//
you're reading...
Aqidah

Hakikat Muhammadiyah


Soal: Apakah makna ‘hakikat Muhammadiyah’ dalam istilah orang-orang Shufi? Dan bagaimana Ahlus Sunnah memahami ‘hakikat Muhammadiyah’ itu?

 

Jawab: Kata orang-orang sufi, ‘Sesungguhnya Allah ketika Ia hendak membagi Dzat-Nya ke dalam bentuk makhluk, hal yang pertama kali Ia lakukan adalah menggenggam cahaya wajah-Nya, lalu berkata kepada cahaya itu, ‘Jadilah engkau Muhammad!’ Genggaman cahaya ini oleh para ahli sufi, mereka sebut dengan ‘Dzat Muhammadiyah’. Kemudian dari dzat Muhammadiyah itu terciptalah langit dan bumi, dunia dan akhirat, dan inilah yang disebut-sebut sebagai ‘hakikat Muhammadiyah’. [Lihat Kasfy an-Hakikat as-Sufiyah hal. 23].

Hakikat Muhammadiyah adalah salah satu bentuk ke-ghuluw-an (sifat terlalu berlebihan dan melampaui batas dari kadar yang semestinya) dari sekian banyak keghuluwan yang dilakukan oleh orang-orang sufi. Padahal perilaku ghuluw adalah tercela dan terlarang. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ فَقُوْلُوْا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Janganlah kalian berlebihan memuji-Ku, sebagaimana orang-orang Nashrani memuji Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya. Maka katakanlah, ‘Hamba Allah dan utusan-Nya.’ [HR. al-Bukhari 3445].

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

 ‘Maka kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Tuhan itu adalah al-Masih Ibnu Maryam.[QS. al-Mâidah: 17]

Dan dari istilah hakikat Muhammadiyah inilah berkembang bid’ah-bid’ah dan pemahaman yang salah terhadap Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Salah satu buktinya adalah perkataan al-Jaili (salah seorang tokoh sufi) ketika menggambarkan Hakikat Muhammadiyah sebagai asal alam, malaikat dan semua manusia. Maqalah-nya mengatakan, ‘Akal yang pertama kali adalah diperuntukkan kepada Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah menciptakan Jibril – ‘Alaihis salam – darinya sejak zaman azali. Maka, Muhamamd adalah bapaknya Jibril dan moyang semua yang berada di alam.’ [Lihat Kasfy an-Hakikat as-Sufiyah hal. 25].

 

Makhluk yang Pertama Kali Dicipta

Syi’ah dan beberapa kelompok kebathinan yang sesat, yang kemudian diikuti oleh kaum sufi dengan berbagai alirannya beranggapan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang pertama kali diciptakan, dan semua makhluk diciptakan dari cahaya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Jelas, ini adalah pendapat bathil dan rusak! Mereka tidak mempunyai dalil yang kuat untuk menguatkan pemahaman tersebut kecuali nafsu dan kebodohan saja.

Ulama berbeda pendapat (dalam dua pendapat, tidak lebih) tentang makhluk yang pertama kali dicipta. Sebagian berpendapat bahwa yang pertama dicipta adalah al-Qalam (pena) dan sebagian berpendapat al-‘Arsy. Yang benar, bahwa makhluk yang pertama dicipta adalah al-‘Arsy (demikian yang diunggulkan oleh Abul ‘Izz di dalam Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hal. 345 dan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di dalam Majmu’ Fatawanya 1/62). ‘Arsy itu sendiri adalah singgasana yang memiliki beberapa tiang yang dipikul oleh para malaikat. Ia menyerupai kubah bagi alam semesta dan di atasnyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

 ‘Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.’ [QS. Hud : 7].

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ. وقال: وكان عَرشُهُ عَلىَ المَاءِ

 ‘Allah telah menuliskan takdir para makhluk-Nya, lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Beliau bersabda, ‘Dan Arsy-Nya berada di atas air.’ [HR. Muslim 2653].

Dua dalil di atas menunjukkan bahwa ‘Arsy tercipta sebelum langit dan bumi bahkan tercipta sebelum adanya takdir. Dan takdir sendiri ada ketika Qalam pertama kali dicipta.

Keengganan Iblis untuk bersujud kepada Adam lantaran Adam tercipta dari tanah sedang ia sendiri tercipta dari api, adalah bukti lain atas bathilnya (rusaknya) pendapat orang-orang sufi itu. Seandainya alam ini diciptakan dari Nur (cahaya) Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan semua makhluk mengetahuinya, mengapa iblis tidak sujud kepada sosok yang diciptakan Allah dari Cahaya-Nya? Mengapa iblis beralasan tidak mau sujud kepada Adam karena Adam berasal dari tanah dan iblis dari api? Bisa saja iblis berkata, ‘Lebih baik aku bersujud pada cahaya Nabi bukan pada tanah Adam!!’

 

Hakikat Muhammadiyah Menurut Salafush Shalih

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk berdakwah dan menyeru kepada kaumnya dengan sifat kemanusiaannya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kami itu adalah Tuhan Yang Esa.[QS. Al-Kahfi: 110]

Maka, hakikat Muhammadiyah seharusnya mempunyai dua sisi. Sisi sebagai manusia sebagaimana manusia yang lain, dan sisi yang membedakan dengan manusia pada umumnya, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, ‘diwahyukan kepadaku.’ Kedua sisi ini tidak boleh disalahpahami. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian berlebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nashrani memuji Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya. Maka, katakanlah, “Hamba Allah dan utusan-Nya.” [HR. Bukhari 3445].

Bagi mereka yang hanya melihat dari sisi kemanusiaan, akan terjerumus pada sikap tafrith (yang melampaui batas) dan taqsir (mengurangi), sehingga terkadang meremehkan kaidah-kaidah yang apabila dilanggar akan mengeluarkan pelakunya dari Islam. Di lain pihak, mereka yang terlalu ghuluw (berlebih-lebihan) pada sisi ‘diwahyukan kepadaku’ akan terjerumus pada sifat yang menyamakan kedudukan beliau dengan sifat keuluhiyaan Allah. Hal ini akan lebih parah, maka demikianlah hakikat Muhammadiyah yang sebenarnya. [Majalah Tauhid vol. 5/1419H].

 

 

Al-Faqîr Abu Halbas Muhammad Ayyub

Bumi Mangli Permai, Jember 1433 H.


Diskusi

One thought on “Hakikat Muhammadiyah

  1. ALLOH SATU KEKAL tiada duanya.
    ALLOH tidak berbilang atau tidak terbagi bagi.
    ALLOH BISA MENCIPTAKAN ikan, sedangkan
    manusia takkan bisa menciptakan ikan

    Posted by kucur.imoet@gmail.com | Maret 22, 2014, 9:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: