//
you're reading...
Fiqih

Batas Qashar bagi Musafir


Soal: 

Saya melakukan perjalanan (safar) dalam rangka pengobatan, setelah saya sampai di tempat tujuan apakah masih bisa dikatakan sebagai musafir? Berapa lama saya boleh mengqashar (meringkas) shalat di tempat tersebut? Mohon penjelasannya.

 

Jawab:

Jika seorang Muslim melakukan perjalanan (musafir) baik dengan berkendaraan darat, laut, ataupun udara disyari’atkan baginya untuk meringkas shalat empat rakaat menjadi dua rakaat atau disebut dengan istilah qashar. Meskipun perjalanan yang ia tempuh itu dalam kondisi aman dan nyaman.

Orang yang telah sampai di tempat yang dituju tetap dianggap sebagai ‘musafir’ selama ia tidak berniat menetap dan muqim di tempat yang dituju tersebut. Itu artinya, keberadaan Anda di kota selama masa pengobatan tetap digolongkan sebagai musafir hingga Anda kembali ke daerah asal.

 

Batas Qashar Shalat

Maksudnya, selama seseorang berada di tempat tujuan (belum kembali ke daerah asal) adakah batasan-batasan hari tertentu untuk menyudahi shalat qashar yang ia lakukan?

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, di antara mereka ada yang berpendapat bahwa tidak boleh lebih dari 4 hari. Lebih dari 4 hari mesti menyempurnakan shalat dan tidak boleh qashar. Ada yang berpendapat tidak boleh lebih dari 15 hari, dan ada pula yang berpendapat tidak boleh lebih dari 20 hari 20 malam, dan masih banyak lagi pendapat ulama mengenai batasan hari ini.

Namun, pendapat yang unggul dalam permasalahan ini adalah seorang musafir boleh meringkas shalatnya sepanjang ia tidak berniat menetap atau muqim di daerah yang ia tuju. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits yang shahih pernah tinggal di Tabuk selama 20 hari dan beliau meringkas shalatnya di hari-hari itu. [Shahih. HR. Ahmad 3/105 dan Abu Dawud 1235]. Beliau juga pernah tinggal di Makkah selama 19 hari dan meringkas shalatnya selama itu. [Shahih. HR. al-Bukhari 1080 dan Abu Dawud 1230].

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa hakikat musafir tidak bergantung pada batasan waktu tertentu, tetapi Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam meringkas shalat selama 20 hari dan 19 hari itu karena beliau berposisi sebagai musafir. Dan Nabi tidak pernah mengatakan, ‘Siapa yang tinggal lebih dari sekian hari ia mesti menyempurnakan shalat.’

Sebagai penguat apa yang kami katakan di atas, maka ketahuilah Ibnu Umar pernah tinggal di Azarbaijan selama 6 bulan dan ia mengqashar shalatnya selama itu. [Lihat al-Baihaqi 3/152 dengan sanad yang shahih]. Masruq pernah mengqashar shalatnya di as-Silsilah selama beberapa tahun. [Lihat Ibnu Abi Syaibah 2/208 dan Abdurrazaq 4357 dengan sanad yang shahih]. Wallahu A’lam.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

 

Diskusi

One thought on “Batas Qashar bagi Musafir

  1. apakah untuk seseorang yg menempuh pendidikan (kuliah) beberapa tahun (umumnya 4 tahun) di kota atau negara lain, jg termasuk musafir? lantas apakah dia tetap mngqashar shalatnya selama tinggal dsana?
    Jazaakalloh khoyr

    Posted by Rodhiyyah | Mei 14, 2012, 7:37 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: