//
you're reading...
Akhlak

Sema’an Mengusik Ketenangan


Soal: Alhamdulillah, kami punya rumah berada dalam lingkungan Muslim dan dekat dari masjid. Dari masjid, kami banyak mendengar ceramah dan dapat pula berjama’ah dsb. Namun, ada juga hal yang tidak menyenangkan yaitu terganggunya istirahat kami lantaran acara rutinan yang dilakukan ta’mir yaitu membaca al-Qur’an atau sema’an (mengkhatamkan al-Qur’an) dari pagi hari hingga semalam suntuk dengan menggunakan mikrofon. Mohon dijelaskan tentang hal tersebut di atas! Sesuaikah dengan hukum dan aturan syari’at?

 

Jawab:  Permohonan Anda akan kami jawab dari dua sisi; tentang Anda dengan lingkungan dan tentang ta’mir dengan kegiatannya.

 

Anda dengan Lingkungan

Al-Jar Qablad Dar (memilih tetangga sebelum memilih rumah). Demikian nasehat para ulama ketika seseorang hendak memutuskan di mana dia akan bertempat tinggal. Karena tetangga yang baik adalah salah satu dari sumber kebahagiaan, sedang tetangga yang jahat adalah di antara sumber kesengsaraan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Empat perkara yang dapat membahagiakan manusia, yaitu; Isteri yang shalihah, tempat tinggal yang lapang, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat perkara yang menyengsarakan, yaitu; Tetangga yang jelek perangainya, isteri yang buruk akhlaknya, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.’ [Lihat Shahih al-Jami’ 887, Abu Nu’aim dalam al-Hilya VIII/388].

Dengannya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memohon perlindungan kepada Allah dari tetangga yang jahat, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang jahat di tempat yang tetap.’ [Shahihul Jami’ 1290. HR. al-Hakim].

Terlalu banyak dampak negatif yang muncul dari tetangga yang jahat terhadap pasangan suami isteri dan anak-anak dengan berbagai macam hal-hal yang tidak menyenangkan.

 

Tinggal di Sekitar Lingkungan Masjid

Alangkah nikmatnya tinggal di dekat masjid, banyak hal positif yang bisa diraih, di antaranya seperti yang Anda sebutkan; berupa shalat berjama’ah yang terpelihara serta banyaknya info keagamaan yang didapatkan dari ceramah-ceramah yang diselenggarakan olah takmir. Namun, tidak sembarang masjid!! Karena dari mimbar-mimbar dan corong-corong masjid adakalanya menebarkan aroma keburukan (baca bid’ah) akibat ulah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hingga akhirnya kebaikan yang diharapkan dan yang diraih lebih sedikit dari keburukan yang didapatkan. Mafsadatnya lebih banyak dari manfaatnya. Dan hal itu akan lebih berefek pada dunia pendidikan anak kita.

Ingat, dalam dunia pendidikan ada yang disebut dengan pendidikan secara langsung dan ada pendidikan secara tidak langsung. Mendidik secara langsung adalah pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dan guru. Sedang yang tidak langsung adalah pengaruh dari berbagai macam bentuk dan corak yang diterima oleh anak di dalam masyarakat di mana ia tumbuh dan berkembang (lingkungan) berupa ucapan yang ia dengar dan hal-hal yang ia lihat dalam keseharian. Berbagai macam info keagamaan yang menyimpang (bid’ah) yang anak dengar sehari-harinya dari corong-corong masjid memiliki andil besar terhadap proses pertumbuhan dan keagamaannya secara tidak sengaja. Maka, berhati-hatilah!!

 

Mestikah Pindah Rumah?

Mestikah berpindah rumah, jika ternyata rumah yang Anda huni bersebelahan dengan masjid yang dijadikan sebagai sarana untuk memelihara dan menumbuh suburkan praktek bid’ah? Jawabnya; Anda tidak mesti berpindah rumah. Tetapi, Anda bisa memanfaatkan lingkungan yang tidak kondusif tersebut untuk memperbaiki dan memperkuat pendidikan keagamaan anak-anak Anda. Salah satu di antara caranya adalah jika anak-anak Anda mendengar dari masjid kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan syari’at, maka Anda harus menjelaskan kepadanya bahwa setiap hal yang baru dalam urusan agama adalah bid’ah, bid’ah tercela dalam syari’at, bahwa bid’ah lebih buruk dari kemaksiatan. Dengan demikian, pernyataan-pernyataan tersebut dapat menambah perasaan benci dalam diri anak tentang urusan bid’ah, dll-nya. Namun, jika Anda tidak mampu melakukan hal itu, maka selamatkanlah dirimu dan keluargamu dengan keburukan yang membinasakan dengan cara berpindah rumah.

 

Ta’mir dengan Kegiatannya

Adapun kegiatan ta’mir seperti yang Anda sebutkan; mengaji semalam suntuk, lalu berlanjut di pagi hari hingga sore hari dengan menggunakan mikrofon, maka kami katakan kepadanya:

  1. Jika tujuan Anda adalah untuk menampakkan kesemarakan suara al-Qur’an, maka ketahuilah Anda tidak lagi menampakkan dan mendengarkan al-Qur’an. Tetapi sebaliknya, memperdengarkan kegaduhan kepada orang lain. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Orang Muslim adalah seorang yang orang-orang Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.’ [Muttafaq ‘Alaih].
  2. Jika atas nama syi’ar keagamaan yang mendorong Anda untuk melakukannya, maka ketahuilah untuk mencapai tujuan yang disyari’atkan maka harus juga menggunakan sarana-sarana yang disyari’atkan. Jika berteriak-teriak melalui masjid itu dikatakan sebagai sarana jitu untuk berdakwah, lalu mengapa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak mencontohkan hal itu? Padahal di masa-masa Rasulullah, hal itu lebih dibutuhkan mengingat banyaknya orang-orang Yahudi di Madinah ketika itu.
  3. Jika Anda menganggap hal itu sebagai bentuk untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka kami katakan:
  • Membaca al-Qur’an, dengan suara yang keras hingga mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat, sedang sakit, atau sedang shalat bukanlah ibadah. Umar bin Khaththab pernah mendapat teguran dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lantaran membaca al-Qur’an yang terlalu keras. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Umar, ‘Aku lewat tatkala engkau membaca al-Qur’an dan engkau membaca dengan suara yang keras. Umar menjawab, ‘Sesungguhnya saya hendak membangunkan orang yang sedang tidur dan menghalau syaithan!’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pelankanlah sedikit.’ [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi].

Jika suara Umar yang tidak difasilitasi dengan alat pengeras suara mendapat teguran dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam lalu bagaimana jika hal itu dilakukan dengan pengeras suara, tentulah lebih terlarang lagi!

  • Mengkhatamkan al-Qur’an (sema’an) bagi mereka yang tidak memiliki pemikiran yang mendalam pada makna-makna al-Qur’an dalam waktu sehari semalam bukanlah petunjuk dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Muhammad bin Abdullah bin Amr bin al-Ash yang mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam, ‘Kalau begitu, bacalah sampai tamat setiap tujuh hari sekali dan jangan lebih dari itu!’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Dalam hadits lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bacalah al-Qur’an (sampai khatam) sekali pada setiap bulan. Bacalah al-Qur’an sampai khatam pada setiap lima belas hari sekali. Bacalah sampai khatam pada setiap speuluh hari sekali. Bacalah ia pada setiap tujuh hari sekali. Tidak memahami makna al-Qur’an bagi orang yang mengkhatamkannya kurang dari tiga hari.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 1344 dan at-Tirmidzi 2949. Dishahihkan oleh al-Albany]. Wallahu A’lam.

 

Demikianlah nasehat yang kami berikan kepada Anda dan kepada ta’mir masjid yang ada di dekat rumah Anda atau pada seluruh ta’mir yang membaca tulisan ini. Wallahu A’lam bish Shawaab.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: