//
you're reading...
Fiqih

Berbicara Saat Wudhu


Soal:

Bolehkah kita berbicara (ngobrol) saat berwudhu?  Mohon penjelasannya lantaran ana pernah mendengar hadits tentang larangan berbicara saat berwudhu.

 

Jawab:

Hingga saat ini kami belum mendapatkan satu hadits shahih pun yang melarang seseorang berbicara di saat ia sedang berwudhu. Bahkan sebaliknya, terdapat dalil shahih yang menunjukkan bolehnya hal itu.

Adapun jika Anda pernah mendengar atau membaca pendapat yang memakruhkan atau mengharamkan berbicara di saat wudhu dengan sangkaan adanya hadits yang menyokong pendapat tersebut, maka kami katakan: ‘Benar, ada hadits yang menjadi sandaran untuk pendapat itu tetapi hadits yang dimaksud adalah hadits lemah yang tidak dapat dijadikan sebagai sandaran hukum.’

 

Hadits Larangan Berbicara di Saat Wudhu dan Derajatnya

Umumnya hadits yang dijadikan sandaran untuk menetapkan makruh atau haramnya berbicara di saat berwudhu adalah hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu berikut ini; Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang berwudhu lalu mengucapkan Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah Wahdahu Laa Syariikalahhu Wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya), sebelum ia berbicara, maka diampuni baginya dosa-dosa yang ia lakukan antara dua wudhu.’ [HR. ad-Daruquthny 1/93].

Derajat Hadits : Dhaif Jiddan (lemah sekali) di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin al-Bailamany, dia lemah sekali. Imam al-Bukhari dan Abu Hatim berkata, ‘Mungkarul Hadits.’ [Lihat Mizanul I’tidal 1/63]. Dengan demikian, hadits di atas tidak shah digunakan sebagai sandaran dalam menetapkan makruh atau haramnya berbicara di saat berwudhu.

 

Alasan Bolehnya Berbicara

Adapun dasar bolehnya berbicara di saat berwudhu adalah sebagai berikut:

  • Tidak terdapatnya satu dalil  shahih pun yang melarang hal itu. Sedang menetapkan makruh atau haramnya sesuatu perlu dengan dalil yang shahih.
  • Diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Aku pernah bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian beliau berwudhu, lalu aku merunduk untuk melepas sarung kaki (khuf)-nya. Namun, beliau bersabda, ‘Biarkanlah keduanya, karena sesungguhnya aku memasukkan keduanya (kedua kaki) dalam keadaan suci.’ Lalu, beliau mengusap kedua khuf-nya tersebut. [HR. al-Bukhari 206 dan Muslim 79].

Tampak pada hadits di atas, bahwa sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap khuff-nya (sebagai ganti dari mencuci kaki) beliau terlebih dahulu berbicara dengan memberikan arahan kepada al-Mughirah bin Syu’bah agar khuff yang beliau kenakan tidak dicopot. Hal ini menunjukkan bahwa berbicara di saat wudhu adalah boleh.

 

Kesimpulan

Selagi tema pembicaraan bersih dari unsur ghibah (ngerasani), dusta, mengadu domba, dan perkataan-perkataan haram lainnya, maka seseorang diperbolehkan berbicara di saat ia sedang berwudhu. Wallahu A’lam.

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember, Rajab 1433 H.

Diskusi

5 thoughts on “Berbicara Saat Wudhu

  1. Assalamu’alaikum
    maaf sebelumnya, saya hanya ingin menyampaikan sebuah hadist shahih tentang bebicara saat/setelah wudhu.,

    Rosulullah Shallallahu’alaihi bersabda: “Barang siapa berwudhu seperti wudhuku, kemudian dia shalat dua rakaat dan Tidak Berbicara diantara keduanya (antara shalat dan wudhu), maka dosanya yang telah lalu akan diampuni”
    (H.R. Bukhari) no:155

    Posted by kamideshu | Desember 29, 2013, 8:58 am
    • Wa’alaikumussalam warahmatullah.
      Insya Allah, hadits yang anda maksudkan redaksi sebagai berikut:
      مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ
      Dari Utsman Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat, yang pada kedua rakaat shalat itu ia tidak berbicara dengan dirinya sendiri [tanpa membayangkan sesuatu] maka dosa-dosanya yang telah lalu terampuni.(HR.Bukhari).

      Maksud:-La huyadditsu fiihima nafsahu- arti yang benar dari haditsun nafs itu adalah lintasan-lintasan batin bukan “berbicara” sebagaimana yang anda terjemahkan. Kemudian kata: Fiihima (pada keduanya), arti yang benar adalah: “pada kedua rakaat tersebut” bukan “diantara keduanya (antara shalat dan wudhu)” sebagaimana yang anda terjemahkan.

      Terjemahan yang tidak/kurang akurat dapat menyebabkan kesimpulan yang salah/kurang akurat.

      Adapun makna dari sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘Yang pada kedua rakaat shalat itu ia tidak berbicara dengan dirinya sendiri [tanpa membayangkan sesuatu] .’ Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, ‘yang dimaksud adalah tidak membayang-bayangkan sedikitpun perihal duniawi dan apa saja yang tidak ada sangkut pautnya dengan shalat. Jika bayang-bayang itu ditampakkan baginya maka ia akan segera berpaling darinya. Semata-mata hadirnya bayang-bayang tersebut [tidaklah membahayakannya], ia dimaafkan atas hal itu dan ia dapat memperoleh keutamaan yang dijanjikan tersebut, insya Allah; karena kehadirannya bukanlah dari perbuatannya, dan ummat ini benar-benar telah dimaafkan dari lintasan-lintasan yang datang secara tiba-tiba yang sifatnya tidak menetap.”

      Posted by bejanasunnah | Desember 31, 2013, 5:52 pm
  2. Dari buku dibalik ketajaman mata hati, karya imam Al Gazali “Rassulallah saw prrnh mmberi nasehat pd para sahabat, bila emgkau ingin berbicara dg Allah swt tannpa penterjemah, saat tiba suara adzan, lakukan wudhlu tanpa bicara seapath katapun dg manusia dan lgsg menuju mihrabmu”

    Posted by turwanono | Juni 14, 2016, 12:56 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: