//
you're reading...
Manhaj

Dosa Besar Dan Dosa Kecil


Soal: Adakah kategori khusus untuk mengetahui ini dosa kecil dan yang itu dosa besar?

Jawab: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Waspadalah terhadap dosa-dosa kecil, karena akan berkumpul pada satu orang hingga membinasakannya.’ [Shahih. HR. Ahmad 1/403. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2687]. Abdurra’uf al-Munawi Rahimahullah berkata dalam menjelaskan hadits di atas, ‘Waspadalah terhadap dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil adalah sebab yang menghantarkan pada dosa-dosa besar sebagaimana halnya ketaatan-ketaatan kecil dapat memicu seseorang untuk melakukan amalan-amalan besar.’ [Faidhul Qadir 1/165].

Di dalam hadits lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Maukah kalian kuberitahukan dosa yang paling besar?’ – pertanyaan ini diulang oleh beliau sampai tiga kali – Para shahabat menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah!’ Maka, beliau bersabda, ‘Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, – kemudian beliau duduk yang sebelumnya bersandaran – hindarilah ucapan dusta.’ Perawi berkata: Beliau mengulang-ngulangnya sampai kami berkata (di dalam hati), ‘Semoga beliau diam.’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Dua hadits di atas berikut dengan komentar Imam al-Munawi menjelaskan kepada kita bahwa dosa itu ada yang besar dan ada pula yang kecil.

 

Definisi Dosa Besar

Pemilik kitab Mu’jamul Wasith menyebutkan bahwa, ‘Dosa besar itu adalah suatu pelanggaran berat yang dilarang oleh agama.’ Sedang Ibnu Atsir dalam an-Nihayah berkata, ‘Dosa besar adalah perbuatan dosa yang buruk yang dilarang oleh syari’at, yang berat urusannya.’

 

Kategori Dosa Besar

Ulama berbeda pendapat mengenai batasan-batasan dosa besar, ada yang mempersempit dan ada pula yang memperluas. Dan pendapat yang paling bagus dan yang kami pilih dalam hal ini adalah apa yang dikatakan oleh adz-Dzahabi di dalam mukaddimah kitabnya al-Kabair, di mana beliau berkata, ‘Pendapat yang lebih terarah yang tegak di atas dalil adalah bahwa barangsiapa yang melakukan sesuatu perbuatan dosa yang ada had-nya (hukuman khusus) di dunia karena dosanya itu, seperti pembunuhan, zina, pencurian, ataupun perbuatan lainnya yang mendapat janji adzab di akhirat kelak atau akan mendapat kemurkaan, atau ancaman, atau dilaknat pelakunya melalui lisan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, maka perbuatan tersebut dikategorikan sebagai dosa besar.’ [al-Kabair hal. 3-4].

Dari pernyataan Imam adz-Dzahabi ini, maka dapat disimpulkan bahwa dosa besar itu memiliki tiga patokan :

¶  Patokan pertama; Bahwa dosa tersebut ada had-nya (yaitu hukuman yang telah ditentukan syarat saat berbuat maksiat sebagai pelanggaran atas hak Allah Ta’ala) di dunia. Seperti mebunuh, berzina, mencuri, dan lain sebagainya.

¶  Patokan kedua; Bahwa pelaku dosa tersebut mendapat janji adzab, kemurkaan, atau ancaman di akhirat kelak. Seperti bunuh diri, mengadu domba, berlaku dzalim, dan lain sebagainya.

¶  Patokan ketiga; Bahwa pelaku dosa tersebut melaknat lisan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Seperti wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya, yang mentato dan yang meminta ditato, dan lain sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang disifatkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak adanya keimanan, atau kufur pada apa yang diturunkan kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam atau ia terhalang melihat Allah di hari Kiamat nanti.

 

Bilangan Dosa Besar

Banyak perkataan ulama tentang jumlah bilangan yang dapat dikategorikan sebagai dosa besar. Dalam kitab al-Ihya yang diriwayatkan dari Abu Thalib al-Makky, disebutkan terdapat 17 dosa besar. Al-Iraqi menyebut dosa besar jumlahnya mencapai 32. [Lihat Kitab al-Ihya. Kitab Taubat]. Sedangkan adz-Dzahabi menyebutkan dalam bukunya al-Kabair jumlah dosa besar mencapai 76, dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam bukunya al-Jawajir menyebutkan jumlah dosa besar mencapai 467.’

Perkataan adz-Dzahabi yang menyebutkan jumlah dosa besar sebanyak 76 adalah lebih utama dari pendapat-pendapat ulama lainnya. [Lihat dalam Akhthauna fil Ibadat wal Muamalat. Oleh Dr. Musthafa Murad Subhi].

 

Di antara Dosa-dosa Besar

Berikut di antara dosa-dosa besar yang sesuai dengan tiga kategori di atas seperti yang disebutkan oleh adz-Dzahabi; Syirik, mendustakan takdir, riya’, meminta hujan pada bintang, mempercayai perkataan para normal, tukang sihir setelah mendatanginya, menganggap sial, sihir, menyembelih dengan nama selain Allah, meninggalkan shalat, bunuh diri, menolak zakat, berbuka pada siang hari di bulan Ramadhan tanpa alasan yang jelas, meninggalkan ibadah haji padahal ia memiliki kemampuan, durhaka kepada kedua orang tua, memutuskan tali silaturrahmi, memakan riba, zina, homoseksual, minum khamer, mencuri, makan harta anak yatim, menganiaya, memperdayai rakyat dengan kedzaliman, hakim yang keji, suap menyuap, memberi kesaksian palsu, mengurangi timbangan, melukai para wali Allah, menipu, sumpah palsu, mendustakan Nabi, isteri durhaka pada suami, laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki, memakan bangkai, berkhianat, melarikan diri dari medan perang, membuat patung, fanatisme golongan, mencaci para shahabat, adu domba, berjudi, melanggar kehormatan, dan lain sebagainya.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: