//
you're reading...
Fiqh Wanita

Wanita Haidh Berdzikir


Soal:

Bolehkah wanita haidh berdzikir?

 

Jawab:

Wanita haidh diperbolehkan berdzikir di masa-masa haidhnya. Dan hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Imam an-Nawawi berkata, ‘Ulama sepakat akan bolehnya berdzikir baik dengan hati maupun dengan lisan bagi orang yang berhadats, junub, haidh, serta nifas; dengan bertasbih (ucap Subhanallaah), tahlil (ucap Laa Ilaaha Illallaah), tahmid (ucap Alhamdulillaah), takbir (ucap Allaahu Akbar), mengucap shalawat atas Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, serta do’a, dan sebagainya.’ [Al-Adzkar hal. 10].

 

Dalil Bolehnya Wanita Haidh Berdzikir

Ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa wanita haidh diperbolehkan berdzikir di masa-masa haidhnya. Di antara dalil tersebut adalah:

  1. Dari Abdurrahman bin al-Qasim, saya mendengar al-Qasim berkata; Saya mendengar ‘Aisyah berkata; Kami sengaja keluar untuk menunaikan ibadah haji, tatkala kami sampai di Saraf saya datang bulan (haidh). Maka, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam datang menemui saya yang sedang menangis. Lalu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apakah kamu datang bulan?’ Saya katakan, ‘Betul, wahai Rasulullah!’ Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan kepada anak-anak perempuan Adam. Lakukanlah apa saja yang dilakukan oleh orang haji, hanya saja kamu tidak boleh berthawaf di Baitullah.’ [HR. al-Bukhari 294 dan Muslim 1211].

Hadits di atas menjelaskan bahwa wanita haidh diperbolehkan mengerjakan semua rangkaian kegiatan ibadah haji seperti sa’i antara Shafa dan Marwa, mabit di Mina, mabit di Muzdalifah, dan wukuf di Arafah. Kesemua ibadah haji ini tidak terlepas dari dzikir-dzikir kepada Allah. Namun, Nabi tidak melarangnya, tapi yang dilarang pada wanita haidh saat berhaji adalah thawaf di Baitullah.

  1. Dari ‘Ummu ‘Athiyah, ia berkata, ‘Dahulu kami diperintahkan untuk keluar menghadiri ‘Ied hingga kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita perawan dari pingitannya begitu juga dengan wanita-wanita haidh. Dan posisi mereka berada di belakang orang-orang (kaum Muslimin), mereka bertakbir sebagaimana takbir mereka (dalam satu riwayat; bahwa wanita haidh bertakbir dan berdzikrullah ‘Azza wa Jalla) dan berdo’a sebagaimana do’a mereka berharap keberkahan hari itu dan kesuciannya.’ [HR. Muslim 606 dan Abu Dawud 1138].
  2. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya.’ [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Hadits ini menjelaskan bahwa berdzikir dapat dilakukan dalam setiap kondisi, meskipun dalam keadaan hadats maupun janabah, termasuk dalam keadaan haidh bagi wanita.

 

Membaca al-Qur’an Termasuk Dzikir

Termasuk dalam pengertian dzikir adalah membaca al-Qur’an. Namun, ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya wanita haidh membaca al-Qur’an di masa-masa haidhnya.

Dan pendapat yang unggul bahwa wanita haidh diperbolehkan membaca dan menyentuh mushaf al-Qur’an lantaran tidak adanya dalil kuat yang melarang hal itu. [Untuk keterangan lengkap lihat pembahasan ‘Wanita Haidh baca al-Qur’an’].

 

Kesimpulan

Wanita haidh diperbolehkan berdzikir di saat haidhnya termasuk membaca dan menyentuh al-Qur’an. Wallahu A’lam.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: