//
you're reading...
Akhlak

Berdoalah Dengan Suara Yang Lirih


Imam ath-Tharthusy dalam kitabnya  ad-Du’a al-Ma’tsur hal. 44 berkata, ‘Ketahuilah – semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada kalian – bahwa do’a itu memiliki adab-adab yang masyru’ dan syarat-syarat yang difardhukan. Barangsiapa yang memenuhinya maka akan dipenuhi pula baginya dan barangsiapa yang melazimkan (menetapi) syarat dan adab-adab tersebut, maka besar harapan ia akan memperoleh apa yang ia pinta …’ Lalu beliaupun menyebutkan adab-adab berdo’a dan salah satu di antara adab tersebut adalah, ‘Melirihkan atau melembutkan suara ketika berdo’a.’

Melirihkan suara di saat berdo’a adalah merupakan sunnah yang telah disepakati oleh para ahli ilmu. [Demikian yang dinukil Imam an-Nawawi di dalam al-Majmu’ 3/112 dan Ibnu Hajar  dalam al-Fath 11/36]. Sedang mengeraskan suara adalah hal yang dimakruhkan secara mutlak baik di dalam maupun di luar shalat.  [Kemakruhan ini juga merupakan kesepakatan ahli ilmu. Lihat  al-Mabshuth 4/6 dan Ahkamul Qur’an oleh al-Jashshah 3/211]. Namun, pada kondisi tertentu berdo’a justru dianjurkan dengan suara yang jelas dan terdengar oleh para hadirin dan kondisi tersebut tentu kondisi yang telah diatur oleh syari’at bukan aturan manusia sendiri.

 

Dalil Melirihkan Suara

Di antara dalil-dalil dianjurkannya melirihkan suara dan makruh mengeraskannya adalah :

1)       Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.’ [QS. al-A’raf : 55].

2)       Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengkhabarkan sifat do’a Nabi Zakariya, ‘Yaitu tatkala dia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.’ [QS. Maryam : 3].

3)       Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.’ [QS. al-Isra’ : 110].

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Ayat ini diturunkan berkenaan dengan do’a.’ [HR. al-Bukhari 6327 dan Muslim 447].

4)       Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para shahabatnya yang meninggikan suaranya di saat berdzikir, ‘Wahai manusia, hentikanlah diri kalian seperti itu, karena kalian tidak berdo’a kepada yang tuli juga kepada yang ghaib. Sesungguhnya yang kalian panjati do’a itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat.’ [HR. al-Bukhari 4205 dan Muslim 2704].

 

Mengapa dengan Suara yang Lirih ?

Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan di atas, maka kami nukilkan sebagian jawaban Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah tentang beberapa faedah dalam melirihkan suara berikut ini :

1)       Ini merupakan keimanan terbesar karena orang yang menyembunyikan do’a itu tahu bahwa Allah Ta’ala mendengar do’a yang dibaca dengan lirih.

2)       Ini merupakan etika dan penghormatan terbesar, karena bila berbicara dengan raja saja tidak boleh mengangkat suara keras dan barangsiapa yang mengangkat suaranya keras-keras akan mendapatkan kemurkaannya. Apalagi dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, jika Dia Subhanahu wa Ta’ala mendengar do’a yang dibaca lirih, maka tidak etis bagi kita jika kita berdo’a kepada-Nya kecuali dengan suara lirih.

3)       Berdo’a dengan suara lirih lebih menunjukkan ketundukan dan kekhusyu’an yang merupakan ruh do’a, isi, dan maksudnya. Seorang yang khusuk dan tunduk, ketika meminta suatu permintaan, dia seperti seorang miskin yang hina, yang hatinya rusak, anggota badannya lemah dan suaranya lembut.

4)       Lebih mencerminkan keikhlasan.

5)       Dengan suara lirih lebih menyatukan hati untuk merendah dalam berdo’a, sedangkan dengan suara keras dapat memudarkannya. Jika suaranya rendah, maka hal itu akan lebih menfokuskan keinginan dan maksudnya kepada Dzat yang diminta, yaitu Allaubhanahu wa Ta’ala.

6)       Suara lirih terasa lebih lembut dan indah, karena hal itu menunjukkan pada kedekatan, seeprti seorang teman kepada teman dekatnya, tidak seperti orang yang jauh memanggil orang yang jauh. Maka dari itu, Allah Ta’ala memuji hamba-Nya Zakariya, dengan firman-Nya, ‘Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.’ Jika hati merasa dekat dengan Allah Ta’ala, yang lebih dekat dari segala yang dekat, maka dia akan memanggil-Nya dengan lembut, selembut mungkin. [Majmu’ Fatawa 17/15].

 

Faedah

1)       Imam an-Nawawi [Lihat al-Majmu’ 3/112] berkata, ‘Kadar lirih minimal adalah ia mendengar sendiri apa yang ia ucapkan, jika ia memiliki pendengaran yang sehat dan tidak ada penghalang baginya dalam melafadzkan dan lainnya, ketentuan ini berlaku pada bacaan ayat dalam shalat, takbir, tasbih sewaktu ruku’ dan lainnya. Begitu juga sewaktu tasyahhud, salam, dan do’a.

2)       Di antara kondisi yang diperbolehkan mengeraskan do’a adalah; Do’a waktu khutbah Jum’at, shalat hari raya, shalat Istisqa’, qunut nazilah, dan ketika bertempur dengan musuh. Wallahu A’lam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: