//
you're reading...
Fiqih

Berlebaran Menurut Sunnah


 

Hari raya ‘Iedul Fithri adalah salah satu dari dua hari  raya yang terbaik yang Allah Ta’ala pilihkan untuk ummat ini. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para penduduk Madinah, ‘Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain (bergembira) di dalamnya pada masa jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari raya tersebut dengan yang lebih baik; yaitu hari raya ‘Iedul ‘Adh-ha dan hari raya ‘Iedul Fithri.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 1134 dan an-Nasa’i 3/179].

 

Hari raya ‘Iedul Fithri adalah termasuk dari bentuk keindahan Islam, ia ada setelah pelaksanaan puasa Ramadhan sebagai bentuk ungkapan syukur terhadap Allah Ta’ala. Allah telah menjadikan di dalamnya sebagai hari berbahagia, bergembira, dan berhias.

 

 

Makna ‘Iedul Fithri

 

‘Ied adalah pecahan kata dari al-‘Aud yang secara etimologis berarti “kembali”, sedangkan fithri berarti “berbuka”. Sedangkan secara istilah, ‘Iedul Fithri adalah kembali berbuka (makan dan minum) setelah berpuasa.

 

 

Hukum Shalat ‘Ied

 

Salah satu di antara ibadah yang dilakukan ketika hari raya ‘Iedul Fithri adalah melaksanakan shalat ‘Ied. Hukum shalat ‘Ied adalah sunnah muakkadah, demikian pendapat mayoritas ulama. Fardhu kifayah menurut ulama madzhab Hanbali dan fardhu ‘ain menurut salah satu madzhab Hanafiyyah. Imam as-Sarakhsyi al-Hanafy di dalam al-Mabshuth berkata, ‘Yang unggul bahwa shalat ‘Ied adalah sunnah, akan tetapi ia adalah merupakan bagian dari rambu-rambu agama. Mengamalkannya adalah petunjuk dan meninggalkannya adalah salah satu bentuk kesesatan.

 

Pendapat yang unggul :

Pendapat yang unggul – Wallahu A’lam – adalah pendapat yang diunggulkan oleh Imam as-Sarakhsy di atas, sekaligus pendapat mayoritas ulama bahwa shalat “ied adalah berhukum sunnah muakkadah. Pengunggulan ini disandarkan pada sabda nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada seorang Badui, ketika ia menyebutkan shalat lima waktu dan berkata, ‘Adakah kewajiban atasku selain itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, kecuali jika engkau hendak mengerjakan shalat tathawwu’(sunnah).’ [HR. Bukhari 46 dan Muslim  11].

 

Adapun mereka yang berpendapat wajib dengan beralasan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Memerintahkan para wanita agar keluar melakukan shalat ‘Ied, hingga beliau juga memerintahkan para wanita haidh dan wanita yang berada di dalam  pingitannya untuk keluar menyaksikan kebaikan dan syi’ar dakwah kaum muslimin, dan beliau memerintahkan para wanita haidh untuk menjauh dari tempat shalat.’ [HR. Bukhari 980 dan Muslim 890]. Maka, landasan ini kurang kuat lantaran di antara orang-orang yang disebutkan pada hadits di atas – yang diharuskan untuk keluar menuju tanah lapang – adalah orang-orang yang tidak terkena kewajiban melakukan shalat yaitu para wanita haidh. Maka jelaslah, bahwa maksud perintah keluar melakukan shalat ‘Ied pada hadits di atas adalah untuk menampakkan syi’ar Islam. [Demikian yang dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu hajar dalam al-Fath].

 

 

Waktu Shalat ‘Iedul Fithri

 

Waktu shalat ‘Iedul Fithri dimulai sejak matahari naik setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari. Dari Abdullah bin Busr, shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya ia pernah keluar berangkat bersama orang-orang (ke tempat pelaksanaan shalat ‘Ied) pada hari raya ‘Iedul Fithri atau ‘Iedul ‘Adh-ha, lalu dia menentang keterlambatan imam seraya berkata, ‘Sesungguhnya kami telah menyia-nyiakan waktu kami ini. Yakni ketika berlangsungnya waktu tasbih (waktu shalat Dhuha)].’ [Shahih. HR. Abu Dawud 1135 dan Ibnu Majah 1317].

 

 

Tempat Shalat ‘Iedul Fithri

 

Shalat ‘Iedul fithri dilakukan di tanah lapang bukan di masjid. Dari Abu Sa’id al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, ‘Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar ke tanah lapang pada hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul ‘Adh-ha dan yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat.’ [HR. Bukhari 956 dan Muslim 889].

 

 

Tidak Pakai Adzan dan Iqamah

 

Dalam shalat ‘Ied tidak disyari’atkan untuk mengumandangkan adzan, iqamah, maupun ucapan “ash-Shalâtu Jâmi’ah”. Hal ini didasarkan pada hadits Jâbir bin Samurah, dia bercerita, ‘Aku pernah mengerjakan shalat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul ‘Adh-ha bersama rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya sekali atau dua kali tanpa adzan dan tanpa iqamah.’ [HR. Muslim 887, abu Dawud 1148, dan at-Tirmidzi 532].

 

Dari Atha’, ia berkata, ‘Jabir memberitahukanku, bahwasanya tidak ada adzan untuk shalat pada hari raya ‘Iedul Fithri ketika imam keluar, dan tidak juga iqamah, seruan, atau sesuatu yang lainnya.’ [HR. Muslim 690].

 

 

Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat ‘Iedul Fithri

 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Nabi Shalalalhu ‘alaihi wasallam pernah keluar pada hari ‘Ied, lalu beliau shalat dua rakaat dan beliau tidak melakukan shalat (sunnah) sebelum maupun sesudahnya.’ [HR. Bukhari 989 dan Muslim 884]. Ibnul Qayyim berkata, ‘Sesampainya di tanah lapang, beliau Shalalalhu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak pernah melakukan shalat sebelum shalat ‘Ied dan tidak juga sesudahnya.’ [Zâdul Ma’ad 2/443].

 

 

Tata Cara Shalat ‘Iedul Fithri

 

Shalat ‘Ied terdiri dari dua rakaat. Berdasarkan pada hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Shalat dalam safar adalah dua rakaat, shalat ‘Iedul ‘Adh-ha adalah dua rakaat, shalat ‘Iedul Fithri adalah dua rakaat, sempurna tanpa ada pengurangan, berdasarkan atas lisan Muhammad Shalalalhu ‘alaihi wasallam.’ [Shahih. HR. Ahmad 1/37 dan an-Nasa’i 3/183].

 

Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

 

1)       Memulai rakaat pertama dengan takbiratul ihram seperti pada shalat yang lainnya. Lalu membaca do’a iftitah.

2)       Lalu setelah itu bertakbir sebanyak enam kali, lalu membaca ta’awwudz, basmalah, dan surat al-Fathihah. Hal ini disandarkan pada dhahir sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ‘Takbir pada shalat ‘Iedul Fithri adalah tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat terakhir. Serta membaca bacaan setelah keduanya.’ [Hasan. HR. Abu Dawud 1151].

Imam Ahmad berkata, ‘Hendaklah ia bertakbir pada rakaat yang pertama dengan tujuh takbir bersama dengan takbiratul ihram …’ [al-Mughny]. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, ‘Hendaklah ia bertakbiratul ihram, lalu membaca do’a iftitah seperti yang terdapat dari Nabi (lalu beliau menyebutkan do’anya), apabila ia telah membaca do’a iftitah dengan do’a ini atau yang lainnya, maka hendaklah ia bertakbir enam kali, Allahu Akbar-Allahu Akbar hingga lengkap berjumlah enam, kemudian berta’awwudz dan membaca al-Fatihah, dengan demikian do’a iftitahnya lebih didahulukan dari takbir az-zâidah (takbir tambahan).’ [Lihat Syarhul Mumti’ 2/394].

3)       Tidak ada do’a atau dzikir khusus yang shahih datangnya dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam yang dibaca pada sela-sela takbir ‘Ied. Ibnul Qayyim berkata, ‘(Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam) beliau diam di sela-sela takbir-takbir ‘Ied dan berhenti sejenak, dan tidak pernah dinukil ada suatu dzikir tertentu ketika itu.’

4)       Jika mau, angkatlah tangan pada tiap-tiap kali bertakbir dan takbir-takbir tambahan tersebut dan jika mau Anda boleh mencukupkan mengangkat tangan pada takbir yang pertama saja dan tidak pada takbir-takbir setelahnya. Untuk urusan ini, perkaranya adalah longgar. Alasan untuk tidak mengangkat tangan kecuali pada takbir pertama lantaran tidak ada satu berita shahihpun bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya pada tiap-tiap takbir.  Adapun alasan mengangkat kedua tangan setiap kali takbir adalah shahabat Ibnu Umar – dengan sanad yang shahih – melakukan hal itu (di mana ia adalah seorang shahabat yang dikenal paling bersungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi) dan juga tidak ada seorang shahabatpun yang diketahui menyelisihi apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar tersebut. Wallahu a’lam.

5)       Seusai takbir tujuh kali dan membaca al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Qâf wal Qur’anil Majîd [HR. Muslim 891] atau Sabbihisma Rabbikal A’lâ [HR. Muslim 878].

6)       Setelah membaca surat tersebut, lalu mengerjakan rukun-rukun shalat lainnya seperti biasa.

7)       Lalu takbir lagi untuk rakaat kedua.

8)       Lalu takbir lima kali seperti pada rakaat pertama, hanya saja tidak ada bacaan iftitahnya seusai takbir pertama. Lalu disusul dengan bacaan al-Fatihah.

9)       Seusai membaca al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Iqtarabatis-Sâ’atu wan Saqqatil Qamar [HR. Muslim 891] atau Hal Atâka Haditsul Ghastsiyah [HR. Muslim 878].

10)   Lalu, menyempurnakan shalatnya dan salam.

 

 

Ketinggalan Shalat ‘Ied

 

Jika seseorang terluput dari shalat ‘Ied lantaran suatu udzur (terlambat, ketiduran, dll), maka ia shalat dua rakaat sama seperti shalat yang dikerjakan oleh imam ketika shalat ‘Ied. Demikian pendapat sebagian ulama. Ibnul Mundzir berkata, ‘Barangsiapa yang tertinggal mengerjakan shalat ‘Ied, maka ia mengerjakan dua rakaat seperti shalat imam.’ [al-Iqnâ’ 1/110].

 

Pendapat ini diperkuat dengan atsar shahabat Nabi yang bernama Anas bin Malik seperti yang dilaporkan oleh Ubaidillah bin Abi Bakar bin Anas bin Malik, ia berkata, ‘Jika Anas tertinggal mengerjakan shalat ‘Ied bersama imam, maka dia mengumpulkan keluarganya dan shalat bersama mereka seperti shalatnya imam pada shalat ‘Ied.’ [Hasan Lighairihi. HR. al-Baihaqi di dalam as-Sunanul Kubra 3/305].

 

Di samping itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abu Bakar, ‘Sesungguhnya setiap kaum itu memiliki hari raya sendiri, dan sekarang adalah hari raya kita.’ Penyebutan “hari raya kita” adalah mencakup semua pemeluknya, individu maupun jama’ah. Dengan demikian, jika seseorang luput dari berjama’ah lantaran udzur, maka ia tetap melakukan shalat ‘Ie meskipun seorang diri.

 

 

Khutbah ‘Iedul Fithri

 

Pelaksanaan khutbah ‘Iedul Fithri dilakukan setelah shalat ‘Ied. Ibnu Abbas berkata, ‘Aku pernah shalat bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman. Mereka semua melakukan shalat sebelum khutbah.’ [HR. Bukhari 962 dan Muslim].

 

Khutbah ‘Ied dilakukan sama seperti khutbah-khutbah lainnya, dibuka dengan pujian pada Allah, dan tidak ada satu hadits shahihpun yang menjelaskan dibukanya khutbah dengan takbir. Ibnul Qayyim berkata, ‘Tidak ada satu beritapun yang terpelihara dari Nabi, bahwa beliau membuka khutbah ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul ‘Adh-ha dengan takbir.’ [Zâdul Ma’ad 1/447].

 

Hanya saja, khutbah ‘Ied hanya satu kali tidak dua kali seperti halnya dengan khutbah Jum’at. Dari Jâbir, ia berkata, ‘Aku melakukan shalat ‘Ied bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan iqamah, kemudian berdiri bersandar pada Bilal, lalu beliau memerintahkan bertakwa kepada Allah, mendorong untuk melakukan ketaatan, dan memperingati orang-orang kemudian beliau pergi.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

 

Dan juga, khatib berdiri di atas tanah dan bukan di atas mimbar. Dari Thâriq bin Syihab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Marwan mengeluarkan mimbar pada hari ‘Ied, lalu ia memulai khutbah sebelum shalat. Lalu, berdirilah seorang laki-laki dan berkata, ‘Wahai Marwan, engkau telah menyelisihi sunnah, engkau telah mengeluarkan mibar pada hari ‘Ied padahal tidak pernah dikeluarkan sebelumnya, dan engkau memulai khutbah sebelum shalat’.” [HR. Muslim 882 dan Abu Dawud 1140].

 

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: