//
you're reading...
Hadits

Kisah Tsa’labah


Soal: Bagaimana sebenarnya kedudukan kisah Tsa’labah yang tidak bersyukur saat ia telah hidup berkecukupan?

 

Jawab: Kisah Tsa’labah adalah kisah populer yang tersebar di kalangan masyarakat; ia sering disampaikan oleh para khatib dan penceramah ketika mengangkat tema zakat dan kekayaan. Ketika mereka menyampaikan kisah itu seakan mereka menganggapnya sebagai berita kuat dan tidak ada keraguan di dalamnya. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

 

Kisah Tsa’labah

Kisah ini sangatlah panjang, alur ceritanya kami ringkaskan sebagai berikut:

Tsa’labah (nama lengkapnya Tsa’labah bin hathib al-Anshary) pernah meminta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk dido’akan diberi kekayaan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hai Tsa’labah, jangan. Sedikit harta yang kamu syukuri lebih baik daripada banyak harta yang tidak dapat kamu syukuri.

Tsa’labah memohon sekali lagi sambil berkata, ’Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan hak, jika engkau memohon kepada Allah, lalu Dia memberiku harta kekayaan, niscaya aku akan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya.

Lalu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pun berdo’a, ‘Ya Allah, anugerahkanlah harta kekayaan pada Tsa’labah.’

Berkat do’a Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, seekor domba peliharaan Tsa’labah berkembang bagaikan belatung, sehingga Madinah menjadi penuh sesak. Namun sayang, kekayaan yang ia miliki itu menyebabkannya melalaikan shalat jama’ah bahkan shalat Jum’atnya.

Sesekali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menanyakan kondisi Tsa’labah. Lalu merekapun menginformasikan kondisi Tsa’labah yang sebenarnya. Mendengar itu Rasulullah bersabda, ‘Aduh celaka Tsa’labah. Aduh celaka Tsa’labah. Aduh celaka Tsa’labah.

Masa pemungutan zakatpun tiba. Rasulullah mengutus dua orang dari shahabatnya untuk memungut zakat kaum Muslimin termasuk milik Tsa’labah. Namun, Tsa’labah enggan mengeluarkan zakat dari hartanya yang banyak itu. Dua utusan itupun pulang. Tatkala melihat keduanya, beliau bersabda, ‘Aduh celaka Tsa’labah.’ Lalu turunlah firman Allah (QS. at-Taubah : 75-77). Mendengar itu Tsa’labahpun buru-buru pergi menemui Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan memohon agar menerima shadaqahnya. Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah melarangku untuk menerima shadaqahmu.’ Hingga wafat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak menerima sedikitpun zakat milik Tsa’labah. Namun, Tsa’labah tidak berputus asa, sewaktu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu  menjadi khalifah ia mendatangi Abu Bakar dengan membawa zakatnya, namun beliaupun tidak mau menerima zakatnya, begitu juga pada masa Umar dan Utsman. Hingga akhirnya Tsa’labah meninggal pada masa Kekhalifahan Utsman. [Lengkapnya Lihat Ibnu Katsir 4/126].

 

Kedudukan Hadits

Cerita Bathil!! Bukan hadits shahih. Ulama-ulama terdahulu dan masa kini telah banyak memperingatkan kelemahan hadits ini, di antaranya; Ibnu Hazm, al-Baihaqi, al-Qurthuby, az-Zahabi, al-‘Iraqy, al-Haitsami, Ibnu hajar, al-Munawi, begitu juga dengan asy-Syaikh al-Albany dalam kitabnya adh-Dhaifah hadit no. 1607. Beliau mengatakan tentang kisah itu: Dhaif Jiddan (lemah sekali). Dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Ali bin Yazid, ia adalah matruk sedang Mu’an, ia adalah layyinul hadits. Wallahu A’lam.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 1433 H.

Diskusi

4 thoughts on “Kisah Tsa’labah

  1. kalau dhaif jiddan, sumber cerita tsa ‘labah itu darimana ya? apakah itu orang mau menjelek-jelekan sahabat nabi?

    Posted by handis | Juli 28, 2012, 4:26 am
    • Sumber cerita tsa’labah dapat di temukan diberbagai kitab tafsir dan beberapa kitab hadits, diantaranya: Ath-Thobary dalam Jami’ul Bayan (6/425/17002), Ath-Thobrony dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (8/218, 219/no.7873), Al-Baihaqiy dalam Syu’ab Al-Iman (4/79, 80/no.4357), dll…Tidak samar lagi bahwa kisah ini merupakan pelecehan terhadap seorang shahabat yang ikut perang Badar. Sedangkan kita mengetahui bagaimana jaminan Allah terhadap Ahli Badr. Namun perlu anda ketahui, bahwa ketika para ahli tafsir dan ahli hadits menukil kisah tersebut didalam kitab mereka bukan berarti mereka bermaksud melecehkan shahabat Tsa’labah tetapi hanya semata hendak mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

      Posted by bejanasunnah | Juli 28, 2012, 10:26 pm
  2. tsa’labaRIWAYAT YANG BENAR
    Tsa’labah bin Haathib adalah seorang Sahabat yang ikut dalam perang Badar sebagaimana disebutkan oleh:
    [1]. Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqaat (III/36).
    [2]. Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istii’ab (hal. 122).
    [3]. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany di dalam kitab al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (I/198). Beliau ber-kata: “Tsa’labah bin Hathib adalah Shahabat yang ikut (hadir) dalam perang Badar.

    Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ahli Badar:

    لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَّةَ.

    “Artinya : Tidak akan masuk Neraka seseorang yang ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyah.” [HR. Ahmad (III/396), lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 2160)]

    [4]. Kata Imam al-Qurthuby (wafat th. 671 H): “Tsa’labah adalah badry (orang yang ikut perang Badar), Anshary, Shahabat yang Allah dan Rasul-Nya saksikan tentang keimanannya seperti yang akan datang penjelasannya di awal surat al-Mumtahanah, adapun yang diriwayatkan tentang dia (tidak bayar zakat) adalah riwayat yang TIDAK SHAHIH. [Tafsir al-Qurthuby (VIII/133), cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah]

    SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP HIKAYAT TSA’LABAH YANG TIDAK BENAR DI ATAS
    Sesudah kita mengetahui kelemahan riwayat tersebut, maka tidak halal bagi seorang muslim pun untuk mem-bawakan riwayat Tsa’labah sebagai permisalan kebakhilan, karena bila kita bawakan riwayat itu berarti:

    Pertama : Kita berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Kedua : Kita menuduh seorang Shahabat ahli Surga dengan tuduhan yang buruk.
    Ketiga : Kita telah berdusta kepada orang yang kita sampaikan cerita tersebut kepadanya.

    Ingat, kita tidak boleh sekali-kali mencela, memaki atau menuduh dengan tuduhan yang jelek kepada para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.

    “Artinya : Barangsiapa mencela Shahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, Malaikat dan seluruh manusia.” [ HR. Ath-Thabrani di dalam kitab al-Mu’jamul Kabir (XII/110, no. 12709) dan hadits ini telah di-hasan-kan oleh Imam al-Albany dalam Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah (no. 2340), Shahih al-Jaami’ush Shaghir (hal. 2685)]

    Wallaahu a’lam bish Shawaab.

    [Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
    _________
    MARAAJI’
    [1]. Tsa’labah bin Haathib ash-Shahaby al-Muftara’ ‘alaihi, oleh ‘Adab Mahmud al-Humasy, cet. Daarul Amaani, Riyadh, th. 1407 H.
    [2]. Asy-Syihaab ats-Tsaqiib fidz Dzabbi ‘anish Shahabil Jalil Tsa’labah bin Haathib, oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, Daarul Hijrah, cet. II, th. 1410 H.
    [3]. Mizaanul I’tidal fii Naqdir Rijal, oleh Imam adz-Dzahaby, tahqiq: ‘Ali Muhammad al-Bijaawy, cet. Daarul Fikr.
    [4]. Majmu’-uz Zawaa-id wa Mamba-ul Fawaa-id, oleh Imam al-Haitsamy.
    [5]. Al-Muhalla, oleh Ibnu Hazm.
    [6]. Tafsir ath-Thabary, oleh Imam ath-Thabary, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
    [7]. Tafsir al-Qurthuby, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthuby.
    [8]. Taqriibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqa-lany, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
    [9]. Al-Jarh wat Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim ar-Razy, cet. Daarul Fikr.
    [10]. Al-Mu’jamul Kabir, oleh Imam ath-Thabary, tahqiq: Hamdi Abdul Majid as-Salafy.
    [11]. Adh-Dhu’afa’ wal Matrukin, oleh Imam an-Nasa-i, cet. Daarul Fikr.
    [12]. Fai-dhul Qadir, oleh al-Munawy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
    [13]. Fat-hul Baari, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, cet. Daarul Fikr.
    [14]. Al-Ishaabah fii Tamyizish Shahabah, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar ‘al-‘Asqalany.
    [15]. Al-Istii’ab bi Ma’rifatil Ash-haab, oleh al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr (bihaamisy al-Ishaabah.)
    [16]. Lisaanul Miizan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
    [17]. Ihya’ ‘Ulumuddin, oleh Imam al-Ghazaly, (bi Haamisyihi takhrij lil-Hafizh al-‘Iraaqy.), cet. Daarul Fikr, th. 1418.
    [18]. At-Tashfiyyah wat Tarbiyyah wa Aatsaariha fisti’naafil Hayaatil Islaamiyyah, oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Atsary.
    [19]. Asbaabun Nuzul, oleh Imam Abul Hasan ‘Ali bin Ahmad al-Wahidy, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah.
    [20]. Tahdziibut Tahdziib, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
    [21]. Silsilatul Ahaadits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
    [22]. Shahih al-Jaami’-ush Shaghir, oleh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany.
    h

    Posted by anta | Agustus 4, 2012, 9:46 pm
    • Barakallahu fika. Penukilan yang bagus dan sempurna. Hanya saja, ana berharap antum tidak ‘berburuk sangka’ dengan jawaban untuk penanya sebelumnya. Lantaran sang penanya bertanya, “Apakah orang yang meriwayatkan (menukil) hadits tersebut bermaksud untuk menjelek-jelekkan shahabat?” jawabannya tentu tidak, lantaran mereka para ahli tafsir dan sebagian ahli hadits yang menceritakan (menukil) hadits tersebut tidak bermaksud demikian. Kita hanya berbaik sangka: boleh saja mereka tidak mengetahui keabsahan hadits itu atau mengetahui kelemahan hadits itu namun menukil kisah itu sebagai ibrah (pelajaran).” Wallahu a’lam.

      Posted by bejanasunnah | Agustus 5, 2012, 1:28 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: