//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [4]


Bab Mandi[1]

Wajib mandi lantaran:

  1. Keluarnya air mani lantaran syahwat sekalipun dengan khayalan.[2]
  2. Bertemunya dua yang dikhitan [jima’].[3]
  3. Haid.[4]
  4. Nifas.[5]
  5. Ihtilam [mimpi berjima’] disertai dengan adanya cairan.[6]
  6. Mati.[7]
  7. Masuk Islam.[8]

Pasal

[Tata cara mandi]

Yang diwajibkan saat mandi adalah:

  1. Menuangkan air ke seluruh tubuh[9] atau berbenam di dalamnya.[10]
  2. Disertai dengan berkumur-kumur dan menaikkan air ke dalam hidung.[11]
  3. Menggosok –gosok anggotan badan yang dapat digosok.[12]
  4. Tidak dianggap sebagai mandi syar’I (tidak sah) kecuali dengan niat untuk menghilangkan hadatsnya.[13]

Disunnahkan:

  1. Mendahulukan membasuh anggota-anggota wudhu` kecuali kedua kaki.[14]
  2. Kemudian mendahulukan yang kanan.[15]

Pasal

[Tentang mandi-mandi yang disyariatkan/sunnah]

Dan disyariatkan mandi untuk:

  1. Shalat Jum’at.[16]
  2. Shalat dua ‘Ied (Idhul fithri dan idhul adhha).[17]
  3. Orang yang  habis memandikan mayit.[18]
  4. Orang yang ihram.[19]
  5. Masuk Makkah.[20]

Bab Tayammum[21]

–           Dibolehkan dengan tayammum apa yang dibolehkan dengan wudhu[22] dan mandi[23]:

  1. Bagi orang yang tidak menemukan air.[24]
  2. Atau khawatir [mendapatkan] mudharat apabila menggunakan air.[25]

–           Anggota tayammum adalah:

  1. Wajah.
  2. Kemudian kedua telapak tangan.[26]

–           Keduanya diusap:

  1. Sekali usapan.[27]
  2. Dengan sekali tebahan (ketanah).[28]
  3. Niat.[29]
  4. Membaca basmalah.[30]

–           Pembatal-pembatalnya:

Adalah semua yang membatalkan wudhu.[31]

Bab Haid[32]

–           Tidak ada satu dalil pun yang dapat dijadikan sebagai hujjah (dasar hukum)  yang memberikan ketentuan kadar minimal dan maksimal masa haid.[33]

–           Begitu juga halnya dengan masa suci.[34]

–            Bagi yang memiliki kebiasaan [haid] yang tetap, ia berpatokan padanya.[35]

–           Sedang selainnya[36], berpatokan kepada qarâin (indikasi)[37]. Darah haid berbeda dengan darah yang lainnya,[38] maka:

  1. Ia [dinyatakan] haid: apabila ia menyaksikan darah haid.
  2. Dan [dinyatakan] Mustahadhah[39]: apabila ia menyaksikan darah selainnya[40], dan [statusnya][41] sama dengan wanita yang suci. Ia mencuci bekas darah tersebut[42] dan berwudhu` tiap-tiap hendak shalat.[43]

Wanita haid:

  1. Tidak shalat.
  2. Tidak puasa.[44]
  3. Tidak boleh digauli sampai ia mandi setelah ia suci.[45]
  4. Dan mengqadha` puasa.[46]

Pasal

[Tentang hukum-hukum nifas]

Nifas[47] itu:

  1. Maksimal masanya adalah empat puluh hari.[48]
  2. Tidak ada batasan minimalnya.[49]
  3. Ia (nifas) serupa dengan haid.[50]

[1] Meratakan air keseluruh tubuh dengan tujuan menghilangkan hadats besar.

[2]Dari Abu Sa’îd Al-Khudry Radhiyallahu Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Air itu karena air.’ [HR.Muslim (343) dan Abu Dawud (217).] Yaitu mandi disebabkan karena keluar air mani.

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang madzi? Beliau menjawab, “(Mesti) berwudhu lantaran mengeluarkan madzi dan (mesti) mandi lantaran mengeluarkan air mani.” (Shahih. HR. At-Tirmidzi 114 dan Ibnu Majah 504).

Maka wajib mandi apabila mani keluar lantaran syahwat, baik dari laki-laki ataupun wanita, dalam keadaan tidur ataupun disaat terjaga. Namun untuk yang terjaga disyaratkan merasakan adanya dorongan syahwat sewaktu keluarnya.

Diantara dalil yang dijadikan oleh ulama atas disyaratkannya syahwat ketika keluarnya mani adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang hasan dari Ali Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Aku adalah seorang laki-laki yang sering bermadzi, lalu aku bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu beliau bersabda, ‘Apabila air mani memancar (Al-Hazf), maka mandilah, karena janabat, dan bila tidak maka kamu tidak harus mandi.’ [Sanadnya Hasan, HR. Ahmad (1/107)]. Al-Hazf bermakna memancar. Yang dimaksud adalah adanya dorongan syahwat, yaitu keluarnya bukan karena tanpa sebab, karena sakit dan sesuatu lainnya. Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, ‘Hal itu tidak terjadi kecuali karena dorongan syahwat.’ [Nailul Authâr (1/275)].

Apabila air mani keluar bukan karena syahwat tapi karena penyakit dan semisalnya maka ia dianggap sebagai air yang fâsid [rusak] sebagaimana faedah yang ditunjukkan Ibnu Taimiyyah, pelakunya tidak diwajibkan mandi menurut mayoritas ulama seperti Mâlik, Abu Hanifah dan Ahmad, sebagaimana tidak diwajibkannya mandi lantaran keluarnya darah istihadah [darah penyakit].

 

[3] Jika seorang laki-laki menyetubuhi seorang wanita, sehingga ujung kemaluannya terbenam secara sempurna di dalam kemaluan wanita tersebut, maka keduanya wajib mandi, baik  mengeluarkan mani ataupun tidak mengeluarkan mani. Berdasarkan dengan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, Apabila [laki-laki] duduk diantara empat anggota tubuh [dua tangan dan dua kaki] wanita, lalu bersungguh-sungguh melakukannya [bersetubuh] maka wajib atasnya mandi.’ [Muttafaqun ‘Alaihi] dan bagi Muslim, ‘Meskipun tidak mengeluarkan [air mani].’ [HR. Al-Bukhari (291), Muslim (348), Abu Dawud (216), An-Nasai (6/110), dan Ibnu Majah (610)].

Dan Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  ‘Apabila [laki-laki] duduk diantara empat empat anggota tubuh [dua tangan dan dua kaki] wanita, kemudian khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.’ [HR. Muslim (349) dan Ath-Thabrâni didalam Al-Ausat (1/293).]

Yang di maksud dengan, ‘Bertemu dua khitan’ adalah melewati, sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat At-Tirmidzi, ‘Apabila telah melampaui [melewati].’ [At-Tirmidzi (108), Ahmad (6/135), dan Ibnu Hibban (1176)] Atas dasar ini, apabila ia meletakkan tempat khitannya diatas tempat khitan wanita namun ia tidak Îlâj [penetrasi]  maka ia tidak wajib mandi menurut konsensus ulama. [Lihat Al-Majmu’ (2/131)].

[4] Kapan saja darah haid terputus dari seorang wanita, maka ia wajib mandi. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Fathimah binti Abi Hubaisy mengalami istihadhah, lalu ia bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau bersabda, ‘Demikian itu adalah urat [gangguan pada urat] dan bukan haid, apabila haidmu datang maka tinggalkanlah shalat, dan apabila haid itu telah hilang maka mandi dan shalatlah.” [HR. Al-Bukhari (228), Muslim (333), Abu Dawud (282), An-Nasai (1/181) dan  Ibnu Majah (624).]

 

[5] Nifas termasuk dalam bagian haid (demikian kesepakatan para ulama: Lihat Majmû’ oleh karya Imam An-Nawawi 2/148), bahkan penyebutan nifas kadang dicukupkan dengan  sebutan haid –sebagaimana yang terdapat di beberapa hadits diantaranya: ‘Dari Al Qasim bin Muhammad berkata, Aku mendengar ‘Aisyah berkata, Kami keluar dan tidak ada tujuan selain untuk ibadah haji. Ketika tiba di Sarif aku mengalami haid, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Beliau bertanya: Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu datang nifas (haid)? Aku jawab, Ya. Beliau lalu bersabda: Sesungguhnya ini adalah perkara yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang haji, kecuali thawaf di Ka’bah. (HR. Al-Bukhâri)– dan juga hukum keduanya adalah satu kecuali dalam beberapa hal. Wallahu a’lam.

[6] Berdasarkan pada hadits Ummu Salamah Radhiyallahu Anha bahwa Ummu Sulaim Radhiyallahu Anha berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran, apakah wanita diwajibkan mandi jika mimpi [bersetubuh]?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, jika ia melihat air [air mani].’ Ummu Salamah berkata, ‘Apakah wanita itu juga bermimpi?’ Beliau bersabda, ‘Taribat yadâk [berdebulah kedua tanganmu!]. Kalau tidak begitu dengan apa anaknya serupa dengan dia?’ [HR.Al-Bukhari (130), (282), Muslim (313), At-Tirmidzi (122), An-Nasai (1/114) dan Ibnu Majah (600).]

Yang menjadi patokan adalah keluarnya mani, bukan semata-mata karena mimpi bersetubuh. Jika seseorang mimpi bersetubuh namun tidak sampai mengeluarkan air mani maka tidak ada kewajiban mandi atasnya. Apabila ia mendapatkan air mani tetapi ia tidak mengingat suatu mimpi apapun, maka ia wajib mandi, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menggantung hukum itu pada ‘Ra’yatul Manî’ [melihat mani].

[7] Yaitu orang hidup wajib memandikan orang yang telah mati. Dari Ummu ‘Athiyyah Al-Anshâriyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah masuk kepada mereka (para wanita) ketika anak perempuan beliau meninggal, lalu beliau berkata, ‘Mandikanlah ia tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu, jika Kalian pandang perlu.’ [HR. Al-Bukhari (1253), Muslim (939), Abu Dawud (3145), At-Tirmidzi (990) dan An-Nasai (4/28).]

Ibnu Hazm Rahimahullah berkata, ‘Memandikan semua mayat kaum muslimin adalah wajib. Apabila mayat dikubur tanpa dimandikan [sebelumnya], maka ia mesti dikeluarkan selama masih mungkin didapatkan  sesuatu dari bagian tubuhnya lalu dimandikan kecuali yang mati syahid yang diperangi oleh orang-orang musyrik didalam medan peperangan lalu mati dalam peperangan tersebut, maka tidak ada keharusan memandikannya.’ [Al-Muhalla (2/32).]

[8] Dari Qais bin Âshim Radhiyallahu Anhu bahwa ia masuk Islam, lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya agar mandi dengan air dan bidara. [Shahih. Abu Dawud (355), At-Tirmidzi (605) dan An-Nasai (1/109).]

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Tsumâmah masuk islam, lalu lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bawalah ia ke kebun Bani Fulan, lalu surulah ia mandi.’ [Shahih. HR. Ahmad (2/304), Ibnu Khuzaimah (253) dan Ibnu Hibban (1238). Asal hadits tersebut terdapat di As-Shahihain:  Al-Bukhari (462), Muslim (1764).]

[9] Aisyah Radhiyallahu Anhu, ‘Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila ingin mandi karena janabat, beliau  memulainya dengan membasuh kedua tangannya, lalu tangan kanannya menuangkan air ke tangan kirinya, kemudian membasuh kemaluannya lalu berwudhu seperti wudhu untuk menunaikan shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari jarinya ke pangkal rambut, hingga jika beliau melihat hal itu telah cukup ia tuangkan [air] di atas kepalanya dengan tiga kali tuangan, kemudian beliau meratakan air keseluruh tubuhnya dan membasuh kedua kakinya.” HR. Al-Bukhari (2783) dan  Muslim (316).]

[10] Yang dimaksud dengan mandi adalah meratakan air ke seluruh tubuh. Maka bentuk apa saja yang dengannya bisa tercapai maksud dari meratakan air keseluruh tubuh maka mandinya teranggap sah, sekalipun ia memulainya dari bagian bawah sebelum bagian atasnya atau dengan cara berbenam ke dalam air.

[11] Lantaran wudhu telah masuk ke dalam mandi sedang diantara kewajiban berwudhu adalah dengan berkumur-kumur dan menaikkan air lewat hidung (lihat catatan kaki nomor 42 dan 43).

[12] Lantaran menggosok-gosok adalah bagian dari membasuh. Semata-mata menuangkan air pada pakaian atau badan tanpa menggosok-gosoknya tidak dinamakan dengan membasuh/mandi. Namun pendapat yang râjih – bahwa menggosok seluruh tubuh anggota badan waktu mandi, adalah sunnah hukumnya. Andai kata seseorang menyiram air ketubuhnya dan air tadi rata di sekujur badannya, sedang ia tidak mengusapkannya dengan tangannya; atau berbenam di dalam air yang banyak, atau berdiri dibawah pancuran atau hujan serta berniat mandi dan air itu meratai rambut dan kulitnya, maka mandinya sudah dianggap mencukupi menurut pendapat semua ulama, selain Mâlik dan Al-Muzâni, yang mensyaratkan harus ada penggosokan untuk keabsahan mandi. [LIhat Al-Majmû’ 2/202 dan Al-Muhalla 141].

                Dan yang menguatkan pendapat mayoritas ulama diatas adalah hadits ‘Imrân bin Hushain dalam kisah al-Mazadatain, yang pada akhir kisah tersebut disebutkan, “…beliau memberikan bejana berisi air kepada seseorang yang mengalami janabat, lalu beliau bersabda, “Pergilah dan guyurkanlah ia (dengan rata) ke seluruh badanmu.” (Shahih. HR. Al-Bukhâri 344).

 

[13] Berdasarkan pada firman Allah Ta’ala, Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatannya kepadanya dalam menjalankan agama dengan lurus.’  [QS. Al-Bayyinah : 5] Dan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sesungguhnya amal perbuatan itu, tergantung pada niatnya.’ HR. Al-Jamâ’ah.

[14] Dari Aisyah Radhiyallahu Anhu, ‘Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam apabila ingin mandi karena janabat, beliau  memulainya dengan membasuh kedua tangannya, lalu tangan kanannya menuangkan air ke tangan kirinya, kemudian membasuh kemaluannya lalu berwudhu seperti wudhu untuk menunaikan shalat. Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari jarinya ke pangkal rambut, hingga jika beliau melihat hal itu telah cukup ia tuangkan [air] di atas kepalanya dengan tiga kali tuangan, kemudian beliau meratakan air keseluruh tubuhnya dan membasuh kedua kakinya. [ HR. Al-Bukhari (2783) dan  Muslim (316).]

[15] Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyukai mendahulukan yang kanan dalam memakai sandalnya, bersisir, bersuci dan dalam segala urusannya.’ [HR. Al-Bukhari (168), Muslim (268), At-Tirmidzi (608), dan Ahmad (2/202).

[16] Berdasarkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Barangsiapa yang berwudhu dengan sebaik-baik wudhu, kemudian ia mendatangi jum’at, lalu mendengarkan dan diam, maka diampuni baginya, apa-apa (dosa) yang berada diantara jum’at dengan jum’at, berikut tambahan tiga hari.’ [HR. Muslim (857), Abu Dawud (1050), At-Tirmidzi (498) dan  Ibnu Majah (1090). Sedang riwayat yang kedua ‘Barang siapa yang mandi’ pada Muslim (857).]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Barangsiapa yang berwudhu pada hari jum’at maka ia telah cukup melaksanakan sunnah dan itu adalah sebaik-baik sunnah yang ia lakukan dan barangsiapa mandi maka mandi itu lebih utama.’ [HR. Abu Dawud (354), At-Tirmidzi (497) dan An-Nasai (3/94), didalamnya terdapat kelemahan, akan tetapi ia memiliki penguat-penguat yang juga semuanya tidak terlepas dari kelemahan; dengan demikian Al-Albâni menhasannya dengan berbagai kumpulan riwayat tersebut.]

Namun pendapat yang rajih –unggul- bahwa mandi Jum’at itu adalah wajib. Berdasar hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  ‘Apabila salah seorang diantara kalian pergi shalat jum’at maka hendaklah ia mandi.’[ HR. Al-Bukhari (894), Muslim (844), At-Tirmidzi (492).] Dan hadits Abu Sa’îd Al-Khudry Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘ Mandi pada hari Jum’at, wajib atas tiap-tiap orang yang sudah baligh.’ [HR. Al-Bukhari (879), Muslim (846), Abu Dawud (341), An-Nasai (3/92) dan  Ibnu Majah (1089)].

Adapun jawaban untuk dua hadits diatas yang dijadikan sebagai dalil atas tidak wajibnya mandi Jum’at adalah sebagai berikut:

Jawaban untuk hadits pertama: bahwa hadits tersebut tidak menafikkan [meniadakan] mandi.  Al-Hafidz Rahimahullah berkata, ‘Terdapat riwayat lain di dalam Ash-Shahihain dengan lafadz, ‘Mandi’- yaitu sebagai ganti dari  sabdanya, ‘Berwudhu’- maka boleh jadi mempunyai pengertian bahwa penyebutan berwudhu diperuntukkan bagi  orang yang telah mandi sebelum pergi, maka ia perlu mengulangi wudhu.”  [Fathul Bâri (2/262).]

Jawaban untuk hadits kedua: Bahwa tidak terdapat didalam hadits ini satu petunjukpun atas disunnahkannya mandi dan menafikkan kewajibannya, yang ada hanyalah perbandingan keutamaan antara wudhu dan mandi. Maka mandi itu lebih utama karena ia adalah amalan wajib, sedang wudhu itu sendiri adalah batas minimal untuk keabsahan shalat.

[17] Al-Barrâz berkata, “Aku tidak menghafal satu hadits shahih pun tentang mandi pada shalat dua hari raya.”[Talkhisul Habîr 2/81]. Namun tercantum di dalam kitab Al-Muwaththa’ imam Mâlik (1/177) dan Al-Umm oleh Imam Asy-Syafi’I [1/265] dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhu mandi pada hari ‘Idul Fithri sebelum berangkat ketanah lapang.”(Atsar Shahih). Para ulama menetapkan sunnahnya mandi pada hari ‘Ied lantaran atsar ini dan juga menganalogikannya dengan mandi Jumat.

 

[18] Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang memandikan mayat maka hendaklah ia mandi dan barangsiapa yang memikulnya  maka hendaknya ia berwudhu.’ [Sanadnya Hasan. HR. Abu Dawud (3161), At-Tirmidzi (993), Abu Dawud (3161), Ibnu Mâjah (1463), dan di dalam Shahihul Jâmi’ (6402).]

Asy-Syaikh Al-Albâni berkata, ‘Dhahir perintah tersebut  memberi faidah hukum wajib, namun kita tidak menvonis demikian, lantaran terdapat dua hadits [yang memalingkannya dari hukum wajib] yaitu:

Pertama; Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Tidak ada keharusan bagi kalian mandi jika kalian memandikan mayat kalian, karena mayat kalian tidaklah najis, tapi kalian cukup mencuci kedua tangan kalian.’ [Sanadnya Hasan. HR. Al-Hâkim (1/386), Al-Baihaqy (3/398) dan dishahihkan oleh Al-Hâkim dan disepakati oleh Az-Zahaby. Dihasankan oleh Al-Hâfidz  didalam At-Talkhîsh (1/138) dan Al-Albâny dalam ‘Shahihul Jâmi’ (5408).]

Kedua; Perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ‘Kami pernah memandikan mayat, maka di antara kami ada yang mandi dan di antara kami ada yang tidak mandi.” HR. Ad-Darâqutny (2/72) dengan sanad yang shahih dan Al-Baihaqy (1/306). Di shahihkan oleh Al-Albâny dalam ‘Tamâmul Minnah fit Ta’lîq ‘Ala Fiqhis Sunnah’ (hal.121). [Ahkâmul Janâiz (hal.53)

[19] Dari Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menanggalkan pakaian sebelum ihram lalu mandi. [Hasan. HR. At-Tirmidzi (830), Ibnu Khuzaimah (2595), dan Al-Baihaqy (5/32). Dihasankan oleh Al-Albâny dalam  ‘Al-Irwâ’ (149).]

[20] Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia tidak datang ke Makkah kecuali bermalam di Dzu Thuwa, hingga keesokan paginya ia mandi kemudian masuk Makkah pada siang hari. Ia menyatakan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  melakukan hal itu.” [HR. Al-Bukhari (1573) dan Muslim (1259).]

[21] Tayammum secara etimologi adalah menyegaja. Al-Azhary berkata, ‘Tayammum dalam perkataan orang-orang Arab adalah menyengaja.’ Diantaranya firman Allah Ta’ala, ‘Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.’ (QS. Al-Baqarah: 267)

Sedang menurut syara’, tayammum berarti menyegaja ke tanah (debu) untuk mengusap wajah dan kedua tangan dengan niat melakukan shalat dan semisalnya. Demikian yang disebutkan di dalam Al-Fath.

[22] Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Kami pernah keluar bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sebagian perjalanan-perjalanan beliau, sehingga ketika kami di Baidâ` [Dzul Hulaifah dekat dengan kota Madinah], terputuslah kalungku. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  bangkit mencarinya dan orang-orang pun ikut menyertai beliau. Mereka tidak di tempat yang ada air dan mereka juga tidak membawa air. Orang-orang lalu mendatangi Abu Bakar dan berkat, ‘Tidakkah engkau lihat apa yang diperbuat oleh Aisyah?’ Abu Bakar lalu datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang tidur meletakkan kepalanya diatas pahaku. Abu Bakar mengata-ngataiku  dan ia mengatakan apa yang dikehendaki Allah untuk diucapkan olehnya, sehingga ditusuknya rusukku dengan tangannya dan saya terhalang untuk bergerak karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masih tidur di pahaku. Lalu Rasulullah tidur hingga masuk waktu shubuh tanpa ada air. Selanjutnya, Allah Ta’ala menurunkan ayat tayammum. Usaid bin Hudhair berkata, ‘Ini bukanlah berkah yang pertama darimu, wahai keluarga Abu Bakr!’ Aisyah berkata, ‘Ketika unta yang aku kendarai kami suruh berdiri, kami dapati kalung itu berada di bawah unta itu’ [HR. Al-Bukhari (334), Muslim (367) dan An-Nasai (1/163).]

[23] Dalil yang menunjukkan demikian adalah firman Allah, ‘Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al-Mâidah; 6)

Dari Imrân bin Hushain Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat mengimami orang-orang, tiba-tiba ada seorang laki-laki menyendiri tidak ikut shalat bersama kaum, beliau bertanya, ‘Apa yang menghalangimu wahai fulan untuk ikut shalat bersama kaum?’ Ia menjawab,  ‘Saya sedang janabat sedang aku tidak mendapatkan air.’ Nabi menjawab, ‘Gunakanlah tanah (debu), karena sesungguhnya ia cukup bagimu.’ [HR. Al-Bukhari (344), Muslim (682).]

[24] Baik ia dalam keadaan mukim atau musafir [bepergian], berhadats dengan hadats kecil atau hadats besar. Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,  ‘Kita diutamakan dari manusia [ummat] lainnya dengan tiga keutamaan – dan beliau menyebutkan tiga keutamaan tersebut, diantaranya- Telah dijadikan bagi kita bumi sebagai masjid dan dijadikan pula bagi kita debu sebagai sesuatu yang mensucikan jika kita tidak menemukan air.” [HR. Muslim (522), Ahmad (5/383), dan Ibnu Khuzaimah (264).]

[25] Dari Jâbir Radhiyallahu Anhu, ia berkata,  ‘Kami pernah keluar dalam satu perjalanan, lalu salah seorang di antara kami tertimpa batu yang menyebabkan luka pada bagian kepalanya. Kemudian ia mimpi bersetubuh [ihtilâm], lalu ia berkata kepada  sahabat-sahabatnya, ‘Apakah kalian menemukan keringanan bagiku untuk bertayammum?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak menemukan keringanan untukmu, karena engkau masih dapat  menggunakan air.’ Lalu ia mandi, kemudian meninggal. Tatkala kami tiba dihadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, peristiwa itu diberitahukan kepada beliau. Beliau bersabda, ‘Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya kalau mereka tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan itu tidak lain adalah dengan bertanya, sesungguhnya cukup baginya bertayammum.’ [Shahih Li Ghairihi. HR. Abu Dawud (336), dalam sanadnya terdapat kelemahan, namun ia memiliki syâhid dari hadits Ibnu Abbas yang mana ia menjadi kuat dengannya, diriwayatkan oleh Abu Dawud (337) dan Ibnu Majah (572).]

[26] Adapun pendapat yang mengatakan bahwa usapan tangan itu sampai kesiku dengan berdalil, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tayammum itu dua tebahan; satu tebahan untuk wajah dan satu tebahan lagi untuk kedua tangan hingga kedua siku.” Maka pendapat ini adalah lemah! Lantaran hadits Ibnu ‘Umar tersebut adalah dha’if. Abu Zur’ah berkata, “Hadits batil!” Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada satupun hadits shahih tentang tebahan (tepukan) dua kali.” Asy-Syaikh Albani berkata, “Tentang tepukan dua kali hadits-haditsnya wahin dan ma’lul.” Al-Hafizh berkata, “Hadits tersebut adalah marfu’ dhaif, pada sanadnya terdapat ‘Ali bin Dhibyân, ia banyak dikecam oleh para imam..”

 

[27] Adapun pendapat yang mengatakan dua tebahan (tepukan) ke tanah adalah lemah lantaran lemahnya hadits yang mereka jadikan sebagai sandaran (lihat hadits Ibnu ‘Umar diatas). Dalil untuk pengusapan tangan hanya sebatas pada pergelangan dan tebahan (tepukan) itu hanya satu kali tercantum pada catatan kaki nomor 91 dibawah ini.

[28] Dari Ammâr bin Yâsir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Saya pernah berjunub, lalu tidak mendapatkan air, kemudian saya berguling-guling di tanah dan bershalat, lalu saya ceritakan kejadian itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Sebenarnya cukup bagimu seperti ini.’ Seraya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menebahkan kedua telapak tangannya ke tanah lalu meniup keduanya, kemudian mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya.’ [HR.Al-Bukhari (338), Muslim (368), Abu Dawud (326), An-Nasai (1/170), dan Ibnu Majah (569).]

[29] Berdasarkan pada firman Allah Ta’ala, Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatannya kepadanya dalam menjalankan agama dengan lurus.’  [QS. Al-Bayyinah : 5] Dan dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Sesungguhnya amal perbuatan itu, tergantung pada niatnya.’ HR. Al-Jamâ’ah.

[30] Lantaran posisinya sebagai pengganti wudhu (lihat catatan kaki nomor 41).

[31] Lantaran posisi tayammum menggantikan posisi wudhu. Jadi apa saja yang membatalkan wudhu maka hal itu juga membatalkan tayammum di tambah dengan keberadaan air bagi orang yang tadinya tidak mendapatkannya, atau mampu mempergunakannya bagi orang yang tadinya tidak kuasa mempergunakan air. Dari Abu Dzar Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tanah (debu) yang bersih itu adalah wudhu bagi orang muslim, sekalipun ia tidak mendapatkan air selama sepuluh tahun, kemudian apabila ia mendapatkan air, maka hendaklah ia takut pada Allah dan hendaklah ia usapkan air itu kepada kulitnya.’ [Shahih. HR.Abu Dawud (333), At-Tirmidzi (124) , An-Nasai (1/171) dan Ahmad (5/155).]

[32] Secara etimologi haid berarti mengalir. Sedang secara terminologi haid adalah darah yang dilepaskan oleh rahim wanita ketika ia telah mencapai akil baligh pada waktu-waktu tertentu. [Lihat Al-Majmû’ (2/342)]

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimîn Rahimahullah berkata, ‘Haid adalah darah yang alami (normal), bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, keguguran atau kelahiran. Oleh karena ia darah alami, maka darah tersebut berbeda sesuai kondisi, lingkungan dan iklimnya, sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada setiap wanita. [Ad-Dimâ` Ath-Thabi’iyyah Lin Nisa, halaman 5]

 

[33] Benar demikian adanya lantaran tidak ada dalil yang menetapkan masa maksimal maupun minimalnya. Ibnu Mundzier Rahimahullab berkata, ‘Segolongan [ulama] berkata, ‘Masa haid itu tidak mempunyai batasan berapa hari minimal atau maksimalnya.’ Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, ‘Diantara sebutan yang dikaitkan oleh Allah dengan berbagai hukum dalam al-Kitab dan As-Sunnah, yaitu sebutan haid. Allah tidak menentukan batas minimal dan maksimalnya, dan tidak juga masa suci antara dua haid, padahal urusan ini merata ditengah ummat dan butuhnya mereka pada penjelasan tentang itu.’ Bahasa pun tidak membedakan antara satu batasan dengan batasan lainnya. Maka barangsiapa yang menentukan suatu dalam masalah ini berarti ia telah menyalahi Al-Kitab dan As-Sunnah.”

[34] Kebanyakan fuqahâ` membatasi masa suci antara dua masa haid, berikut perbedaan mereka dalam menentukan masa tersebut. Dan yang benar, bahwa haid itu tidak memiliki masa suci antara dua haid, tidak ada batas minimal dan maksimalnya, lantaran tidak ada satu pun dalil yang menyebutkan hal itu. (Rujuk kembali perkataan Ibnu Taimiyah yang lalu).

[35] Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Fatimah binti Abu Hubaisy Radhiyallahu Anha bertanya,  ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya terus menerus mengeluarkan darah setelah masa haid [istihâdhah] sehingga saya tidak bisa suci.  Apakah saya boleh meninggalkan shalat?’ Nabi menjawab, ‘Tidak, sesungguhnya itu adalah irq [urat nadi yang memanas]. Namun tinggalkanlah shalat sebanyak hari yang biasanya kamu haid sebelum itu, kemudian mandilah dan lakukan shalat.’ [HR. Al-Bukhari (228), Muslim (333), Abu Dawud (298), An-Nasai (1/181) dan Ibnu Majah (624).]`

[36] Yang tidak memiliki kebiasaan haid yang tetap.

[37] Qarinah-qarinah (indikasi-indikasi) yang terambil dari sifat darah. Dimana darah haid berbeda dengan darah istihadhah (darah penyakit).

[38]Berdasarkan pada hadits Fâthimah binti Abi Hubaisy, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya, ‘Jika itu adalah darah haid, sesungguhnya darah haid itu adalah darah berwarna hitam yang diketahui. Jika demikian maka tinggalkan shalat. Tetapi jika selainnya maka berwudhulah dan lakukan shalat karena itu adalah ‘irq [urat nadi yang memanas].’ [Hasan. HR. Abu Dawud (286), An-Nasai (1/123), Al- Hakim (1/174), Al-Baihaqi (1/325), Al-Hakim menshahihkannya berdasarkan atas kriteria Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan dihasankan oleh Al-Albani dalam ‘Shahihul Jâmi’ (765).]

[Faidah]

Darah haid dapat dibedakan dari darah istihadhah dengan empat tanda:

Pertama: Warna: Darah haid berwarna hitam sedang istihadhah berwarna merah.

Kedua:   Ketebalan: Darah haid tebal [pekat], sedang istihadhah tipis [halus].

Ketiga: Bau: Darah haid berbau busuk sedang darah istihadhah  tidak berbau busuk.

Keempat: Kebekuan: Darah haid tidak beku [kental], sedang istihadhah beku.

[39] Istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita secara terus menerus tanpa henti sama sekali, atau berhenti darinya dalam satu masa yang singkat.

[40] Selain darah haid.

[41] Wanita mustahadhah.

 

[42] Berdasrkan hadits ‘Aisyah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Cucilah darah (istihadhah) itu darimu dan shalatlah.” [Al-Bukhâri 306]

 

[43] Berdasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Fathimah bintu Hubaisy, ‘Dan berwudhulah kamu setiap kali hendak shalat.’ Dan dalam satu riwayat, ‘Dan berwudhulah sewaktu tiap kali hendak shalat.’ [HR. Al-Bukhâri 226].

 

[44] Berdasarkan pada hadits bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha ditanya, mengapa perempuan yang haid itu mengqadha` puasa dan tidak mengqadha` shalat?’ Ia berkata, ‘Begitulah yang pernah kami alami pada masa Rasulullah Shalllahu Alaihi wa Sallam, yaitu kami diperintahkan mengqadha` puasa dan tidak diperintahkan mengqadha` shalat.’ [HR. Al-Bukhari (321), Muslim (335), Abu Dawud (262), At-Tirmidzi (130) dan Ibnu Majah (631).]

[45] Berdasarkan pada firman Allah Ta’ala, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu adalah satu kotoran.’ [QS. Al-Baqarah 222]. Tatkala ayat ini turun, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Lakukan apa saja, kecuali nikah [bersetubuh].’ [HR. Muslim (302), Abu Dawud (258), At-Tirmidzi (2977) dan  Ibnu Najah (644).]

Apabila si istri suci dari haidnya, maka si suami tidak diperbolehkan menyetubuhinya hingga sang istri mandi terlebih dahulu. Karena Allah Ta’ala  berfirman, ‘Dan janganlah kalian mendekati mereka hingga  mereka suci.’[QS. Al-Baqarah 222] Yaitu suci dari darah. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, ‘Apabila mereka telah suci.Yaitu ia telah mandi Maka datangilah mereka dari arah yang Allah perintahkan kepadamu.’ Yaitu jima.

[46] Berdasarkan hadits ‘Aisyah yang lalu (Lihat catatan kaki nomor 107).

[47] Nifas adalah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya dua atau tiga hari yang disertai dengan rasa sakit. [Lihat Ad-Dimâ` Ath-Thabi’iyyati Lin Nisâ` (halaman 38).]

Menurut As-Syafi’iyyah, nifas itu tidak terjadi kecuali jika berbarengan dengan kelahiran atau setelahnya adapun sebelum kelahiran sekalipun disertai dengan rasa sakit maka tidak teranggap sebagai nifas. Dan inilah pendapat yang unggul. Wallahu A’lam.

[48] Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Adalah wanita-wanita nifas dimasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, duduk (tidak puasa dan shalat) selama empat puluh hari.’[48] At-Tirmidzi berkata, ‘Ahli ilmu dari para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan genarasi setelahnya sepakat bahwa wanita nifas itu harus meninggalkan shalat selama empat puluh hari, kecuali jika dirinya telah suci sebelum 40 hari maka hendaklah ia mandi dan shalat.’ [Hasan Shahih. HR. Abu Dawud (311), At-Tirmidzi (139), Ibnu Majah (648), dan dihasankan oleh Al-Albani dalam ‘Al-Irwâ` (201).]

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, ‘Nifas tidak ada batas minimal maupun maksimalnya. Andaikata ada seorang wanita mendapati darah lebih dari 40, 60, atau 70 hari dan berhenti, maka itu adalah nifas. Namun jika berlanjut  terus maka itu adalah darah kotor, dan bila demikian yang terjadi maka batasnya 40 hari, karena hal itu merupakan batas umum sebagaimana dinyatakan oleh banyak hadits.’

Yang lebih utama adalah membatasi batas maksimal masa haid hingga 40 hari, disamping banyaknya hadits yang menyatakan hal itu, juga karena para dokter menetapkan dan menguatkan batasan ini. Dimana mereka berpandangan bahwa masa nifas tidak mungkin lewat dari 40 hari. [Lihat kitab ‘Ahkamul Haid wan Nifas’ oleh Abu Umar Ad-Dibyân.]

[49]Lantaran tidak ada satu dalil pun yang mengatakan demikian. Dengan demikian, kapan saja si wanita nifas mendapatkan dirinya telah suci maka hendaklah ia mandi. Yang teranggap pada nifas adalah keberadaan darah.

[50] Yaitu haram berjima’, Shalat, dan Puasa (lihat catatan kaki nomor 68).

Diterjemahkan dan disyarah secara ringkas oleh

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.


Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: