ath-Thabrâni dalam Al-Kabir (1/221), dan Ad-Dârimi (692).]

Mayoritas ulama berpandangan sunnahnya membasuh kedua telapak tangan setiap kali bangun dari tidur. Namun Imam Ahmad mengkhususkannnya pada tidur malam saja dengan dasar sabda Nabi di akhir hadits diatas, ‘Dimana [tangannya] bermalam.’ Dan didalam riwayat Muslim, ‘Apabila salah seorang diantara kalian bangun dari tidur malam.’ Dengan demikian  Imam Ahmad berpendapat wajibnya  mencuci kedua telapak tangan, khusus ketika bangun dari tidur malam.

 

[20] Ibnu Mundzir Rahimahullah berkata, ‘Ahli ilmu sepakat bahwa keluarnya kotoran [tinja] dari lubang dubur, keluarnya air kencing dari kemaluan laki-laki dan wanita, keluarnya air madzi, keluarnya angin [kentut] dari lubang dubur, serta hilangnya akal dengan bentuk apa saja adalah hadats dan tiap-tiap dari hadats tersebut adalah membatalkan kesucian dan mesti berwudhu.’ [Al-Ijma’ (hal.3)]

Adapun dalil-dalil untuk hadats diatas, sebagai berikut:

Dalil untuk keluarnya tinja dan kencing: Berdasarkan pada firman Allah Ta’ala, Artinya, ‘Atau salah seorang diantara kamu datang dari tempat buang air.’ [QS: An-Nisâ: 43]. Dan dalam hadits Safwan tentang pengusapan di atas sarung kaki, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kami ketika kami musafir[bepergian] untuk tidak melepas khuff [sarung kaki] kami selama tiga hari dan tiga malam kecuali karena janabah, tetapi karena buang air besar, kencing dan tidur.’ [Sanadnya Hasan HR. At-Tirmidzi (96), (3535), An-Nasai (1/83,84),  Ibnu Majah (478), Ahmad (4/240), dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Irwâ’ (104).]

Maka pada keduanya adalah dalil wajibnya berwudhu lantaran keluarnya air kencing dan kotoran [tinja].

Dalil untuk keluarnya angin [kentut]: Dari Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian apabila berhadats sehingga ia berwudlu.’ Seseorang dari Hadhramaut bertanya, ‘Apakah hadats itu wahai Abu Hurairah?’ Dia menjawab, ‘kentut yang tidak berbunyi dan kentut yang berbunyi. [HR. Al-Bukhari (135), Muslim (225), Abu Dawud (60), dan At-Tirmidzi (76).]

Dalil untuk keluarnya madzi: Seperti yang terdapat didalam hadits Ali Radhiyallahu Anhu dan pertanyaannya tentang madzi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Berwudhu dan cucilah kemaluanmu.’ [HR. Al-Bukhari (269), Muslim (303), Abu Dawud (206), At-Tirmidzi (114),  An-Nasai (1/96), dan Ibnu Majah (504).]

Dalil untuk keluarnya wadi: Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Mani, wadi, madzi, adapun mani padanya terdapat kewajiban mandi, sedang wadzi dan madzi pada keduanya terdapat (kewajiban) berwudhu dan mencuci kemaluannya.’ [Shahih. Ibnu Abi Syaibah (1/89), Al-Baihaqi (1/169).]

 

Beberapa Catatan:

[1]           Jika keluar sesuatu yang biasanya tidak keluar dari dubur, seperti cacing, kerikil atau semisalnya, maka hal tersebut membatalkan wudlu menurut pendapat kebanyakan ahli ilmu.

[2]           Apabila dimasukkan sesuatu kedalam kemaluan atau dubur, kemudian dikeluarkan kembali, maka wajib berwudlu, karena barang yang dikeluarkan tadi tidak selamat dari rembesan najis.

(3)           Jika air kencing atau tinja keluar dari selain dua jalur [selain lubang kemaluan dan dubur], tetap ada kewajiban berwudhu menurut pendapat yang unggul dengan berdasarkan pada hadits Shafwan yang lalu, ‘…tetapi karena buang air besar, kencing dan tidur.’ Keluarnya berlaku secara umum, baik dari tempat yang biasa keluar [lubang kemaluan dan dubur] atau dari tempat yang lainnya.

 

[21] Yaitu: Keluar mani, berjima`, haid dan nifas. Adapun dalil-dalilnya silahkan merujuk ke Bab Mandi.

[22] Berdasarkan dengan hadits dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada keharusan wudhu` bagi orang yang tidur dalam keadaan duduk, sampai dia meletakkan rusuknya.” (HR. Ibnu ‘Adi dalam kitab Al-Kamil (6/2459), Daraqutni (1/160), dan Ath-Thabrâni dalam Al-Aushat] Namun hadits ini tidak shahih!! Pendapat yang benar bahwa tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur nyenyak. Berikut alasannya:

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Mata itu pengikat dubur, maka barang siapa yang tidur maka hendaklah berwudhu. [Sanadnya Hasan. HR. Abu Dawud (203), Ibnu Majah (477), dan Ahmad (1/111).]

                Hadits ini tidaklah bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, para shahabat [pernah] menunggu shalat Isya hingga kepala mereka mengangguk-angguk [karena mengantuk] kemudian mereka shalat dan tidak berwudhu.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (200), Ad-Daraqutni (1/130), Al-Baihaqi (1/119), dan diriwayatkan oleh Muslim (376 semisalnya.] Dan dalam sebagian riwayat, ‘Lalu mereka meletakkan rusuk-rusuk mereka.’ Yaitu di atas tanah. Dan pada sebagian riwayat lagi disisi At-Tirmidzi, ‘Hingga terdengar suara dengkuran mereka.’

                Hadits-hadits diatas sangat mungkin untuk dikompromikan, bahwa tidur yang membatalkan wudlu adalah tidur pulas yang kesadarannya hilang secara total. Adapun permulaan tidur sebelum tidur pulas maka hal ini tidak membatalkan wudlu. Wallahu a’lam.

 

[23] Baik itu daging mentah, dimasak, dipanggang, atau sifat-sifat lainnya. Al-Khatthabi berkata, ‘Umumnya ahli hadits berpendapat seperti ini, berdasarkan dengan apa yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah Radhiyallahu Anhu, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Mestikah saya berwudhu lantaran makan daging Kambing?’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau mau maka berwudhulah, dan jika engkau mau maka tidak perlu berwudhu.’ Orang itu bertanya lagi, Mestikah saya berwudhu lantaran makan daging unta?’ Beliau bersabda, ‘Ya, kamu mesti berwudhu lantaran makan daging unta. [HR. Muslim (360), dan valid juga hadits yang semisalnya dari Al-Bara`: HR. Abu Dawud (184), At-Tirmidzi (81) dan Ahmad (4/303).] Dan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kami berwudhu lantaran makan daging  unta.’ [Shahih. HR. Ibnu Majah (495), Ahmad (5/96), dan Ibnu Hibban (1127). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani dalam ‘Al-Misykât’ (305).]

Yang tampak dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Daging unta.’ adalah mencakup seluruh bagian tubuh unta. Dengan demikian wajib berwudhu apabila makan hati unta, punuknya, babatnya, dan semisalnya. Adapun susunya maka tidak termasuk didalamnya, karena ia bukan daging dan tidak tercakup oleh kata ‘daging’.

 

[24]  Yang benar bahwa muntah dan yang semisalnya yaitu qalas [sesuatu yang keluar dari perut ketika perut terisi penuh] tidak membatalkan wudhu, karena tidak ada ada satu dalilpun yang shahih lagi sharih (jelas) yang menyebutkan batalnya wudhu karenanya. Adapun hadits Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, ‘Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah muntah, lalu beliau berbuka. Tsauban berkata, ‘Saya yang menuangkan air wudhu kepadanya.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (2381), At-Tirmidzi (87), dan Ahmad (5/195).] Maka hadits ini tidak secara sharih (jelas) menunjukkan bahwa wudhu beliau disebabkan karena muntah melainkan karena bertepatan dengan suatu hal, yaitu bahwa beliau muntah dan bertepatan pula waktu itu waktu wudhunya.

Ibnu Hazm Rahimahullah, berkata, ‘Tidak ada di dalamnya bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang muntah hendaklah ia berwudhu, dan juga tidak ada didalamnya bahwa wudhu beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam disebabkan karena muntah.’

 

[25] Wajib berwudhu lantaran menyentuh kemaluan, baik laki-laki maupun wanita, baik menyentuh dengan telapak tangan atau dengan punggung tangan kecuali jika diantara keduanya ada penghalang. Ketetapan ini didasarkan pada hadits Bushrah binti Shafwan Radhiyallahu Anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka ia tidak boleh shalat sehingga ia berwudlu.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (181), At-Tirmidzi (83) dan ia menshahihkannya, An-Nasai (1/100), dan Ibnu Majah (479). Dan sabda beliau didalam hadits “maka ia tidak boleh shalat” dari tambahan At-Tirmidzi. Al-Bukhari berkata; ia (hadits diatas) adalah hadits yang paling shahih  dalam bab ini.]

Dan Dari ‘Amru bin Syua’ib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Laki-laki mana pun yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu, dan wanita mana pun yang menyentuh farjinya maka hendaklah ia berwudlu. [Sanadnya Hasan. HR. Ahmad (2/223) dan Ad-Daraqutni (1/147).]

Adapun hadits Thalq bin Ali Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang seseorang menyentuh dzakarnya, apakah ada kewajiban wudhu atasnya?’ Beliau bersabda, ‘Tidak, [karena dzakar] itu hanya sepotong daging dari tubuhmu.[ Shahih. HR. Abu Dawud  (182), At-Tirmidzi (85), Ibnu Majah (483), An-Nasai (1/101), Ibnu Hibban didalam shahihnya (1120), dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani, lihat ‘Tamamul Minnah’ hal. 103.] Ia adalah hadits mansukh [yang telah dihapus]. Ibnu Hibban memaparkan didalam kitab shahihnya sesuatu yang menunjukkan bahwa kedatangan Thalq bin Ali adalah sewaktu pembangunan masjid Madinah, kemudian ia keluar dari Madinah dan tidak diketahui lagi kedatangannya setelah itu. [Shahih. Shahih Ibnu Hibban (1122-1123).] Sedang hadits Busrah juga diriwayatkan oleh Abu Huraîrah yang mana beliau termasuk orang belakangan masuk Islam, keterangan ini menguatkan pendapat yang menyatakan terhapusnya hadits Thalq.

Juga, dalam hadits Talq adalah pembolehan [Ibâhah] sedang pada hadits Busrah adalah larangan [Hadhar]. Sedang kaedah menyebutkan, ‘Apabila terjadi benturan antara larangan dan pembolehan maka larangan lebih didahulukan.’

Yang benar dalam permasalahan ini, bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu, baik itu karena dorongan syahwat atau bukan atas dorongan itu, kecuali jika ada penghalang, karena yang dhahir dari sabda beliau, ‘Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya.’ Bahwa Al-Mash itu adalah menyentuh langsung anggota tersebut. Terdapat juga hadits yang semakna dengan ini, yaitu hadits Abu Huraîrah Radhiyallahu Anhu, ia berkata,  ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian menyentuhkan tangannya pada kemaluannya dan tidak ada diantara keduanya penutup dan juga penghalang maka hendaklah ia berwudhu.’ [Hasan. HR. Ibnu Hibban (1118), Al-Hakim (1/138) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah (1235).]

 

Adapun menyentuh dua testis [biji pelir] atau lobang dubur, maka hal itu tidak membatalkan wudhu karena konteks hadits menyebutkan ‘Az-Zakar [kemaluan laki-laki] atau Al-Farj [kemaluan wanita]. Suatu hal yang sudah dimaklumi, bahwa dua testis dan lubang dubur tidak digolongkan sebagai kemaluan.

 

 

 

Diterjemahkan dan disyarah secara ringkas oleh

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, Rabi’ul Akhir 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: