//
you're reading...
Uncategorized

Menertawai Kentut


Soal: Apa hukum menertawai kentut, sebagaimana lazimnya yang terjadi ditengah masyarakat?

 

Jawab:  Biasanya, tertawa itu dilakukan karena ada suatu hal yang aneh dan menakjubkan. Adapun menertawai sesuatu yang sudah biasa terjadi pada setiap orang (termasuk yang menertawai), maka hal itu tidak sepatutnya dilakukan. Urusan buang angin ‘kentut’ misalnya, ia adalah bagian yang hampir tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Maka, menertawainya ia saat ia terdengar adalah hal yang bertolak belakang dengan tabiat manusia itu sendiri.

Dengannya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menegur para shahabat yang tertawa ketika terdengar suara kentut di tengah-tengah majelis mereka. Dari Abdullah bin Zam’ah Radhiyallahu ‘amhu, bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah (dan di antara isi khutbahnya tersebut adalah), ‘…salah seorang di antara kalian ada yang sengaja memarahi isterinya sampai memukulnya seperti memukul budaknya. Bisa jadi di malam harinya dia menyetubuhinya.’ Kemudian Nabi menasehati para shahabat tentang tertawa mereka karena ada kentut, maka beliau bersabda, ‘Mengapa salah seorang di antara kalian menertawakan sesuatu yang dia sendiri melakukannya?’ [HR. al-Bukhari 4942 dan Muslim 2855].

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, ‘Hadits ini adalah merupakan isyarat bahwa manusia itu tidak sepatutnya mencela orang lain lantaran suatu hal yang mana ia sendiri melakukannya. Jika andai saja tidak mencela diri sendiri di saat melakukannya, lalu bagaimana bisa Anda mencela orang lain lantaran hal itu?’ [Syarh Riyadhush Shalihin 2/121].

Menertawai kentut menyebabkan ‘pemiliknya’ merasa malu apalagi jika ditambah dengan kata makian dan sumpah serapah kepadanya. Padahal di dalam agama yang hanif ini kehormatan seseorang amat dijunjung tinggi dan dilarang merusaknya.

 

Larangan Tegas

Sebagian orang menyangka bahwa teguran Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di atas kepada shahabatnya yang menertawai kentut hanyalah bersifat etika semata, tidak bersifat melarang. Namun, kami katakan bahwa terdapat dalil yang tegas yang melarang menertawai kentut. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarang tertawa lantaran kentut.’ [Shahih. HR. Ahmad 4/17. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ 6896].

Allamah al-Munawi menjelaskan, ‘Maksudnya adalah Nabi melarang mereka tertawai apabila mendengar suara kentut.’ [Faidhul Qadir 6/419].

 

Etika Kentut

Sekalipun tidak dibenarkan menertawai suara kentut yang terdengar, tetapi tidak bermakna seseorang diperbolehkan kentut smaunya di hadapan banyak orang sekalipun itu di hadapan kerabat, famili, dan shahabat-shahabatnya. Begitu juga tidak boleh dilakukan seenaknya di depan isteri – atau sebaliknya – yang ia tidak menyukai atau merasa jijik dengan hal itu. Karena perbuatan itu adalah tindakan yang menyalahi kesopanan, bukan perbuatan orang baik dan bukan juga suri tauladan yang baik.

 

Kesimpulan

Tidak diperbolehkan menertawai kentut apalagi sambil mencela dan memaki ‘pelakunya’. Wallahu A’lam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Bumi Mangli Permai, Jember 1433 H.

Diskusi

One thought on “Menertawai Kentut

  1. Salah kaprah..

    Posted by Abdul hakim | Januari 29, 2013, 3:12 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: