//
you're reading...
Fiqih

Kaidah-Kaidah Shiyam Ramadhan [1]


 

™  Kaidah Pertama

 

“Waktu bermula dan berakhirnya Ramadhân tidak dapat ditetapkan  melainkan dengan Ru’yatul Hilâl (sebagai tanda pokok) atau menyempurnakan bulan (sebagai tanda badal –pengganti- dari ru’yah).”

 

™  Dalil Kaidah

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 [1]    لاَ تَصُوْمُوْا حَتىَّ تَرَوا الهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilâl dan janganlah kalian berbuka hingga melihatnya (hilâl), dan jika awan menutupi kalian maka qadarkan[1]lah.”[[2]]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Abu-l-Qâsim shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

[2]     صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Berpuasalah kalian lantaran melihatnya dan berbukalah lantaran melihatnya. Dan jika awan menutupi kalian maka sempurnakanlah bilangan Sya’bân [menjadi] tiga puluh hari.”[[3]]

™

Penjelasan Kaidah

Masuk dan keluarnya bulan Ramadhan dapat diketahui dari dua tanda dan tidak ada tanda yang ketiganya. Yaitu,  tanda pokok (ashliyah) dan tanda pengganti (badaliyah). Adapun tanda pokok adalah menyaksikan hilal. Apabila hilal Ramadhân benar-benar telah terlihat maka berpuasa karenanya adalah wajib dan apabila hilal Syawal terlihat maka berbuka karenanya adalah wajib. Apabila telah masuk malam ketiga puluh Sya’ban atau malam ketiga puluh Ramadhân dan orang-orang tidak berhasil menyaksikan hilal yang posisinya sebagai tanda ashliyah maka beralih pada tanda lainnya yaitu tanda pengganti (Badaliyah). Yaitu dengan menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan menggenapkan Ramadhân menjadi tiga puluh hari sebagai tanda keluarnya Ramadhân.

™

Beberapa Permasalahan

  1. (Masalah Hisâb) Pendapat yang râjih –unggul- bahwa hisâb tidak boleh dijadikan sebagai tanda ashliyah maupun badaliyah dalam menetapkan masuk dan keluarnya bulan Ramadhân dengan alasan:

Pertama: Adanya perintah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk berpuasa dan berbuka lantaran melihat hilâl serta menyempurnakan bulan menjadi tiga puluh jika hilâl tidak terlihat (Lihat dalil kaidah nomor dua).

Kedua: Adanya larangan berpuasa dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam saat hilal belum terlihat atau bulan disempurnakan menjadi tiga puluh jika hilâl tidak telihat (Lihat dalil kaidah nomor satu).

Ketiga: Nabi shallallahu alaihi wa sallam menafikkan hisab dari ummat Muhammadiyah pada urusan yang terkait dengan berpuasa dan berbuka. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

[3]     إنّاَ أُمَّةٌ أُمِّيَةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ  الشَّهْرُ هكَذَا وَهكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِيْنَ وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ .

Kita adalah ummat yang ummi, kita tidak menulis dan menghisab. Bulan itu seperti ini dan seperti ini yakni terkadang dua puluh sembilan (hari) dan terkadang tiga puluh (hari)”[4]

Keempat: Menyelisihi sunnah amaliyah yang berkesinambungan yang valid datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan dari para Khulafaur Râsyidîn radhiyallau anhum, dimana mereka tidak pernah menjadikan hisab sebagai patokan untuk masuk dan keluarnya Ramadhân. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpuasa sebanyak sembilan Ramadhan dan sepeninggal beliau terus dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsmân, dan Ali  yang jumlahnya kurang lebih tiga puluh Ramadhân dan tidak ada seorang pun dari mereka yang diketahui berpedoman pada hisab. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

[4]     فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ المَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ .

 “Karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu sesudahku akan melihat pertentangan (perselisihan) yang banyak, maka berpegang teguhlah kamu kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kamu kepadanya dan gigitlah dengan geraham-geraham(mu).”[5]

 2.    (Jumlah Saksi) pendapat yang rajih –unggul- bahwa penetapan rukyatul hilâl (masuknya) Ramadhân cukup dengan satu orang saksi yang adil.  Berdasarkan pada hadits yang dikeluarkan oleh Abu Dâwud,  dari Ibnu Umar radhiyallâhu anhu:

[5]     تَرَاءَى اَلنَّاسُ اَلْهِلَالَ, فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنِّي رَأَيْتُهُ, فَصَامَ, وَأَمَرَ اَلنَّاسَ بِصِيَامِهِ

Orang-orang melihat bulan sabit, lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya. Lalu beliau berpuasa dan menyuruh orang-orang agar berpuasa.”[6]  Adapun penetapan rukyatul hilâl Syawal (keluarnya Ramadhân) maka mesti dengan dua orang saksi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

[6]     صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، وَانْسُكُوْا لَهَا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا ثَلاَثِيْنَ، فإِنْ شَهِدَ شَاهِدَان فَصُوْمُوْا وَأَفْطِرُوْا

Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilâl), berbukalah karena melihatnya, dan bernusuklah karenanya. Apabila awan menutupi kalian maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban (menjadi) tiga puluh. Dan apabila dua orang telah bersaksi (menyaksikan hilâl) maka berpuasa dan berbukalah kalian.”[7]

3.    (Lafazh Persaksian) Pendapat yang râjih –unggul- bahwa orang yang bersaksi melihat hilal dihadapan hakim tidak harus mengucapkan dua kalimat syahadat[8] tetapi cukup dengan lafazh pemberitahuan bahwa ia melihat hilâl. Hal ini disandarkan pada hadits Ibnu Umar diatas (Lihat no.5), dimana ibnu Umar berkata, “lalu aku beritahukan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa aku benar-benar telah melihatnya.”

4.   (Bila Hakim Menolak Persaksian Seseorang Yang Melihat Hilal) Pendapat yang rajih –unggul- bahwa ia tidak diperkenankan mengamalkan rukyahnya. Ia mesti berpuasa bersama orang-orang dan berhari raya bersama mereka. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

[7]     صَوْمَكُمْ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَفِطْرِكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَأضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ.

‘Puasa kalian adalah ketika orang-orang berpuasa, hari raya Iedul Fithri kalian adalah ketika orang-orang berhari raya Iedul Fithri, penyembelihan hewan kurban kalian adalah ketiak orang-orang menyembelih hewan kurban mereka.”[9]

5.   (Hilal Ramadhân tidak terlihat diakhir hari ke-29/ malam ke-30) Pendapat yang rajih –unggul- tidak diperbolehkan berpuasa pada hari yang ke-30, baik langit dalam keadaan mendung ataupun cerah. Jika langit mendung maka hari ke-30 dikatakan sebagai hari syak (meragukan). Sedang jika langit cerah maka hari ke-30 tidak disebut sebagai hari syak, namun hari yang diyakini bagian dari Sya’ban bukan Ramadhan.  Hal ini dasarkan pada dalil-dalil berikut ini:

Pertama: Hadits Ibnu Umar yang memerintahkan untuk menggenapkan Sya’ban menjadi tiga puluh hari jika hilâl tidak terlihat (Lihat hadits nomor 2).

Kedua:  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang berpuasa pada hari syak. Dari Abi-l-Yaqzhân, Ammâr bin Yâsir radhiyallahu anhu berkata:

[8]     مَنْ صَامَ اليَوْمَ الَّذِيْ يُشَكُّ فِيْهِ، فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ .

“Barangsiapa puasa pada hari ia ragu (apakah sudah masuk Ramadhân atau belum), maka ia telah maksiyat (membangkang) Abu-l-Qâsim (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam).”[10]

Ketiga: Adanya larangan mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

[9]     لاَيَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ رَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْمَهُ، فَلْيَصُمْ ذلِكَ  اليَوْمَ .

“Janganlah salah seorang dari kalian mendahului Ramadhân dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang memang berpuasa sebelumnya, maka hendaklah ia berpuasa hari itu.”[11]

6.   (Terlihatnya Hilâl di Suatu Negeri, Sementara Di Negeri Lainnya Tidak) Pendapat yang rajih –unggul- bahwa apabila suatu negeri mathla`nya berbeda dengan negeri lainnya maka masing-masing negeri memiliki rukyatul hilâl. Dan apabila mathla’nya tidak berbeda, maka bagi siapa saja yang belum melihat hilal wajib mengikuti ketetapan rukyat hilal tempat yang lain. Hal ini didasarkan pada:

Pertama: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah kalian lantaran melihatnya (hilal) dan berbukalah lantaran melihatnya.” (Lihat hadits nomor 2). Dalam hadits ini Rasulullah shallallallahu alaihi wa sallam menggantungkan hukum puasa pada rukyatul hilâl. Dimana jika penduduk suatu negeri  telah melihatnya maka mereka wajib berpuasa, dan ketetapan berpuasa ini juga berlaku bagi negeri yang mathla’ hilâlnya sama.[12]

Kedua:  Hadits yang dikeluarkan oleh Muslim di dalam Shahih-nya: Dari Kuraib radhiyallahu anhu, ia berkata:

[10] أَنَّ أُمَّ الفَضْلِ بِنْتَ الحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَناَ بِالشَّامِ فَرَأَيْتُ الِهلاَلَ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ المَدِيْنَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنيِ عَبْدُاللهِ بنَ عَبَّاس – رضي الله عنهما –  ، ثُمَّ ذَكَرَ الهِلاَلَ ، فَقَالَ مَتىَّ رَأَيْتُمْ الهِلَالَ فَقُلْتُ : رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ فَقَالَ : أَنْتَ رَأَيْتَهُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوْا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ: لَكِنَّنَا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُوْمُ حَتىَّ نُكْمِلَ ثَلاَثِيْنَ أَوْ نَرَاهُ . فَقُلْتُ : أَوَ لاَ تَكْتَفِيْ بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ ، فَقاَلَ : لاَ ، هَكذَا أَمَرَنَا رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم )

“Bahwasanya Ummu –l-Fadhl binti Al-Hârits  pernah  mengutusnya menemui Mu’âwiyah. Ia (Kuraib) berkata, “Maka aku pun tiba di Syam lantas aku tunaikan hajatnya (ummu Fadhl). Permulaan Ramadhan masuk saat aku berada di Syam, aku melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku pulang ke Madinah di akhir bulan Ramadhan. Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku, ia menyebut tentang hilal. Dia bertanya, “Kapan kalian melihat hilal?” Aku menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jumat.” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau menyaksikannya?” Jawabku, “Ya, orang-orang juga melihatnya. Mereka berpuasa dan Muawiyah turut berpuasa.” Abdullah bin Abbas berkata, “Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu. Kami akan terus berpuasa hingga kami menyempurnakannya tiga puluh hari, atau jika kami melihat hilal Syawal.” Aku berkata, “Apakah tidak cukup jika engkau mengikuti rukyat hilal Muawiyah dan puasanya?” Abdullah bin Abbas menjawab, “Tidak! Begitulah Rasulullah ? memerintahkan kami.”[13] Imam An-Nawawi rahimahullah berkata berkenaan dengan tarjamah hadits ini (Bab penjelasan bahwa masing-masing negeri berdasarkan rukyah mereka), “Jika mereka menyaksikan hilâl di salah sebuah negeri maka hukumnya tidak berlaku pada negeri yang jauh[14] dari mereka.”


[1] Maksud qadarkanlah adalah sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari. Pemaknaan seperti ini berdasarkan pada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” Dan  ketahuilah bahwa mengamat-amati keberadaan hilâl merupakan adat (kebiasaan) orang-orang terdahulu pada masa kenabian sebagaimana yang digambarkan oleh ibnu Umar radhiyallâhu anhu, “Orang-orang pada melihat hilâl” [Shahih. HR. Abu Dawud (2342)].

[2] HR. Al-Bukhâri [1900] dan Muslim [2498].

[3] HR. Al-Bukhâri [1909]

[4] HR. Al-Bukhâri [1913]dan Muslim [1080]. Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata, “Hadits ini adalah khabar yang mengandung larangan. Beliau mengabarkan bahwa ummat yang mengikutinya adalah ummat pertengahan (Al-Wasath) lagi ummi yang tidak menulis dan menghisab. Barangsiapa yang menulis, menghisab atau tidak menjadi bagian dari ummat ini  dalam hukum (penentuan Ramadhan ) ini, bahkan sebaliknya ia mengikuti  jalan yang bukan jalan  orang-orang mukmin yang mana mereka itu yang dimaksud dengan ummat ini, maka ia telah melakukan sesuatu yang bukan bagian dari agamanya dan keluar darinya adalah terlarang dan diharamkan baginya. Dengan demikian menulis dan menghisab sebagaimana yang termaktub didalam  hadits adalah diharamkan dan terlarang.”

[5] HR. Abu Dawud.

[6]  Shahih. HR. Abu Dâwud [2342]

[7] Shahih. HR. An-Nasai [1/300] dan Ahmad [4/321]. Hadits ini menunjukkan bahwa satu orang saksi tidak teranggap dalam penetapan masuk dan keluarnya Ramadhân. Namun penetapan masuknya Ramadhân keluar dari ketentuan ini berdasarkan dengan hadits Ibnu Umar diatas yang menunjukkan cukupnya satu orang saksi. Sedang penetapan keluarnya Ramadhân tetap harus dengan dua orang saksi  lantaran tidak adanya dalil yang membolehkan satu orang saksi saja sebagaimana masuknya Ramadhân. Wallahu a’lam.

[8] Adapun hadits: Bahwa ada seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu berkata: Sungguh aku telah melihat bulan sabit (tanggal satu). Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah?” Ia berkata: Ya. Beliau bertanya: “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah.” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Umumkanlah pada orang-orang wahai Bilal, agar besok mereka shaum.”  Maka hadits ini adalah hadits lemah. Abu Dâwud berkata, “Jamaah meriwayatkannya dari As-Simâk, dari Ikrimah, secara mursal. Dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albâni.

[9] HR. At-Tirmidzi (802), Abu Dâwud [2324] dan lainnya. Dishahihkan oleh Al-Albâni lihat Al-Irwâ` [905].

[10] Shahih. HR. Abu Dâwud [2317], At-Tirmidzi [681]

[11] HR. Al-Bukhâri [1914] dan Muslim [1082].

[12] Asy-Syaikh Utsaimin rahimahullahu berkata, “Engkau dapat saksikan bahwa kaum muslimin di negeri timur sana -yaitu Asia-, mulai berpuasa sebelum kaum muslimin yang berada di sebelah barat dunia, begitu pula dengan buka puasanya. Hal ini terjadi karena fajar di negeri timur terbit lebih dulu dari negeri barat. Begitu pula dengan tenggelamnya matahari lebih dulu di negeri timur daripada negeri barat. Jika bisa terjadi perbedaan sehari-hari dalam hal mulai puasa dan berbuka puasa, maka begitu pula hal ini bisa terjadi dalam hal mulai berpuasa di awal bulan dan mulai berhari raya. Keduanya tidak ada bedanya.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa-il 19/24-25].

[13] HR. Muslim (2528).

[14] Yang benar bahwa batasan ‘jauh’ yang dimaksud adalah bukan jarak safar, namun se- mathla’ (satu tempat terbit) atau tidak se- mathla’.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: