//
you're reading...
Fiqih

Fiqh I’tikaf


I’tikaf di bulan Ramadhan adalah salah satu dari sekian banyak sunnah yang rutin dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkannya hingga beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dunia. Pasti ada faedah besar di dalamnya, hingga sepeninggal beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, isteri-isterinya yang mulia terus melanjutkan dan menghidupkannya begitu juga dengan shahabat-shahabatnya beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya. Namun, banyak generasi kini telah melupakannya seakan sunnah itu tidak pernah ada bahkan mereka lebih memilih berI’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan atau bahkan satu bulan penuh di depan layar televisi atau di tempat-tempat tidak berguna lainnya untuk menyambut datangnya ‘Idul Fithri.

 

MAKNA I’TIKAF

I’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang bermakna menetapi sesuatu dan menahan diri dari padanya, baik itu berupa kebaikan ataupun kejahatan. Sedang I’tikaf menurut syara’ adalah menetap di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang dilakukan oleh orang yang tertentu dan dengan sifat yang tertentu pula. [Fathul ‘Allam 1/586 oleh Shiddiq Hasan Khan dan Tamamul Minnah oleh ‘Adil bin Yusuf al-Azzazie dalam kitab Shiyam hal. 99].

 

DALIL DISYARI’ATKANNYA I’TIKAF

Di antara dalil disyari’atkannya I’tikaf adalah firman Allah, ‘Dan janganlah kamu campuri mereka (isteri), sedang kamu berI’tikaf di masjid.’ [QS. al-Baqarah : 187].

Dari ‘Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha, isteri Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ia berkata, ‘Adalah Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu berI’tikaf pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, kemudian isteri-isteri beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berI’tikaf sepeninggalnya.’ [HR. Bukhari 2026 dan Muslim 1172].

 

KEUTAMAAN DAN HIKMAH I’TIKAF

Tidak terdapat satu dalil shahih pun yang menyebutkan secara tegas tentang keutamaan berI’tikaf, hanya saja dengan disyari’atkannya I’tikaf seperti yang difirman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 187 dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya secara terus-menerus semasa hidupnya adalah cukup sebagai bukti dan dalil bahwa berI’tikaf adalah amalan utama di sisi Allah. Oleh itu, para ulama salaf terdahulu begitu takjub dan heran kepada orang-orang yang meninggalkan ibadah I’tikaf sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah di dalam kitabnya Fathul Baari’ 4/285 menukil dari perkataan Ibnu Syihab, di mana ia berkata, ‘Amat mengherankan keadaan orang-orang muslim, mereka meninggalkan I’tikaf sedang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam belum pernah meninggalkannya semenjak beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk Madinah hingga wafatnya.

 

HUKUM I’TIKAF

Ulama sepakat bahwa I’tikaf adalah sunnah, ia tidak menjadi wajib kecuali karena nadzar (yaitu orang yang mewajibkan I’tikaf terhadap dirinya sendiri) dan I’tikaf menjadi lebih dikukuhkan kesunnahannya pada hari-hari 10 terakhir bulan Ramadhan. [Lihat al-Majmu’ oleh Imam an-Nawawi 6/501 dan Ensiklopedi Ijma’ oleh Sa’di Abu Habib 249].

 

MASA I’TIKAF

Masa I’tikaf yang disunnahkan di bulan Ramadhan adalah 10 terkahir darinya (lihat hadits ‘Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha  sebelumnya). Adapun selain itu, maka I’tikaf boleh dilakukan walau hanya untuk sesaat, demikian pendapat mayoritas ulama dan itu adalah pendapat yang unggul. Namun, barangsiapa yang bernadzar berI’tikaf untuk suatu masa tertentu, maka masa I’tikafnya sesuai dengan apa yang dinadzarkan. Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Ya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya pernah bernadzar di zaman jahiliyyah akan berI’tikaf satu malam di Masjdil Haram?’ Sabda beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Penuhi nadzarmu itu!’ [HR. Bukhari 2042 dan Muslim 1656].

 

SYARAT I’TIKAF

  • Muslim (laki-laki atau perempuan)
  • Mumayyiz (akil baligh)
  • Suci dari janabat, haidh, dan nifas

Namun, syarat yang terakhir ini masih diperselisihkan oleh ulama mengikuti perbedaan mereka dalam hal boleh tidaknya orang junub, haidh, dan nifas masuk masjid. Dan pendapat yang unggul menurut kami, bahwa orang yang junub, haidh, dan nifas dibolehkan duduk di masjid. Karena tidak ada satu hadits shahih pun yang melarang hal itu. Dan itu artinya suci dari junub, haidh serta nifas bukan syarat I’tikaf.

 

I’TIKAF MESTIKAH DENGAN BERPUASA

Pendapat yang unggul, bahwa puasa bukanlah syarat syahnya I’tikaf, lantaran Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah beri’tikaf di 10 pertama bulan Syawal [HR. Muslim 1172], dan di hari pertama itu jelas tidak berpuasa lantaran hari ‘Idul Fithri di mana orang-orang diharamkan berpuasa. Selain itu Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah memberitahukan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang nadzarnya di masa jahiliyyah untuk beri’tikaf di malam hari. Lalu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Penuhilah nadzarmu itu!’ [HR. Bukhari 2042 dan Muslim 1656]. Sedang malam bukanlah waktu untuk berpuasa.

 

RUKUN I’TIKAF

[1] Niat [2] Tinggal di masjid [3] Mu’takif (pelaku I’tikaf) [4] Mu’takaf fihi (tempat I’tikaf) yaitu masjid.

 

MASJID ADALAH TEMPAT I’TIKAF

Satu-satunya tempat yang shah digunakan untuk beri’tikaf adalah masjid. Allah berfirman, ‘Dan janganlah kamu campuri mereka (sedang), sedang kamu beri’tikaf di masjid.’ [QS. al-Baqarah : 187].

Imam an-Nawawie Rahimahullah di dalam al-Majmu’ 6/483 berkata, ‘I’tikaf itu shah dilakukan  di setiap masjid dan tidak boleh dikhususkan masjid manapun juga kecuali dengan dalil. Sedang dalam hal ini tidak ada dalil yang jelas yang mengkhususkannya.’ Hal senada juga disampaikan oleh Ibnu Hazm di dalam kitabnya al-Muhalla 5/193.

Catatan : Adapun pendapat sebagian ahli ilmu bahwa I’tikaf tidak disyari’atkan kecuali hanya di 3 tempat; yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsha adalah pendapat ganjil lagi marjuh (tidak unggul). Lantaran hadits yang mereka jadikan pijakan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Khuzaifah bahwa, ‘Tidak ada I’tikaf melainkan hanya di 3 masjid.’ [HR. al-Baihaqi 4/316 dan ath-Thabrani dalam al-Kabir 9/349], adalah lemah.

 

WAKTU MEMULAI I’TIKAF

Yang terdapat di dalam sunnah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mulai masuk ke dalam tempat yang ia siapkan untuk I’tikafnya adalah setelah shalat Shubuh pada hari yang ke-21 Ramadhan. ‘Aisyah Rhadiyallahu ‘Anha berkata, ‘Adalah Rasulullah apabila hendak beri’tikaf, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke tempat I’tikafnya.’ [HR. Muslim 1172 dan Abu Dawud 2464].

Masuknya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ke tempat I’tikafnya setelah shalat Shubuh tidak bermakna bahwa beliau baru masuk masjid dan beri’tikaf setelah fajar tiba. Tidak, tetapi beliau masuk ke masjid untuk I’tikaf adalah sebelum terbenamnya matahari pada tanggal 20 Ramadhan dan baru masuk ke tempat khusus di dalam masjid untuk I’tikaf seusai melaksanakan shalat Shubuh. Sebab, jika tidak dimaknai demikian (yaitu tetap dimaknai bahwa beliau beri’tikaf di awal siang/usai shalat Shubuh), maka I’tikaf Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak dapat dikatakan sebagai al-‘Asyrul Awahir (10 yang terakhir) karena beliau telah kehilangan seluruh malamnya (yaitu malam ke-21). Sedang kata ‘sepuluh terakhir’ maksudnya adalah nama bagian malam, dan bermula pada malam kedua puluh satu.

Dengan demikian, barangsiapa yang hendak beri’tikaf, maka hendaknya ia masuk masjid sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan malam ke-21.

Demikian pendapat Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad di dalam satu pendapatnya. Wallahu A’lam.

 

WAKTU MENGAKHIRI I’TIKAF

Diperbolehkan meninggalkan tempat I’tikaf (masjid) setelah terbenamnya matahari pada malam ‘Idul Fithri. Namun, yang lebih utama adalah keluar setelah melaksanakan shalat Shubuh di hari ‘Idul Fithri.

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu berkata, ‘Kami pernah beri’tikaf bersama Rasulullah di Asyrul Aushat (11-20 ramadhan), tatkala di Shubuh hari 20 ramadhan kami mengangkut barang-barang kami.’ [HR. Bukhari 2040].

Ibrahim an-Nakha’i berkata, ‘Mereka menyukai, bagi mu’takif (yang beri’tikaf) untuk bermalam di masjid pada malam ‘Idul Fithri hingga Shubuh hari.’ [HR. Ibnu Syaibah 3193].

 

AMALAN-AMALAN I’TIKAF

Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah memutus hubungan dengan manusia lain untuk memfokuskan diri sepenuhnya untuk melakukan ketaatan (ibadah) di dalam masjid demi mencari keutamaan dan pahalanya, serta demi mendapatkan lailatul qadar.

Oleh karena itu, seyogyanya bagi orang yang beri’tikaf itu menyibukkan diri dengan dzikir, membaca al-Qur’an, shalat, dan ibadah-ibadah lainnya. [Lihat Majalisus Syahri Ramadhan, oleh Syaikh Utsaimin].

Dan ibadah-ibadah lainnya yang dimaksudkan adalah ibadah yang ada kaitannya dengan masjid. Adapun ibadah yang di luar masjid seperti menjenguk orang sakit, melayat jenazah adalah tidak dianjurkan. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, ‘Menurut sunnah bagi orang yang i’tikaf, untuk tidak menjenguk orang sakit, tidak melawat jenazah, tidak menyentuh perempuan dan tidak menciumnya, tidak keluar masjid untuk suatu keperluan, kecuali keperluan yang mendesak.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 2473, al-Baihaqi 4/315-316, dan ad-Daruquthni 4/201].

 

YANG DIBOLEHKAN SELAMA I’TIKAF

  1. Diperbolehkan keluar dari masjid untuk keperluan buang hajat, mengambil makanan dan minuman jika tidak ada yang mengantarkannya ke masjid. ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, ‘Adalah Rasulullah apabila beri’tikaf ia mendekatkan kepalanya lalu aku menyisiri rambutnya, dan beliau tidak masuk ke dalam rumah kecuali lantaran ada keperluan manusia.’ [HR. Muslim 297, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban].
  2. Diperbolehkan keluar untuk kepentingan berwudhu dan mandi jika di dalam masjid tidak menyediakan fasilitas tersebut.
  3. Diperbolehkan menyisir dan merapikan rambut, dan kedua hal itu tidak menafi’kan maksud i’tikaf. [Lihat hadits sebelumnya tentang ‘Aisyah yang menyisiri rambut Rasulullah].
  4. Al-Khattabi berkata, ‘Dan yang semakna dengan menyisir rambut adalah memotong kuku, membersihkan badan dari debu dan kaki …’ [Ma’alimus Sunan 2/834].
  5. Diperbolehkan membuat kemah kecil atau bilik kecil dengan kain di dalam masjid (sebagai tempat khusus untuk i’tikaf). Dan ‘Aisyah memasang tenda untuk Nabi ketika beliau hendak i’tikaf. [HR. Bukhari 2034].
  6. Boleh meletakkan kasur untuk i’tikaf. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa jika beliau beri’tikaf maka disiapkan atau diletakkan kasur atau dipan di belakang tiang Taubah. [Riwayat Ibnu Majah dalam Zawaidnya dan al-Baihaqi].
  7. Diperbolehkan membicarakan hal yang mubah dengan keluarga atau sesama peserta i’tikaf untuk suatu kemaslahatan. Hal ini disandarkan pada hadits Shafiyah – Ummul Mukminin -, ‘Ketika Nabi sedang melakukan i’tikaf, aku datang mengunjunginya pada suatu malam, lalu aku berbicara kepada beliau kemudian aku bangun untuk beranjak pergi, dan Nabi pun turut berdiri menyertaiku.’ [HR. Bukhari dan Muslim].

 

YANG MEMBATALKAN I’TIKAF

  1. Berjima’. Ulama sepakat bahwa i’tikaf seseorang itu rusak (batal) apabila berjima’ dengan sengaja. [QS. al-Baqarah : 178].
  2. Keluar dari masjid, yaitu keluar dari masjid dengan sengaja tanpa ada hajat (keperluan) atau keterpaksaan (darurat).
  3. Murtad dan hilangnya akal, baik lantaran gila ataupun mabuk.

MENGQADHA’ (MENGGANTI) I’TIKAF

Barangsiapa yang melakukan i’tikaf lalu ia memutuskan lantaran ada suatu kepentingan maka dianjurkan baginya untuk menggantinya di bulan lain di luar Ramadhan. [Lihat HR. Bukhari 2033 dan Muslim 1172].

 

Abu Halbas Muhammad Ayyub

Jember 1429 H.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: