//
you're reading...
Akhlak, Hadits

Amalan Yang Berkekalan


Sesungguhnya kehidupan ini tiada lain hanyalah nafas, seandainya nafas ditahan, maka niscaya berhentilah aktivitas dan berhentilah amal perbuatan. Itu artinya, bahwa kematian benar-benar dekat dengan kita. Oleh itu, perhatikanlah keadaan diri, gunakanlah waktu sebaik-baiknya, perbanyak bekal amal, karena dunia ini adalah tempat persinggahan dan sesungguhnya persinggahan ini sebentar, keberangkatan sudah dekat, perjalanan sangat menakutkan, penuh dengan jebakan yang memperdayakan dan bahaya yang besar, sedang Pengawas Maha Melihat.

Mengingat-ingat kematian, bukan karena kematian merupakan perpisahan dengan keluarga, orang-orang yang dicintai dan bukan pula karena berpisah dari dunia. Akan tetapi, karena kematian merupakan perpisahan dengan kesempatan beramal dan ladang untuk akhirat.

Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata, ‘Betapa aneh orang mati tanpa mempersiapkan amal. Betapa aneh musafir bepergian tanpa menyiapkan bekal. Betapa aneh orang memasuki kubur tanpa pernah bersiap-siap untuk itu. Betapa aneh orang yang menganggap remeh segala urusan dan tidak pernah menggunakan akal. Saudaraku, abad demi abad berlalu dan berbagai hambatan perjalanan kian jelas merintang, setiap orang menuju kubur meski tanpa sadar, tetapi tidak setiap orang namanya terus hidup. Sampai kapankah kau menunda-nunda dan lalai? Bebanmu begitu sarat, jalan ini begitu berat, dan nasibmu akan kau ketahui saat sekarat.’ [Sirah Umar bin Abdul Aziz hal. 625].

Amalan yang Tidak Pernah Putus

Hanya amallah yang akan menemani kita di dalam kubur nanti. Sedang yang hidup, keluarga, dan kerabat yang mengiringi ke pemakaman, akan meninggalkan kita di dalam tanah yang ditinggikan lagi memberati, menjauhi dan meninggalkan kita seorang diri tanpa teman, mereka berpamitan lalu berpaling dari kita dan membiarkan kita seakan-akan mereka tidak mengenal kita sebelumnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Tigal hal yang mengantar mayat ke kuburan, dua kembali dan satu tetap tinggal. Yaitu keluarga, harta, dan amal seseorang. Keluarga dan hartanya akan kembali sedangkan amalnya tetap bersamanya.’ [HR. al-Bukhari 6514 dan Muslim 296].

Di antara amal-amal yang diperbuat oleh manusia di kala hidupnya ada yang pahalanya terhenti seiring dengan terhentinya nafas pemiliknya (mati) dan ada pula amalan yang terus mengalir pahalanya sekalipun pemiliknya telah tertimbun oleh tanah. Dan di antara amal-amal tersebut adalah:

1)     Shadaqah Jariyah

Shadaqah jariyah dalam madzhab Imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad) adalah pemberian yang dimaksudkan untuk mendapatkan pahala dari Allah. Ada yang berpendapat; Adalah harta yang dihibahkan lantaran menginginkan pahala. Dan ada pula yang berpendapat; Shadaqah jariyah adalah waqaf, sedang waqaf itu adalah menahan dzat benda dan membiarkan nilai manfaatnya demi mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.

Dari definisi-definisi di atas, maka jelaslah bahwa shadaqah jariyah itu satu bentuk pendekatan (qurbah) yang dilakukan oleh manusia  untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, dan agar orang-orang dapat mengambil manfaat dari pemberiannya itu hingga waktu yang tidak tertentu, yang mana pahalanya terus mengalir sepanjang keberadaan barang yang diwaqafkan itu masih ada. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ

Jika anak Adam meninggal dunia, maka amalnya putus kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.’ [HR. Muslim 1631].

Di antara contoh-contoh shadaqah jariyah yang pernah terjadi di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah mewaqafkan sebidang tanah miliknya yang ada di Khaibar dan Thalhah Radhiyallahu ‘anhu pernah menyedekahkan kebun kurmanya ketika turun firman Allah surat Ali Imran ayat 92.

2)     Ilmu yang Bermanfaat

Yang dimaksud adalah ilmu yang memberikan manfaat ukhrawy semisal ilmu tauhid, ilmu aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, ilmu tafsir, ilmu hadits, dan fiqih. Tercakup di dalamnya orang mengajarkan ilmu, membuat karya tulis yang bermanfaat, mencetak buku, menyebarkannya, dan mewaqafkan kitab. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Di antara amalan dan kebaikan yang masih didapatkan oleh seorang mukmin setelah matinya adalah ilmu yang ia ajarkan dan yang ia sebarkan …’ [Hasan. HR. Ibnu Majah 242. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ 2231].

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa saja yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti yang didapat oleh orang yang mengikutinya tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Juga siapa saja yang menyeru kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, dan hal itu tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.’ [HR. Muslim 2674].

 

3)     Anak Shalih yang Mendoakan Orang Tuanya

Anak merupakan hasil dari usaha orang tua. Apa yang diperbuat oleh sang anak dari amalan-amalan shalih, maka sang ayah juga mendapatkan pahala yang serupa dari amalan tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala sang anak. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya makanan yang paling baik yang kalian makan adalah makanan dari hasil usaha kalian sendiri dan sesungguhnya anak-anak kalian adalah bagian dari usaha kalian.’ [Shahih. HR. at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ 1566].

Sekedar shalihnya anak-anak sudah menjadi timbangan kebaikan bagi orang tuanya, baik anak itu mendoakan orang tuanya atau tidak. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Di antara amalan dan kebaikan yang masih didapatkan oleh seorang mukmin setelah matinya adalah ilmu yang ia ajarkan dan yang ia sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan …’ [Lihat takhrij hadits di atas].

Dikhususkannya penyebutan ‘anak yang shalih’ seperti yang termaktub di dalam naskah hadits lantaran anak shalih berbeda dengan anak-anak yang tidak shalih dalam hal kedekatannya kepada Allah. Anak shalih akan selalu menjalin hubungannya dengan Allah dan tidak melupakan orang tuanya dengan doa di kala keduanya telah mati.

4)     Ribath fi Sabilillah (Menjaga Wilayah Perbatasan Kaum Muslimin dari Agresi Orang-orang Kafir)

Dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ribath sehari semalam adalah lebihbaik dari berpuasa dan qiyamnya sebulan. Apabila ia mati dalam ribath, maka pahala amalnya tetap mengalir kepadanya, begitu pula rezekinya dan dia aman dari fitnah.’ [HR. Muslim].

5)     Menggali Kubur untuk Saudaranya Semuslim

Dari Abu Rafi’ Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, ‘Barangsiapa yang memandikan mayit, lalu ia menutupi aibnya, maka dia diampuni sebanayk 40 kali. Barangsiapa mengkafanni mayit, maka Allah akan memakaikannya tenunan sutera tipis dan sutera tebal Syurga. Dan barangsiapa yang menggalikan kubur bagi mayit, lalu ia menutupinya, maka Allah akan berikan ganjaran kepadanya sebuah rumah yang akan ditinggalinya hingga hari Kiamat.’ [Shahih. HR. al-Hakim 1/354. Beliau menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hal. 51].

6)     Hasil Tanaman yang Dimakan oleh Manusia, Burung, dan Hewan-hewan lainnya

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Pada suatu hari ketika Rasulullah masuk ke kebun Ummu Mubasysyir al-Anshari, beliau bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menanam pohon kurma ini, orang Islam atau kafir?’ Ummu Mubasysyir menjawab, ‘Orang Islam!’ Beliau bersabda, ‘Tidak ada seorang muslimpun yang bercocok tanam atau bertani, kemudian hasil tanamannya itu dimakan orang atau binatang, niscaya semua itu menjadi sedekah baginya.’ [HR. Muslim].

Dan dalam satu riwayat, ‘Tidak ada seorang muslimpun yang bercocok tanam, melainkan setiap tanamannya yang dimakan atau dicuri orang, atau dimakan oleh binatang liar, atau dimakan burung, atau hilang, niscaya semuanya itu menjadi sedekah baginya.’ [HR. Muslim].

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata, ‘Dalam hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan bercocok tanam atau bertani. Dan pahala pelakunya akan terus berlanjut hingga hari Kiamat selama tanaman itu ada.’

7)     Pelopor dalam Kebaikan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa membuat suatu hal yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sepeninggalnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat suatu hal yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sepeninggalnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.’ [HR. Muslim 1017].

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak ada satu jiwapun terbunuh dengan penganiayaan melaikan putera Adam yang pertama mendapatkan bagian dosa dari penumpahan darah itu. Sebab, ia adalah orang yang pertama kali melakukan pembunuhan.’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Demikianlah beberapa amal yang kita harapkan pahalanya terus-menerus mengalir hingga kita meninggal dunia. Jadilah orang yang benar, yang tahu jalan menuju Allah lalu menempuhnya dan jangan menjadi orang tertipu, yang sudah tahu jalan namun tidak menempuhnya. Wallahu A’lam.

Al-Faqîr Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: