//
you're reading...
Fiqih

Berbagi Hadiah Syarah Ad-Durarul Bahiyyah [5]


Kitab Shalat[1]

[1- Waktu-waktu shalat]

–           Permulaan waktu Zhuhur : lingsirnya[2] matahari.[3]

–           Akhir waktunya: Bayangan setiap benda menjadi sama dengan benda tersebut[4] –selain fai` zawal[5]

–           Dan [waktu] itu: permulaan waktu Ashar.[6]

–           Akhir waktunya: Selama matahari putih bersih.[7]

–           Permulaan waktu Maghrib: Matahari terbenam.[8]

–           Akhir waktunya: hilangnya syafaq[9] merah.[10]

–           Dan [waktu] itu: permulaan ‘Isya`.[11]

–           Akhir waktunya: Pertengahan malam.[12]

–           Permulaan waktu Shubuh: terbitnya fajar.[13]

–           Akhir waktunya: matahari terbit.[14]

–           Barangsiapa yang ketiduran atau lupa hingga shalatnya terlewat, maka waktunya adalah saat ia ingat.[15]

–           Barangsiapa yang memiliki udzur[16] dan mendapati satu rakaat dari suatu shalat, maka ia telah mendapati [waktu] shalat tersebut.[17]

–           [Menjaga] waktu-waktu shalat adalah wajib.[18]

–           Boleh menjamak[19] shalat lantaran suatu udzur.[20]

–           Orang yang bertayammum dan yang kurang (sempurna) shalatnya[21] atau bersucinya[22], ia mengerjakan shalat sebagaimana yang lainnya[23] tanpa harus menunda hingga akhir waktu.[24]

–           Waktu-waktu makruh:

  1. Setelah (shalat) Shubuh hingga terbitnya matahari.
  2. Ketika matahari berada di titik kulminasi (tengah langit).
  3. Setelah shalat Ashar hingga (matahari) terbenam.[25]

 

2- Bab Adzan[26]

Bagi setiap penduduk negeri disyariatkan:

  1. Mengangkat seorang muadzdzin.[27]
  2. Mengumandangkan adzan dengan lafazh-lafzh adzan yang disyariatkan.[28]
  3. [mengumandakan adzan] ketika masuk waktu shalat.[29]

–           Bagi yang mendengar [adzan] disyariatkan untuk mengikuti [ucapan] muadzdzin.[30]

–           Kemudian disyariatkan beriqamat berdasarkan sifat yang terdapat [di dalam sunnah].[31]

 

3- Bab

Bagi orang yang shalat (mushalli) wajib:

  1. Membersihkan pakaian[32], badan[33], dan tempatnya[34] dari segala macam najis.[35]
  2. Menutup aurat.[36]
  3. Tidak isytimalush shamma` (Berselubung dan berselimut seperti batu ).[37]
  4. Tidak sadl (berselimut dengan pakaian yang mana kedua tangan berada dibagian dalam pakaian tersebut, lalu melakukan ruku’ dan sujud dalam keadaan seperti itu).[38]
  5. Tidak isbal (menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki).[39]
  6. Dan tidak menggulung rambut dan pakaian.[40]
  7. Tidak diperkenankan shalat (dengan menggunakan):
    1. Pakaian sutera.[41]
    2. Pakaian syuhrah (ketenaran).[42]
    3. Pakaian hasil ghasab (curian).[43]
    4. Menghadap langsung ke ka’bah bagi yang melihatnya atau ada dalam posisi melihat.[44] Sedang bagi yang tidak melihatnya [cukup] menghadap kearahnya setelah berupaya mencari tahu (letaknya).[45]


[1] Secara etimologi shalat berarti doa. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu [menjadi] ketenteraman jiwa bagi mereka.’ [QS. At-Taubah: 103].

Sedang Shalat menurut syariat adalah beribadah kepada Allah dengan ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

 

[2] Apabila matahari terbit, posisi bayang-bayang seseorang berada di arah barat, kemudian bayang-bayang ini akan terus berkurang setiap kali matahari meninggi, hingga bayang-bayang tersebut berhenti-dan ketika itulah matahari berada tepat ditengah-tengah langit- Kemudian bayang-bayang tersebut mulai bertambah dari arah yang lain. Apabila bayang-bayang tersebut mulai bertambah  maka inilah waktu zawal [tergelincir] itu.

 

[3] Berdasarkan pada hadits Jâbir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam didatangi oleh Jibril Alaihis Salam. Lalu Jibril berkata kepadanya, ‘Bangkitlah, lalu shalatlah.’ Kemudian Nabi shalat Dhuhur ketika matahari tergelincir… [Shahih. HR. At-Tirmidzi (150), An-nasai (1/251) dan Ahmad (3/330, 351)].

 

[4] Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Waktu Dhuhur apabila matahari tergelincir dan bayangan seseorang sama tingginya, selagi belum masuk waktu Ashar…” [Muslim (612), Abu Dawud (396) dan An-Nasai (1/260).]

 

[5] Saat bayangan mencapai titik jenuh selama beberapa saat (dimana bayangan suatu benda tetap sama dengan benda tersebut, tidak bertambah panjangnya).

 

[6] Berdasarkan pada hadits Jâbir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma…”Kemudian Nabi shalat Ashar ketika bayangan setiap benda menjadi sama dengan benda tersebut…”[Shahih. HR. At-Tirmidzi (150), An-nasai (1/251) dan Ahmad (3/330, 351)].

 

[7] Berdasarkan pada hadits  Buraidah radhiyallahu ‘anhu –tentang shalat Ashar-, “Dan matahari masih putih bersih..” [HR. Muslim 613].

                Ini adalah waktu fadhilah (utama) dan ikhtiyâr (pilihan) untuk shalat Ashar. Namun akhir waktu shalat Ashar yang sebenarnya adalah ketika cahaya matahari telah menguning sebelum terbenamnya matahari. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat Ashar sebelum terbenamnya matahari maka ia telah mendapatkan waktu shalat Ashar.’ [HR. Al-Bukhari (579), Muslim (608), Abu Dawud (412), At-Tirmidzi (186) dan An-Nasai (1/257).]

                Tetapi tidak diperkenankan mengakhirkan shalat Ashar hingga nampak cahaya kekuning-kuningan sebelum tenggelamnya matahari, kecuali karena udzur, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Yang demikian itu adalah shalatnya orang-orang munafik. Ia menunggu-nunggu matahari, hingga ketika matahari berada diantara dua tanduk setan, barulah ia melaksanakan shalat empat rakaat dengan tergesa-gesa. Ia tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit.’ [HR. Muslim (622), Abu Dawud (413), At-Tirmidzi (160), An-Nasai (1/254) dan Ahmad (3/102).]

 

[8] Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Waktu shalat Maghrib adalah ketika matahari terbenam selagi syafaq belum hilang.’ [HR. Muslim (612), Abu Dawud (396) dan An-Nasai (1/260).]

[9] sisa kilauan matahari yang tampak kemerah-merahan di langit.

 

[10]Lihat dalil hadits nomor 121.

Namun disunnahkan menyegerakan shalat Maghrib sebelum keluarnya bintang, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Ummatku senantiasa berada dalam kebaikan – atau berada diatas fithrah- selama mereka tidak megakhirkan shalat Maghrib hingga tampak bintang-bintang.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (418), Ahmad (4/174) dan Al-Baihaqi (1/370).]

 

[11] Berdasarkan pada hadits Jabir bin ‘Abdillah, “Kemudian Nabi shalat Isya ketika syafaq [sisa kilauan matahari yang tampak kemerah-merahan di langit] telah menghilang.” [Shahih. HR. At-Tirmidzi (150), An-nasai (1/251) dan Ahmad (3/330, 351)].

Namun yang lebih utama adalah mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam [awal].            Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, ‘Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu, dan aku perintahkan untuk mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam atau pertengahannya.’ [Shahih. HR. Ahmad (2/250), Ibnu Majah (691), Abdur Razzaq (2106), dan Ibnu Hibban (1531). At-Tirmidzi meriwayatkan alenia terakhir dari hadits tersebut (167), dan ia berposisi sebagai syâhid. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ‘Al-Irwâ’ (2/197).]

                                Hadits ini menunjukkan atas dianjurkannya mengakhirkan shalat Isya. Namun disyaratkan shalat jamaah harus tetap terjaga. Maka ia tidak boleh memisahkan diri dari jamaah jika orang-orang melaksanakan shalat Isya di awal waktu, agar ia tidak terluput dari shalat jamaah dan juga tidak menyia-nyiakan banyak shalat jamaah.

 

[12] Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Waktu shalat Isya hingga separuh malam pertengahan.” [HR. Muslim (612), Abu Dawud (396) dan An-Nasai (1/260).]

        Dalil lain bahwa shalat Isya berakhir tengah malam adalah firman Allah ta’ala, ‘Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan [dirikanlah pula shalat] subuh.’ [QS. Al-Isrâ’: 78]. Allah menyebutkan waktu-waktu yang bersambung yaitu dari tergelincirnya matahari hingga gelapnya malam, yaitu dari pertengahan siang [dan ia adalah awal waktu shalat Dhuhur] hingga pertengahan malam [dan ia adalah akhir waktu shalat Isya], kemudian Allah menyebutkan shalat Subuh secara terpisah karena tidak bersambungnya ia dengan waktu-waktu sebelum dan sesudahnya. [Syarhul Mumti’ 2/109]

        Umar bin Al-Khaththâb pernah menginstruksikan Abu Musa Al-Asy’ari, “Dan hendaklah engkau shalat Isya antara (waktu) yang ada padamu dan antara sepertiga malam. Maka jika engkau menunda (hendak mengakhirkannya) maka sampai pertengahan malam dan janganlah engkau menjadi bagian dari orang-orang yang lalai.” [HR. Mâlik, Ath-Thahawie, Ibnu Hazm, dengan sanad yang shahih]

 

[13] Berdasarkan pada hadits Jâbir bin ‘Abdillah: Kemudian Jibril mendatanginya ketika fajar mulai muncul, atau ia berkata, ‘ketika terbit fajar.’ [Shahih. HR. At-Tirmidzi (150), An-nasai (1/251) dan Ahmad (3/330, 351)].

Fajar yang dimaksud adalah fajar shâdiq. Fajar shâdiq adalah semburat putih yang melintang diufuk timur di tempat terbitnya matahari disetiap masa. Berpindah menurut perpindahan matahari. Ia merupakan permulaan sinar matahari, lalu bertambah putih dan terkadang bercampur dengan warna merah yang indah. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim hadits shahih menurut keduanya. [Shahih dengan syawahidnya. HR. Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya (1/52/2). Al-Hâkim (1/425) dan Al-Baihaqi (1/377, 457 dan 4/216)].

                Catatan:

Terdapat beberapa hadits untuk menyegerakan shalat Shubuh diakhir kegelapan malam dan beberapa hadits lainnya untuk mengakhirkannya hingga tampak cahaya siang. Adapun hadits-hadits tentang menyegerakan shalat subuh adalah hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Para wanita mukminah biasa ikut shalat Shubuh bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam keadaan menutupi seluruh tubuh dengan kain mereka, kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing begitu shalat usai dikerjakan sehingga tidak ada orang yang mengenali mereka karena kegelapan diakhir malam. [HR. Al-Bukhari (578), Muslim (645), Abu Dawud (423), At-Tirmidzi (153), An-Nasai (1/371) dan Ibnu Majah (669).]

Adapun mengakhirkan shalat Shubuh hingga tampak cahaya siang adalah hadits dari Râfi’ bin Khadij Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tangguhkanlah Shubuh hingga tampak cahaya siang, karena hal itu pahala yang paling besar bagi kalian.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (424), Ibnu Majah (672), At-Tirmidzi (154), An-Nasai (1/272) dan At-Tirmidzi berkata, ‘Hasan Shahih.’ Dan lafadh tersebut adalah miliknya.]

                Tidak ada pertentangan diantara dua hadits diatas. Keduanya dapat dikompromikan dengan menetapkan bahwa shalat shubuh bermula pada kegelapan diakhir malam dan berakhir  hingga waktu tampak cahaya siang. Dan mungkin juga dengan bentuk pengkomromian yang lain, yaitu boleh melakukan shalat Shubuh di kegelapan akhir malam dan boleh pula dilakukan pada waktu tampak cahaya siang, namun melakukannya dikegelapan akhir malam adalah lebih utama, berdasarkan pada hadits dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melakukan shalat Shubuh  di kegelapan akhir malam, kemudian pernah juga shalat ketika tampak cahaya siang. Selanjutnya, shalat beliau setelah itu  dilakukan dikegelapan akhir malam. Beliau tidak pernah lagi melakukannya ketika tampak cahaya siang.’ [Hasan. HR. Abu Dawud (394), Ibnu Khuzaimah (352) dan Ibnu Hibban (1449).]

Asy-Syaukani Rahimahullah berkata, ‘Hadits tersebut menunjukkan atas dianjurkannya menyegerakan shalat Shubuh dikegelapan akhir malam dan waktu itu lebih utama dibanding waktu tampak cahaya siang, andai tidak seperti itu lalu mengapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melazimkannya hingga mati.’ [Nailul Authar (1/421).]

 

[14] Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,dan waktu shalat Shubuh selagi matahari belum terbit. Jika matahari telah terbit, maka jangan melakukan shalat, sebab ia muncul di antara dua tanduk setan [HR. Muslim (612), Abu Dawud (396) dan An-Nasai (1/260).]

 

[15] Berdasarkan pada hadits Anas bin Mâlik Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang lupa shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ia ingat, tidak ada tebusannya kecuali itu.’ [HR. Al-Bukhari (597), Muslim (684), Abu Dawud (442), At-Tirmidzi (178), An-Nasai (1/293) dan Ibnu Majah (695)] –Dan didalam riwayat Muslim- : Apabila salah seorang diantara kalian tertidur [sehingga melewatkan] shalat, atau lupa shalat, maka shalatlah ketika ingat. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.’ [QS. Thaha: 14]

 

[16] Berupa tidur, lupa, dsb.

 

[17] Berdasarkan pada hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat (pada waktunya), maka dia telah mendapatkan shalat itu.’ [HR. Al-Bukhari (580), Muslim (607), Abu Dawud (1121), At-Tirmidzi (524), An-Nasai (1/274) dan Ibnu Majah (1122).]

                Dan sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” [Shahih. HR. Al-Bukhâri (579) dan Muslim (827).

 

[18] Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.’ [QS. An-Nisâ`: 103].

 

[19] Menjamak dua shalat artinya mengerjakan shalat Zhuhur dengan shalat Ashar atau shalat Maghrib dengan shalat Isya’ di waktu salah satu dari keduanya, baik itu jamak taqdim maupun jamak ta’khir.

 

[20]Lantaran safar, hujan, takut, sakit, serta ada dalam kesibukan.

Adapun dalil safar: Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam apabila bepergian sebelum tergelincirnya matahari (sebelum masuk waktu Zhuhur) beliau mengakhirkan shalat Zhuhur ke waktu Ashar, kemudian turun dan menjama’ diantara keduany. Jika sudah tergelincir sebelum berangkat, beliau shalat Zhuhur kemudian berangkat.” [HR. Al-Bukhâri (1111, 1112), Muslim (704)].

                Adapun dalil hujan dan takut: Dari Ibnu ‘Abbâs, ia berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah menjama’ Zhuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya’ di Madinah bukan karena takut dan hujan.” Ada yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbâs, “Apa yang dikehendaki dengan hal itu?” Dia berkata, “Agar tidak memberatkan ummatnya.” [HR. Muslim (507), At-Tirmidzi (187), Ahmad (1/223)].

                Adapun dalil lantaran sakit dan sibuk adalah berdasarkan pada keumuman hadits Ibnu Abbâs diatas. Dimana Ibnu ‘Abbâs berkata tentang shalat Jamaknya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, ‘Agar tidak tidak memberatkan ummatnya.”

Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata, “Mazhab yang paling longgar dalam masalah jama’ adalah mazhab Ahmad, dia membolehkan jama’ apabila ada kesibukan. Qadhi dan lainnya menakwilkan pendapat Imam Ahmad, bahwa yang dimaksud dengan kesibukan adalah yang boleh meninggalkan Jum’at dan shalat Jama’ah.” [Al-Ikhtiyârât Al-Fiqhiyyah hal. 136-137].

                Ditempat yang lain ia (Ibnu Taimiyyah) berkata, “…para tukang dan petani, apabila pada waktu tertentu mereka merasa keberatan, seperti jika letak air jauh dari tempat shalat dan bila pergi kesana untuk bersuci  menyebabkan tersia-siakannya pekerjaan yang dibutuhkannya itu, maka mereka boleh mengerjakan shalat pada waktu yang musytarak (yaitu: Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya) lalu menggabungkan kedua shalat tersebut.”[Majmu’ Fatâwa: 21/458].

[21] Seperti orang sakit yang tidak sanggup menyempurnakan sebagian rukun-rukun shalat (semisal: tidak sanggup berdiri, tidak sanggup sujud dengan sempurna, dll).

 

[22] Seperti orang yang memiliki luka dibagian tertentu dari anggota-anggota wudhunya (semisal: tangannya di gips).

 

[23] Sebagaimana orang-orang yang tidak memiliki udzur apapun.

 

[24] Lantaran tidak ada dalil  baik dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang membenarkan mereka untuk menunda-nunda shalat hingga akhir waktu.

 

[25] Berdasarkan pada hadits Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Tiga waktu yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang kami mengerjakan shalat dan mengubur jenazah kami pada saat itu, ‘ketika matahari terbit dengan terang benderang  sampai matahari naik, dan ketika ada orang yang berdiri nampak bayangannya sampai matahari tergelincir dan ketika matahari mendekati tenggelam.’[25]

 

[26] Secara etimologi adzan berarti pemberitahuan.

Sedang adzan menurut syariat adalah pemberitahuan masuknya waktu shalat dengan menggunakan lafadh-lafadh tertentu atau dapat juga dikatakan: Beribadah kepada Allah dengan pemberitahuan masuknya waktu shalat, dengan lafadh-lafadh yang tertentu.

 

[27] Berdasarkan pada hadits Utsman bin Abul ‘Ash, ia berkata, ‘Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, angkatlah saya sebagai imam untuk kaumku.’ Beliau bersabda, ‘Engkau adalah imam mereka, dan jadikanlah orang-orang lemah mereka sebagai patokan, dan angkatlah muadzdzin yang tidak mengambil upah dari adzannya.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (531), At-Tirmidzi (209), An-Nasai (2/23), dan Ibnu Majah (714), (987).]

                Juga adzan bersifat fardhu kifayah, dimana jika adzan tidak dikumandangkan disuatu kota maka mereka semua berdosa.  Berdasarkan pada hadits Anas yang terdapat di Al-Bukhari, ‘Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika hendak memerangi suatu kaum bersama kami, beliau tidak memerangi hingga datang waktu Shubuh, kemudian beliau menunggu, jika beliau mendengar adzan, maka beliau menahan diri untuk memerangi mereka. Dan jika beliau tidak mendengarnya, maka beliau memerangi mereka.’ [HR. Al-Bukhari (610), Muslim (382), At-Tirmidzi (1618), dan Ahmad (3/159).]

Ibnu AbdilBar Rahimahullah berkata, ‘Dan saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang wajibnya adzan bagi penduduk kota, karena adzan itu adalah tanda yang memisahkan antara darul Islam dan darul kufur.’ [Menukil dari Al-Qurthuby (6/225)]

Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata, ‘Adapun orang yang menyangka bahwa adzan itu adalah sunnah dan tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya, maka ini adalah pendapat yang keliru.’ [Majmû’ Al-Fatâwa (22/64).]

 

[28] Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan lafadh-lafadh adzan dengan redaksi yang beragam. Dan semua hadits-hadits tersebut adalah shahih. Maka redaksi mana saja yang dipakai untuk beradzan maka hal itu telah mencukupinya.

Redaksi Pertama: Menjadikan takbir empat kali diawal adzan sedang lafadh-lafadh lainnya hanya dua kali. Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Zaid bin AbdiRabbih Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Ketika Rasulullah memerintahkan untuk membuat lonceng yang dipukul untuk mengumpulkan orang-orang melakukan shalat- dan dalam satu riwayat: padahal sebenarnya beliau sendiri tidak menyukainya- ketika saya tidur, tiba-tiba saya bermimpi [melihat] ada seorang laki-laki mengelilingiku, sedang ditangannya ada lonceng yang dibawanya. Lalu saya berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, apakah engkau menjual lonceng itu?’ Ia bertanya, ‘Apa yang akan engkau perbuat dengan lonceng ini?’ Saya menjawab, ‘Akan kami pergunakan untuk memanggil (orang) melaksanakan shalat.’ Ia bertanya, ‘Maukah kamu saya tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari lonceng itu?’ Saya menjawab, ‘Tentu.’ Ia berkata, ‘Ucapkanlah, ‘Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh, Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh. Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh, Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh.Hayya ‘Alash Shalâh, Hayya ‘Alash Shalah. Hayya ‘Alal Falâh, Hayya ‘Alal Falâh. Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Lâ Ilâha Illallâh.’ [Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Saya bersaksi bahwa tidak sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah, saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mari kita melaksanakan shalat, mari kita melaksanakan shalat. Mari kita menuju kemenangan, mari kita menuju kemenangan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.’] Kemudian ia mundur tidak seberapa jauh, dan berkata, ‘Apabila engkau hendak qamat, maka ucapkanlah, ‘Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh. Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh. Hayya ‘Alash Shalâh. Hayya ‘Alal Falâh. Qad Qâmatish Shalâh, Qad Qâmatis Shalah. Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Lâ Ilâha Illallâh.’ [Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Saya bersaksi bahwa tidak sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mari kita melaksanakan shalat. Mari kita menuju kemenangan. Kini shalat telah didirikan, kini shalat telah didirikan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.’] Pada pagi harinya saya mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakan mimpiku itu. Beliau bersabda, ‘Itu adalah mimpi yang benar, Insyâ Allah. Maka pergilah engkau kepada Bilal dan ajarilah dia tentang adzan yang engkau lihat dalam mimpimu. [Supaya dia yang mengumandangkan adzan], karena suaranya lebih keras dibandingkan suaramu.’ Ia berkata, ‘Lalu aku pergi menemui Bilal dan mengajarkan adzan kepadanya dan Bilal pun adzan dengan lafadh-lafadh tersebut.’ Ia berkata, ‘Lalu Umar mendengar itu, saat ia sedang berada dirumahnya. Maka ia pun keluar sambil menyeret selendangnya, dan berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran. Sungguh saya pun telah bermimpi, persis dengan mimpinya itu.’ Rasulullah bersabda, ‘Bagi-Nya segala pujian.’ [HR. Abu Dawud (499), At-Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706) dan Ahmad (4/42-43) dan lafadh tersebut miliknya. At-Tirmidzi berkata, ‘Hasan Shahih.’]

Redaksi Kedua: Menjadikan takbir empat kali diawal adzan sedang lafadh-lafadh lainnya hanya dua kali dengan mentarji`kan dua kalimat syahadat. Yaitu dengan cara sang muadzdzin terlebih dahulu mengumandangkan kalimat syahadatain  dengan suara yang perlahan, kemudian setelah itu ia kembali mengumandangkan keduanya dengan suara yang keras. Dalil untuk redaksi ini berdasarkan pada hadits Abu Mahdzurah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengajarinya adzan ini, ‘Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh, Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh. Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh, Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh. Kemudian ia mengulangi, lalu mengucapkan, ‘Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh (dua kali). Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh (dua kali). Hayya ‘Alash Shalâh (dua kali). Hayya ‘Alal Falâh (dua kali). Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Lâ Ilâha Illallâh.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (501), An-Nasai (2/4), dan Al-Baihaqi (1/418).]

                Redaksi Ketiga: Menjadikan takbir dua kali [diawal adzan] begitu juga dengan lafadh-lafadh yang lainnya dengan mentarji`kan dua kalimat syahadat. Hal ini berdasarkan dengan hadits Abu Mahdzurah yang lalu dari riwayat Muslim. [Muslim (379).]

                Ash-Shan’ani Rahimahullah berkata, ‘Kebanyakan kaum muslimin mengamalkan empat takbir [diawal adzan] lantaran riwayatnya yang masyhur. Dan juga tambahan dari rawi yang adil adalah maqbul [diterima].’ [Subulus Salam (1/197).]

 

[29] Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Mâlik bin Al-Huwairits, ‘Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah adzan salah seorang diantara kalian.” [HR. Al-Bukhari (628), Muslim (378), Abu Dawud (508), An-Nasai (2/3) dan Ibnu Majah (729).]

                Kecuali Adzan Shubuh yang pertama, maka ia dikumandangkan sebelum masuknya waktu shalat Shubuh. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan dimalam hari, maka makan dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan. Ibnu Ummi Maktum adalah seorang tunanetra. Dimana ia tidak beradzan sehingga orang-orang berkata kepadanya, ‘Telah Shubuh, telah Shubuh.’ [HR. Al-Bukhari (617,620), Muslim (1092), At-Tirmidzi (203), dan An-Nasai (2/10).]

 

[30] Mengucapkan seperti yang diucapkan oleh muadzdzin kecuali Hayya ‘Alatain, maka ia mengucap, ‘Lâ Haula wa Lâ Quwwata Illa Billâh.’ Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila kalian mendengar seruan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzdzin.’ [HR. Al-Bukhari (611), Muslim (383), Abu Dawud (522), At-Tirmidzi (208), An-Nasai (2/23) dan Ibnu Majah (720).]

Dari Umar Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila muadzdzin mengucapkan, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar,’ kemudian salah seorang diantara kalian menjawab,Allâhu Akbar, Allâhu Akbar.’ Kemudian muadzdzin mengucapkan,Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh,’ lalu ia menjawab,Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh.’ Ketika muadzdzin mengucapkan,Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh,’ lalu ia menjawab, ‘Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh.’ Ketika muadzdzin mengucapkan,Hayya ‘Alash Shalâh,’ lalu ia menjawab, ‘Haula wa Lâ Quwwatâ Illâ Billâh.’ Ketika muadzdzin mengucapkan, ‘Hayya ‘Alal Falâh,’ lalu ia menjawab, ‘Lâ Haula wa Lâ Quwwatâ Illâ Billâh.’ Kemudian muadzdzin mengucapkan,Allâhu Akbar, Allâhu Akbar,’ lalu ia menjawab,Allâhu Akbar, Allâhu Akbar.’ Ketika muadzdzin mengucapkan, ‘Lâ Ilâha Illallâh,’ lalu ia menjawab,Lâ Ilâha Illallâh,’ dari lubuk harinya maka masuk surge.” [HR. Muslim (385), Abu Dawud (527), Ibnu Hibban (1685), dan Ibnu Khuzaimah (417).]

Setelah menjawab adzan disyariatkan pula untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan memohonkan wasilah untuknya. Berdasarkan pada hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma bahwasanya ia pernah mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Apabila kalian mendengar muadzdzin mengumandakan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bacalah shalawat kepadaku karena sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah akan membalasnya sepuluh kali, kemudian mintakanlah wasilah kepada Allah untukku karena sesungguhnya ia [wasilah] adalah kedudukan di dalam surga yang tidak layak kecuali bagi salah seorang hamba Allah, dan aku berharap menjadi hamba tersebut; barangsiapa memintakan wasilah untukku maka ia berhak mendapatkan syafaat.’ [HR. Muslim (384), Abu Dawud (523), At-Tirmidzi (3614) dan An-Nasai (2/25).]

                Makna memintakan wasilah untuknya adalah seperti yang tercantum didalam hadits dari Jâbir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa ketika mendengar adzan mengucapkan doa, ‘Allâhumma Rabba Hadzihid Da’watit Tâmmâh Wash Shalâttil Qâimah, Âti Muhammadal Wasîlata Wal Fadhilata Wab ‘Atshu Maqâmam Mahmudalladzi Wa ‘Adtah’ [Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang berlangsung, berikanlah wasilah (kedudukan) dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkanlah ia pada maqam yang terpuji yang pernah Engkau janjikan], maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.’ [HR. Al-Bukhari (614), Abu Dawud (529), At-Tirmidzi (211), An-Nasai (2/26), dan Ibnu Majah (722).]

 

[31] Sebagaimana adzan memiliki sifat-sifat yang beragam maka begitu juga halnya dengan iqamat, yaitu sebagai berikut:

                Pertama: Menjadikan takbir empat kali diawal iqamah sedang kalimat-kalimat lainnya dua kali selain kalimat yang terakhir. Hal ini berdasarkan pada hadits Abu Mahdzurah, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengajarkan iqamat kepadanya dengan tujuh belas kalimat yaitu, ‘Allâhu Akbar [empat kali]. Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh [dua kali]. Asyhadu Anna Muhammadar Rasûlullâh [dua kali]. Hayya ‘Alash Shalâh [dua kali]. Hayya ‘Alal Falâh [dua kali]. Qad Qâmatish Shalâh [dua kali]. Allâhu Akbar, Allâhu Akbar. Lâ Ilâha Illallâh.’ [Hasan. HR. Abu Dawud (502), At-Tirmidzi (192), secara ringkas, An-Nasai (2/4), dan Ibnu Hibban (1681).]

                Kedua: Semua kalimat-kalimatnya ganjil selain ucapan: Qad Qâmatish Shalâh ia diucapkan dengan dua kali, begitu juga halnya dengan takbir yang diawal dan akhir iqamah. Hal ini berdasarkan pada hadits Anas, ‘Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan witir.’ Dan dalam satu riwayat-kecuali Al-Iqâmah [Qad Qâmatsh Shalâh].’ [Tambahan ini ada pada Al-Baukhari (607), Muslim (378), dan Abu DAwud (509).] Dan juga berdasarkan pada hadits Abdullah Bin Zaid yang lalu tentang mimpinya yang berkenaan dengan iqamat untuk shalat.

Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Adzan dimasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak lain hanyalah dua-dua kali sedang iqamat satu-satu kali selain ucapan, ‘dibaca dua kali.’ [Hasan. HR. Abu Dawud (510), An-Nasai (2/3) dan Ahmad (2/85).] Imam Malik berpegang pada tata cara yang ini, namun untuk lafadh Al-Iqâmah beliau tetap mengganjilkannya, dimana ucapan ‘Qad qâmatish shalâh’ dibaca hanya satu kali saja. Tetapi bentuk seperti ini tidak valid. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, ‘Sama sekali tidak sah datangnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang menunggalkan kalimat ‘Qad qâmatish shalâh’.’ [Zâdul Ma’ad (2/389).]

 

[32] Berdasarkan firman Allah ta’ala: [Dan bersihkanlah pakaianmu] QS. al-Mudatstsir: 4.

Dan berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anha bahwasanya Khaulah binti Yasâr Radhiyallahu Anha ia berkata, ‘Ya Rasulullah, saya tidak memiliki pakaian kecuali satu dan itupun saya kenakan disaat berhaid?’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau telah suci, maka cucilah wilayah yang terkena darah, kemudian shalatlah dengan menggunakan pakaian tersebut.’ Khaulah berkata’ ‘Bagaimana jika bekas darah tidak hilang?’ Beliau bersabda, ‘Air sudah cukup bagi kamu, [setelah itu] bekasnya tidak menjadi masalah.’ [Shahih. HR. Abu Dawud (365), Ahmad (2/364, 387), Al-Baihaqi (2/408)].

Dan hadits Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah shalat lalu mencopot kedua sandalnya, maka orang-orang pun pada ikut mencopot sandal mereka. Seusai shalat, Nabi bertanya kepada mereka, ‘Mengapa kalian mencopot sandal kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami melihatmu mencopotnya maka kami pun ikut mencopot.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberitahukanku  bahwa pada kedua sandalku ada kotoran. [Shahih. HR. Abu Dawud (650), Ahmad (3/20), dan Ad-Darimi (1378). Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwâ’ (284).]

 

[33] Berdasarkan firman Allah ta’ala: [Dan bersihkanlah pakaianmu] QS. al-Mudatstsir: 4. Jika pakaian saja harus bersih, maka kebersihan badan tentu lebih utama.

Begitu juga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita bersuci saat buang air besar, buang air kecil, menghindar dari cipratan air kencing, membersihkan kemaluan dari air madzi, menunjukkan wajibnya membersihkan badan dari segala macam najis saat melaksanakan shalat.

 

[34] Berdasarkan firman Allah ta’ala: [Dan telah kami perintahkan kepada Ibrâhim dan Ismâil, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaf, yang rukuk dan yang sujud] QS. al-Baqarah: 125.

Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  pernah melihat seorang arab dusun kencing di dalam masjid, lalu beliau bersabda, ‘Biarkan dia!’ hingga tatkala orang itu selesai kencing, Nabi meminta setimba air lalu dituangkannya dibekas kencing orang itu.’ [Muttafaqun Alaihi] Imam Muslim menambahkan, kemudian Rasululllah Shallallahu Alaihi wa Sallam  memanggilnya dan berkata kepadanya, ‘Tempat ini adalah Masjid,  tidak patut dari air kencing dan kotoran, tempat ini tidak lain hanyalah untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al-Quran.’ [HR. Al-Bukhari (219,221), Muslim (285), At-Tirmidzi (147) dan Ibnu Majah (528).]

 

[35]Ulama berbeda pendapat tentang  hukum bersuci dari tiga perkara tersebut: Maka sebagian besar ulama berpendapat bahwa ia adalah syarat untuk sahnya shalat, demikian mazhab Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabalah dan Al-Hanafiyah. Sedang dari imam Malik sendiri ada dua pendapat: Pertama: Menghilangkan najis adalah sunnah bukan wajib. Kedua: Menghilangkan najis adalah wajib apabila ingat, dan menjadi gugur apabila lupa. Menurut pendapat imam Syafi’i yang lama: Bahwa menghilangkan najis bukan merupakan syarat. Sedang Asy-Syaukani berpendapat bahwa menghilangkan najis adalah perkara wajib dan bukan syarat. Perbedaan diantara keduanya adalah apabila seseorang shalat dan ada najis mengenai dirinya maka orang ini meninggalkan sesuatu yang wajib namun shalatnya tidak batal. Berbeda halnya jika ia ditetapkan sebagai syarat maka ia wajib mengulangi shalat tersebut. Diantara dalil yang dipergunakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengulangi shalatnya setelah beliau mencopot kedua sandalnya, bahkan beliau menyempurnakan shalatnya. Andai hal itu sebagai syarat pastilah Nabi mengulangi shalat yang telah dilakukannya itu.

 

[36] Aurat itu terbagi menjadi dua, yaitu: aurat dalam pandangan, yaitu aurat yang haram ditampakkan di depan orang-orang dan aurat dalam shalat atau lebih tepatnya jika dinamakan dengan perhiasan dalam shalat.

  •  Adapun dalil atas perhiasan shalat laki-laki: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah salah seorang diantara kalian shalat dengan mengenakan selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh diatas bahunya.’ [HR. Al-Bukhari (365Muslim (515), Abu Dawud (625) dan An-Nasai (2/69).] Dan dari Jâbir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Jika kamu shalat dengan selembar kain, apabila kain itu lebar maka berselimutlah dengannya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya.’ [HR. Al-Bukhari (361), Muslim (3010), dan Abu Dawud (634).]
  • Adapun dalil atas perhiasan shalat wanita: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘‘Allah tidak menerima shalat perempuan yang telah haid, kecuali dengan kerudung.’ [Hasan. HR. Abu Dawud (641), At-Tirmidzi (377) dan Ibnu Majah (655) . Yang dimaksud dengan Haid yaitu wanita yang telah sampai pada usia haid.]

 

 

[37] Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata,

 “Sesungguhnya Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang isytimalush shammaa’ (berselubung dan berselimut seperti batu)”. [HR. Al-Bukhoriy (367), Muslim (2099), Abu Dawud (2417), At-Tirmidziy (1758), An-Nasa’iy (5340), dan Ibnu Majah (3561)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniyrahimahullah berkata dalam menjelaskan makna hadits ini, Ahli bahasa mengatakan, “Seseorang menyelimuti badannya dengan pakaian yang tidak terbuka segala sisinya dan tidak ada lubang untuk mengeluarkan tangannya. Ibnu Qutaibah berkata, “Dinamakan shammaa’ (batu keras), karena semua lubangnya tertutup, maka keadaannya seperti tanah yang membatu dan keras, yang tidak ada celah sedikitpun padanya.[Lihat Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari (1/477), cet. Darul Ma’rifah]

Isytimal ash-shamma` ini dilarang karena menahan seseorang untuk melaksanakan perkara yang disyariatkan di dalam shalat secara sempurna. Bila ditakdirkan ada sesuatu yang menyergapnya ketika itu, ia tidak mungkin dapat bersegera menolaknya karena kedua tangannya terbungkus di dalam kain/pakaiannya.

 

[38]Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari sadl di dalam shalat.” [Hasan. HR. At-Tirmidzi no. 378, Abu Dawud, dll, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Abi Dawud, Al-Misykat no. 764]

                Penulis kitab, Tuhfah al-Ahwadzi, syarah Jami’ at-Tirmidzi (2/312-317) menyebutkan, menjulurkan pakaian memiliki banyak makna, antara lain:

  1. Pendapat Abu ‘Ubaidah di dalam kitabnya, as-sadl berarti seseorang menjulurkan pakaiannya (isbal) tanpa menggabungkan kedua sisinya dihadapannya, karena bila ia menggabungkannya tidaklah dikatakan sadl.
  2. Pendapat penulis kitab an-Nihayah: as-sadl berarti seseorang berselimut dengan pakaiannya dan memasukkan kedua tangannya dari dalam, dimana ia melakukan ruku’ dan sujud dalam keadaan demikian.
  3. Ada juga yang mengatakan, yaitu seseorang meletakkan bagian tengah pakaiannya diatas kepalanya dan melepaskan kedua tepiannya kesebelah kanan dan kirinya tanpa meletakkan keduanya di atas kedua bahunya.
  4. Pendapat al-Jauhari: yakni, menjulurkannya.
  5. Pendapat al-Khaththabi: yakni, menjulurkan pakaian sampai menyentuh tanah.
  6. Pendapat al-‘Iraqi: yakni, menguraikan rambut.

Imam asy-Syaukani mengatakan, tidak ada halangan untuk membawa hadits ini pada semua makna diatas, jika memang as-sadl punya banyak arti. Membawa kata yang memiliki banyak arti pada semua maknanya merupakan mazhab yang kuat. (Nailul Authar)

Namun pengertian sadl sendiri yang dikenal di kalangan ahli fiqih (fuqaha) adalah memakai pakaian/kain di atas dua pundak, kedua ujungnya dibiarkan terjuntai, tidak dikembalikan ke atas dua pundak. Akan tetapi bila model pakaiannya memang dipakai dengan cara seperti itu, maka tidak apa-apa seperti qaba` (mantel atau semacam pakaian luar). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyatakan apabila qaba` diletakkan di atas dua pundak tanpa memasukkan dua lengannya bukanlah termasuk sadl, dengan kesepakatan para ulama. Ini tidak termasuk sadl yang dibenci, dan pakaian ini bukanlah pakaian Yahudi. (Asy-Syarhul Mumti’ 1/459, Ghidza`ul Albab 2/156)

 

[39]Berdasarkan pada hadits Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memanjangkan kainnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [Shahih. Al-Bukhâri [3665] dan Muslim [2085].

dari Abu Hurairah Radhiyallâhu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Pakaian yang memanjang dari kedua mata kaki, maka [pemakainya] berada di neraka.” [Shahih. Al-Bukhâri [5787)]

 

[40] Berdasarkan hadits Abu Rafi’ Radiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang seseorang shalat sedang rambut kepalanya terpintal [terikat]. [Hasan Shahih. HR. Abu Dawud (646), At-Tirmidzi (384), Ibnu Majah (1042)- lafadh tersebut adalah miliknya- dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi.]

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ‘Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk sujud  di atas tujuh bagian, dan melarang mengumpulkan rambut dan pakaiannya. [HR. Al-Bukhari (809, 810, 815), Muslim (490), Abu Dawud (889), At-Tirmidzi (273) dan  An-Nasai (2/216).]

Hikmah dari larangan tersebut lantaran rambut itu ikut bersujud bersama pemiliknya apabila ia sujud.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah masuk ke dalam masjid lalu melihat ada seorang laki-laki shalat di situ dengan rambutnya yang terpintal. Tatkala orang itu berpaling, Abdullah berkata kepadanya, ‘Apabila engkau shalat, maka janganlah engkau memintal [mengikat] rambutmu, karena rambutmu itu ikut bersujud bersamamu, dan pada setiap helai rambut ada pahala bagimu. Maka orang itu berkata, ‘Sesungguhnya aku takut rambutku terkena debu.’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Engkau mengenakannya dengan debu adalah lebih baik bagimu.’ [Shahih. HR. Abdur Razzaq (2/185), At-Thabrani dalam ‘Al-Kabir’ (9/267), dan Ibnu Abi Syaibah (2/194).]

Hal yang sama juga valid datangnya dari Ibnu Umar.

Hikmah lain dari terlarangnya memintal rambut dalam shalat adalah agar tidak serupa dengan maktûf yaitu orang yang mengikat tangannya di belakangnya. Sebab jika ia bersujud maka kedua tangannya tidak ikut sujud bersamanya.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah melihat Abdullah bin Al-Harits sedang mengerjakan shalat, sementara rambutnya terpintal ke belakang, lalu [Ibnu Abbas] membuyarkan pintalan rambutnya. Selesai shalat, Abdullah pun menghampiri Ibnu Abbas sambil bertanya, ‘Ada apa dengan kepalaku?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah  Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Perumpamaan orang ini seperti orang yang mengerjakan shalat dalam keadaan tangannya terikat ke belakang.’ [HR. Muslim (492), Abu Dawud (647), dan An-Nasai (2/215-216)]

An-Nawawi Rahimahullah berkata, ‘Para ulama telah sepakat melarang shalat dengan pakaian yang disingsingkan, lengan atau yang semisalnya, atau rambut yang dipintal, atau rambut yang dimasukkan ke bawah sorban dan sebagainya. Semua ini hukumnya makruh menurut kesepakatan ulama.’ [Al-Majmu’ oleh An-Nawawi (4/98).]

Ketahuilah bahwa larangan memintal [mengikat] rambut hanya berlaku khusus pada laki-laki dan tidak pada wanita sebagaimana yang di katakan oleh Al-Iraqy. Adapun hukum memintal, maka At-Tirmidzi menceritakan dari ahli ilmu bahwa mereka semua memakruhkan hal itu.

 

[41] Berdasarkan hadits Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Diharamkan pakaian sutera dan emas atas kaum laki-laki dari ummatku dan dihalalkan bagi kaum wanitanya.”[Shahih. HR. at-Tirmidzi (1720)]

 

[42] Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa sewaktu di dunia memakai pakaian syuhrah maka Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan di hari kiamat nanti kemudian dalam pakaian tersebut akan dinyalakan api neraka’,” [Shahih, HR Abu Dawud [4029] dan Ibnu Majah [3607)].

Pakaian syuhrah, yaitu seseorang memakai pakaian yang bertentangan dengan apa yang dipakai masyarakat setempat untuk menarik perhatian dan membuat mereka kagum terhadap pakaian yang ia pakai, baik pakaian mewah maupun pakaian yang jelek.

 

[43] Lantaran ia adalah milik orang lain dan hal itu haram menurut ijma` (kesepakatan) ulama.

 

[44] Berdasarkan firman Allah ta’ala: [Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam] QS. Al-Baqarah: 144.  Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang yang buruk shalatnya, ‘Apabila kamu mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudhu`, kemudian menghadaplah ke Kiblat, lalu bertakbir.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim].

 

[45] Lantaran hal itu amat mungkin dilakukan dan juga Allah tidak akan membebani seseorang pada sesuatu yang ia tidak sanggup memikulnya. Mengenai tentang cukupnya menghadap ka arah Ka’bah saja adalah sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Apa yang berada diantara timur dan barat adalah Kiblat.” [Shahih. HR. At-Tirmidzi (342) dan ia berkata, ‘Hasan Shahih.’ An-Nasai (4/172), dan Ibnu Majah (1011). Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani didalam ‘Al-Irwâ’ (292).].

 

Faidah:

Penentuan arah Kiblat dapat dilakukan dengan cara menyaksikan sendiri Ka’bah tersebut, atau  dengan berita dari orang yang tsiqah yang yakin , atau dengan jalan ijtihad. Yang dimaksud dengan Tsiqah adalah orang yang adil dan punya pengetahuan, baik laki-laki atau pun wanita. Yang dimaksud dengan perkataan kami ‘yakin’ yaitu menyaksikan Kiblat, seperti karena ia adalah penduduk dari negeri tersebut. Sedang yang di maksud dengan ucapan kami ‘Ijtihad’ adalah mengetahui arah dengan tanda-tanda dan bukti bukti. Arah Kiblat juga dapat diketahui melalui petunjuk-petunjuk yang dikenal baik oleh orang-orang, seperti bangunan mihrab yang berada didalam masjid-masjid,[45] atau dengan bintang-bintang bagi orang yang punya pengetahuan tentang itu, atau dengan matahari, bulan, dan orbit-orbit keduanya bagi orang yang punya pengetahuan tentang itu. Dan diantara petunjuk yang biasa dipergunakan untuk saat ini adalah kompas.

 

 

Diterjemahkan dan disyarah secara ringkas oleh

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1433 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: