//
you're reading...
Akhlak

Makan Di Tempat Orang Sakit


Soal: Saat membesuk orang sakit, bolehkah ana makan disisinya? Dan adab-adab apa saja yang mesti ana perhatikan saat membesuk?

 

Jawab: 

Menjenguk orang sakit adalah termasuk hak seorang muslim terhadap muslim lainnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendo’akan orang bersin.’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Yang unggul, bahwa hak di atas (yaitu menjenguk orang sakit) adalah wajib kifayah hukumnya. Dari Barra’ bin ‘azib Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Rasulullah memerintahkan kami untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang teraniaya, menunaikan sumpah dengan benar, menjawab salam, dan mendo’akan orang yang bersin. Beliau juga melarang kami memakai bejana dari perak, cincin emas, dibaj (sutera halus), qasiy (sutera kasar), dan istibraq (sutera tebal).’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Ada banyak keutamaan dalam menjenguk orang sakit dan di antara keutamaannya tersebut adalah seperti yang diceritakan oleh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu berikut ini. ‘Ali berkata: Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menjenguk saudaranya yang muslim, maka seakan-akan ia berjalan di taman-taman Syurga sampai ia duduk. Dan ketika ia duduk, maka ia akan dinaungi rahmat, dan jika menjenguknya pada waktu pagi bershalawatlah kepadanya 70.000 malaikat bershalawat kepadanya sampai waktu sore. Jika menjenguknya pada waktu sore, maka 70.000 malaikat bershalawat kepadanya sampai waktu Shubuh.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 3098 dan Ibnu Majah 1442].

 

Adab saat Menjenguk Orang Sakit

Di antara adab-adab menjenguk orang sakit adalah :

  1. Bersegera menjenguk ketika terdengar berita tentang sakitnya.
  2. Memilih waktu yang tepat di saat berkunjung. Tidak berkunjung pada saat yang diperkirakan akan memberatkan si sakit.
  3. Sewaktu bertemu dengan si sakit, ucapkanlah kepadanya, ‘Laa Ba’sa Thahuruun Insya Allah (Tidak apa-apa, Insya Allah menjadi penyuci (pelebur dosa).
  4. Lalu tanyakanlah kepada si sakit tentang kondisinya saat itu. Dan di saat bertanya letakkan tangan di salah satu anggota tubuhnya.
  5. Do’akan untuk kesembuhan si sakit pada saat itu juga. Dan di antara do’a tersebut adalah, ‘Hilangkanlah penyakit wahai Tuhan manusia, sembuhkanlah, dan Engkaulah Dzat yang menyembuhkan tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan yang Engkau berikan, kesembuhan yang tidak menimbulkan penyakit lain.’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].
  6. Memuji-muji kebaikan yang pernah dilakukan si sakit di kala sehatnya agar si sakit tidak merasa cemas dan takut dengan keadaan dirinya dan agar ia senantiasa berbaik sangka kepada Rabb-nya.
  7. Tidak memaksa dan mendesak-desak si sakit untuk makan dan minum.
  8. Berlaku lemah lembut kepada si sakit. Dan selalu memintanya untuk bersabar atas penyakit yang dialaminya.
  9. Mengingatkannya untuk bertaubat, berwasiat dan melepaskan diri dari kedzaliman yang pernah dilakukan sewaktu sehatnya.

 

Makan di Tempat Orang Sakit

Di beberapa kitab adab dan akhlaq disebutkan bahwa di antara adab dalam mengunjungi orang sakit adalah tidak makan dan minum sewaktu berkunjung. Di sana dijelaskan bahwa makan di saat membesuk orang sakit akan mengurangi atau menghilangkan pahala berkunjung.

Yang benar, bahwa tidak ada larangan bagi pengunjung untuk makan di tempat si sakit jika keluarga dari si sakit atau bahkan si sakit itu sendiri menghidangkan makanan atau minuman. Adapun dalil yang dijadikan pijakan oleh orang-orang yang melarang hal tersebut, yaitu sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Apakah salah seorang di antara kalian mengunjungi orang sakit, maak ia tidak boleh makan sedikitpun di sisi orang sakit, karena hal itu menyebabkan hilangnya pahala berkunjung.’ [HR. ad-Dailamy di dalam Musnad al-Firdaus]. Maka, kami katakan bahwa hadits ini adalah hadits lemah. Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Musa bin Wirdan. Imam adz-Dzahabi telah memuatnya di dalam adh-Dhu’afa dan berkata, ‘Ia dilemahkan oleh Ibnu Ma’in.’ Lihat Faidhul Qadir oleh al-Munawi 1/519].

 

Kesimpulan

Pengunjung dibenarkan makan di tempat orang sakit dan tidak ada satu hadits shahihpun yang melarang demikian. Wallahu A’lam.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: