//
you're reading...
Uncategorized

Hak Pengasuhan Anak


Soal: Jika suami istri bercerai, siapakah dari keduanya yang lebih berhak mengasuh anak?

 

Jawab: Jika ada kesepakatan di antara suami istri tentang siapa di antara mereka yang akan mengasuh anak-anak pasca perceraian mereka berdua maka kesepakatan itulah yang terpakai. Adapun jika keduanya berselisih tentang siapakah yang lebih berhak mengasuh anak (lantaran kedua-duanya ingin mengasuh anak-anak mereka sendiri), maka yang paling berhak dalam pengasuhan adalah sang istri. Ibnul Mundzier Rahimahullah berkata, ‘Ulama sepakat bahwa pasangan suami istri apabila keduanya berpisah dan keduanya memiliki anak kecil, maka sang ibulah yang lebih berhak mengasuhnya daripada ayahnya, sepanjang ibunya itu belum menikah.’ [Al-Ijmak oleh Imam Ibnul Mundzier hal. 43].

Kesepakatan ulama di atas didasarkan pada hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu: Bahwasanya seorang wanita berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, dulu perutku telah mengandungnya, susuku telah memberi minum kepadanya, pangkuanku telah menjadi tempat berlindung yang hangat baginya. Kini ayahnya telah menceraikan aku dan dia ingin mengambilnya dariku!’ Maka, Rasulullah bersabda kepada wanita itu, ‘Kau lebih berhak atasnya selama kamu belum menikah.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 2276. Dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam shahih Abu Dawud 2276 dan Al-Irwa’ 2192].

Salah satu hikmah diserahkannya hak pengasuhan kepada ibu karena ibu lebih akrab kepada anak, lebih sabar dan penyayang, serta lebih tahu tentang pendidikannya, lebih menjaga, dan lebih mengetahui pertumbuhan sang anak.

Peringatan: kewajiban pengasuhan ini atau dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Hadhânah berlaku untuk anak kecil yang belum berakal atau anak yang idiot. Adapun jika anak sudah dewasa dan matang dalam berfikir maka tidak ada kewajiban pengasuhan atasnya. Ia boleh memilih sekehendak hatinya antara tinggal di rumah ayah atau ibunya. Jika ia seorang pemuda maka ia boleh mengasingkan diri di suatu tempat tanpa harus memilih ikut pada salah satu di antara keduanya lantaran ia telah mandiri. Namun, dianjurkan baginya untuk tidak memisahkan diri dari kedua orang tuanya apalagi sampai memutuskan kebaktian pada keduanya. Adapun jika dia seorang gadis, maka ia tidak boleh mengasingkan diri bahkan sang ayah harus mencegahnya  karena hal itu bisa membahayakan diri sang anak dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Masa Berakhirnya Pengasuhan

Ulama berbeda pendapat tentang berapa lama anak kecil berada di bawah pengasuhan ibunya. Sebagian ulama berpendapat bahwa masa pengasuhan berakhir ketika usia anak genap tujuh tahun, ada yang berpendapat delapan tahun dan ada pula yang berpendapat ketika anak telah mencapai usia akil baligh. Perbedaan ini terjadi lantaran tidak adanya nash yang mematok secara pasti tentang itu. Yang ada bahwa pada usia-usia tertentu, anak memiliki hak untuk lepas dari pengasuhnya (yaitu ibunya).

Syaikh Sayyid Sâbiq [Fiqhus Sunnah 2/294] berkata, ‘Pengasuhan berakhir jika anak laki-laki atau anak perempuan tersebut tidak lagi membutuhkan pelayan wanita dewasa dan telah sampai pada usia tamyiz (mampu membedakan). Ukurannya, adalah ketika sang anak mampu seorang diri memenuhi kebutuhan pokoknya (tanpa bantuan orang lain). Seperti makan sendiri, memakai baju sendiri, dan membersihkan dirinya sendiri. Dengan demikian, tidak ada patokan waktu tertentu untuk membatasi berakhirnya pengasuhan.’

 

Jika Masa Pengasuhan Berakhir

Jika masa pengasuhan berakhir, lalu siapakah yang berhak melanjutkan masa pengasuhan berikutnya?

Sebagian ulama berpendapat bahwa bapaknya lebih berhak setelah itu, sebagian berpendapat bahwa ibunya lebih berhak hingga sang anak mencapai usia akil baligh. Sedang sebagian lagi berpendapat (ini adalah pendapat mayoritas ulama dan ini pulalah pendapat yang unggul) bahwa anak disuruh memilih antara kedua orang tuanya bila mereka berdua berselisih tentang dirinya. Siapa diantara mereka berdua yang dipilihnya, itulah yang lebih berhak atasnya. Pendapat yang terakhir ini disandarkan pada hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Ada seorang wanita datang menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya suami saya ingin membawa anakku pergi, padahal anak saya sangat berguna bagi saya, ia mengambilkan air dari sumur Abi Inabah untuk saya.’ Kemudian suaminya datang. Maka Nabi  Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hai anak kecil, ini ayahmu dan ini ibumu, peganglah tangan salah seorang dari keduanya yang kau sukai.’ Lalu, anak itu memegang tangan ibunya. Dan ibunya pun segera pergi membawanya. [Shahih. HR. Abu Dawud 2277. Dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam shahih Sunan Abu Dawud].

Namun, perlu diingat bahwa  pilihan itu amat bergantung pada mashlahat anak. Jika  ibu dianggap lebih baik dari bapak dalam menjaga dan mendidik keagamaan sang  anak maka hak pengasuhan diserahkan kepada ibu dan tidak perlu pada pemilihan. Begitu juga sebaliknya, jika sang bapak lebih perhatian dalam pendidikan keagamaan sang anak sedang sang ibu menyia-nyiakannya  maka hak pengasuhan ada pada bapak dan tidak perlu pada pemilihan.

 

Kesimpulan

1)       Jika anak masih kecil dan belum mencapai usia tamyiz (mampu membedakan baik-buruk,  belum mandiri) maka hak asuh ada pada ibu.

2)       Jika anak telah mencapai usia tamyiz maka hak pengasuhan berikutnya tergantung dari pilihan sang anak.

3)       Pilihan berlaku jika kedua orang tua mampu memberi mashlahat kepada sang anak.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: