//
you're reading...
Fiqih

Tuntunan Ibadah Puasa


Pintu-pintu Sya’ban sebentar lagi akan tertutup, sedang pintu-pintu madrasah Ramadhan akan segera terbuka. Setiap kita akan memasuki madrasah ini, namun tidak setiap orang di antara kita mampu berhasil keluar dengan nilai yang istimewa. Bahkan ada yang keluar darinya dengan membawa predikat ‘bangkrut’.

 

Sebagai seorang muslim yang baik yang selalu berharap mendapatkan nilai istimewa di dalam aktivitas ibadahnya, tentu akan berupaya semaksimal mungkin menempuh jalan-jalan yang dapat menghantarkannya ke arah sana. Dan di antara jalan-jalan tersebut adalah mengetahui hukum Allah dan Rasul-Nya tentanga aktivitas ibadah yang akan ia lakukan. Dan kepada Anda, inilah bahasan ringkas tentang ‘Tuntunan Ibadah Puasa Ramadhan’.

 

Makna Puasa

Puasa (shaum/shiyam) dalam bahasa Arab bermakna ‘menahan’ (imsak). Sedang menurut istilah, puasa adalah ‘menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, sejak terbitnya fajar yang kedua (fajar shadiq) hingga terbenamnya matahari dengan niat puasa, untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

 

Awal Disyari’atkannya

Puasa Ramadhan awalnya diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriyah sebelum berlangsungnya perang Badar. Mulanya, kewajiban berpuasa Ramadhan hanya bersifat takhyir (pilihan), antara memilih berpuasa atau tidak. Bagi yang tidak berpuasa terkena kewajiban membayar fidyah. [HR. Bukhari 4507 dan Muslim 1145]. Namun, kemudian puasa bersifat wajib tanpa takhyir. Tetapi, jika sekarang sebelum makan malam maka tidak halal baginya makan, minum, berjima’ hingga besok malamnya. Cara berpuasa seperti ini telah dihapus Allah Ta’ala. [QS. al-Baqarah : 187]. Pada tahapan berikutnya, pelaksanaan puasa seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin hari ini hingga hari Kiamat nanti; yaitu menahan diri dari makan, minum, dan berjima’ dari terbitnya fajar yang kedua hingga terbenamnya matahari. [HR. al-Bukhari 1915].

 

Hukumnya

Berpuasa Ramadhan hukumnya wajib berdasarkan nash-nash dari al-Qur’an, al-Hadits, dan al-Ijma’. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.’ [QS. al-Baqarah : 183].

 

Keutamaannya

Di antara keutamaannya adalah pintu-pintu Syurga terbuka dan pintu-pintu Neraka ditutup. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ .

Bila datang Ramadhan, pintu-pintu Syurga dibuka dan pintu-pintu Neraka ditutup, serta syaithan-syaithan dibelenggu.’ [HR. Bukhari 1898 dan Muslim 1079]. Penyebab diampunkannya dosa-dosa. [HR. Bukhari 1904 dan Muslim 1079]. Di dalamnya terdapat keutamaan “Lailatul Qadar”.’ [QS. al-Baqarah : 183].

 

Rahasia Berpuasa

Di antara hikmah berpuasa adalah puasa merupakan proses pelatihan dan pembiasaan jiwa untuk melakukan kebaikan, kedisiplinan, ketaatan, dan kesabaran. Juga puasa melahirkan kepekaan dan kepedulian perasaan tentang adanya persamaan dengan saudaranya yang sedang berpuasa.

 

Yang Diwajibkan Berpuasa

Puasa Ramadhan wajib atas setiap muslim yang berakal, baligh, sehat, ber-mukim (tidak musafir atau bepergian), laki-laki atau perempuan; kecuali perempuan yang sedang dalam keadaan haidh dan nifas. [Lihat Ensiklopedi Ijma’ hal. 152].

 

Penentuan Awal Ramadhan

Ada tiga cara mengetahui masuknya bulan suci Ramadhan. Yaitu; dengan ru’yatul hilal [HR. Bukhari dan Muslim 1081], atau menggenapkan Sya’ban sebanyak 30 hari [HR. Bukhari dan Muslim 1081], atau kesaksian dua orang yang adil yang bersaksi bahwa keduanya telah melihat hilal Ramadhan [HR. Ahmad 5/264 dan an-Nasa’i 4/132].

 

Adapun hisab, tidak terdapat dalil yang menerangkan demikian. Imam an-Nawawi dalam Raudhatut Thalibin 2/347 berkata, ‘Bagi orang yang mengetahui hilal Ramadhan dengan hisab, maka tidak ada kewajiban berpuasa atasnya begitu juga untuk yang lainnya.’ 

 

Rukun dan Syarat Puasa

Rukun dan syarat-syarat puasa adalah :

 

  • Niat
  1. Niat adalah pekerjaan hati dan letaknya berada di hati. Maka, barangsiapa yang di hatinya telah bertekad untuk berpuasa, maka terwujudlah niatnya tersebut.
  2. Waktu niat di malam hari. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

 ‘Barangsiapa pada malam hari belum niat berpuasa, maka tidak ada puasa baginya.’ [HR. Abu Dawud 2454 dan at-Tirmidzi 726].

3.  Niat dilakukan setiap hari pada hari-hari puasa Ramadhan. Karena masing-masing hari adalah ibadah yang berdiri sendiri.

 

  • Imsâk
  1. Imsâk adalah menahan makan, minum, dan berjima’ dari terbitnya fajar yang kedua hingga terbenamnya matahari.
  2.  Dalam syari’at tidak dikenal dengan istilah imsakiyah Ramadhan; yaitu batas waktu berhentinya seseorang dari makan sahur, beberapa menit sebelum tibanya waktu adzan Shubuh. Karena, waktu Imsâk yang sebenarnya adalah ketika masuknya awal waktu fajar (waktu shalat Shubuh).
  3. Jika seseorang yang berpuasa makan dan minum dengan sangkaan bahwa matahari telah terbenam atau fajar belum terbit, lalu kenyataannya tidak demikian, maka tidak ada kewajiban qadha’ atasnya. [HR. Ibnu Majah 2043 dan ath-Thahawi 2/56].

 

Yang Membatalkan Puasa

Berikut perkara-perkara yang membatalkan puasa :

 

1)       Berjima’ (berhubungan suami isteri).

  • Berjima’ di siang hari mewajibkan pelakunya meng-qadha’ puasa dan membayar kaffarah (denda); yaitu memerdekakan budak, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang fakir miskin. [HR. al-Bukhari 1937 dan Muslim 1111].
  • Jika seseorang menjima’ isterinya lantaran lupa atau tidak tahu akan keharamannya, maka tidak ada kaffarat baginya.
  • Wanita juga wajib membayar kaffarat jika jima’ yang dilakukannya atas dasar kerelaannya berdasarkan keumuman hadits, ‘Wanita adalah saudara kandung laki-laki.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 2373].

 

2)       Makan dan minum dengan sengaja.

  • Barangsiapa yang makan dan minum dengan sengaja, maka ia telah melakukan perbuatan dosa dan wajib atasnya bertaubat. Tidak ada kewajiban qadha’ dan juga kewajiban membayar kaffarat.
  • Jika seseorang makan dan minum karena lupa, maka tidak ada dosa baginya dan hendaklah ia menyempurnakan puasanya tanpa meng-qadha’-nya. [HR. al-Bukhari 1923 dan Muslim 1155].
  • Sesuatu yang tidak mungkin terhindari, seperti debu dan sisa-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi, lalu masuk ke dalam perut maka hal itu tidak membatalkan puasa. Demikian kesepakatan ulama. [Lihat Fathul Bâri’].
  • Mencicipi  makanan tidak membatalkan puasa. Hal ini telah difatwakan oleh shahabat Ibnu Abbas.
  • Menelan ludah atau lendir tidak membatalkan puasa, asalkan keduanya masih berada di dalam mulut.

 

3)       Muntah dengan sengaja

  • Barangsiapa muntah dengan sengaja, baik itu sedikit atau banyak, maka puasanya batal dan ia wajib meng-qadha’ puasanya. Adapun muntah yang keluar dengan sendirinya (tidak sengaja), maka tidak membatalkan puasa. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ اَلْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ, وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ

Barangsiapa yang muntah, maka tidak ada qadha’ baginya dan barangsiapa yang sengaja muntah, maka hendaklah ia meng-qadha’.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 2380 dan at-Tirmidzi 617].


4)       Haidh dan nifas

  • Ulama sepakat bahwa wanita yang haidh dan nifas sekalipun barang sesaat sebelum terbenamnya matahari, maka puasanya batal dan wajib meng-qadha’ puasanya sejumlah hari-hari di mana ia berbuka. [HR. Muslim 335 dan Abu Dawud 359].
  • Jika seorang wanita suci dari haidhnya di siang hari, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk menahan diri (berpuasa) dari sisa hari yang ia jalani hari itu, karena tidak adanya dalil yang memerintahkan hal itu dan ia wajib meng-qadha’ puasa yang ia tinggal pada hari itu.
  • Adapun wanita istihadhah, maka ia tetap berkewajiban berpuasa.

  

Hal-hal yang Tidak Membatalkan Puasa

Di antara hal-hal yang tidak membatalkan puasa adalah bermesraan, berpelukan, dan berciuman dengan isteri [HR. al-Bukhari dan Muslim 1106], waktu Shubuh dalam keadaan junub [HR. al-Bukhari 1925 dan Muslim 1109], bersiwak (sikat gigi) [HR. al-Bukhari dan Muslim 252], berkumur-kumur dan menaikkan air ke hidung [HR. Ahmad 4/211], berbekam (cantuk) [HR. ad-Daruquthni, lihat al-Irwa’ 931], donor darah dan injeksi, mencabut gigi, mencium wewangian, menggunakan tetes mata dan celak, memakai minyak rambut, mimisan, dan kentut di dalam air.

 

Adab-adab Berpuasa

Di antara adab-adab yang mesti dipelihara oleh orang yang berpuasa adalah :

 

1)     Makan Sahur

  • Makan sahur adalah sunnah dan terdapat keberkahan di dalamnya. [HR. Bukhari].
  • Sahur terwujud sekalipun dengan seteguk air. [Hasan. HR. Ahmad 3/12, 44].
  • Bersahur boleh dilakukan pada waktu apa saja dari bagian malam, tetapi lebih dianjurkan agar sahur itu diakhirkan hingga mendekati fajar. [HR. Bukhari 1921 dan Muslim 1097].
  • Jika seseorang tengah bersahur dan adzan telah dikumandangkan, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk memuntahkan apa yang ada di dalam mulutnya, tetapi sebaliknya dianjurkan untuk dihabiskan. [HR. Abu Dawud 2333].

 

2)     Bersegera Berbuka

  • Kapan saja matahari telah terbenam, maka dianjurkan untuk segera berbuka. Dan dalam bersegera itu ada banyak kebaikan. [HR. Bukhari dan Muslim 1093].
  • Berbuka dapat terwujud dengan apa saja, baik itu dengan makanan atau minuman, sedikit ataupun banyak. Namun, dalam berbuka dianjurkan berbuka dengan kurma dan jika tidak ada maka dengan air. [Hasan. HR. Abu Dawud 2339].
  • Dianjurkan berdo’a ketika berbuka dengan do’a:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.”

 

3)     Giat Membaca al-Qur’an

 

4)     Memelihara Ketakwaan

 

5)     Senantiasa Memperbaharui Taubat

 

 

Ditulis oleh Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: