//
you're reading...
Aqidah

Awal Mula Syirik


Ketika Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya, dia bersin. Lalu berkata, ‘Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah).’ Dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Semoga Allah merahmatimu, wahai Adam.’ [Shahih. HR. at-Tirmidzi di dalam kitab Tafsir bab dari surat Mu’awwidzatain 4/453. Lihat Shahih Sunan Tirmidzi 3/137 no. 3067].

 

Pujian Adam tersebut adalah pengakuan dan penetapan awal dalam kehidupan manusia. Penetapan akan keberadaan wujud Allah, pengakuan bahwa Dia-lah satu-satunya yang berhak dipuji dan disanjung; yaitu menunggalkan Allah dalam beribadah, dan tauhid inilah yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya.

 

Beberapa waktu dari kehidupan Adam ‘Alaihis Salam ada berada di dalam Syurga dalam keadaan sebagai seorang mukmin yang mentauhidkan (menunggalkan) Allah Ta’ala, sedang sisa dari kehidupannya ia sempurnakan di bumi juga dalam keadaan sebagai seorang mukmin yang mentauhidkan Allah. Itu semua terjadi setelah ia diperdaya oleh syaithan, lalu ia memakan buah dari pohon yang terlarang, lalu Allah menurunkannya ke bumi.

 

Adam bukanlah seorang yang bergama Yahudi atau Nashrani, tetapi ia adalah seorang muslim lagi hanif. Orang-orang yang ada pada kurun-kurun awal tidak kenal-mengenal kesyirikan dan kekafiran. Bumi dimakmurkan dengan tauhid dari masa ke masa. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh terdapat 10 generasi yang seluruhnya berada di atas Islam.’ [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/180].

 

 

Asal Mula Kesyirikan

 

Syaithan benar-benar tidak mengenal lelah dalam menjerumuskan anak manusia dalam kehancuran aqidahnya. Setelah bersabar menunggu selama sepuluh generasi, racun kesyirikan yang selalu dihembus-hembuskannya mulai menampakkan hasil. Adalah ummat Nabi Nuh adalah kaum yang pertama kali melakukan kesyirikan itu. Semuanya bermula dari kemiskinan terhadap ilmu Tauhid lalu kemiskinan itu mengantarkan mereka terlalu tergantung kepada orang-orang yang shalih pada masa itu, yaitu kepada Wadd, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr hingga mereka terjerumus pada perilaku pengkultusan dan ghuluw (sikap yang berlebihan) pada orang-orang shalih tersebut.

 

Dalam riwayat al-Bukhari, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Berhala-berhala yang dulu (disembah) pada kaum Nuh menjadi (disembah) oleh orang-orang Arab (jahiliyyah) setelah itu. Berhala Wadd menjadi milik kabilah Kalb di Daumah al-Jandal, berhala Suwaa’ milik kabilah Hudzail, Yaghuts adalah mili kabilah Murad kemudian menjadi milik Bani Ghuthaif di al-Jauf di negeri Saba’, berhala Ya’uq milik kabilah Hamdan, dan berhala Nasr milik kabilah Himyar untuk keluarga Dzu al-Kala’. (Mereka sebenarnya) adalah nama-nama laki-laki shalih dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, maka syaithan membisikkan kepada kaum mereka untuk mendirikan patung (arca) di tempat duduk mereka yang biasa mereka duduki. Lalu mereka menamakn patung tersebut dengan nama mereka. Merekapun melakukannya dan tidak disembah, hingga ketika kaum tersebut telah wafat, dan ilmu telah lenyap, maka berhala-berhala itupun disembah.’ [HR. al-Bukhari 4920].

 

 

Pelajaran Berharga

 

Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah awal mulanya kesyirikan di kalangan kaum Nabi Nuh seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma di atas :

 

1)       Bahayanya menggantungkan gambar-gambar di tembok dan membangun patung-patung di majelis-majelis atau di lapangan. Hal ini dapat mendorong ummat manusia untuk melakukan kesyirikan di mana mereka melakukan pengagungan yang berlebihan terhadap gambar dan patung-patung tersebut dan selanjutnya mereka menyembahnya dan berkeyakinan bahwasanya gambar dan patung itu dapat mendatangkan manfaat dan menolak marabahaya sebagaimana yang pernah terjadi pada kaum Nuh.

 

2)       Begitu bersemangatnya syaithan untuk menyesatkan bani Adam dan mengelabui mereka. Syaithan mendatangi anak Adam dengan cara halus dan dengan slogan menganjurkan untuk berbuat baik. Tatkala syaithan melihat kaum Nuh sangat menghormati dan mencintai orang-orang shalih, maka ia menyeru mereka untuk berlebih-lebihan dalam mencintai orang-orang shalih tersebut di majelis-majelis mereka dengan tujuan mengeluarkan mereka dari jalan kebenaran.

 

3)       Syaithan bukanlah makhluk yang berpandangan sempit atau pendek yang hanya ingin menyesatkan generasi masa kini, tetapi ia memiliki pandangan jauh untuk menyesatkan generasi yang akan datang. Oleh sebab itu, tatkala syaithan melihat bahwa kesyirikan tidak mungkin akan dilaksanakan pada awal generasi kaum Nuh, maka dia bertekad dan bersemangat memasang jerat untuk menjatuhkan generasi selanjutnya.

 

4)       Tidak boleh menganggap remeh segala macam perantara (jalan-jalan menuju) kejahatan, bahkan wajib untuk mencegahnya dan menutup pintu-pintu yang menuju kepadanya.

 

5)       Keutamaan ulama yang mengamalkan ilmunya dan keberadaan mereka di bumi sebagai suatu tanda kebaikan bagi manusia. Sedangkan ketiadaan mereka merupakan kejelekan dan bencana. Sebab syaithan merasa tidak mampu untuk menyesatkan suatu kaum selama ulama masih ada di tengah-tengah mereka.

 

 

Kesimpulan

 

Penyembahan kepada patung telah dilakukan pada masa kaum Nabi Nuh, jauh sebelum orang-orang kafir Quraisy melakukannya. Sedang orang yang pertama kali mengajak orang-orang Arab menyembah patung adalah Amr bin Luhay. Wallahu A’lam.

 

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: