//
you're reading...
Aqidah

Pantangan Saat di Kuburan


Soal: Pantangan-pantangan apa saja yang harus dihindari  saat menziarahi kubur?

 

Jawab: Ketahuilah wahai para penziarah kubur, bahwa sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pada ahli kubur selama dua puluh tahun hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya, begitu juga yang dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin dan para shahabat lainnya adalah menziarahi kubur dengan tujuan untuk mengingat mati, mengingat akhirat, untuk memberikan salam kepada ahli kubur dan mendo’akan mereka atau memohonkan ampun untuk mereka.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Bahwa pada suatu malam (pada malam giliran ‘Aisyah), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pergi ke kuburan Baqi’ di akhir malam seraya berucap, ‘Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada kalian semua, wahai penghuni kuburan orang-orang mukmin. Akan datang kepada kalian apa yang sudah dijanjikan kepada kalian besok dengan segera. Dan sesungguhnya, insya Allah, kami akan menyusul kalian. Ya Allah, berikanlah ampunan kepada para penghuni kuburan Baqi’ al-Gharqad.’ [Shahih. HR. Muslim 497].

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur, kini ziarahlah kubur karena ziarah kubur dapat melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingatkan negeri Akhirat, dan janganlah kalian mengucapkan kata-kata kotor (di dalamnya).’ [Hasan. HR. al-Hakim 1/376. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Ahkamul Janaizz wa Bida’uha hal. 227-229].

 

Realita Masa Kini

Realita para penziarah kubur masa kini, amat tertolak belakang dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya di atas. Jika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya datang ke kubur untuk berdo’a dan memohonkan ampunan untuk ahlinya, maka kebanyakan dari para penziarah kubur justru memohon, meminta hajat, meminta berkah, dan bentuk-bentuk lainnya yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

 

Pantangan-pantangan Saat di Kuburan

Ada banyak pelanggaran atau penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian penziarah kubur di saat mereka berziarah kubur. Di antaranya:

 

1)       Sengaja mengadakan safar/perjalanan (dengan tujuan ibadah) ke kubur-kubur tertentu, seperti kuburan wali, kyai, habib, dan lainnya dengan niat mencari keramat dan barokah serta mengadakan ibadah di sana. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak boleh mengadakan safar/perjalanan (dengan tujuan beribadah) kecuali ketiga masjid, yaitu; Masjidil Haram, Masjidku ini (Nabawi), serta Masjid al-Aqsha.’ [HR. al-Bukhari 1197 dan Muslim 1397].

 

2)       Melakukan shalat di atas atau menghadap kubur (makam), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jangan kamu shalat menghadap kubur dan jangan duduk di atasnya.’ [HR. Muslim 972].

 

3)       Tabarruk (mencari berkah) pada orang shalih yang ada di dalam kubur. Ketahuilah, bahwa berkah itu berasal dari Allah. Menetapkan bahwa seseorang atau sesuatu makhluk atau benda tertentu mempunyai berkah harus berdasarkan dengan dalil. Sedang bertabarruk pada orang shalih yang berada di dalam kuburnya adalah bid’ah yang tidak ada dalilnya. Jika seandainya meminta berkah di makam adalah sesuatu yang disunnahkan, mubah, atau memiliki keutamaan yang besar, maka niscaya hal ini akan disunnahkan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum. Begitu juga dengan para tabi’in, meskipun di masa mereka dikelilingi oleh makam para shahabat di berbagai kota Islam, namun tidak ada seorangpun di antara mereka yang memohon di kuburan para shahabat tersebut, tidak pula shalat di atasnya, dan tidak pula mencari berkah darinya.

 

4)       Memohon (berdo’a) dan meminta pada jenazah di kuburan sebagaimana layaknya ia meminta kepada Allah, atau meyakini bahwa jenazah tersebut dapat menolak bala, melapangkan kesempitan atau kesusahan hidup dan dapat memenuhi hajat kebutuhan. Semua perbuatan ini adalah syirik akbar (syirik terbesar) dan mengeluarkan seseorang dari Islam bila sudah terpenuhi syaratnya dan tidak ada penghalangnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’a)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka?’ [QS. al-Ahqaf : 5]. San’ullah al-Hanafi Rahimahullah berkata, ‘Telah tampak di antara kaum muslimin sekelompok orang yang mengklaim bahwa para wali dapat memberikan pengaruh baik ketika hidup dan setelah mati, dan mereka dimintai pertolongan ketika terjadi malapetaka. Mereka datangi kuburan para wali tersebut. Perkataan semacam ini mengandung kehancuran yang abadi dan adzab yang berkepanjangan, karena jelas sekali di dalamnya terdapat unsur syirik yang sangat nyata. Merupakan bentuk penentangan terhadap Kitabullah dan ucapan para imam yang emndapat petunjuk serta apa yang telah disepakati oleh ummat ini.’ [Fathul Majid hal. 168].

 

5)       Menyembelih ataupun bernazar bagi jenazah yang ada di kuburan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah melaknat orang yang menyembelih bukan karena Allah.’ [HR. Muslim]. Sedang bernazar untuk kuburan, semisal bernazar untuk memasang lampu di atas kuburan (karena mengagungkan kubur itu) maka ini merupakan kemaksiatan yang tidak boleh dipenuhi. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang bernazar untuk ketaatan kepada Allah, maka hendaklah ia melaksanakannya, dan barangsiapa bernazar untuk kemaksiatan kepada Allah, maka janganlah ia melakukan kemaksiatan itu.’ [HR. al-Bukhari 6696].

 

6)       Thawaf (mengelilingi) makam, menciumnya, dan mengusap-usapnya. Pola seperti ini, jelas-jelas menyalahi agama dan syari’at Allah serta membuat suatu ajaran agama yang tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya!

 

7)       Berdiri dan duduk di atas makam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janagn kamu shalat menghadap kubur dan janagn duduk di atasnya.’ [HR. Muslim 972].

 

Nasehat Penutup

Wahai para penziarah kubur, jika kalian memang hamba Allah, maka ikutilah pendahulu-pendahulumu yang shalih (para shahabat dan tabi’in), dan wujudkanlah tauhid yang murni dengan nyata. Jangan menyembah selain Allah, dan janganlah menyekutukan seseorang dengan Tuhanmu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, ‘… Oleh karenanya, maka sembahlah Aku saja.’ [QS.al-Ankabut : 56]. Maka janganlah menyembah selain pada-Nya, dan jangan meminta pertolongan kecuali pada-Nya, karena sesungguhnya tidak ada dzat yang mampu mencegah pemberian atau memberi, memberi bahaya ataupun manfaat kecuali hanya Allah Ta’ala. Tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Dia, kepadanya kita bertawakkal dan kepada-Nya pula kita menyembah.

 

 

Al-Faqîr Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: