//
you're reading...
Hadits

Hadits Lemah Dan Palsu Bulan Ramadhan


Soal:

‘Bulan Ramadhan, awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah pengampunan dosa dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka’, shahihkah hadits ini? Dan harap diinfokan tentang hadits lemah terkait dengan bulan Ramadhan.’ [ Ta’lim Masjid Jami’ Wuluhan- Jember]

 

Jawab:

Banyak di antara kaum muslimin yang tidak begitu peduli dengan hadits-hadits Nabi yang hendak ia ucapkan atau amalkan. Mereka tidak mempersoalkan akan keshahihan dan kelemahan sebuah hadits. Bagi mereka, hadits shahih, lemah atau bahkan palsu sekalipun dianggap berke-dudukan sama. Sehingga kegemaran mereka terhadap hadits lemah dan palsu mengalahkan kegemaran mereka terhadap hadits-hadits shahih dan hasan. Lantaran di dalam hadits-hadits lemah dan palsu banyak keutamaan yang dibesar-besarkan dan yang dilebih-lebihkan. Da-lam hal ini Rasulullah Salllallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menceritakan suatu hadits dariku yang ia ketahui bahwasanya itu dusta, maka ia termasuk golongan para pendusta.’

 

Imam Al-Qurthubi dalam salah sebuah nase-hatnya berkata, ‘Seharusnya yang diperbuat oleh orang-orang itu adalah melihat agama mereka seperti halnya mereka melihat harta benda mereka. Mereka tidak mau menerima satu dinar pun yang cacat sewaktu transaksi jual beli, mereka hanya mau memilih uang yang utuh dan bagus. Begitu pula, semestinya di antara riwayat-riwayat dari Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam itu juga tidak diambil selain hanya riwayat [hadits] yang shahih sanadnya dari Nabi saja, agar tidak menjurus pada tindakan berdusta atas Nabi. Aki-batnya, pada saat dia sedang mencari keutamaan, ternyata di situ dia mendapati kekurangan. Bah-kan bisa jadi dia mengalami kerugian yang nyata.’ [Lihat tafsir surat al-Ahzab ayat ke 56]

 

Oleh itu, bagi setiap muslim hendaknya membatasi diri dengan mengamalkan hadits-hadits shahih dan hasan saja, serta berupaya menjauhi hadits-hadits lemah lagi palsu. Dan upaya ini bisa dilakukan salah satu di antaranya dengan bertanya kepada ahli ilmu tentang itu.

Dan kepada Anda, berikut di antara hadits-hadits lemah yang terkait dengan bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dengan pemapa-ran ini, Anda dan kaum muslimin lainnya dapat terhindar dari segala tipu daya dari pihak yang sengaja mau merusak Islam dan sendi-sendi ajarannya :

 

1.  ‘Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.’

 

Lemah. Al-Irâqy dalam takhrij Al-Ihya 3/75 berkata, ‘Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam Al-Awshath dan Abu Nu’aim di dalam Ath-Thibbun An-Nabawy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah.’ [Lihat juga  ‘Adh-Dhaifah 253]

 

2. ‘Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, dan diamnya adalah tasbih…’

 

Lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dan Al-Baihaqy. Dan dilemahkan oleh Al-Iraqy di dalam takhrij Al-Ihya’ [Lihat Dhaiful Jâmi’ 5972]

 

3.     ‘Barangsiapa yang berbuka barang satu hari saja di bulan Ramadhan bukan lantaran rukhsah [kelonggaran] yang Allah berikan kepadanya [seperti sakit, musafir dan lainnya, red.] maka tidaklah ia dapat menggantinya walaupun dengan berpuasa sepanjang masa.’

 

Lemah. Imam Al-Munâwi di dalam Fathul Qadîr 6/106 berkata, ‘Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abul Muthawwis bin Yazid, ia berkesendirian padanya.  At-Tirmidzi dalam Al-Ilâl berkata dari Al-Bukhari, ‘Aku tidak mengetahui ia memi-liki hadits selainnya, dan aku tidak tahu apakah bapaknya mendengar dari Abu Hurairah atau tidak.’ Al-Qurthuby ber-kata, ‘Hadits lemah. Sepertinya tidak da-pat dijadikan sebagai hujjah, bahkan terda-pat beberapa hadits yang menyelisihinya.’ Ad-Dumairy berkata, ‘Lemah, sekalipun hadits itu di ta’liq oleh Al-Bukhari, dan didiamkan oleh Abu Dawud. Dan di antara ulama yang secara tegas melemah-kannya adalah Al-Baghawi. Ibnu Hajar ber-kata, ‘Padanya terdapat kegoncangan.’ Adz-Dzahabi dalam Al-Kabâir berkata, ‘Hadits ini tidak shahih.’ Syaikh Al-Bany juga melemahkan hadits di atas [lihat Dha-iful Jâmi’ 5471].

 

4.   ‘Awal Bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah pengampunan dosa, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.’

 

Munkar [lemah]. Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ali bin Zaid. Ia adalah rawi yang dhaif [lemah] sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad. Ibnu Khuzai-mah berkata, ‘Aku tidak menjadikannya sebagai hujjah lantaran jelek hafalannya.’ [Lihat ‘Al-Ilal’ oleh Ibnu Abi Hâtim 1/249 dan Adh-Dhaifah oleh Syaikh Al-Bâni 871].

 

5.    ‘Kalaulah seorang hamba tahu apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan, niscaya ummatku berharap agar Ramadhan itu ada sepanjang tahun.’

 

Palsu. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya 1886 dan Abu Ya’la dalam Musnadnya dari hadits Abu Mas’ud Al-Ghifary. Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Jarir bin Ayyub. Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan 2/101 berkata tentang diri Jarir, ‘Ia terkenal dengan kelemahan.’ Abu Nua’im berkata, ‘Dia pernah memalsukan hadits’. Al-Bukhari berkata, ‘Munkarul hadits.’ Syaikh Al-Bani berkata dalam ta’liqnya atas Ibnu Khuzaimah, ‘Sanadnya adalah lemah bahkan palsu.’

 

6.    ‘Bulan Ramadhan [puasa yang dilakukan oleh seseorang-] tergantung di antara langit dan bumi, dan tidak ada yang mampu mengangkatnya ke hadapan Allah kecuali dengan zakat fithri.’

 

Lemah. Di dalam  sanadnya ada rawi yang bernama Muhammad bin Ubaid Al-Bashry, dia adalah rawi yang majhul. [Lihat dalam ‘Al-Ilal Al-Mutanâhiyah oleh Ibnul Jauzi 824, dan Adh-Dhaifah oleh Syaikh Al-Bâni 43].

 

7.   ‘5 perkara yang dapat membatalkan puasa dan membatalkan wudhu, yaitu : dusta, ghibah, mengadu domba, memandang dengan syahwat dan sumpah palsu’

 

Lemah. Al-Munawi dalam Fathul Qâdir 3/590 berkata, ‘Di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Sa’id bin ‘Anbasah. Imam Adz-Dzahabi di dalam Adh-Dhu’afa berkata tentang dirinya, ‘Ibnu Main dan lainnya men-dustakannya dari Baqiyah, dan keadaannya diketahui. Sedang Jâbân [juga salah satu dari perawi hadits di atas] Az-Zahabi berkata tentang dirinya, ‘Ia tidak ma’ruf.’ [Keterangan lengkap lihat Adh-Dhaifah 1708].

 

8.   ‘Barangsiapa menghidupkan [dengan mela-kukan shalat khusus-] pada malam ‘Idul Fithri dan Idul Adha maka hatinya tidak akan mati di hari matinya hati-hati orang.’

 

Lemah. Ibnu Hajar berkata, ‘Hadits tersebut goncang sanadnya, di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Umar bin Hârun dan ia adalah dhaif/lemah. [Lihat Faidul Qadîr 6/55].

 

Demikianlah sejumlah hadits-hadits lemah dan palsu yang dapat kami suguhkan kehadapan pembaca. Sebenarnya masih ada banyak hadits lemah dan palsu yang terkait dengan bulan Ramadhan ini, namun delapan hadits di atas kami anggap cukup sebagai peringatan bahwa ada banyak hadits lemah dan palsu tentang urusan puasa ini. Dan bagi pembaca yang telah mengetahui kelemahan atau kepalsuan suatu hadits tidak diperbolehkan menisbatkan hadits-hadits tersebut kepada Rasulullah Sallalallahu ‘Alaihi wa Sallam karena hal itu juga digolongkan berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: