//
you're reading...
Aqidah

Tidak Mengkafirkan Orang Kafir


Soal: Apakah benar bahwa jika kita tidak mengkafirkan orang kafir maka kita juga ikut kafir?

 

Jawab:  Allah Subhanahu wa Ta’ala mengelompokkan manusia dalam kehidupan dunia ini pada tiga kelompok :

1)        Kelompok orang-orang kafir (kuffar) dari kalangan orang-orang Musyrik dan Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Mereka adalah orang-orang yang tidak mau mengakui dan menetapkan dua kalimat syahadat.

2)        Kelompok orang-orang beriman (Mukminin), beriman secara lahir dan bathin.

3)        Kelompok orang-orang munafik yang menampakkan keimanan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyembunyikan kekufuran atau masa kini disebut dengan zindiq.

 

Mengkafirkan yang Berhak untuk Dikafirkan

 

Dari tiga kelompok yang kami sebutkan di atas maka kelompok pertama yaitu kelompok orang-orang musyrik dan ahli kitab adalah kelompok yang sepatutnya dikafirkan bahkan meragukan kekafiran mereka adalah bagian dari pembatal keislaman. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab – semoga Allah merahmatinya – berkata; ‘Ketahuilah bahwa pembatal-pembatal keislaman itu ada 10 … yang ketiga adalah barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan madzhab mereka.’

 

Mengapa demikian ? Karena Allah Jalla wa ‘Ala telah mengkafirkan mereka dalam banyak ayat dalam kitab-Nya, dan Ia memerintahkan untuk memusuhi mereka, lantaran banyaknya kedustaan yang mereka buat-buat atas Allah, mereka membuat tandingan untuk Allah, mereka mendakwakan bahwa Allah memiliki anak, Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan, dan Allah telah mewajibkan kaum muslimin untuk memusuhi dan membenci mereka.

 

Ketahuilah, keislaman seseorang tidak dapat dihukumi kecuali jika ia telah mengkafirkan orang-orang musyrik. Allah Ta’ala berfirman;

 

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

‘Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ [QS. al-Baqarah : 256].

 

Syaikh Abdul Wahhab berkata, ‘Adapun sifat ingkar kepada thaghut adalah engkau meyakini batalnya peribadatan kepada selain Allah, engkau meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan ahlinya, dan memusuhinya.’ [Lihat at-Tibyân Syarh Nawâqidul Islam 26 oleh Sulaiman bin Nâshir bin Abdullâh dengan diringkas].

 

Adapun kelompok ketiga, yaitu kelompok orang-orang munafik (yang menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran mereka), maka kita menahan diri untuk mengkafirkan mereka lantaran mereka menampakkan keislamannya. Artinya, ketika mereka telah mengucapkan Lâ Ilâha Ilallâh, maka untuk di kehidupan dunia ini berlaku baginya secara dzahir seluruh hukum Islam sedang di akhirat nanti ditempatkan di kerak neraka lantaran kekafiran yang mereka sembunyikan.

 

Mengkafirkan Sesama Muslim

 

Takfir (mengkafirkan) orang yang telah bersyahadat (yaitu kelompok ketiga), adalah salah satu perkara yang sangat mendasar yang seseorang tidak boleh bermudah-mudah dalam urusan ini. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan kita untuk tidak mudah menuduh kafir kepada saudaranya tanpa dalil-dalil yang jelas. Sebab, bila tuduhan kafir tersebut tidak benar, maka akan berbalik kepada yang menuduh. Sebagaimana sabda beliau :

 

أَيُّمَا امْرِى ءٍ قَالَ لاخِيْهِ يَاكَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُ هُمَا اِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

‘Siapapun orangnya yang mengatakan kepada saudaranya ‘Hai kafir’, maka perkataan itu akan mengenai salah satu di antara keduanya. Jika perkataannya benar (maka benar). Tetapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang yang mengatakannya.’ [Muttafaq ‘alaihi. Dari Ibnu Umar].

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, ‘Pemberian vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita, bahkan ia dikembalikan kepada Allah dan rasul-Nya, karena ia termasuk hukum syari’ah yang referensinya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka wajib untuk extra hati-hati dan teliti dalam permasalahan ini, sehingga tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila al-Qur’an dan as-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya …’ [Majmu’ Fatawa wa Rasâil oleh Syaikh ‘Utsaimin 2/342].

 

Masalah pengkafiran termasuk jenis perkara yang sulit dan pelik, baik dari sisi penentuan fatwanya, atau penerapan fatwa tersebut pada pihak-pihak tertentu. Dengan demikian penentuan hukum pengkafiran tidak boleh ditangani atau dilakukan oleh pribadi-pribadi, tetapi diserahkan sepenuhnya kepada ahli ilmu yang memenuhi syarat-syarat fatwa.

 

Syaikh Shalih al-Fauzan berkata dalam al-Muntaqa 1/112, ‘Takfir adalah perkara yang berbahaya. Tidak setiap orang boleh menyematkan kekafiran pada diri orang lain. Ini termasuk wewenang mahkamah-mahkamah syar’iyah dan ulama yang berilmu dalam masalah agama. Yaitu merekalah yang memahami Islam, mengetahui pembatal-pembatalnya, mengetahui situasi dan kondisi, serta mampu mengkaji realita masyarakat. Merekalah orang yang berhak mengeluarkan vonis kafir dan keputusan lainnya dalam agama …’ [Lihat at-Tabshir hal. 47-48].

 

Kapan Seseorang Divonis Kafir ??

 

Seseorang dapat divonis kafir jika :

 

1)        Adanya ketetapan yang sudah jelas dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. [Lihat Syarh Kasyfu asy-Syubuhat fi at-Tauhid hal. 57], bahwa ucapan dan perbuatan yang dilakukan oleh orang yang dihukumi kafir, benar-benar bersifat kekafiran.

2)        Terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran pada diri orang tersebut. Syarat-syarat pengkafiran meliputi :

  1. Baligh lagi berakal.
  2. Dilakukan dengan sengaja, berdasarkan pilihan tanpa paksaan. [QS. an-Nahl : 106].
  3. Telah sampai hujjah kepadanya (telah berilmu); yaitu ia mengetahui atau memahami sesuai dengan kebenaran dan tepat maksudnya yang hakiki. [QS. al-Israa’ : 15 dan an-Nisaa’ : 165].
  4. Tidak mentakwil kepada makna yang lain, maksudnya ilmu yang telah datang padanya ditakwil sesuai makna aslinya.

 

Jika tidak terpenuhi salah satu dari empat syarat di atas, maka seseorang tidak boleh dinyatakan kafir.

 

Jika Telah Pasti Kekafirannya

 

Jika seseorang telah pasti kekafirannya berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta disepakati oleh ulama akan kekafirannya dengan melihat terpenuhinya syarat pengkafiran pada diri orang tersebut, maka orang yang memahami permasalahan itu ia mesti mengkafirkannya, maka barangsiapa yang tidak mengkafirkannya, maka ia juga tergolong sebagai orang kafir.

 

Kesimpulan

 

Orang yang tidak mau mengkafirkan orang yang benar-benar kafir, maka dia dihukumi kafir, kecuali dia berada dalam kondisi penghalang-penghalang kekafiran. Wallahu a’lam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: