//
you're reading...
Aqidah

Ucap Lâ Ilâha Illallâh Pasti Masuk Syurga


Soal: Benarkah hanya sekedar mengucapkan Lâ Ilâha Illallâh  pasti masuk Syurga?

 

Jawab: Setiap ibadah yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak akan diterima kecuali jika syarat-syaratnya terpenuhi. Shalat misalnya tidak akan diterima kecuali dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Demikian pula dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah tidak akan diterima, kecuali jika memenuhi syarat-syarat sebagaimana yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sekedar mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah belum cukup untuk memastikan seseorang masuk Syurga atau menyelamatkannya dari sentuhan api Neraka sebagaimana yang disangkakan oleh banyak orang, namun ucapan tersebut harus diikuti dengan berkomitmen terhadap syiar-syiar Islam berikut dengan undang-undang iman yang mengiringi kalimat tersebut. Adapun Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam hanya mencukupkan dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah lantaran syiar-syiar Islam dan undang-undang iman mengikuti kalimat tersebut. Ia tidak ubahnya seperti tali kekang (kendali) bagi kendaraan.

Agar makna ini lebih jelas, maka perhatikan jawab Wahab bin Munabbih berikut ini ketika beliau ditanya oleh seseorang, ‘Bukankah kunci Syurga Laa Ilaaha Illallaah?’ Beliau menjawab, ‘Tentu, tetapi tidak ada kunci, kecuali bergigi dua. Oleh karena itu, jika Anda membawa kunci seperti itu, terbukalah pintu Syurga bagi Anda. Jika tidak, pintu Syurga pun tak akan terbuka.’ Artinya dengan dua gigi kunci ini, Wahab mengingatkan syarat-syarat Laa Ilaaha Illallaah. [Lihat Kalimatul Ikhlash hal. 14 oleh Ibnu Rajab].

 

Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallaah yang Memberikan Manfaat pada Pengucapnya

Menurut ketetapan para ulama berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, ‘Laa Ilaaha Illallaah itu tidak akan diterima, kecuali dengan tujuh syarat berikut ini, yaitu:

 

1)     Al-Ilmu (Berilmu)

Yang dimaksud adalah memiliki ilmu terhadap makna Laa Ilaaha Illallaah baik dalam hal Nafy (yaitu meniadakan semua peribadahan kepada selain Allah) maupun dalam hal Itsbat (yaitu menetapkan peribadahan tersebut hanya kepada Allah semata). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.’ [QS. Muhammad: 19].

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mati sedang ia mengetahui bahwasanya Laa Ilaaha Illallaah (bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah), niscaya ia masuk Syurga.’ [HR. Muslim 26].

 

2)     Al-Yaqin (Yakin)

Yaitu seseorang mengucapkan syahadat dengan keyakinan sehingga hatinya tenang di dalamnya, tanpa sedikitpun pengaruh keraguan yang disebarkan oleh syaithan-syaithan jin dan manusia, bahkan dia mengucapkannya dengan penuh keyakinan atas kandungan yang ada di dalamnya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba berjumpa Allah dengan dua kalimat itu, kemudian tidak ragu-ragu terhadapnya, kecuali ia masuk Syurga.’ [HR. Muslim 27].

 

3)     Al-Qabul (Menerima)

Maksudnya adalah menerima semua ajaran yang terdapat dalam kalimat tersebut dalam hatinya dan lisannya. Dia membenarkan dan beriman atas semua berita dan apa yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada sedikitpun yang ditolaknya dan tidak berani memberikan penafsiran yang keliru atau perubahan atas nash-nash yang ada sebagaimana hal tersebut dilarang Allah Ta’ala. Dia berfirman:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا

Katakanlah, kami beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami.’ [QS. al-Baqarah : 136].

Termasuk dikatakan menolak, jika seseorang menentang atau benci dengan sebagian hukum-hukum syari’at atau hudud (hukum pidana Islam). Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.’ [QS. al-Baqarah : 208].

 

4)     Al-Inqiyad (Tunduk)

Yaitu bahwa orang yang sudah mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah itu mesti tunduk kepada syari’at Allah, yakni melaksanakan berbagai aturan serta berserah diri kepada-Nya. Karena hanya dengan cara ini, ia akan menjadi seseorang yang berpegang teguh pada Laa Ilaaha Illallaah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang kokoh.’ [QS. Lukman : 22]. Maksudnya, telah berpegang teguh pada Laa Ilaaha Illallaah. Termasuk dikatakan tidak tunduk adalah tidak menjadikan syari’at Allah sebagai sumber hukum dan menggantinya dengan undang-undang buatan manusia.

 

5)     Ash-Shidq (Jujur)

Maksudnya hendaklah orang yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah jujur. Jujur adalah adanya kesesuaian antara hati dan lisan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi (Laa Ilaaha Illallaah)  dan Muhammad adalah utusan serta hamba-Nya, sedang ia jujur dalam hatinya, kecuali Allah mengharamkannya masuk Neraka.’ [HR. al-Bukhari 128 dan Muslim 32]. Jika seorang hamba berdusta dalam keimanannya, maka seseorang tidak dianggap beriman bahkan dia dikatakan munafiq dengan lisannya, maka syahadat tersebut baginya tidak menyelamatkannya.

 

6)     Al-Ikhlash (Ikhlas)

Maksudnya bahwa Laa Ilaaha Illallaah itu hanya akan terbukti dengan membersihkan amal dari segala kotoran lahir dan bathin, yaitu dengan mengikhlashkan niat hanya karena Allah dalam setiap  ibadah atau penyembahan. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus.’ [QS. al-Bayinah : 5]. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إَلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

Orang yang paling bahagia dengan syafaatku adalah yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dengan ikhlash di dalam hatinya.’ [HR. al-Bukhari 99]. Jika seseorang telah kehilangan dasar keikhlasannya, maka syahadat tidak bermanfaat baginya.

 

7)     Al-Mahabbah (Cinta)

Yaitu mencintai kalimat yang agung ini serta semua ajaran dan konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Ia mencintai Allah, Rasul, Islam, dan para penganutnya yang menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Sebaliknya, ia membenci orang yang mengingkari Laa Ilaaha Illallaah serta melakukan perbuatan yang bertentangan dengannya seperti syirik dan kafir. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.’ [QS.  al-Baqarah : 165].

 

Kesimpulan

Demikianlah syarat-syarat Laa Ilaaha Illallaah. Jadi, yang dimaksud dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah bukan sekedar dihitung dan dihafal lafadznya saja. Banyak orang awam yang sudah menaati kalimat tersebut meskipun tidak begitu hafal jumlah lafadznya. Sebaliknya, banyak orang yang hafal jumlah lafadz kalimat tersebut hingga di luar kepala bahkan dengan didendangkan, tetapi kenyataannya sering melakukan perbuatan yang bertentangan dengannya. Jadi, yang diupayakan dalam hal ini adalah mengetahui makna kalimat tersebut sekaligus mengamalkannya, agar benar-benar menjadi orang yang ahli terhadapnya. Wallahu A’lam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: